
Tissa dan Rasya sudah berada di dalam mobil. Tissa mencoba menetralkan perasaan gugupnya. Detakan jantungnya berdebar kencang saat ini. Tissa mencuri pandang pada Rasya yang sedang mengemudi. Hening suasana mobil membuat Tissa bertambah gugup.
"Duh..kok jantung ku serasa mau copot..., padahal kayaknya sebelum ini perasaanku setiap ada kak Rasya gak separah ini. Kira kira kak Rasya ngerasain ini juga gak ya...
Ah Tissa geblek! mana mungkin! Kak Rasya deg degan gini! Kak Rasya itu... baik, pintar, ganteng..hehehh" Batin Tissa sambil tersenyum.
"Kamu kenapa senyum sendiri?" Tanya Rasya sambil tersenyum tipis.
Tissa tersipu melihat senyuman Rasya. Walaupun senyumnya tipis tapi masih terlihat manis diwajah Rasya.
"Ha? a..aaa itu..em..Gak ada" Ucap tissa lalu menundukkan kepalanya.
"Hahaha kamu lucu.." Ucap Rasya tanpa menatap Tissa.
"Ha?" Tissa mendongak setelah mendengar ucapan Rasya. Matanya melotot seakan tidak percaya Rasya si kulkas tampan tertawa dan memuji dirinya.
"Kenapa melotot gitu?" Ucap Rasya seadanya.
"Ha? ee enggk kok" Tissa menundukkan kepalanya malu. Dipegangnya kedua pipinya yang dia yakin sudah memerah.
"Kamu masih mau lanjut drama sama Dafa?" Tanya Rasya datar sambil menatap lurus ke depan.
"Ha? kakak tau soal drama itu?" Ucap tissa
"Iya, aku Uda tau semuanya"
"Tau darimana?" Tanya Tissa sambil menatap Rasya kepo.
"Aku sahabat nya, dia Uda cerita semua sama aku sebelum kita kenal"
"Oo, gitu" Ucap tissa menghela nafas pelan.
"Jadi gimana? kamu masih mau lanjut?"
"Dramanya Uda tamat" Ucap tisaa datar.
"Dramanya belum tamat. kamu gantung ceritanya.." Ucap Rasya masih menatap lurus ke depan.
"Aku Uda gak mau lagi, aku takut Tante Ratna tambah syok. Aku Uda mutusin pergi jauh jauh dari masalah ini" Ucap tissa.
"Kamu gak bisa kabur, setidaknya kamu jujur dulu sama Tante ratna. Setelah itu baru kamu bisa pergi. Ucap Rasya menatap Tissa.
"Aku takut mama kenapa Napa, tapi aku juga gak mau lanjutin drama ini lagi. Aku Uda bayar lunas hutangku sama si rabun itu" Ucap tissa.
"Rabun? siapa yang rabun?" Tanya Rasya penasaran.
"Ya..teman kakak itu.." Ucap tissa ketus.
"Dafa?"
"Iya.."
__ADS_1
"Setau ku dia gak rabun"
"Ehmm aku malas nyebut nama dia"
"hahhaa kamu ga suka sama dia?"
"Ga" Ucap tissa ketus.
________________________________
Rasya mengantar tissa pulang ke kos-kosannya. Tissa mau membuka pintu mobil tapi tidak dilakukannya. Dia menatap Rasya yang juga menatapnya.
"Kak... "
"Iya, kenapa?"
"Eee gini, boleh gak kalo aku manggil kakak 'Kasya' gitu?"
"ha? 'Kasya'?"
"Iya, 'Kasya' itu singkatan dari 'Kak raSya'. boleh gak kak?" Tanya Tissa
"Hahah iya boleh"
"Makasih ya kasya"
"Sama sama, Ee jadi besok kamu mau jujur sama Tante Ratna?"
"insya Allah"
"Yaudah, makasih ya kasya. Aku pamit dulu Assalamualaikumm"
"Waalaikum salam"
Tissa membuka pintu mobil. dia keluar lalu melambaikan tangannya ke arah kaca mobil.
