
Tok...
Tok...
Tok..
Ketukan itu menggema dari balik pintu kos kosan Tissa. Tissa beberapa kali mengerjapkan matanya. Sayup sayup suara ketukan pintu sampai di telinganya.
Dengan sempoyongan Tissa perlahan membuka pintunya. Tissa menatap sosok didepannya dari bawah hingga atas. Wanita dengan dress merah panjang semata kaki, Lengkap dengan highheels dan clutch mewah. Serta dengan rambut yang terurai menambah kesan anggun wanita itu.
Berbanding terbalik dengan Tissa yang hanya memakai kaos hitam oblong dengan bawahan trening kusust juga rambut yang acak acakan. Penampilan Tissa terlihat seperti gembel jalanan.
"Tissa....Kamu belum siap siap?" Ucap wanita itu yang tak lain adalah Alyndra.
"Hehe maap aku ketiduran"
Alyndra geleng geleng kepala memandangi cengiran Tissa yang diucapnya dengan mata setengah tertutup.
"Kalo gitu tunggu aku siap siap dulu ya.." Ucap tissa
"Eh Uda gausah deh..Kita kuy ke salon aja.
siap siap nya disana.."
"Ha?" Tissa masih terpangah, Dirinya masih sempoyongan menahan kantuk yang sudah tanggung menurutnya.
Tangan Tissa sesegera mungkin ditarik oleh alyndra. Alyndra membawa Tissa dalam keadaan gembel pergi ke salon ternama.
Sedang Tissa dua hanya pasrah saja pada apa yang dilakukan para petugas salon itu. Untuk gaunnya pun sudah disiapkan di salon itu. Seketika saja Tissa yang gembel diubah menjadi wanita cantik bak princess.
Tissa memakai dres hitam selutut dengan model mengembang dibawah, Rambut Tissa diuraikan ke samping, Anting putih juga bertengger indah didaun telinganya.
Alyndra bahkan para pelayan salon terpukau dengan perubahan penampilan Tissa yang semula gembel menjadi sangat menawan.
"Kau sangat cantik Tissa, Bersiaplah dua pangeran menunggumu.." Batin Alyndra.
Tissa sudah mulai bisa mengontrol dirinya. Rasa kantuk itu perlahan menghilang. Tissa tersipu malu saat banyak orang memujinya.
Mobil yang dikendarai alyndra dan Tissa berhenti di depan gedung mewah. Satu langkah dia turun dari mobil, Pesonanya sudah menyeruak ke seluruh ruangan di gedung itu.
Tissa terus diperhatikan banyak orang termasuk dua pangeran tampan yang telah menantinya sedari tadi.
Alyndra dan Tissa bergabung bersama Dafa dan Rasya. Dua pria itu Tissa berhenti memuji Tissa walau hanya dalam hati.
"Eh...Aku kesana dulu ya... Mau naymperin temanku. Tissa.. Kamu disini dulu yaa sama dua pangeran ini.." Ucap alyndra diakhiri dengan tawa kecil.
Alyndra nampak menyemangati dua sahabtanya itu dari jauh. Tapi seperti remaja SMP, dua pria itu tidak ada yang berani berbicara pada tissa, Sedang Tissa..Gadis itu hanya memperhatikan orang orang yang tengah bercengkrama.
Seorang pelayan datang ke arah mereka.
"Permisi nona..tuan..Ini topengnya.." Ucap pelayan itu.
Pesta topeng akan segera diadakan disana. Tissa Rasya dan Dafa masubgmaisbg mengambil topeng yang hanya menutupi bagian atas wajah mereka.
"Akan ada pesta dansa ya?" Tanya Tissa memebuka suara. Entah pada siapa pertanyaan itu ditujukannya.
"Eh..i itu.. iya.." Ucap Dafa yang sudah gugup sejak tadi.
Tissa hanya mengangguk, Keadaannya belum membaik dengan Dafa. Rasa sakit hati masih membekas di hati gadis itu.
"Kamu mau dansa sama aku?" Ucap Rasya membuka suaranya, Sedari tadi dia sudah mengumpulkan keberaniannya untuk bicara dengan pujaan hatinya.
"Ahh aku gak bisa dansa taukk" Ucap tissa, Walau penampilannya terlihat elegan, Tapi untuk sikapnya tetap tidak berubah. Benar benar tidak bisa menjaga image.
