Flash Of Love

Flash Of Love
Tiga Makhluk Tiga Rasa


__ADS_3

"Ekhemm..Ini Uda larut malam lho..., Aku balik ke kamar ya... Gak baik ada di kamar anak perempuan tengah malam gini" Ucap Dafa agak keras hingga membuyarkan obrolan renyah antara Tissa dan Rasya. Dafa melirik Rasya saat mengucapkan kata katanya yang berniat menyindir Rasya.


Rasya tersenyum tipis mendengar ucapan Dafa. Rasya menghela nafasnya pelan. Dafa benar benar tidak membiarkannya dekat dengan Tissa.


"Yaudah kalo mau pergi, pergi aja sana!" Ucap Tissa benar benar jengah dengan Dafa.


"Yok sya.. kita balik ke kamar masing masing.." Ucap Dafa santai.


"Tissa, aku balik ya.. kamu langsung tidur aja habis ini. Maap aku ganggu waktu istirahat kamu." Ucap Rasya lembut.


"Iya kasya.. makasih ya.kopinya.." Ucap tissa dengan menebar senyum manisnya.


Dafa sudah tidak tahan dengan sikap si garang Tissa yang berubah lembut dan juga si dingin Rasya berubah menjadi hangat dan perhatian. Bahkan kedua makhluk itu saling menebar senyuman yang jarang dilihat Dafa.


Dafa berlalu jalan lebih cepat karena panas dengan keadaan didepannya. Rasya mengikutinya dari belakang.


"Secinta itu Lo ke Tissa, sanpe sikap Lo berubah cepat menjadi hangat dan perhatian? Kalian bahkan baru saling kenal" Ucap Dafa dengan nada sinisnya ketika mereka sudah keluar dari kamar Tissa.


Dafa tersenyum tipis "Mungkin" Ucap Dafa santai lalu berlalu meninggalkan Dafa.


"Hey! Jangan macam macam sama gw! Walaupun Lo sahabat gw..tapi gw gak rela milik gw direbut orang lain" Ucap Dafa menarik kerah kaos Rasya.


Rasya tersenyum tipis lagi "Milik Lo? Tissa gak pernah jadi milik Lo" Ucap Rasya dengn nada dinginnya.


Dafa seketika melepaskan Rasya. Dia bahkan tidak sadar sudah mengucapkan kalimat yang seharusnya yifaj dikatakannya. Tapi Dafa memang merasa bahwa Tissa adalah miliknya sejak mereka berpura pura pacaran.


"Gw balik duluan" Ucap Dafa setelah sadar akan ucapannya.

__ADS_1


"Gw harap Lo gak halangi jalan antara gw dan Tissa" Ucap Rasya lalu menepuk bahu Dafa.


Dafa masuk ke kamarnya, dia merbahkan tubuhnya di kasur empuknya. Pikirannya beralih memikirkan sikapnya kahir kahir ini yang selalu iri pada Rasya.


"Apa yang gw rasain tentang tissa? gw gak benci dia.. Tapi gw rasa apa gw.., Ah Enggk, gw gak suka liat dia sama Rasya cuma karena dia gak pantas untuk Rasya..." Ucap Dafa pada dirinya sendiri.


_________________________


Sementara dikamar rasya, Makhluk dingin itu tengah tersenyum menatap langit langit kamar yang ditempatinya.


"Apa bener gw cinta sama Tissa? gw suka liat senyumnya...dia manis, lucu...Gw rasa gw emang bener suka dia.., gw akan berusaha dapatin dia walau saingan gw adalah Dafa" Ucap Rasya pada dirinya sendiri.


Rasya menghela nafasnya kasar. Dia kali ini tidak rela untuk melepas cintanya lagi hanya karena persahabatannya dengan Dafa.


Rasya sangat hormat dan hutang Budi pada keluarga Dafa yang membantu usaha neneknya saat sedang bermasalah. Orang tua Dafa sudah meninggal. Sebelumnya Rasya tinggal dengan neneknya dan lalu memutuskan untuk hidup mandiri. Di jerman tempatnya dan sang nenek tinggal. Rasya memilih mandiri pisah rumah dengan sang nenek. Dari situlah awal mula dia bertemu dengan Dafa anak seusianya yang tidak bisa bahasa Jerman dan tersesat. Rasya membantunya dan itulah awal dari kisah persahabatan anatara keduanya.


