
Tissa masuk kedalam lab tempatnya bekerja, Dia menyapa para seniornya lalu duduk dubangkunya. Matanya menelisik ke Seluruh bagian lab mencoba menyari sosok Rasya.
"Huh..dimana suami pertamaku itu? wkwkwk" Batin Tissa tersenyum sendiri denngna yang baru saja dibatin'kannya.
"Kamu hobi ya senyum senyum sendiri?"
Suara itu membuyarkan lamunan Tissa
"Nah ini dia suara suami pertamaku" Batinnya.
Tissa lalu berbalik menatap Rasya yang datang dengan kaca mata labnya. Benar benar terlihat keren Dimata Tissa, Ralat buka. di mata Tissa saja tapi di mata banyak wanita yang melihatnya.
"Abis dari mana kak?" Tanya Tissa.
"Oh itu aku abis dari lab Dion, Ada riset baru" Jawabnya.
"Oo"
"Kamu baru datang?" Tanya Dafa lalu menarik kursi disebelah Tissa lalu duduk disana. Hawa dingin Dafa masih melekat walaupun dia mulai lebih banyak mengeluarkan suaranya.
"Ah iyaa, Aku agak terlambat tadi aku pulang ke kos kosan dulu" Ucap Tissa.
"Kan aku bilang kalo mau pergi telpon aku biar aku jemput" Ucak Rasya.
"Maap kasya, aku cuma gak mau ngerepotin. aja" Ucp Tissa.
"Yasudah" Ucap Rasya seadanya.
Tissa dan Dafa keluar dari labnya pada jam 5 sore. Itu adalah waktu biasa mereka pulang, Selebihnya pekerjaan bisa dilakuka. secara online ataupun mandiri dirumah.
Tissa senang Rasya menghabiskan bekal yang dibuatkannya. Nampak dari wajah Rasya. Sepertiny pria dingin itu menikmati makanannya.
"Kira kira suami ke dua-ku Sudah makan bekalnya gak ya?" Batin Tissa sambil nyengir sendiri.
Kini posisinya sedang berada di kursi depan mobil Rasya.
"Ternyata emang bener kamu suka sentan senyum sendrir, Kamu sehat kan?" Ucap Rasya seraya tertawa manis.
"Manis..." Ucap tissa.
"Hah? Apanya?" Tanya Rasya.
"Kasya manis kali senyum" Ucap tissa seadanya.
Rasya seketika menghentikan mobilnya. Jantungnya dag Dig dug dibuat Tissa. Kata kata Tissa bahkan membuat pipi pemuda 23 Tahun itu merona.
"Lah.. kenapa berhenti kasya?" Tanya Tissa heran.
"Ah itu maap Tadi aku lupa sesuatu" Ucap Rasya datar. Rasya mencoba menahan tiba Wajahnya.
"Oh ya? eh kenapa muka kasya merah gitu? Kasta sakit?" Tanya tissa. Dia menemoelka. ounngung tangannya di dahi Rasya. membuat si empunya makin merona.
"Eh itu..enggak kok" Ucak rasya memalinhkna wajah nya lalu mulai menyalakan mobilnya lagi.
__ADS_1
Tissa hanya mangut mangut lalu diam diri sambil melihat ke arah jalan yang indah dengan sorenya.
Tring...
Tring...
Tring...
Ponsel Tissa berbunyi, Dia mendapati nama yang tertera dari panggila. itu yang. tertulis 'cowok rabun' Yang artinya itu adalah Dafa.
"
Telepo terhubung dan mulai terdengar suara dari seberang sana. Setelah sekitar 7 menit bercengkrama di telpon Tissa menutup telponnya.
"Siapa?" Tanha Rasya
"Itu..si dafa" Ucap Tissa.
"Dia ngomong apa?" Tanya Rasya lagi.
"Dia mjnta jemput kak, Katanya disuruh cepat..dia Uda mah pulang" Ucap Tissa jujur.
Rasya mengangguk dan memutar arah ke perusahaan Dafa. Rasya dan Dafa memarkirkan mobilnya. Mulai menyusuri perusahaan besar Dafa.
"Kak, Aku gak tau ruangannya yang mana" Ucap tissa.
"Aku tau" Ucap Rasya datar.
Rasya dan Tissa masuk ke dalam ruangan setelah bertanya pada asisten Dafa. Tidak banyak basa basi untuk mendapatkan ijin masuk. Karena status Rasya sebagai sahabat Dafa sudah diketahui oleh banyak karyawan perusahaan Dafa.
"Dafa..." Tegur Rasya ketika melihat Dafa masih berkutik dengan laptopnya.