"Aku bisa ajari kamu, Kita pelan pelan" Ucap Rasya lembut.
Dafa mendengus kesal, Dia kalah cepat dari Rasya, Rasa gugupnya belum bisa dikalahkannya.
"Iya dehh" Ucap tissa santai.
Rasya mengambil dua gelas minuman. Tentu ini taktiknya untuk dapat perhatian dari Tissa. Dia tau Tissa masih kecewa, inilah caranya agar hubungannya dengan Tissa kembali membaik.
"Kamu haus kan? ini minum" Dafa menyodorkan minuman itu pada Tissa.
__ADS_1
"Ahh enggak, Nanti aku ambil sendiri" Ucap Tissa datar.
"Aku tau kamu haus" Ucap Dafa.
Tissa jengah, Dia juga sebenarnya haus. Tapi enggan untuk menerima pemberian Dafa.
"Makasih" Ucapnya seraya tersenyum tipis.
"Kamu mau jala jalan di sekitar sini?" Tanya Dafa membuka suara.
"Nggak usah, Aku disini aja" Tolak Tissa lembut.
Dafa terlihat terus berpikir, Cara apa yang harus dilakukan kannya lagi untuk dapat perhatian Tissa. Sementara rasya, pria es itu hanya tersenyum tipis tiap kali Tissa memandangnya.
Alyndra dari kejauhan merutuki kebodohan dua sahabtanya.
"Ahhh bodoh! Mereka itu seperti remaja SMP aja! pakek malu malu kucing lagi..Tcihh gak berbakat" Batin alyndra dalam hati. apalah dayanya dia hanya bisa menonton dan menyemangati dua sahabtanya.
"Kamu cantik" Kata kata itulah yang keluar dari mulut Dafa.
Tissa menoleh menatap Dafa..Pipinya seketika merona, Dua kata itu begitu ampuh! hati Tissa berdesir jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Rasya menyadari keadaan Tissa, Tentu dia sempat kecewa karena tak tik Dafa sangat ampuh. Dafa bersorak ria Dalam hatinya, Tapi hanya sebentar, Karena Rasya mengalahkannya.
"Pipimu merah, apa kau sakit?" Tanya Rasya, Pria es itu menyentuh permukaan wajah Tissa lembut.
Bukannya kembali normal, Wajah Tissa bertambah merah seperti kepiting rebus. Di kala dua pria itu menggoda nya apa yang harus dia lakukan?
Dafa mendengus kesal, Harusnya bagian itu miliknya. Harusnya dia yang membelai wajah Tissa.
"Aa..a.aku..Permisi sebentar" Ucap tissa. Wajahnya sudah ditundukkannya. Jantungnya berdetak lebih kencang. Dia perlu untuk menenangkan jantungnya itu.
"Kamu mau kemana?" Pertanyaan bernada serempak itu keluar dari mulut dua pria secara bersamaan, Buka cuma itu kini mereka sama sama menahan tangan Tissa.
"Aghkkkkk! Apa yang mereka lakukan? Apa mereka mau membuatku meledak! Jantungku sudah tidak bisa kutenangkan lagi..Dan wajahku... wajahkku sangat terasa panas...Aissss" Umpat Tissa dalam hati.
"Ehmmm i..ituuu ada..akuuu t tolonggg lepaskan tanganku..." Ucap tissa terbata bata gadis itu menundukkan kepalanya guna menutupi wajah merahnya.
"Argjhhh apa yang ditanyakan nya? Apa dia tidak peka atau apa?? ahh mereka pasti ingin membuatku mati... Jantungku sebentar lagi akan lepas dari tempatnya..". Batin Tissa.
"Kamu baik baik aja?" Kali ini Rasya yang bertanya.
Tissa Akhirnya mendongak, Memperlihatkan wajah nya yang memerah. Tapi dua pria itu..Mereka mengembangkan senyumnya. Bersyukur karena tak tik nya berhasil.
Alyndra semula tenang menjadi agak tegang....Matanya sedari tadi mengamati ketiga orang itu.
"Wahhh wahh kayanya seru nih..Lihat lah Tissa..siapa yang kau pilih?" Batin Alyndra.
"Kau mau kuantar beristirahat?" Tanya Rasya lagi.