Rasya masih berusia remaja saat pisah rumah dengan sang nenek. Rasya takut menjadi beban sang nenek. Rasya bekerja perih waktu di toko kelontong. Sejak pertemuannya dengan dafa, Rasya dikenalkab dengan mama Ratna orang tua tunggal Dafa. Sejak saat itu Rasya dan Dafa sering bersama, rasya mengajarkan Dafa bahasa Jerman. Sejak dulu kepintaran Rasya tidak diragukan. Rasya membantu Dafa belajar sebagai gantinya biaya sekolah Rasya ditanggung oleh orang tua Dafa yang kaya. Keluarga Dafa juga membantu bisnis sang nenk hingga akhirnya menjadi perusahaan yang sukses walau tida sebanding denga perusahaan Dafa.


________________________


Tissa tersenyum lalu berguling guling di tempat tidur empuk itu. Terus terngiang di kepalanya saat Rasya mengapus noda kopi di bibirnya, saat Rasya memujinya, tertawa padanya...akhhh itu sangat la membuat hati Tissa berdegup kencang.


Senyum manis tidak hilang dari bibir tissa. Pipinya masih setia merona padahal sudah tidak ada orang lagi di kamar itu. hanya dengan membayangkan perlakuan manis dari Rasya padanya sudah membuatnya terbang ke angkasa.


"Akh... apa kasya suka sama aku ya.., akhh gak mungkin la.., Aku tapi Uda nyaman dia...uuu senyum manisnya.." Tissa senyum dan menutupi wajah merahnya dengan bantal.


"Apa aku juga sukak sama kasya?" Tissa menyingkirkan bantal dari wajahnya. Keningnya langsung berkerut memikirkan jawaban dari pertanyaan yang diloloskan dari bibirnya sendiri.

__ADS_1


___________________


Begitulah ketiga insan terus berkutik dengan pikirannya. berkonsultasi dengan hatinya. Tentang apa yang mereka rasakan apakan itu benar rasa suka, benci kagum atau.... Cinta?


Pagi hari mulai menyapa. Sinar matahari menyeruak kan pandangan menajadi cerah.


Si gadis Tissa sudah berpakaian rapi walau hanya dengan kaos hitam serta celana gembor panjang miliknya yang dipinjamnya dari pelayan muda di rumah Dafa.


Tissa pergi munuju dapur, membantu para pelayan. Tissa tidak enak hati jika hanya harus bersantai padahal waktunya sedang senggang dan dia juga hanya menumpang di rumah itu walau hanya sehari.


Bertemour dengan alat alat dapur ternyata tak sulit bagi Tissa. Gadis 21 tahun itu lihai di dapur. mulai dari memasak bahkan membersihkan dapur pun turut dilakukannya. Berbagai pujian dari pelayan dilayangkan untuknya. Para pelayan tua sungguh memuji keramahan sikap Tissa juga bakat memasaknya.


Tissa mengajak mengobrol para pelayan di halaman belakng rumah Dafa yang ternyata lebar dan sejuk. Beberapa dari pelayan mengira Tissa adalah pacar dafa, ada juga yang mengira Tissa adalah pacar Rasya. Bahkan ada juga yang bertaruh. Tissa tertawa ria berbincang dengan pelayan pelayanan rumah megah Dafa.


Setelah berbincang Dafa mencoba untuk membuat deseret puding. Tissa melihat semua masakannya hanya makanan berat saja. Tissa bertanya akad salah satu pelayan.


"Ehmm mbak, Biasanya disini kalo makan dibaut desert nggk?" Tanya Tissa pada pelayan berusia 45 tahun itu.


"Biasanya sih enggk dek, Tapi kadang nyonya sering beli jadi gak perlu beli. Taoj kayanya di kulkas Uda gak ada lagi dek" Ucap pelayan itu. Tissa yang menyuruhnya menyebutnya 'dek' karena semua pelayan memanggilnya 'nona'.


"Oo gitu ya mbak, kalo aku buat sendiri boleh nggak? kaya nya ini waktunya masih sempat sebelum sarapan" Ucap Tissa.


"Yasudah terserah dek, tapi maap mbak gak bisa bantu soalnya mbak tadi lagu nyetrika."


"Iya mbak gak apa apa" Ucap Tissa lembut.


Tissa mulai mengolah bahan membuat puding. Tissa memutuskan membuat puding mangga setelah melihat ada mangga matang di dalam kulkas.

__ADS_1


"Eh..siapa si manis ini?"


Tissa berbalik set lah medengar suara serak wanita dibelakangnya. Tissa berbalik dan mencoba tersenyum ramah pada orang tua yang ada didepannya dan juga tidak dikenalnya.


__ADS_2