
21 Desember 2007, Koln, Jerman
Raynaldi duduk bersama dengan Joko Sasongko dan Leona di depannya, kali ini dia mendapat berita dari Joko Sasongko tentang transfer pinjamannya di musim dingin ini.
"Ray, saya punya kabar baik di sini, tetapi saya belum mengkonfirmasinya." Setelah berhasil mendaparkan persetujuan dari Anita, Joko Sasongko langsung memulai pekerjaannya sebagai agen. Dia meminta pihak klub untuk membiarkan Raynaldi bermain di level yang lebih tinggi, dan menyarankan untuk meningkatkan Raynaldi ke tim cadangan atau meminjamkannya ke tim 2.Bundesliga.
"Kabar baik apa?" Raynaldi bertanya pada Joko Sasongko.
"Klub menyetujui permintaan kita, dan ada tiga opsi yang bisa kau pilih sekarang." Jawab Joko Sasongko.
"Jadi, apa itu? Apakah sewa atau peningkatan ke tim cadangan." Kata Raynaldi.
"Awalnya aku mengira mereka hanya akan mengirim mu ke tim cadangan. Namun, selama penampilan mu di Liga Pemuda Jerman, banyak pramuka benar-benar datang untuk menyelidiki mu. Tentu saja, Anda memang sedikit lebih muda dan mereka masih membuat keputusan. Sejauh yang saya tahu, ada dua klub yang mengajukan tawaran ke klub Leverkusen. Kesamaan antara kedua tim ini adalah mereka kekurangan gol dan berada di posisi yang kurang baik. Saya telah merekomendasikan mu kepada mereka." Kata Joko Sasongko dengan lugas.
Raynaldi terkejut sesaat dan bertanya, "Benar-benar ada yang mengajukan tawaran sewa? Klub mana itu?"
Joko Sasongko dengan bangga berkata. “Satu klub berasal dari 2.Bundesliga, yaitu Koln Atletik. Dan yang lain adalah tim yang berada di degradasi Liga Belanda, AC Frissia Land.”
“Jika bisa aku lebih memilih tetap berada di Jerman. Mungkin, Koln Atletik akan lebih cocok untuk ku.” Jawab Raynaldi setelah berpikir sesaat.
“Kenapa?” Kali ini Leona yang bertanya pada Raynaldi.
“Kak Leona, jika aku pergi ke Belanda maka aku perlu beradaptasi lagi dengan bahasa dan budaya sepak bola mereka. Hal ini pasti akan memakan waktu, jadi lebih baik pergi klub jerman lain untuk meningkatkan kemampuan ku.” Raynaldi menjelaskan pada Leona.
“Oh..” Leona yang mendengar perkataan Raynaldi langsung mengangguk paham.
“Jadi bagaimana prosesnya?” Tanya Raynaldi pada Joko Sasongko.
"Karena kamu sudah mengambil keputusan, maka sudah tidak perlu khawatir. Aku akan mengurus sisanya, kamu hanya perlu berlatih dan menendangnya dengan keras." Joko Sasongko tersenyum percaya diri.
"Oke, aku serahkan pada mu." Raynaldi menyetujui pengaturan Joko Sasongko.
Setelah mereka selesai mendiskusikan hal-hal penting, Leona dan Joko Sasongko bersiap untuk pergi ke Leverkusen. Raynaldi yang melihat kepergian mereka hanya menggelengkan kepalanya, sebagai orang yang hidup dalam dua kehidupan dia bukan lagi anak bodoh 16 tahun, dan jelas tahu kalau mereka berniat berkencan sambil mengurus masalahnya.
Selanjutnya, Raynaldi menutup pintu dan kembali ke kamarnya. Dia memutuskan untuk tidur dan pergi berlatih di stadion virtual. Sudah lebih dari setengah tahun sejak dia mendpatkan sistem ini, dan perkembangan kemampuan dalam hal teknis dan sundulan miliknya juga berkat berlatih di tempat ini setiap kali dia tertidur.
Namun kali ini Raynaldi melihat sesuatu yang baru di jendela pelatihan stadion virtual.
__ADS_1
[Simulasi Permainan]
Setelah memilihnya, Raynaldi bisa melihat ada daftar pemain dari dua klub, yaitu Koln Atletik dan AC Frissia Land yang mengejutkannya. Lalu Raynaldi kembali bertanya pada sistem. “Untuk apa [Simulasi Permainan] ini?”
[Simulasi Permainan : Tempat dimana Tuan Rumah dapat mensimulasikan permainan dengan rekan satu tim tuan rumah. Pengingat : Simulasi Permainan hanya akan muncul saat tuan rumah mendapatkan tawaran dari klub professional (Tim Yunior – cadangan tidak termasuk)]
Raynaldi akhirnya paham mengapa sebelumnya tidak ada [Simulasi Permainan], karena dia hanya pernah bermain di tim yunior yang bukan klub professional dalam pengertian sistem.