"Ah..tidak usah aku gak apapa kok" Ucap tissa.
"Baikla... Dansanya akan dimulai..Ayok kita ambil bagian.." Ucap Rasya seraya mengulurkan tangannya.
Tissa menyambut tangan itu, Mereka berdua memasuki area dansa. Mengambil ancang ancang, Rasya merangkul pinggang Tissa. Menyibak jarak anatar mereka. Tissa meletakkan satu tangannya di dada pria itu dan satu lagi menggenggam tangan Rasya.
Dafa seperti kebakaran jenggot melihat itu. Dafa meloggarkan dasi yang dipakainya. Melepas dua kancing baju bagian atasnya. Pemandangan itu membuatnya kepanasan.
Alunan merdu musik dansa berlabuh..diikuti gerak gerak para Pedansa.. Banyak dari para Pedansa yang berdansa sambil memadu kasih. Para wanita menatap lekat wajah pasangannya begitu pun sebaliknya para pria juga menatap lekat wajah Pasangannya. Memadu kasih bahkan sampai ada yang berciuman sambil berdansa.
Tak begitu bagi Tissa, Gadis itu malah menundukkan kepalanya menahan rasa gugup dihatinya. Jarak antara dia dan Rasya sungguh dekat, Jantungnya tidak berhenti berdetak cepat.
"Angkat kepalamu, Tatap aku" Ucap Rasya lembut.
Tissa perlahan mendongakkan kepalanya, Menatap sosok pangeran tampan dihadapannya.
"Kamu benar benar cantik" Ucap Rasya lagi.
"Terimakasih" Ucap tissa lembut.
"Aku mencintaimu" Ucap Rasya lirih tapi tetap bisa didengar Tissa.
"Apa?" Tissa menatap rasya tak percaya. Mereka masih berdansa mengikuti alunan merdu musik.
__ADS_1
"Kau mendengarku" Ucap Rasya lagi.
"Aakuu tidak tau harus bilang apa" Itulah yang diucapkan Tissa. Tissa menatap wajah Rasya seolah mencari kepastian
Rasya tersenyum, Rasya membuka topengnya. Menjatuhkannya ke lantai sehingga membuat wajah tampannya dapat dilihat Tissa dengan jelas.
Rasya lalu menyentuh wajah Tissa lembut. Membuka topeng gadis itu, Memperlihatkan wajah cantiknya tepat di depan wajah Rasya.
Tissa tertegun menelan ludahnya, Tidak pernah terlintas dibenaknya dia akan seperti ini. Berdansa dengan pria tampan, Mengenakan gaun dan mendapat pernyataan cinta.
"Aku tidak akan memaksamu bicara, Aku lega sudah mengatakan isi hatiku" Ucap Rasya, Matanya menatap lekat Tissa, Gadis itu sudah tidak bisa mengontrol jantungnya.
Rasya memegang bagian belakang kepala tissa, Mendekatkan wajahnya, Bodohnya Tissa, Dia justru menutup matanya, Entah apa yang merasukinya tapi itulah yang dilakukannya.
Satu kecupan mendarat di bibir gadis manis itu. Rasya mengecup bibir Tissa .Hanya sekedar kecupan...Baru beberaoa detik bibirnya menyentuh bibir Tissa Rasya melepas kecupan itu.
Bughh!
Satu pukulan keras Singgah di wajah Rasya. Pria es itu jatuh ke lantai. Hal itu menyita perhatian para tamu pesta.
Dafa berdiri menatap tajam Rasya yang terjatuh ke lantai. Rahangnya mengeras..Tangannya sudah dikenalnya. Sedari tadi dia menahan emosinya. Api cemburu terus membara dihatinya. Kecupan yang diberikan Rasya adalah puncak emosinya. Dafa tidak dapat menahan emosinya lagi ketika melihat gadis yang dicintainya dikecup pria lain.
Rasya memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Rasya berdiri menatap dingin Dafa.
Tissa terbodoh ditempatnya, Benar benar tidak tau harus berbuat apa.
"Kenapa?" Pertanyaan dingin itu keluar dari bibir Rasya.
Dafa mencengkeram kerah baju Rasya dan menatapnya tajam.
