
Dafa pasrah dengan sikap keras kepala mamanya. Malam ini Dafa menemani mama Ratna dirumah sakit. Dafa berusaha meyakinkan mamanya agar menerima alyndra dan akhirnya mendapat persetujuan sang mama.
Dafa benar benar mencintai alyndra sejak lama. Dafa, alyndra dan Rasya berteman sejak kecil. Tapi Dafa menyimpan perasaan sejak lama pada alyndra dan mendapat balasan perasaan dari alyndra.
Pagi mulai menyapa, Dafa ijin pada mamanya untuk pulang ke rumah dan langsung pergi ke kantornya. Dafa melewati pejerjaannya dengan cepat. Niat hatinya ingin segera memebantu ibunya yang akan keluar rumah sakit hari ini karena keadaanya dinyatakan membaik.
_____________________
Dirumah sakit....
"Maaf semua, aku terlambat" Ucap Dafa yang baru saja memasuki ruangan VVIP mamanya.
Diruangan itu sudah ada Rasya dan Tissa yang ikut karena permintaan Ratna.
"Waalaikum salam" Ucap tissa menyindir Dafa. pasalnya Dafa tidak mengucao salam saat pertama masuk.
"Eh iya maap semuanya..Ekhemm..'Assalamualaikum'. Uda kan" Ucap Dafa sambil melihat Tissa sinis.
"Nah gitu dong, biar sopan" Ucap tissa.
Dafa pergi kebagian resepsionis rumah sakit untuk mengurus kepulangan mamanya. Sedangkan Rasya dan Tissa membantu mengemasi barang barang mama Ratna yang ada dirumah sakit.
Karena barang yang ada dirumah sakit cukup banyak jadi Rasya dan Tissa memutskan untuk mengurus barang barang dan meminta agar mama Ratna segera di bawa pulang terlebih dahulu agar langsung bisa beristirahat dirumah.
"Dafa, kamu temani Tante Ratna pulang ya, kami akan mengurus barang yang ada disini dulu" Ucap Rasya datar.
"Ha? kenapa kalian gak ikut sama kita aja? barang barangnya kan bisa diurus sama pelayan" Ucap Dafa tak terima meninggalkan Rasya dan Tissa berduaan.
"Pelayan sibuk ngurus persiapan nyambut Tante Ratna dan beberapa sanak saudara Lo juga ada dirumah lo, jadi pelayan pada sibuk semua" Ucap Rasya seadanya.
"Yaudah gw ikut sama kalian, Mama Ratna biar pulang sama Tante Dewi" (teman Ratna yang kebetulan adalah dokter dirumah sakit tempat Ratna dirawat).
"Terserah lo" Ucap Rasya jengah.
"Kasya, ini barangnya mau dibawa pulang naik mobil?" Ucap tissa pada Rasya dengan lembut sontak membuat Dafa menatap sinis pada Tissa.
"Sejak kapan Lo ngomng lembut gitu?" Ucap Dafa mengejek.
"Dari dulu emang gw selalu ngomong lembut, situ aja yang gak tau!" Jawab Tissa ketus.
"Eh kasya..ini mau langsung dibawa ke parkiran aja?" Ucap tissa lembut pada Rasya.
__ADS_1
"iya Tissa" Jawab Rasya lembut seraya tersenyum.
"Sya..Lo sehat sehat aja kan?" Tanya Dafa melihat Rasya tersenyum yang menurutnya seram karena Rasya jarang tersenyum.
"Iya, emang kenapa?" Tanya Rasya heran.
"Iihh gw seram ah liat Lo senyum kaya gini. Gak biasanya Lo senyum. Lo sakit ya?" Tanya Dafa seraya menempelkan punggung tangannya di kening Rasya.
"Eh rabun! Yang sakit itu bukan kasya, tapi Lo! orang senyum dibilang sakit, Gilak Lo!" Ucap tissa ketus pada Dafa.
"Heh bebek julid! Lo bisa gak si diam dulu!" ketus Dafa.
"Emang kenapa kalo aku senyum?" Tanya rasya datar.
"Ya gak apa apa sih, ya karna Lo jarang senyum gw jadi heran aja heeheh" Cengir Dafa.
"Karna dia lucu" Ucap rasya seadanya sambil menatap Tissa.
"Heh! Kesambet Lo sya! hahahhaha si bebek julid dibilang lucu hahahah" Dafa merasa aneh pada sikap Rasya yang dianggapnya lucu.
"Ihh Lo kenapa si? Gilak Lo ketawak sendiri gak ada yang lucu!, Uda ah kasya..yok kita langsung balik aja, Uda siap kan beresinnya?" Ucap tissa Dafa lalu beralih pada Rasya.
