Football : King Of Penalty Area

Football : King Of Penalty Area
Ch. 95 - Telpon dari Rumah dan Tamu


__ADS_3

“Tendangan bebas jenius!”


Membuat tiga gol dengan tiga tendagan bebas. Gol ini seefisien tendangan penalti!


Koln Atletik merebut kemenangan dari pertandingan tandang dengan dua tendangan bebas langsung dari Raynaldi.


Thomas Sobek bahkan sedang mempertimbangkan apakah semua tendangan bebas harus diserahkan kepada Raynaldi setelah pertandingan, tetapi proposal ini ditolak oleh Raynaldi. Dia tahu batasannya sekarang, alasan dia berani meminta bola dari Buhari karena dia memiliki keyakinan 70% - 90% untuk mencetak gol dalam tendangan bebas yang dia minta.


Tapi untuk beberapa posisi lainnya, kemampuannya sekarang masih sedikit buruk. Karena 5 tembakan yang gagal dalam pelatihannya juga berada dalam beberapa posisi yang kurang baik untuk kaki kanannya.


. . . . .


Tim memilih satu hari sebagai hari latihan terbuka. Banyak penggemar datang ke tempat latihan, dan sebagian besar dari mereka datang untuk Raynaldi.


Klub Penggemar Raynaldi tentu saja tidak absen. Di tempat latihan, Raynaldi dan rekan satu timnya sedang melakukan latihan operan dan tangkap sederhana.


Keterampilan Raynaldi jauh lebih baik daripada ketika dia pertama kali datang ke klub. Levelnya mendekati sudah melampaui level rata-rata Koln Atletik. Ini memiliki banyak manfaat untuk hari latihan terbuka. Setidaknya para penggemar tidak akan bersaing dengan Thomas Sobek. Mereka adalah sama, merasa bahwa level Raynaldi dalam latihan dan kompetisi benar-benar berbeda.


“Level Ray meningkat sangat cepat!” Danny Hooks mau tidak mau mengobrol dengan Thomas Sobek ketika dia melihat adegan ini. Ketika Raynaldi datang ke tim, dia ingat dengan jelas bahwa anak ini ditempatkan di tim yunior. Luar biasa, tapi itu pasti tidak sama di tim senior.


Hanya dalam waktu tiga bulan, Raynaldi dengan mudah mengikuti level tim dan samar-samar terlihat melampauinya. Tingkat peningkatan seperti itu bisa dikatakan mengejutkan.


"Yang disebut jenius seperti ini, mereka tidak bisa dilihat dalam kacamata manusia normal, dia adalah fenomena," kata Thomas Sobek dengan percaya diri di samping.


Koln Atletik siap untuk melawan Hanau SV di kandang.


Minggu ini, ada cukup banyak diskusi tentang tendangan bebas Raynaldi. Di era Internet, gejolak semacam ini datang dan pergi dengan cepat. Hampir dua tahun sejak Raynaldi melakukan perjalanan kembali, hampir tepat menjadi tahun kunci bagi dunia untuk memasuki era ledakan informasi.


Di era ini, siapa pun dapat dengan cepat menjadi populer melalui Internet, tetapi juga dapat dengan cepat dilupakan.


Hal yang sama berlaku untuk kinerja pemain. Di era informasi yang belum berkembang, seorang pemain membutuhkan kinerja stabil jangka panjang untuk menyebar dari mulut ke mulut, dan kemudian lebih banyak orang akan mengenalnya sebagai bintang sepak bola yang kuat.


Tapi sekali lagi, bahkan jika bintang itu telah melewati puncaknya, penampilannya di lapangan tidak begitu bagus. Saat ini, ketika orang menyebut dia, mereka masih akan terkesan bahwa dia masih bintang yang sangat kuat.


Sekarang, Raynaldi bisa merasakan ini. Begitu dua tendangan bebas ini dicetak, di banyak media, ejekan tentang dirinya yang hanya bisa makan suapan bola mulai menghilang. Dia masih bintang brilian 2.Bundesliga.


Namun, kekuatan lawan di game berikutnya tidak bagus.


Beberapa bulan yang lalu, Thomas Sobek duduk di bangku pelatih tuan rumah lawan dengan wajah muram.


Tapi semua orang tahu, itu adalah hari yang paling sulit bagi Koln Atletik, dan itu adalah tim Koln Atletik sehingga lawan tidak bisa merebut ketiga poin.


SC Wilhelmshaven yang dikalahkan Koln Atletik di babak terakhir juga sangat buruk. Setelah kalah, mereka terlempar ke posisi ketiga hingga terakhir. Untungnya, mereka juga 5 poin lebih tinggi dari Hanau SV di bawahnya.


Sehari sebelum pertandingan.


Di awal sesi latihan, Raynaldi mengendarai sepedanya kembali ke rumah Leona, dia baru saja naik ke atas untuk mandi dan menerima telepon dari rumah.


