
Dafa memakan bekalnya dengan lahap. Walau sudah tidak hangat lagi tapi Dafa memakannya dengan lahap. Satu bekal itu sudah dihabiskannya. Dafa mengambil foto Selfi bersama kotak bekal yang kosong lalu mengirimnya pada tissa.
[ Liat ni! Bekal gw habis..makasi ya.., Makanannya enak. Maap tadi gw gak sempat makan]
from: Dafa
Dafa terus menunggu balasan pesan dari Tissa. Tapi itu hanya angan angannya saja. Jangankan di balas di baca pun tidak oleh tissa. Tapi Dafa bersyukur karena Tissa tidak sekedar membaca pesan darinya tanpa membalas. Semua orang tau kejamnya arti dua ceklis biru.
Pagi hari mulai menyapa Dafa bangun dari tidur tidurnya dan bersiap pergi kerja. Dafa mengecek ponselnya tapi tidak menemukan balasan dari Tissa.
Dafa berjalan menyusuri tangga mulai duduk di meja makan.
"Pagi ma.. Pagi nek.." Sapa Dafa
"Pagi.." Ucap nenek dan mama Ratna serempak.
"Dafa..hari ini kamu tolong antarkan nenek ke bandara ya" ucap Mama Ratna.
"Loh nenek hari ini pulang?" ucap Daffa.
" Iya, nenek mau ngurus bisnis jugak di itali,Jadi hari ini harus pulang, Oh ya tolong kamu ajak Tissa ya" Ucap nenek Amira.
"Oo ok nek" Ucap Dafa.
"Ini kesempatan gw sekalian minta maaf sama Tissa" Batin Dafa.
Dafa tiba dikantornya menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dafa lalu menelpon Rasya.
[Halo sya..]
[Iya, Apa?]
[Tissa ada disana gak?]
[Ada, Kenapa?]
[Kalian Uda bisa pulang? Sore ini nenek pulang ke Itali, Nenek nyuruh gw ngantar dia. Nenek mau Tissa ikut]
[Oo iya ini kami siap siap mau pulang]
[Bandara Soekarno Hatta kan?]
[ iya, Lo gak usa ikut. Gw aja yang jemput Tissa]
[Iya]
Panggilan telepo anatar mereka berakhir. Rasya menghela nafasnya dan mendekati Tissa. Menyampaikan kata kata Dafa dari telpon tadi.
"Ehmm kak, kasya ikut jugak ya?" Tanya Tissa.
"Dafa Gak bolehin. katanya nanti dia yang jemput kamu" Ucap Rasya.
"Kalol kasya gak ikut, Aku gak mau pergi" Ucap tissa datar.
__ADS_1
"Dafa gak ngasi" Ucap Rasya lembut.
"Tunggu aku telon dia dulu" Ucap tissa.
Tissa menghubungi Dafa dan langsung diangkat oleh Dafa.
[Halo Dafa]
[Halo, Nanti Lo gw jemput]
[Enggak, Gw mau sama kasya aja perginya]
[Rasya gak usah ikut ya, Dia sibuk]
[Enggak kok, dia gak sibuk. Jam berapa nenek di bandara?]
[Jam 5 Sore]
[yaudah nanti gw ke bandara sama kasya jam 5]
Tissa memutuskan panggilannya. Sementara di seberang sana Dafa menghela nafasnya kasar.
"Kenapa sih susah banget dapatin perhatian Lo?" Ucap Dafa lirih.
Dafa pulang ke rumahnya. Menjemput nenek dan mamanya lalu berlalu ke bandara.
Sesampainya di bandara Tissa dan Rasya sedah ada disana. Tissa dan Rasya menyalami nenek Amira, menyampaikan salam perpisahan.
"Tiss, Lo balik naik mobil gw ya?" Ucap Dafa saat mereka sudah ada diparkiran.
"Kayanya gak perlu deh, aku sama kasya aja" Ucap tissa.
"Tissa plis, Kita jarang ngomong baik baik, seenggaknya Lo mau jadi temen gw, Gw gak mau terus musuhan sama Lo" Ucap Dafa menggenggam tangan Tissa.
"Apaan sih, jangan pegang pegang! Gw gak pernah anggap Lo musuh!" Ucap tissa ketus.
"Yaudah, iya gw minta maaf apapun kesalahan gw dulu, gw minta maap. Tolong kasi gw kesempatan memperbaiki hubungan sama Lo" Ucap Dafa lirih.
