
3 Mei 2008, Raynaldi langsung meninggalkan Koln setelah upacara penyerahan trofi kejuaraan 2.Bundesliga dan penghargaan pemain. Dalam setengah musim bergabung dengan Koln Atletik, Raynaldi berhasil merebut penghargaan sepatu emas, rookie terbaik dan pemain terbaik di 2.Bundesliga.
Penampilan Raynaldi mengejutkan seluruh Jerman, setelah liga selesai banyak pencapaiannya yang memecahkan rekor di 2.Bundesliga. Seperti, rekor termuda pencetak gol terbanyak 2.Bundesliga, pemain pertama yang mencetak 30 gol di 2.Bundesliga, pemain termuda yang mencetak hattrick di 2.Bundesliga, dan sebagainya.
Semua penampilan dan rekor Raynaldi yang hampir menulis ulang seluruh sejarah 2.Bundesliga dengan namanya, membuat seluruh Jerman heboh. Bahkan “Bild” majalah yang menerbitkan artikel hiburan dan olah raga membuat sebuah komik satu halaman yang menggambarkan alien dengan nomor punggung 99 menginvasi bumi yang dijaga para pemain 2.Bundesliga.
Tapi semua kehebohan di Jerman tidak ada hubungannya dengan Raynaldi, karena sekarang dia akan kembali ke Indonesia untuk menjalani laga lanjutan kualifikasi Piala Dunia melawan Qatar dan Uni Emirat Arab di kandang, lalu laga tandang melawan Guam.
Kali ini Raynaldi terbang kembali ke Indonesia bersama dengan Leona dan Irene, kedua orang ini berniat mengambil liburan ke Indonesia untuk menikmati musim panas. “Hei, Ray. Apa kau akan langsung pergi ke pusat pelatihan tim nasional?” Tanya Leona.
“Yah, kebetulan pertandingan melawan Qatar akan berlangsung dalam 3 hari dan kemudian melawan Uni Emirat Arab akan dimainkan dalam 3 hari setelahnya. Pelatih kuga mengatakan bahwa jika kita bisa memenangkan dua pertandingan ini, kita akan langsung mengunci tiket ke 12 besar sebagai pemimpin grup J.” Kata Raynaldi menjelaskan sambil terus membaca buku di tangannya.
“Dengan kata lain, saat pertandingan melawan Guam, kau dan pemain utama lainnya akan diistirahatkan bukan?” Tanya Leona.
Raynaldi mengangguk membenarkan. “Tak apa, itu berarti kau akan berlibur setelah seminggu permainan.” Kata Leona.
“Kak Leona, bukannya kita juga akan melihat permainan Ray?” Tanya Irene.
“Tentu, Kak Anita dan Lisa juga akan datang untuk melihat, aku dengar Lisa sering menanyakan kapan kakaknya pulang.” Kata Leona sambil terkekeh.
__ADS_1
“Yah, ini pertama kalinya, aku pergi jauh dari rumah salama lebih dari setahun. Terakhir kali itu hanya satu bulan di Jakarta untuk turnamen sepak bola tingkat SMA.” Raynaldi mengenang jauh.
“Haha... Aku ingat kalau Kak Anita akhirnya membawanya untuk menonton pertandingan karena dia terus menerus menanyakan mu...” Leona teringat saat dia berniat pergi ke Indonesia untuk berlibur sebelumnya dan ditarik Anita untuk menemaninya dan Lisa menonton pertandingan Raynaldi.
Lisa sangat terikat dengan Raynaldi mengingat ayahnya sudah meninggal sejak dia masih berusia kurang dari 1 tahun. Raynaldi yang saat itu juga masih berusia kurang dari 7 tahun, juga sempat merasa terpukul sebelum pulih setelah beberapa saat.
Hal ini juga membuat Raynaldi lebih cepat dewasa dibandingkan teman seusianya, disaat yang sama rasa takut pada orang dewasa juga berkurang. Dia hanya menunjukan rasa hormat pada orang yang menunjukan kesopanan padanya atau pada orang yang tidak melakukan hal buruk untuknya.
Raynaldi mulai membuat prinsip hidupnya sendiri dan berperan sebagai saudara laki-laki dan ayah untuk adiknya Lisa. Lambat laun Lisa menjadi sangat terikat pada Raynaldi bahkan lebih dari ibunya, karena Anita harus sering meluangkan waktunya untuk pekerjaan dan klinik konsultasi yang dibukanya.
