
Seiring perjalanan yang diselingi dengan obrolan antara Tissa dan rasya. Mereka telah sampai di rumah sakit. Tissa mengekori Rasya dari belakang menuju ke ruang rawat VVIP.
Tepat didepan ruangan VVIP itu Tissa membeku, dia ingat betul bahwa ruangan itu adalah ruangan tempat mama Ratna dirawat. Tissa mencoba untuk menyangkal pikirannya itu.
"Akh..gak mungkin la mama Ratna masih dirumah sakit, terakhir kali aku ketemu mama kan mama sehat sehat aja..., Aihh udala kenapa aku jadi gugup?" Batin Tissa.
"Hey..kenaoa diam aja? Ayo masuk" Ucap Rasya yang sudah melngakh masuk lebih awal dari Tissa.
"Eh..iya kak"
"Hay tante..aku Uda datang nih.., ini aku bawain soto untuk Tante" Ucap Rasya ramah.
"Kamu Uda datang Rasya..., Maaf ya Tante selalu ngerepoti kamu.." Ucap mama Ratna dengan suara seraknya. Kondisi mama Ratna memang masih belum terlalu baik karena dia sering dibebani dengan pikiran.
"Gak papa Tante..aku juga gak merasa direpotkan kok" Ucap Arsya ramah lagi..
"Eh iya Tante, ini aku bawa temen namanya_" Ucapan Rasya terjeda karena buru buru disambung oleh mama Ratna.
"Tissa.., itu kamu kan sayang.." Ucap mama Ratna berbinar seraya mengubah posisinya menjadi duduk.
"Mama Ratna?, Kenapa mama masih dirumah sakit?" Ucap tissa terkejut. Tissa dan mama Ratna memang tidak saling memperhatikan dari awal karena posisi Tissa tertutup oleh Rasya.
"Mama kangen banget sama kamu sayang..., sini kamu dekat mama" Ucap mama Ratna seraya membuka lebar tangannya agar Tissa memeluknya.
Tissa gelagapan dengan sikap mama Ratna yang merindukannya sambil meneteskan air mata. Tissa sigap langsung memeluk mama Ratna. Selang beberapa detik kemudian Tissa melepas pelukannya dan menatap lwkat wajah mama Ratna.
"Ma... kenapa mama dirumah sakit? Mama sakit lagi? Kenapa mama gak kabarin Tissa" Ucap tissa lembut.
"Mama gak mau ganggu kamu, Mama gak mau kamu jadi kerepotan ngurus mama. Karena mama sayang sama calon mantu mama ini.." Ucap mama Ratna membelai rambut Tissa.
"Calon mantu? maksudnya.. ah jangan jangan.."
Rasya membatin melihat keakraban antara Tissa dan ratna. Dipikirannya masih menduga duga fakta tentabg tissa. Terus terngiang dikepapanya dua kata 'Calon mantu' yang diutarakan mama Ratna pada Tissa.
__ADS_1
sama halnya dengan Rasya, Tissa juga membatin tapi perasaanya diselimuti rasa bersalah karena memberi harapan palsu pada sosok yang baik padanya.
"Masih Calon mantu? mama Ratna masih menganggap aku sebagai calon menantunya walaupun aku sudah meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Apa yang dikatakan si cowok rabun itu tentang aku pada mamanya? Apa dia tidak menceritakan yang sebenarnya?" Batin Tissa.
Rasya membiarkan kedua wanita didepannya terus bercengkrama. Banyak pertanyaan terbesit dikepalanya tapi tidak diajukannya karena tidak mau ikut campur dengan urusan mama Ratna. Bagi rasya terlalu banyak bertanya adalah sikap yang tidak sopan, selain itu akal pikirannya sudah bisa menangkap hubungan apa yang terjalin antara Ratna dan Tissa.
"Sya.., Darimana kamu kenal dengan Tissa?" Tanya mama Ratna lembut.
"Tissa ini juniorku di lab Tante" Ucap Rasya seadanya.
"Oo, jadi Tissa kamu sekarang gabung di lab Rasya?" Pertanyaan mama Ratna kali ini ditujukannya pada Tissa.
"Iya ma..Tissa baru bergabung beberapa hari yang lalu" Ucap tissa pada mama Ratna.
"Oo Ehmm Rasya, Tissa ini calon mantu Tante . Dia ini calon istri Dafa" Ucap mama Ratna sendu diakhir kalimatnya. Dia teringat ucapan putranya yang masih mencintai alyndra.
Tissa dan Rasya menangkap wajah sendu mama ratna. Tissa menatap Rasya seakan bertanya 'mama kenapa' Tapi Rasya menjawab dengan helaan nafas pelan. Rasya jelas tau alasan mama Ratna sedih karena cinta Dafa pada alyndra.