"Lucu.." Gumam Rasya.
_________________________________
Di rumah sakit....
"Ma, kenapa mama nyuruh Rasya ngantar Tissa?" Tanya Dafa ketus.
"Kamu baru balik, jadi mama suruh Rasya yang ngantar pulang. Lagian tadi Tissa datang ke sini juga barengan sama Rasya.
"Ha? kok bisa ma?"
"Tissa itu juniornya Rasya di lab. Dan kelihatannya mereka dekat" Ucap mama Ratna sambil tersenyum.
"Kenapa mama senyum senyum sendiri?" Ketus Dafa.
__ADS_1
"Kenapa dari tadi kamu ketus?" Tanya mama ketus pada dafa. semenjak kedatangan Tissa mama Ratna menjadi sedikit bertenaga. Dia juga sudah muali merelakan Tissa dari Dafa dan hendak menjodohkannya dengan Rasya.
"Mama kok nanyak balik?" Kening Dafa sudah mengkerut.
"Suka suka mama dong" Jawab Ratna dengan nada mengejek.
"Ma..serius dong.. aku kab berhak tau" Ucap Dafa.
"Kenapa kamu harus tau?" Tanya mama Ratna balik.
"Ma, Tissa itu pacarku. Ya aku berhak tau la" Ucap Dafa ketus.
"Bukannya pacar kamu si angsa itu? Maksud mama alyndra" Ucap mama Ratna hati hati. Dia takut kejadian pertengkarannya dan putranya kembali terjadi hanya karna membahas alyndra.
"Sudah la kamu gak usah pura pura lagi. Mama gak akan paksa kamu dekat sama Tissa. Kamu bebas memilih pasangan kamu sendiri" Ucap Ratna datar.
"Bener ma?" Tanya Dafa tapi ekspresinya tidak begitu nampak ceria.
"Iya.."
"Tapi kan mama bilang mama mau menantu seperti tissa, Berati niat mama gagal?" Tanya Dafa memastikan keputusan sang mama.
"Siapa bilang akan gagal?" jawab Ratna antusias.
"Maksud mama?" Dafa amat teramat bingung dibuat mamanya.
"Tissa kan bisa sama Rasya" Jawab Ratna enteng.
"APA?! Mama yang bener dong.." Ucap Dafa terkejut.
"Ngapain sih kamu teriak.., Kuping mama sakit tau!. Lagian ngapain juga mama becanda"
Wajah Dafa lesu mendengar perkataan mamanya. Dafa bingung apakah harus senang karena bisa menjalin hubungan tanpa hambatan dengan alyndra atau herus sedih karena kehilangan Tissa?
"Akha..ngapain juga sedih karena si bebek julid!" Batin Dafa.
"Apa mama yakin Rasya mau?, Rasya kan ga pernah dekat sama cewek" Ucap Dafa.
Tentu niat Dafa agar rencana sang mama gagal.
"Pastilah Rasya mau.. Tissa itu cantik,baik,pintar..cocok sama Rasya.."
"Sebaiknya jangan ma..Tissa itu gak cocok untuk Rasya.., mending mama cari cewek lain aja! atau nanti aku aja yang cariin untuk Rasya" Ucap Dafa antusias.
"Dari sudut pandang mama kamu bilang mereka gak cocok? Kamu ini alasan aja! Kamu gak suka kan, Rasya dekat sama Tissa iya kan?" Tanya mama Ratna menyudutkan Dafa.
"Ikh..bukannya gitu ma.., Rasya itu terlalu sempurna untuk Tissa. Mungkin aja Tissa itu matre" Ucap dafa menghasut mamanya.
"Kamu ini kenapa sih! Mama tau Tissa itu anak baik! kalo dia nggak baik gak mungkin dulu mama ngotot kamu sama dia!, Kamu ragu sama pilihan mama?" Tanya mama Ratna ketus.
"Yaudah deh terserah mama.. Kalo Rasya nanti nolak mama janhan nangis ya.." Ucap Dafa.
__ADS_1
Dafa sudah pasrah dengan sikap keras kepala mamanya.