Setelah itu, Raynaldi memilih Koln Atletik dalam [Simulasi Permainan] dan mulai melihat atribut pemain Koln Atletik. Mulai dari pemain bertahan hingga pemain penyerang, Koln Atletik memiliki kualitas yang lebih baik pada pemain bertahan dan kemampuan penyerang dalam tim ternyata lebih rendah dari statusnya.
“Sekarang aku tahu kenapa Koln Atletik bahkan menggunakan klausa khusus miliknya di musim dingin hanya untuk menyewa ku, kemampuan penyerang ini agak terlalu buruk. Meski memiliki kualitas fisik yang hebat tapi kemampuan Shooting, Off The Ball, dan Ball Control mereka dibawah 10.” Raynaldi yang melihat status para pemain hanya menggelengkan kepalanya, disaat yang sama dia yakin telah membuat keputusan yang benar untuk sewa kali ini.
“Yah, semakin buruk mereka, semakin cepat aku bisa mendapatkan posisi utama. Ini adalah hal yang baik untuk ku.” Raynaldi menutup tab pemain dan mulai bertlatih.
Pada awal latihan [Simulasi Permainan], Raynaldi sering melewatkan kesempatan. Lagipula dia sama sekali tidak tahu tipe seperti apa para pemain Koln Atletik dan hanya bisa mengira-ngira lewat status mereka.
“Ini seperti kembali ke saat pertama kali bergabung dengan Tim Yunior Leverkusen SC.” Raynaldi menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk terus berlatih. Dia berniat berintegrasi dalam tim secepat mungkin dan [Simulasi Permainan] yang diberikan sistem ini datang tepat waktu, jadi selama dua jam berikutnya dia terus berlatih [Simulasi Permainan].
. . . . .
Kantor Manajer Umum Leverkusen SC, Leverkusen, Jerman.
“Tuan Sven, saya mewakili keinginan klien saya untuk bisa disewakan ke klub 2.Bundesliga Koln Atletik agar mendapatkan pengalaman kompetisi yang lebih baik untuk perkembangannya ke dapan.” Joko Sasongko mengajukan permintaan Raynaldi.
“Kenapa klub 2.Bundesliga? Bukankah ada klub dari Liga Belanda yang mengajukan tawaran sewa pada Raynaldi? Klub lebih berminat untuk menyetujui tawaran mereka.” Sven Hope mengutarakan pendapatnya dan klub.
“Tuan Sven, meskipun memang Liga Belanda lebih baik dari 2.Bundesliga. Namun, disaat yang sama jika Raynaldi pergi ke Belanda maka dia perlu kembali belajar bahasa dan beradaptasi dengan budaya sepak bola belanda. Kedua hal ini akan memakan waktu dan membuatnya tidak bisa memfokuskan dirinya untuk mengembangkan kemampuan pribadinya sebagai pemain sepak bola.” Joko Sasongko juga mengajukan argumennya.
Mendengar apa yang disebutkan Joko Sasongko, akhirnya Sven Hope jatuh dalam pemikiran mendalam. Karena apa yang diucapkan oleh Joko Sasongko adalah fakta. Meskipun Raynaldi juga fasih bahasa inggris, tapi apakah semua pemain di klub itu bisa berbahasa inggris? Pasti tidak!
“Yah, aku tidak bisa menyangkal argument mu. Jadi saya juga akan membantu untuk kembali bernegosiasi dengan pihak klub tentang masalah ini.” Sven Hope akhirnya setuju dengan permintaan yang diajukan Joko Sasongko.
“Terimakasih atas bantuannya sebelumnya. Berikutnya tentang kontrak Raynaldi, sekarang dia masih memiliki kontrak pemuda sampai Juni 2008. Raynaldi berharap bisa memperbarui kontrak dengan klub, bagaimanapun Leverkusen SC sudah membawanya ke eropa dan dia berniat memulai karir Bundesliga di klub ini.” Joko Sasongko mengajukan topik berikutnya.
“Kalau begitu mari kita negosiasikan masalah kontrak Raynaldi.” Sven Hope juga berharap untuk memperpanjang kontrak Raynaldi.
<< Bersambung >>
__ADS_1
Status Raynaldi Indrasta saat ini...
~ ~ ~ * * * ~ ~ ~
Nama : Raynaldi Indrasta (16)
Tinggi / Berat : 181 cm / 70 kg
Kewarganegaraan : Indonesia
Vision / Aerial : 18
Dribbling : 11
Passing : 11
Shooting : 17
Ball Control : 11
Off The Ball : 18
Header : 11
Jump : 11
Speed : 14
Acceleration : 13
Body Balance : 11
Strength : 9
Stamina : 12
Adaptation : 15
__ADS_1
Mental : 18
~ ~ ~ * * * ~ ~ ~