"Maksud lo apa? Kita sepakat bersaing secara sehat tapi Lo? Apa maksud lo brengsek?" Ucap Dafa. Dafa memukul wajah Rasya terus menerus. Rasya juga membalasnya. Dua pria itu berkelahi hebat hingga wajah tampan mereka penuh dengan lebam.
"Heh! Stop!! Stopp!!" Ucap tissa, Gadis itu melerai dua pria yang memperebutkan nya. Tissa menarik tangan Dafa menjauh dari Rasya.
"Jangan cari gara gara sama gw!!!" Kecam dafa, Lalu pria itu menarik tangan Tissa kasar membawanya menuju atap gedung.
Rasya berniat mengejar Tissa tapi ditahan oleh alyndra.
"Sya..Lo luka parah..sebaiknya kita obati dulu luka Lo" Ucap alyndra, Lalu Rasya menganggukkan kepalanya.
Tissa memberontak dari genggaman dafa, Gadis itu berusaha melepas tangannya dari Dafa.
"Hehhh!! Lepasin gw!! Lepasss!!" Ucap tissa gadis itu terus berteriak.
"Diam!! jangan banyak bicara!! ikut gw!!" Ucap Dafa tajam membuat nyali Tissa ciut, belum lagi tatapan mata Dafa sangat tajam hingga menusuk hati.
Dafa melepas genggaman nya saat tiba di atap gedung. Suasana malam indah saat itu tapi tidak dengan keadaan mereka.
"Jauhi Rasya!! Jangan oe nah dekati dia lagi!!" Ucap Dafa penuh penekanan.
"Maksud lo apa? kenapa Lo jadi ngatur gw!!! Bukannya Lo yang bilang gw gak perlu ikut campur urusan Lo! jadi Lo jugak gak bisa ikut campur urusan gw!!" Ucap tissa dengan nada tinggi.
"Lo sadar gak??? Dia tadi nyium elo!!!" Ucap Dafa. Dafa kini memegang bahu Tissa.
Tissa takut dengan tatapan Dafa, Gadis itu ingin menangis tapi diurungkannya.
"Jjadi? Ke..kenapa Lo marah?" Ucap tissa dengan terbata menahan rasa takut.
"Tissa gw cinta sama Lo!! Gw udah lama suka sama Lo!! Gw gak rela!!" Ucap Dafa dengan nada lirih penuh penekanan. Matanya menatap lekat Tissa yang hampir menangis.
Dafa membelai wajah Tissa mendekatkan wajahnya dan menyentuh bibir Tissa. Mata Tissa melotot, Ini yang kedua kalinya dia dicium tapi ielh pria yang berbeda.
Berbeda dengan Rasya yang hanya mengecup Tissa, Dafa justru ******* bibir Tissa dengan rakus. Tangannya menahan pinggang dan tengkuk Tissa untuk memperdalam ciumannya.
Tissa gadis itu hanya menutup mata, Jantungnya berdegup dengan kencang sekencang kencangnya bahkan lebih kemcnga dari pada yang sebelumnya. Tissa yang tidak membalas ciuman panas dafa, Tissa mencoba mendorong tubuh Dafa agar menjauh darinya. Tapi Dafa justru makin rakus menciumnya dan juga menggigit bibir Tissa hingga memberinya akses masuk menjelajahi isi mulut Tissa.
Gadis itu menangis...Dia tidak menyangka Dafa akan sekadar ini hingga akhirnya Dafa melepas pangutan bibirnya kala Tissa hampir kehabisan oksigen.
Tissa terengah engah, Gadis itu meraup oksigen sebanyak banyaknya. Dafa juga melakukan hal yang sama. Dafa menatap lekat Tissa mendekati gadis itu dan mendekapnya. Tissa menangis, Hatinya jujur mencintai orang ini. Tapi kenapa harus kasar seperti ini?
"Maapkan aku...Maafkan aku..Tissa..Aku mencintaimu...Aku tau seharusnya aku tidak kasar padamu...Maaf kan aku...aku mohon.." Dafa, pria itu menangis lemah dihadapan wanita yang dicintainya.
Tissa masih sesenggukan. Dirinya menatap pria yang sudah menciumnya dengan kasar. Pria itu sudah berpenampilan berserakan, Rambutnya acak acakan dan juga bajunya kusut lengkap dengan lebam diwajahnya.
__ADS_1