"Oh kalian Uda datang, Tunggu sebentar kerjaan gw sikit lagi" Ucap Dafa
"Aiss kalo belum selesai kenapa tadi nyuruh jemput? Mendingan nyuruh jemputnya pas udah selesai" Ucap tissa ketus.
"Uda ah berisik! Tunggu aja bentar lagi" Ucap Dafa datar.
Tissa hanya mendengus kesal. Mendudukkan dirinya di sofa kantor diikuti oleh Rasya. Tissa memperhatikan gelagat serius Dafa saat sedang bekerja.
"Ni suami keduaku kalo diliat ganteng jugak ya? Yah tapi sikapnya aja yang bikin kesel'ek" Batin Tissa.
Tissa memutar pandangannya melihat kseliling ruangan Dafa. Tissa mendekati dinding transparan ruangan itu yang menunjukkan pemandangan indah sore itu.
Pandangan tissa berhenti diatas meja. Memandang kosong kotak makan berwarna merah itu.
"Kayanya belum disentuh sama sekali" Batin Tissa.
Tissa menghela nafas pelan. Entah kenapa hatinya tidak enak saat pemberiannya tidak dipedulikan Dafa. Rasya yang mempunyai kepekaan tingkat tinggi itu tau apa yang dipikirkan Tissa. Rasya beralih menatap Dafa yang masih berkutik dengan laptopnya.
"Daf, Lo udah makan?" Tanya Rasya.
"Belum" Ucap Dafa menatap lurus ke arah laptonya.
__ADS_1
Tissa tersentak halus. Dia benar benar merasa usahanya tidak dihargai. Padahal di membuatkan bekal itu karen Adia tahu Dafa dan Rasya adalah orang yang sibuk. Jadi kalau dia membuatkan bekal, Dafa dan Rasya tidak perlu repot memesan makanan lagi.
"Aku keluar dulu ya" Ucap tissa sefera keluar dari ruangan itu.
"Mau kemana dia?" Tanya Dafa pada Rasya.
Rasya hanya menghela nafasnya pelan menatap datar Dafa.
"Lo mau makan?" Tanya Rasya.
"Enggak ah gw lagi males. Nanti aja gw pesan makanan dari luar kali gw laper" Ucap Dafa santai.
"Kalo Lo males makan, itu bekalnya buat gw ya?" Ucap Rasya datar.
"Bekal?" Dafa mengikuti tatapan Rasya yang menatap kotak makan berwarna merah itu.
Dafa tersentak bagaimana bisa dia meluapkan bekal yang dibuatkan Tissa untuknya?
Rasya menggapai kotak makan itu tapi tangannya ditahan oleh Dafa.
"Enak aja Lo! ini kan punya gw, Bukannya Lo juga punya? Ketus Dafa.
"Tadi Lo bilang males makan" Ucap Rasya datar.
"Enggak gw gak ngomong gitu! ini gw mau makan kok!" Ucap Dafa memb la diri.
Rasya menghela nafasnya lagi "Gw mau langsung pulang sekalian mau antar Tissa pulang. Kalo nunggu Lo makan pasti lebih lama lagi" Ucap Rasya lalu berjalan keluar.
"Tunggu gw ikut" Ucap Dafa mengambik tasnya sekaligus membawa bekalnya.
Mereka berdua keluar dari kantornya tapi tidak menemukan Tissa. Dafa berusaha menelpon tissa tapi tak kunjung dijawab.
Ting!
Satu pesan masuk di ponsel Rasya. Pesan itu dari Tissa.
[Kasya, Aku pulang duluan. Maap aku tadi gak bilang. Sekarang aku udah di kos kosan]
from: Tissa
"Tissa udah pulang, Dia udah di kos kosannya" Ucap Rasya datar.
"Ha? kok gak bilang?" Ucap Rasya
"Lo bisa kan pulang sendiri? Tissa udah gak ada, jadi Lo bisa pulang sendiri" Ucap Rasya datar.
Rasya tau alasan Dafa minta dijemput adalah Tissa.
Dafa tergelak pelan "Lo emang paling tau gw!" Ucapnya Lalu pergi. Akhirnya dua pria itu pulang ke tempatnya masing masing dengan menggunakan mobilnya masing masing.
Setibanya di rumah, Dafa mencoba menghubungi Tissa. Tapi tak ada jawaban. Dafa mendengus kesal. Sekaligus merasa bersalah. Dafa Tau Tissa pasti kecewa padanya.
Ikutin terus ceritanya ya.. Janhan lupa tinggalkan jejak. Aku akan usahakan lebih sering up. Tolong like, vote dan komennya...
__ADS_1