Raynaldi : "Halo Bu?"


Anita : "Ray, bagaimana kabarmu di Eropa akhir-akhir ini?"


Ibu dan anak itu mengobrol sebentar sebelum Raynaldi menyadari mengapa ibunya memanggilnya.

__ADS_1


Besok adalah hari ulang tahun adiknya Lisa! Hari ini adalah 20 April, besok hari ulang tahun adiknya! Atau lebih tepatnya dalam 4 jam lagi waktu Indonesia, karena sekarang sudah pukul 15.00 di Jerman.


Sudah beberapa lama saya sibuk bermain sepak bola di Jerman, terutama di stadion virtual. Konsep waktu sangat kabur. Tidak sampai ibunya, Anita memanggil Raynaldi bahwa itu adalah hari ulang tahun adiknya dan dia ingin menelponnya besok.


Raynaldi : “Oh, bu, bisakah kau membantu ku membelikan hadiah untuk Lisa?”


Anita : “Aku sudah membelikannya boneka mainan dan membungkusnya dengan nama mu.”


Anita sangat mengenal putranya, meski kemampuannya dalam belajar dianggap agak buruk. Tapi putranya jelas bukan orang yang malas dan tidak mau berusaha, justru sebaliknya ketika dia menemukan hal yang disukainya, Raynaldi cenderung akan memperjuangkannya sepenuh hati.


Seperti saat ini, Raynaldi yang terlalu fokus pada karir sepak bolanya hampir melupakan semua hal lainnya. Sebelumnya, bahkan dia tidak ingat tentang ulang tahunnya pada 31 Januari, jika bukan karena Leona yang mengajaknya untuk beristirahat dan merayakan hari spesial itu.


Raynaldi : “Terimkasih bu, kau yang terbaik!”


Anita : “Oke, jangan lupa untuk menelpon besok. Lisa bilang dia merindukan kakaknya.”


Raynaldi : “Baik, bu. Aku tidak akan lupa.”


Anita : “Nah, ini sudah malam disini, jadi aku akan menutup telpon dan menemani adik mu tidur.”


Raynaldi : “Oke, jaga diri disana.”


Anita : “Kau juga.”


Setelah memikirkannya beberapa saat, Raynaldi baru sadar sebagian besar waktunya dia habiskan untuk berlatih sepak bola baik di dunia nyata atau stadion virtual saat dia tidur. Benar-benar sedikit waktu yang dia habiskan untuk dirinya sendiri.


Raynaldi turun dari kamarnya dan pergi ke dapur. Dia menuang kopi espresso ke dalam gelas, lalu memasukan susu dan buih susu yang sudah dia buat sebelumnya ke dalam gelas perlahan. Raynaldi membawa latte yang baru saja dia buat ke teras belakang rumah untuk bersantai.


Bagian belakang rumah Leona berbatasan dengan kebun jeruk tetangganya, jadi suasana asri dan hijau ini menjadi tempat Raynaldi biasa bersantai dengan bermain musik atau membaca buku sambil menikmati lingkungan.


“Hai, Ray!” Suara Leona mengejutkan Raynaldi yang sedang membaca buku.


“Kak Leona, berapa umur mu? Kenapa tingkah mu masih seperti anak-anak?” Raynaldi menggelengkan kepalanya saat melihat ‘bibinya’ yang 5 tahun lebih tua darinya.


“Hehe, bukankah hebat untuk selalu terlihat muda?” Leona terkekeh.


“Terserah.” Raynaldi mengabaikannya dan terus melanjutkan membaca bukunya.


“Hai, kau benar-benar tidak menyenangkan!” Leona yang melihat sikap ‘keponakannya’ yang acuh tak acuh membuatnya kesal.


Raynaldi yang sedang membaca buku mendengar suara pintu terbuka. “Apakah ada orang lain di rumah?”


“Itu mungkin Sas, dia bilang akan mengantar pemain dari Indonesia untuk melakukan uji coba disini.” Leona mengingat apa yang disampaikan Joko Sasongko sebelumnya.


“Siapa itu?” Tanya Raynaldi.


“Kalau tidak salah ada dua orang yang datang, dan kau mengenal salah satunya, itu rekan satu tim mu di tim nasional, Rangga.” Kata Leona.


“Ayo temui mereka, cukup jarang ada pemain dari Indonesia datang kesini untuk mencoba.” Raynaldi menutup buku miliknya dan pergi ke ruang tamu bersama Leona.


“Hai, Leona, Ray.” Joko Sasongko masuk ke dalam bersama dengan dua pemuda yang mengikutinya.


“Kak Sas, apakah kau membawa pemain baru ke Jerman?” Raynaldi sudah mengenal salah satu pemuda yaitu temannya, Rangga. Tapi dia tidak mengenal anak lainnya, sepertinya dia masih seumuran dengan dirinya.