"Sya..Lo bisa kan tinggalib kami berdua dulu" Ucap Dafa menatap Rasya.
"Enggk perlu, kasya disini aja, Lagian ngapain Kasya harus pergi" Ucap tissa ketus.
"Tiss, ini diantara kita, gw mau kita berdua yang nyelesaikan masalah ini berdua tanoa ada orang lain" Ucap Dafa lalu melirik Rasya.
"Tissa, Bener kata Dafa. Kalian urus urusan kalian dulu. Aku pulang duluan" Ucap Rasya.
"Tolong nanti Lo antar Tissa pulang" Tambah Rasya. lalu pergi.
"Yaudah cepetan! Gw gak mau lama lama. bentar lagi Maghrib" Ucap tissa
"Jangan disini ya, Kita cari tempat lain" Ucap Dafa.
Ya karna sekarang mereka masih di bandara Dafa memutuskan membawa Tissa ke suatu tempat.
__ADS_1
Dafa memberhentikan mobilnya ketika sampai di tempat itu. Sebuah taman indah, Ada danau disana. Lampion indah tersusun di atas mereka.
Dafa membawa Tissa duduk di bangku taman panjang di bawah rindangnya pohon yangengarah ke danau.
"Gw gak mau musuhan terus sama Lo Tissa. Soal bekal itu, gw minta maap" Ucap Dafa lirih.
"Gw jugak gak pernah mau musuhan sama Lo, Dan bekal itu..gw udah maafin Lo. Mau Lo makan atau buangpun itu urusan Lo" Ucap tissa.
"Tiss, seenggaknya Lo bicara lembut sama gw kaya Lo bicara sama Rasya" Ucap Dafa.
"Maksud lo?" Tanya Tissa.
"Ya kaya Lo sama Rasya, Lo manggil dia pake 'Aku-kamu' Terus Lo ngasih julukan ke dia Dan Lo bicara lembut sama dia" Ucap Dafa.
"Ya itu karena dia orangnya sopan, Jadi gw gak enak kalo manggilnya pake 'Lo-Gw' Dan kalo julukan itu karena.."
"Karena apa?" Tanya Dafa.
"Ya karena gw pengen aja..." Ucap tissa. Tissa sendiri bahkan tidak tau kenapa dia memberi julukan untuk Rasya.
"Jadi Lo mau maapin gw?" Tanya Dafa.
Tissa mengagguk mberi jawaban pada Dafa.
"Kita teman baik ya?" Tanya Dafa. Alisnya dibuatnya naik turun menggoda Tissa.
"Iya..iya..Alis Lo jangan dimainin kaya gitu" Ucap Tissa disertai tawa.
Sepanjang sore itu Dafa dan Tissa memperbaiki hubungan mereka. Mulai tertawa bersama dan melempar canda gurau.
Dafa mengantarkan Tissa pulang ke kos kosannya.
"Lo masik tinggal disini?" Tanya Dafa.
"Iya, kenapa?" Ucap tissa.
"Gw takut aja digebukin. Ingatkan masalh yang dulu?" Ucap Dafa menaikkan alisnya.
Tissa tergelak pasalnya dia dan Dafa pernah membuat keributan di kos kosan Tissa Sampai membuat seluruh penghuni kos menjadi heboh dan berakhir membuat mereka menghadap ibu kos.
"Ya enggak lah! Uda ya..gw masuk dulu. Makasih Uda ngantar gw...Gw masuk dulu Assalamualaikumm" Uacp Tissa lalu masuk ke dalam kos kosannya setelah mendapat balasan salam dari Dafa.
Dafa sampai di rumah mewahnya. Senyum terus mengembang di bibir Dafa. Akhirnya dia bisa bercanda gurau dengan Tissa. Tidak sabar rasanya Dafa memamerkan kebersamaannya dengan Tissa pada Rasya.
"Wuu liat aja besok sya..gw mau pamer sepuas puasnya! Biar Lo rasain artinya di anggurin" Ucap dafa.
Dafa tidur lelap. Terjun ke alam mimpi menenati datangnya pagi.
Pagi itu Dafa memulai harinya dengan bahagia. Setelah berteman baik dengan tissa Dafa kerap kali bercengkrama lewat ponsel dan chatting hingga larut malam.
Hari sudah berjalan demi hari. Tak terasa hubungan dengan menyandang status teman baik disandang oleh Tissa, Dafa dan Rasya.
Entahla hanya benar rasa pertemanan ataupun rasa yang lebih dari sekedar itu. Hanya mereka bertiga yang tau.
__ADS_1