"Ehmm tissa.. kamu masih cinta sama Dafa?" Tanya mama Ratna menatap lekat wajah Tissa.
Tissa tidak memberi jawaban pada Ratna. Tissa bingung harus jawab apa. Dia takut dia salah menjawab karena dia tidak ingin membuat kondisi mama Ratna semakin memburuk. Mama Ratna menghela pelan nafasnya.
Ceklek...
Suara pintu terbuka menampilkan sosok pria tampan yang tak lain adalah Dafa. Dafa membatalkan kepergiannya ke Itali karena pertemuannya dibatalkan oleh kliennya di Itali. Dafa memutuskan kembali ke rumah sakit untuk menemani ibunya. Bahkan Dafa sudah mendengar obrolan antara mamanya dan tissa.
"Assalamualaikum ma.." Ucap Dafa mendekati mamanya seraya memeluk mamanya menmpilkan senyum manis andalannya.
"Waalaikum salam" Ucap mereka secara bergantian.
"Loh sayang kamu disini jugak?, Jmau datang kesini sama siapa? hmm ada Rasya jugak?" Ucap Dafa sambil nyengir manis menampilkan lesung pipi tipis dipipinya.
Ucapan Dafa hanya dibalas anggukan, deheman dan tatapan malas dari ketiga orang ynag ada diruangan itu.
__ADS_1
"Dia kenapa sih? Apa jangan jangan dia mau lanjut drama lagi?" Batin Tissa.
"BeratiDafa masih mau melanjtkan daramanya..." Batin Rasya sambil menghela nafas. Dia tidak suka Dafa mempermainkan perasaan orang lain apalagi kepada Tissa gadis yang baik dan manis menurut Rasya.
"Dafa masih mencintai Tissa? aku tidak akan membiarkan Dafa mempermainkan tissa.., Aku rasa Dafa masih mencintai gadis angsanya itu. Lebih baik Tissa kujodohkan dengan rasya. Rasya baik dan tampan cocok dengan Tissa yang main dan baik. Aku tidak akan memaksakan Dafa karena itu hanya akan menyakiti Dafa sendiri dan juga Tissa. Lagipun Rasya sudah kuanggap seperti anak ku sendiri, berati Tissa tetap bisa menjadi calon mantuku".Batin Ratna.
"Ehmm Tante, aku permisi pulang ya. Dafa sudah ada disini jadi aku permisi pulang, ada kerjaan jugak yang harus aku selesaikan. Tissa kamu tetep disini?" Ucap Rasya.
"Sya.. kamu antar saja Tissa pulang ya..ini Uda sore hampir Maghrib. Lebih baik Tissa pulang aja sama kamu" Ucap Ratna lembut.
"Mama yakin ga papa aku pulang?" Ucap mama meyakinkan Ratna.
"Iya sayang..masih ada banyak suster disini, dan nanti ada kerabat mama juga yang akan datang, jadi mama gak sendirian. Tapi besok kamu sama Rasya kesini ya sayangg..." Ucap Ratan menatap Tissa dan Rasya bergantian.
"Iya.." Jawab Tissa dan Rasya serempak membuat keduanya saling tatap dan teesenyum malu.
Dafa sangat geram melihat kontak mata antar Tissa dan Rasya. Dafa seakan tidak rela Tissa mengacuhkannya dan juga Tissa tidak percaya sahabat es nya bisa bersikap manis pada seorang gadis.
"Ma..Dafa bisa mengantarkan Tissa pulang. Lagipun tadi Rasya bilang dia masih ada pekerjaan jadi biar aku aja yang antar Tissa pulang" Jawab Dafa ketus sambil melihat sinis Arsya.
"Aku ga sibuk, aku bisa mengantar Tissa pulang" Ucap Rasya denga. nada dinginnya.
"Rasya..kamu antarkan saja Tissa pulang ya..kasian Tissa nungguin" Ucap mama Ratna yang membuat raut wajah Dafa masam.
Tissa melihat tatapan tidak bersahabat yang ditujukan Dafa pada Rasya. Dan Rasya hanya memberikan tatapan dinginnya pada Dafa. Tissa hanya acuh pada dua orang itu saat Dafa beralih menatapnya seraya tersenyum manis.
"Kami permisi Tante.." Ucap Rasya lembut. Tissa dan Rasya permisi pulang dan segera meninggalkan ruangan VVIP itu.
Dafa menatap kepergian Rasya dan Tissa dengan wajah yang masam laku dia beralih menatap ibunya layaknya anak yang tidak diberi uang jajan.
**Maaf ya kalo typonya masih berkeliaran dimana mana. Maaf juga ya aku salah itu sebelumnya aku salah nama. Nama 'Arsya' Sekarang aku ganti dengan 'Rasya' ya..
Maaf hehehe
__ADS_1
jangan lupa like,koment, dan baca terus ya**..