
Hari berjalan demi hari. Hubungan antara Tissa, Dafa dan Rasya berjalan dengan baik.
Tidak ada ikatan khusus anatar mereka. Hanya...Teman Biasa.
Rasa sekedar kagum, Cinta, Dan rasa persahabatan adalah masing masing rasa yang dirasakan mereka.
Tidak ada yang mengakui perasaannya. Mereka masih memihak pada ego sendiri untuk menjalin hubungan sekedar teman biasa. Walaupun tetap dibumbui rasa Nyaman, Cemburu dan Perhatian.
Malam ini Dafa Tissa dan Rasya mengadakan janji temu untuk sekedar mengobrol dan menambah keakraban.
"Jadi gimana tiss? Lulus kuliah Lo tetap mau kerja di lab?" Tanya Dafa memecah keheningan saat mereka tengah menunggu pesanan datang.
"Ya kaya sih iya..Tapi sebelum itu gw mau balik ke rumah ortu gw dulu.., Uda lama gw gak pulang" Ucap tissa.
Dafa dan Rasya hanya mengut mangut mengerti. Pesanan mereka datang. Satu persatu mereka mulai menyicipi hidangannya.
"Rumah Orang tau kamu dimana?" Tanya Dafa.
"Di Bogor" Ucak tissa.
"Aku boleh main kesana?" Tanya Dafa lagi.
"Boleh laaa" Ucap tissa antusias.
"Eh gw jugak mau ikut dong" Ucap Dafa.
"Yaudah kalo mau ikut ya ikut aja.." Ucap tissa lalu kembali menyeruput jus pokat miliknya.
Tring....
Tring..
Tring..
Ponsel Dafa berbunyi. Dafa mengambik ponselnya dari saku lalu melirik menatap layar ponselnya.
"Gw angkat telpon dulu" Ucap Dafa lalu pergi meninggalkan Tissa dan Rasya berdua.
Dafa asik mengobrol dengan orang itu ditelpon. Entah siapa yang ditelpon ya hingga menghabiskan waktu v
bermenit menit.
"Siapa yang nelpon ya kak?" Tanya Tissa sambil terus menatap gelagat Dafa.
"Gak tau" Ucap Rasya datar.
"Ehmm Kasya, Masih mau terus disini? Maksud aku kasya gak balik ke Itali atau Jerman?" Tanya Tissa.
"Aku kayanya masih disini dulu. Nanti kalo udah punya pasangan sih niatnya baru balik ke Itali aja tinggal sama nenek" Ucap Rasya.
"Jadi kasya nunggu punya pasangan nih?" Tanya tissa.
Rasya terkekeh pelan "Ya kalo ada sih Alhamdulillah, Tapi gak burur buru jugak" Jawabnya.
"Oo gitu.." Ucap Tissa hanya ber'oh ria.
"Kalo kamu, Dihatinya Uda ada belom?" Tanya Rasya.
Setelah dirasa cukup akrab. Pria dingin itu lebih banyak berbasa basi. Terutama dengan Tissa.
"Sejauh ini masih orang tua si kak" Tissa terkekh sendiri dengan ucapannya.
Rasya ikut terkekeh, padahal sebenarnya itu bukanlah hal yang lucu. Hanya untuk sekedar menghargai Rasya tertawa gambar. Jauh dihatinya ada harapan agar Tissa menanamkan namanya di hati Tissa.
__ADS_1
Setelah cukup lama sibuk dengan telponnya Dafa menghampiri dua temannya itu.
"Ngobrol apa? Serius amat" Ucap Dafa dengan tampang tidak suka.
Dafa mendudukkan dirinya di bangku disamping Tissa. Kebiasaan dua pria itu yang selalu mengapit Tissa diantara mereka.
"Ngobrolin masa depan" Ucap tissa.
"Masa depan siapa?" Ucap Dafa.
"Siapa yang nelpon?" Tanya Rasya membuat pertanyaan dari Dafa tak terjawab.
"Alyndra" Ucap dafa.
"Ooh" Ucap Rasya hanya ber'oh ria.
"Alyndra pacarmu kan?" Tanya Tissa antusias.
"Iya, Kamu tau darimana?" Ucap Dafa.
Tak terduga panggilan antara Dafa dan Tissa berubah menjadi Aku-Kamu.
"Dari mama" Ucap tissa santai.
"Oo dia besok pulang ke Indonesia. Jadi gw mau jemput dia besok di bandara" Ucap Dafa.
Rasya dan Tissa hanya menganggukkan kepalanya. Kurang tertarik dengan obrolan mereka. Hingga akhrinya sepi menyapa.
"Kalian mau ikut?" Tanya Dafa memecah keheningan sesaat itu.
Rasya melirik Tissa sejenak.
"Aku sama Tissa ikut" Ucapnya.
"Baguslah kalo alyndra mau balik. Jadi dia bisa perbaiki hubungannya sama mama" Ucap tissa santai.
"Perbaiki apa? Gak ada yang perlu diperbaiki. Hubungan kami baik baik aja" Ucap Dafa setengah berteriak.
"Loh kenapa Lo jadi emosi? Gw kan ngomong baik baik. Gw juga gak nyindir apa apa!" Ucap tissa yang terpaut emosi karena dibentak Dafa.
"Sebaiknya Lo gak usah ikut campur masalah gw! Lo udah terlalu jauh ikut campur dalam hidup gw!" Ucap Dafa ketus.
Tissa melongo, Dia benar benar tidak tahu letak kesalahannya. Dia hanya berharap hubungan alyndra dengan mama Ratna baik baik saja. tapi kenapa Dafa emosi dan mengatainya iku campur?