__ADS_1


“Yah, ini pemain baru. Perkenal mereka, Rangga Saktiaga dan Hasyim Sudrajat.” Joko Sasongko mengenalkan kedua pemuda di belakangnya.


“Perkenalkan aku Raynaldi Indrasta.” Raynaldi memperkenalkan dirinya.


“Dan ini, Leona Schmidt. Bi... ahem, maksud ku Kakak Leona.” Raynaldi hampir secara tidak sadar menyebut Leona bibinya, saat melihat Leona tersenyum jahat padanya.


“Aku Hasyim... Maaf jika merepotkan untuk sementara waktu.” Pemuda dengan kulit coklat gelap mengenalkan dirinya.


“Nah, tidak apa, kami adalah rekan senegara, tidak perlu terlalu sopan.” Kata Leona yang masih memegang kewarganegaraan ganda miliknya, dia masih belum memutuskan kewarganegaraannya dan masih memegang kewarganegaraan ganda Indonesia – Jerman.


Dalam kehidupan Raynaldi sebelumnya, Leona akhirnya memilih kewarganegaraan Jerman setelah menjadi dosen magang di Universitas Koln pada usia 23 tahun. Tapi mungkin akan berbeda dalam kehidupan ini, karena dia mendengar Leona akan segera menikah dengan Joko Sasongko dalam tahun ini dan mengambil kewarganegaraan Indonesia.


“Terimakasih Kak Leona.” Hasyim menjawab dengan ceria.


“Maaf sudah merepotkan dan terimakasih.” Rangga berkata dengan wajah datar yang biasa.


“Apa yang ingin kalian minum? Aku akan mengambilnya di dapur.” Raynaldi menyarankan pada mereka.


“Ambilkan aku Latte.” Joko Sasongko meminta Raynaldi, dia menyukai Kopi Latte buatan Raynaldi, menurutnya itu lebih baik dari kebanyakan café yang pernah dia kunjungi.


“Buatkan aku Latte juga, tapi sedikit lebih manis.” Leona meminta Raynaldi membuatkannya Latte juga.


“Berikan aku Latte juga.” Rangga juga meminta Kopi Latte.


“Adakah jus buah?” Tanya Hasyim.


“Tentu ada, jus manga, jeruk atau jambu?” Raynaldi menawarkan.


“Tolong, jus manga. Terimakasih.” Jawab Hasyim.


“Oke, tunggu sebentar.” Raynaldi pergi ke dapur untuk membuat minuman. Samar-samar dia mendengar pembicaraan mereka tentang klub uji coba yang mereka tuju.


Setelah selesai membuat minuman, Raynaldi membawa minuman dengan nampan ke ruang tamu. “Ngomong-ngomong klub mana yang kalian tuju?”


“Aku ingin membawa mereka ke Koln Atletik dan Leverkusen SC untuk mencoba terlebih dahulu. Bagaimana pun kedua tim ini adalah tim Bundesliga musim depan. Selain itu, ada juga Bochum yang baru saja terdegradasi dan Leipzig Sport juga salah satu tujuan kami.” Joko Sasongko menjelaskan tujuannya pada Raynaldi.


“Menurut ku, Rangga akan lebih baik untuk bergabung dengan Leipzig Sport. Pertama mereka akan mengalami perombakan besar pada lini tengah mengingat mereka akan kehilangan 2 gelandang utama yang pensiun musim ini. Kedua, aku pikir mereka masih bisa promosi ke Bundesliga melalui babak play-off, karena sekarang mereka berada di posisi ke-3.” Jelas Raynaldi.


“Aku pikir itu saran bagus.” Rangga mengangguk pada saran Raynaldi.


“Dan Hasyim, kau bermain di posisi apa?” Tanya Raynaldi.


“Aku gelandang bertahan dan gelandang tengah baik-baik saja. Tapi kemampuan ku lebih baik dalam bertahan.” Jawab Hasyim dengan jujur.


“Kalau begitu cobalah untuk bergabung dengan Koln Atletik, rekan satu tim ku Lindbergh akan kembali ke Swedia setelah akhir musim untuk menghabiskan karir terakhir sepak bola miliknya. Dia bilang ingin punya lebih banyak waktu untuk keluarganya jadi dia berniat bergabung dengan Malmo FF di liga Swedia.” Raynaldi menjelaskan berita orang dalam.


“Oke, aku akan mencobanya.” Hasyim juga setuju dengan saran Raynaldi.


“Nah, kalau begitu aku akan membuat persiapan untuk uji coba kalian.” Joko Sasongko berniat mengikuti saran Raynaldi.


“Kak Sas, jika butuh bantuan ku, katakan saja, aku pasti akan membantu.” Raynaldi menawarkan.


“Oke, terimakasih Ray.” Joko Sasongko menerima tawaran dengan rendah hati.

__ADS_1


__ADS_2