"Woy...tunggu gw la!! gw belum siap nih!" Ucap Dafa pada kedua orang yang sudah meninggalkannya.
Sesampainya diparkiran mobil mereka sudah memasukkan barang barang ke dalam mobil Rasya. Rasya mengambil posisi mengemudi dan Tissa mengambil posisi duduk di samping Rasya dikursi depan.
"Hey gak naik mobil gw aja?" Tanya Dafa yang sudah membuka pintu mobilnya.
"Barang barangnya Uda disusun dimobil kasya. jadi kita naik mobil kasya aja" Ucap tissa mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.
Rasya tersenyum lucu melihat tingkah Tissa yang menurutnya lucu dan menggemaskan.
Dafa berkutik dengan ponselnya lalu berjalan ke arah mobil rasya.
"Jadi gw duduk dimana?" Tanya Dafa berhadapan dengan jendela bagian tissa yang masih terbuka.
"Duduk dibelakang" Ucap Rasya datar.
"Isss gw duduk didepan aja! Lo Tissa pindah kebelakang" Ucap Dafa ketus. Tentu niatnya adalah menjauhkan Tissa dan Rasya. Entah kenapa rasanya Dafa tidak ingin mereka berdua dekat.
"Ha gw gak mau! Lagian Lo kenapa sih? Bukannya Lo lebih enak duduk dibelakang? atau kenapa Lo gak mau bawa mobil sendirian aja ha?!" Ucap tissa ketus.
__ADS_1
"Aaa itu..gw males nyetir" Ucap Dafa. Lasab itulah yang didapatkan nya.
"Yaudah Tissa, kamu dibelakang aja ya.., baid kamu sekalian lebih enak istirahat" Ucap Rasya lembut yang akhirnya disetujui Tissa.
"Gitu ding dari tadi!" Ucap Dafa santai.
"Bodo'!!" Ucap tissa.
Perjalan dari rumah sakit sampai ke rumah Dafa luamyan jauh. Tidak ada obrolan diantara mereka hingga akhirnya Tissa ynga berada di kursi tengah tertidur.
Rasya melihat kearah Tissa lewat spion lalu tersenyum. Dafa yang menahan keganjilan dari sikap Rasya sudah menahannya sejak tadi. Rasya tersu tersenyum ke arah tissa. ada rasa kesal dihati Dafa.
"Lo suka sama Tissa?" Tanya Dafa pada Rasya datar.
Rasya tersenyum menatap kearah jalan lalu menatap Tissa sekilas dan kembali menatap jalan dan tersenyum.
"Iya" Jawab Rasya tersenyum tipis melihat ke depan sambil terus menyetir.
Tawa tipis dilontarkan dafa. Ada rasa kesal berkecamuk dihatinya. Walaupun Dafa dan Tissa sering cekcok tapi Dafa mengakui bahwa Tissa adalah gadis manis dan baik yang pernah memberikan nyaman pada Dafa.
"Alasannya?" Tanya Dafa sambil menatap lurus ke depan.
"Dia lucu" Jawab Rasya sambil tertawa tipis.
"Cuma karena itu?" Tanya Dafa lagi.
Kini obrolan mereka menjadi serius dan penuh sikap kedewasaan seakan sama sama hendak menjaga sesuatu yang berharga.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah mewah milik Dafa. Tissa masih terlelap dalam tidurnya. Perlahan mobil milik Rasya berhenti dan memasuki garasi luas milik Dafa. Kedua pria yang berada didepan turun.
Dafa membuka pintu belakang yang menampilkan sosok gadis manis sedang tidur memejamkan matanya. Dafa hendak membenarkan rambut Tissa yang sedikit berantakan dan bahkan akan mengangkatnya ke dalam gendongan Dafa. Tapi sebelum Dafa menyentuh Tissa tangan Dafa tertahan.
Rasya menahan tangan Dafa yang hampir menyentuh Tissa. "Aku Mencintainya, aku yakin" Ucapan Dafa memebuat Dafa melepas kasar tangannya dari genggaman keras Rasya dan mebajamkan pandangannya ke arah Rasya.
"Lo bahkan baru kebal sama dia" Ucap Dafa dengan menekabkan suaranya.
Rasya tertawa tipis lalu menggeser tubuh Dafa dan membawa Tissa pada gendongannya. Dafa menggendong Tissa kedalam melewati Dafa yang hanya terpaku.
**gimana ceritanya? gaje ya? maap ya kalo ceritanya kurang seru ikuti terus ya..janga Kuo tinggalkan jejak...
like, vote dan komennya selalu ditunggu**...
__ADS_1