"Lo gak harus bentak gitu kan! Tissa mendoakan hubungan Lo suapaya baik baik aja. Kenapa Lo jadi emosi?" Ucap Rasya dengan nada dinginnya.
"kasya..gw mau pulang duluan" Ucap Tissa lalu berlalu dari tempat itu setelah meletakkan selembar uang Seratus ribu dibawah jus alpukat miliknya.
"Gw antar" Ucap Dafa.
Tissa tidak menggubris dan memberhentikan taksi didepannya dan melesat jauh dari pandangan dua pria itu.
__________________
Pagi mengusik tidur Tissa. Bangun dari tidurnya Tissa bersikap pergi ke kampusnya. Mendekati akhir semesternya Tissa aktif belajar agar bisa mencapai cita citanya.
Memakan sarapannya Tissa bercermin sebelum berangkat ke kampusnya. Terlihat matanya yang sembab karena menangis. Kata kata Dafa menusuk hatinya. Dia memutuskan untuk tidak pernah mencampuri urusan Dafa lagi sesuaii dengan keinginan Dafa. Dan tentu saja dengan menjaga jarak dengan Dafa pun akan dilakukannya.
Menjalani hari harinya belajar di kampus. Tissa pulang ke kos kosan kecil nya. Merbehkan dirinya di kasur mini itu Tissa terlelap.
Terdengar ketukan pintu dari balik pintu kosnya. Tissa mendudukkan dirinya. Mengumpat siapa yang berani mengusik niat tidurnya.
"Oh.. kasya rupanya"
__ADS_1
"Aku Uda kirim pesan ke kak Dion, hari ini aku gak masuk ke lab. Aku mau istirahat" Ucap tissa datar.
"Aku kesini bukan mau jemput kamu kerja" Ucap Rasya.
Dapat dilihat Rasya bahwa sepertinya Tissa dalam keadaan kacau. Kemeja yang dipakainya kusut, Rambutnya berantakan dan tentunya mata sembab Tissa dapat dilihat jelas oleh Rasya.
"Aku lagi males keluar kak" Ucap tissa
"Aku Uda janji, ikut dulu ya" Ucap Dafa sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
Tissa menghela nafasnya, Entah kenapa sulit sekali baginya menolak permintaan makhluk es itu.
Tissa menyuruh Rasya menunggunya dimobil. Tissa sedikit berdandan setelah bercermin dan menampakkan dirinya yang kucel.
Berganti pakaian pun dilakukannya. Memakai kaos pink dan mengenakan rok tutu berwarna hitam miliknya. Tak lupa juga dengan Slingbag putih miliknya.
Tissa masuk ke dalam mobil Rasya. Rasya tersenyum menatap penampakkan Tissa yang sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Gimana kemarin?" Tanya Rasya
"Jangan bahas itu lagu la kak" Ucap tissa datar.
Dia berniat akan melupakan semua itu dan memulai harinya tanpa mengingat dafa. Sakit hati karena dibentak masih berbekas dihatinya. Terlebih lagi apa yang dikatakan Tissa itu tidak salah. Seharusnya Dafa tak perlu sampai membentaknya.
Rasya memarkirkan mobilnya diparkiran bandara. Tissa mengerutkan dahinya dan menatap Rasya.
Rasya tersenyum "Kamu gak lupa kan hari ini kita jemput seseorang"
Tissa lalu teringat masalah kemarin anatar dirinya dan Dafa.
"Udah la kak, Aku pulang aja naik taksi" Ucap tissa lalu keluar dari mobil itu.
"Tissa kita Uda janji" Ucap Rasya menahan tangan Tissa.
"Aku gak janji, Kasya yang ngajak aku" Ucap tissa.
"Tissa, Ini cuma alyndra. Setelah itu kita pulang" Ucap Rasya
"Kak, Aku gak berhak ikut campur urusannya. Alyndra pacarnya berati tetap aja aku berhubungan sama dia! Kakak aja yang pergi kalian bertiga temenan dari kecil. Aku bukan siapa siapa" Ucap tissa menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Rasya.
"Ayo kita masuk, Bentar lagi pesawatnya turun" Ucap Dafa membuat Tissa diam ditempatnya.
Dafa menyesal sudah membentak Tissa. Dia ingin memperbaiki kesalahan itu dengan bersikap biasa saja.
Tissa melenggang meninggal kan dua orang itu. Dafa menahan tangan Tissa lalu membawanya masuk ke dalam bandara.
Tissa melepaskan genggaman Dafa lalu beralih ke samping rasya. Dafa tak ingin jauh dari Tissa lalu mengambil posisi disebelah Tissa menjadikan posisinya diapit dua orang itu lagi.
"Dafa!!!" Teriak seirang gadis cantik berhambur kepelukan Dafa.
Alyndra dengan setelan dress simple selutut memeluk Dafa. Tissa sedikit murung melihat itu.
"Rasya kamu iku juga...." Ucap alyndra lalu berniat memeluk Rasya.
Sigap Rasya menggenggam tangan Tissa. Alyndra melihat itu senyum di bibirnya surut seketika.
"Dia siapa?" Tanya alyndra menatap Tissa lalu Dafa dan Rasya bergantian.
"Dia paca_ " Ucapan Rasya terputus.
"Cuma teman" Ucap Tissa tersenyum. Itulah faktanya, Tissa hanya teman biasa.
Rasya tertegun lalu tersenyum tipis. Dafa juga ikut tersenyum penuh kemenangan. Perhatian dan juga kasih sayang hanya sebatas rasa terhadap seorang teman bagi Tissa.
__ADS_1
Alyndra ikut tersenyum. Terselip kelegaan di raut wajahnya.