
Dafa teramat menahan emosi meliaht perubahan sikap Rasya yang bisa menjadi hangat pada Tissa. Dia sadar bahwa Rasya juga berhak mencintai seseorang. Tapi masih mengganjal dihatinya bahwa Tissa masih pacarnya walaupun hanya sebatas bohongan, Dafa merasa itu hubungan resmi.
Tissa masih lelap di gendongan Rasya yang membawanya menuju perlabuhan mimpi. Tidak sedikitpun terusik dengan dekapan hangat dari Rasya.
Rasya menurunkan Tissa diperbaringan empuk nan mewah dirumah Dafa. Dafa setia mengekori Rasya dari belakang sambil komat Kamit entah apa yang diucapnya.
"Lo serius suka sama Tissa?" Ucap Dafa membuka suara.
"Iya" jawab Rasya singkat.
"Kenapa?" Tambah Rasya.
"Gw gak yakin" Ucap dafa.
Rasya terkekeh pelan "Terserah" Ucapnya setelah itu lalu berlalu keluar kamar.
"Kita keluar" Ucap Rasya diambang pintu menatap kearah Dafa yang masih setia di posisinya.
"Iya" Jawabnya lalu melewati rasya.
Dafa dan Rasya memasuki kamar milik mama Ratna. Kedua pria tampan itu menatap sendu wajah mama Ratna yang mulai kembali cerah tidak pucat seperti sebelumnya.
"Loh..tissa'nya mana? kok gak ikut kalian?" Tanya mama Ratna agak ketus.
"Tadi diajalan Tissa ketiduran jadi swkarahg ada dikamar tamu. Dia'nya masih tidur" Ucap Dafa lalu duduk dipinggir kasur mewah milik mamanya.
"Tidur dijalan? kok bisa?" Tanya mama ratna salah paham maksud perkataan mamanya.
"Ya bisa la, dia ngantuk jadi yah ketiduran aja gitu. biasa aja kok" Jawab Dafa yabg juga tidak paham maksud mamanya.
Ke dua manusia sedarah itu saling tidak mengerti dengan pikiran lawan bicaranya.
"Tissa tadi ketiduran di mobil, mungkin kelelahan jadi aku bawa masuk ke kamar tamu Tante" Ucap Rasya membelah kebingungan antara dua makhluk sedarah itu.
"Oo, masih tidur ya? Siapa yang bawa Tissa masuk?" Tanya mama Ratna menatap Dafa dan Rasya bergantian.
__ADS_1
"aku Tante" Jawab Rasya seadanya.
"Oo makasih ya Rasya, Tante gak salh mau ngejodohin kamu sama Tissa" Ucap mama Ratna lembut pada rasya. Rasya hanya menanggapi ucapan Ratna dengan senyuman tipisnya.
"Ma! mama gak salah ni? Mama gak boleh asal jodohin orang kaya gitu!" Ucap Dafa menolak keinginan sang mama. Memang sebelumnya mama ratna sudah memberitahu niatnya pada Dafa tapi Dafa berpikir mamanya hanya akan berkeinginan tanpa membicarakan hal ini dengan makhluk kaku bernama Rasya.
"Kamu kenapa masalah sih? Rasya aja oke oke aja mama jodohin, iya kan Rasya?" Ucap mama Ratna.
"Iya Tante" Ucap Rasya dengan senyum tipisnya.
"Eh Lo kenapa main setuju-setuju aja! Gak bisaa gitu dong gak bisa! pokonya aku gak setuju?" Ucap Dafa menatap mamanya dan Rasya bergantian.
Rasya hanya menundukkan kepalanya sambil tersenyum menanggapi penolakan tidak mausk akal dari sahabatnya.
"Daf, kamu kenapa jadi emosi? lagian terserah kamu mau setuju atau enggak! toh mama dan Rasya juga gak minta persetujuan kamu! punya hak apa kamu sampe gak setuju dan menolak keras?" Tanya mama Ratna berkerut dahi melihat tingkah putra semata wayangnya.
"Aku pacarnya! jelas aku punya hak!"Ucap Dafa tanpa sadar dengan penuh penekanan.