“Oh, aku baru ingat, ibu sepertinya mengatakan akan pergi ke Jakarta untuk bekerja besok, jadi dia akan datang malam ini.” Raynaldi tiba-tiba teringat dengan pesan ibunya beberapa hari yang lalu, karena terlalu sibuk membuat Raynaldi melupakan bahwa ibunya akan menjemputnya hari ini.
“Ray, kau benar-benar...” Leona menggelengkan kepalanya saat melihat Raynaldi seperti ini.
Sebelumnya Pelatih Frans juga menanyakan padanya apakah akan mengambil libur sehari sebelum pergi ke pelatihan, tapi karena Raynaldi lupa kalau ibu dan adiknya akan datang, dia menjawab akan langsung pergi ke kamp pelatihan.
“Yah, kalau begitu aku juga akan menginap di rumah Kak Anita juga. Seharusnya masih ada kamar kosong bukan?” Tanya Leona sambil mengingat-ngingat.
“Memang masih ada dua kamar kosong.” Kata Raynaldi sambil mengingat rumah yang dibeli ibunya di Jakarta sepuluh tahun yang lalu. Ada 5 kamar di rumah dan luas rumah juga jauh lebih besar dari yang ada di Yogyakarta, tetapi karena sudah terbiasa tinggal di Yogyakarta, rumah ini jarang dipakai.
__ADS_1
“Yah, kalau begitu tidak masalah kalau aku dan Irene menginap, bukan?” Leona bertanya.
“Coba tanyakan pada ibu ku, aku tidak bisa menjawabnya.” Raynaldi mengangkat bahunya dengan lemah.
“Kau tidak bisa berbicara pada Kak Anita?” Leona membuat wajah cemberut seperti gadis kecil.
Raynaldi hanya memandangnya seolah berkata, ‘apa kau berbicara bahasa manusia?’ lalu mengalihkan pandangannya kembali ke buku dengan penuh penghinaan.
“Kau…” Leona memandang Raynaldi penuh amarah, semakin lama dia melihat keponakan yang hanya lebih muda 5 tahun darinya ini semakin menyebalkan. ‘Bocah ini sama sekali tidak imut! Kenapa perubahannya begitu besar sejak dua tahun yang lalu?’ Gerutu Leona dalam hati.
“Sudahlah, Kak Leona, berhenti berdebat, jika nanti kita tidak bisa tinggal di rumah Ray, kita masih bisa tinggal di hotel selama satu hari.” Irene yang berada di dekat jendela pesawat di sebelah kiri Leona menengahi perdebatan Leona dan Raynaldi.
“Irene, kau bahkan belum menjadi pacarnya dan sudah mulai melindunginya?” Leona melihat Irene dengan wajah seolah-olah telah dianiaya.
“Kak Leona!” Irene membalas dengan rasa malu, sambil menatap Raynaldi yang tenang dan membaca buku di tangannya dan ekspresinya berubah sedikit kecewa.
“Oke, berhenti menggoda mu.” Kata Leona sambil tertawa kemudian dia mendekatkan wajahnya ke telinga dan mulai berbisik. “Jika kau benar-benar menyukai Ray, kau harus lebih proaktif dalam hubungan ini, jika tidak kepala kayu itu tidak akan tahu masalah mu.”
Mendengar bisikan Leona, wajah Irene yang sudah kemerahan bertambah buruk karena rasa malunya yang berlebihan. “Kak Leona...” mulut Irene hanya bisa berdengung untuk membalas Leona.
__ADS_1
Tapi dalam hati Irene sudah mulai ada perasaan aneh untuk Raynaldi sejak dia membantunya keluar dari pembully-an yang dialaminya di sekolah. Sebagai seorang gadis 16 tahun, jelas Irene yang jarang berhubungan dengan lawan jenis sama sekali tidak tahu apa yang dia rasakan. Irene hanya berpikir bahwa Raynaldi adalah pria yang baik dan hangat.
Baru setelah berhubungan dengan lebih banyak orang, Irene sadar kalau dia sudah menyukai Raynaldi sejak pertemuan pertama mereka dan karena bantuan Raynaldi yang berulang kali untuknya, Irene benar-benar jatuh untuk Raynaldi.