Mama Ratna hanya terdiam sesaat dan lalu menatap Rasya yang juga menatapnya. Seakan bertanya "Ini Dafa kok tiba tiba ngomng gini?" .Rasya mengerti dengan tatapan itu hanya tersenyum tipis lagi lalu beralih menatap Dafa yang memandangnya sinis seakan berhadapan dengan seorang musuh.
"Alyndra?" Ucapan Rasya sontak membuat Dafa segera sadar terhadap apa yang baru saja diucapkannya. Kenyataannya adalah alyndra yang dia akui sebagai pacar dan oranga yang dicintainya. Tapi kenapa dia masih menuntut Tissa?
Selepas kepergian Dafa dari kamar itu dan meninggalkan Rasya dan namanya. Mama Ratna terus tertawa melihat kelakuan anaknya yang egois berbalut lucu karena ekspresi kemarahan nya seakan ada yang merebut barang kesukaannya.
"Bagaimana ini sya?" Tanya mama Ratna setwlh selesai dengan tawanya.
"Dia egois" Ucap Rasya menatap pintu kalau tersenyum.
Rasya keluar menyusul Dafa. Entah kemana Dafa pergi sampai Rasya kesulutan mencarinya. Rasya segera naik kelantai dua rumah megah Dafa menuju kamar tempat Tissa tengah berpetualang dia alam mimpi.
"Lo benci dia?" Tanya Rasya yang mendapati keberadaan Dafa di kamar tempat Tissa tidur. dafa gelagapan mendapati kedatangan rasya.
"Apa?" Tanya Dafa seakan dia tidak membuat kesalahan.
Rasya membuabga nafasnaya kasar dengan tingkah kekanak Kanakan Dafa.
__ADS_1
"Lo benci dia?" Tanya rasay lagi.
"Gw gak pernah benci dia, Dia aja yang ngeselin dan emang cocok nya di gaduhin" Jawab Dafa seraya terkekeh melihat wajah polos Tissa yang tengah tertidur lelap.
"Lo suka dia?" Tanya Rasya sekan jengah terhadap sikap Dafa ynag tak peka dengan perasaannya sendiri.
"Ha? apa? nggk lah!" Jawabnya ketus. Rasya hanya bisa menghela nafasnya lagi. Benar benar tidak habis pikir dengan pemikiran Dafa. Tentu jawaban dari Dafa menambah beban di hati Rasya yang juga menaruh hati pada Tissa.
"Astaga... jam berapa ini?" Tanya Tissa yang langsung terduduk dari tidurnya. Tissa tebangun setelah mendengar suara keras Dafa.
Tissa langsung menatap tatapan mata dari dua orang pria yang berada disisi kanan dan kiri tempat tidurnya.
"Kamu Uda bangun?" Ucap Dafa dan Rasya serempak.
Tissa mentap dua pria itu bergantian dengan wajah polos khas bangun tidur.
"Jam berapa ini?" Tanya Tissa lagi tanpa peduli pertanyaan kedua pria yang tengah menatapnya.
"Jam tujuh" Jawab dua pria itu serempak lagi. keduanya saling adu tatap. Dafa melayangkan tatapan sinis pada Rasya. Sedangkan Rasya memberikan tatapan datar khasnya.
"Ha?! Serius?" Aku dimana?" Tanya nya setengah berteriak.
Dafa menutup telinganya, suara Tissa nyaring ditelinganya. " Heh! gak usa jerit! sakit kuping gw!" Ucap Dafa ketus.
"Brisik!" Jawab Tissa tajam sehingga mencitukan Dafa.
"Ini jam tujuh malam, Sekarang kamu ada dirumah Tante Ratna" Ucap Rasya.
"Rumah gw" Ucap Dafa santai.
"Berapa lama aku tidur?" Tanya Tissa pada Rasya.
"Berjam jam tak kenal waktu" Jawab Dafa enteng.
"Gw gak nanyak lu" Ucapnya ketus.
__ADS_1
Dafa menghela nafasnya pelan. Dafa lesuh melihat perbedaan sikap Tissa padanya dan pada Rasya. sangat amat berbeda.
"Kasya, aku keluar ya, aku mau jenguk mama Ratna" Ucapnya lalu pergi keluar.