
Disaat dunia luar sedang banyak membicarakannya, Raynaldi dan Leona pergi ke sebuah studio rekaman untuk merekam lagu. Pemilik studio rekaman ini adalah seorang dosen dari universitas yang dihadiri Leona.
“Kak Leona mengapa kau menarik ku kemari?” Raynaldi sendiri merasa kurang senang saat ditarik keluar secara paksa oleh Leona. Meskipun ini juga hari libur tim setelah pertandingan, tapi Raynaldi terbiasa berlari di taman kota saat liburan dan dia diseret kemari sebelum melakukan rutinitasnya.
“Bukankah sudah ku bilang, kalau lagu mu akan direkan disini? Aku yang akan menjadi penyanyinya tapi aku tidak bisa menemukan iringan yang baik, jadi aku menyeret mu kemari.” Leona tahu keponakan dengan usia yang tidak jauh berbeda ini merasa agak kesal karena ditarik keluar setelah sarapan.
“Kenapa aku?” Raynaldi hanya bisa pasrah dengan tingkah laku “sesukanya’ Leona.
“Karena menurut ku, permainan gitar mu sangat bagus.” Leona menjawab dengan singkat.
Raynaldi ingin bicara dan membantah lebih banyak tetapi Leona memotongnya.
“Tenanglah, ini tidak akan memakan banyak waktu. Hanya beberapa jam untuk hari ini sudah cukup.” Leona meyakinkan Raynaldi.
Raynaldi hanya bisa mengangguk setuju dengan pasrah pada Leona.
Akhirnya dengan ‘panduan’ Leona, Raynaldi juga memasuki studio rekaman. Mereka menemui manajer studio rekaman ini yang tak lain adalah dosen Leona, Anna Ivanovic.
Anna melihat muridnya masuk dengan seorang pria kecil yang mengejutkannya, karena dia mengenali anak itu sebagai penyerang baru Koln Atletik. Anna tidak pernah berpikir kalau kenalan yang dipanggil Leona adalah salah satu bintang yang baru muncul di Kota Koln.
“Leona, apakah ini?” Anna bertanya pada Leona tentang Raynaldi.
“Ini keponakan ku, yah meski umur kami hanya terpaut 5 tahun. Dan dia adalah seorang pemain sepak bola professional.” Leona memperkenalkan Raynaldi.
“Jadi dia memang orang itu, kebetulan suami ku sering membahas anak baru yang datang ke Koln Atletik di pertengahan musim. Dia juga bilang penjualan jersey nomor 99 miliknya langsung habis dalam 3 minggu ini.” Kata Anna dengan senyuman.
Sebelum Raynaldi sempat bertanya, Leona sudah menjelaskan maksud Anna. “Suami Anna adalah direktur komersial Koln Atletik, dia yang mengurus pendapatan klub dari bidang komersial seperti penjualan jersey, merchandise, dan food court di lapangan Koln City Stadium.”
“Oh, begitu.” Raynaldi mengangguk.
“Yah, karena kita tidak punya banyak waktu, mari kita mulai merekam sekarang.” Anna membawa Raynaldi dan Leona untuk mulai merekam lagu.
__ADS_1
. . . . .
Rekaman lagu berjalan dengan lancar, meski Raynaldi datang untuk pertama kalinya untuk merekam lagu, tapi dia sama sekali tidak gugup atau membuat kesalahan dalam rekaman sehingga proses merekam lagu berjalan jauh lebih cepat dari rencana.
Mulai dari awal rekaman sampai dengan akhir hanya memakan waktu selama dua jam yang terbilang singkat untuk merekam lagu. Hal ini juga membuat Anna merasa bahwa Raynaldi juga bisa cukup sukses sebagai seorang penyanyi jika dia bukan pemain sepak bola professional.
“Aku tidak berpikir bahwa merekam lagu akan semudah ini.” Leona yang menyelesaikan rekaman lagu dengan cepat hari ini merasa cukup senang.
“Yah, ini benar-benar cepat untuk seorang pemula. Leona, aku pikir Ray juga bisa menjadi musisi yang baik jika dia tidak bermain sepak bola.” Anna juga tersenyum senang saat melihat hasil rekaman yang ada.
“Maaf, Anna. Aku masih memilih untuk bermain sepak bola.” Raynaldi menanggapi lelucon Anna dengan tertawa kecil.
“Oke, aku tahu.” Anna tidak melanjutkan leluconnya.
“Lalu apakah lagu ini bisa di release segera?” Leona yang kali bertanya pada Anna.
“Yah, tapi kita juga harus membuat video klip untuk menguatkan efek dan suasana lagu ini. Apakah kau punya saran tentang orang yang bisa menjadi model?” Anna bertanya pada Leona.
“Maaf, Leona. Tapi kau tidak cocok untuk ini, pada dasarnya kau adalah orang yang mandiri dan percaya diri, dan lagu ini tentang perjuangan seorang gadis agar bisa lebih percaya diri.” Anna langsung menolak Leona.
“Anna, sebenarnya aku punya satu kandidat. Dan aku juga berharap kau setuju.” Raynaldi berniat menyarankan kenalannya Irene, bagaimanapun gadis itu memiliki perawakan yang baik dan ini juga bisa meringankan beban keluarganya.
“Oh, siapa itu?” Anna bertanya pada Raynaldi.
“Irene, dia seorang junior di sekolah ku, dia cukup cocok dengan lagu ini karena dia perlu menjadi orang yang lebih percaya diri.” Raynaldi sejak awal memang berniat membiarkan Irene terlibat dalam hal ini.
Alasan Irene dijadikan target bullying karena dia merasa lebih rendah dan lemah dibandingkan orang lain, hal ini membuatnya cenderung menyerah dan tidak berani melawan saat orang lain melakukan sesuatu padanya.
Jadi cara yang paling efektif adalah membiarkannya terlibat dalam sesuatu yang bisa menjadi “keyakinannya”, dan Raynaldi mendengar dari Irene jika dia sering terlibat dalam teater sekolah, meski hampir semua penampilannya hanya berperan sebagai orang lewat.
Raynaldi berniat membiarkan Irene terlibat dalam pembuatan video klip ini agar dia memiliki keyakinan bahwa dirinya juga bisa melakukan sesuatu yang bisa dia banggakan selama dia mau mencoba dan berusaha. Hal ini akan membuat Irene merasa percaya diri dan kehilangan rasa rendah diri miliknya.
__ADS_1
“Oh, begitu.” Anna menatap Raynaldi lalu pada Leona.
Leona yang mengerti maksud Anna berkata pada Raynaldi. “Apakah itu anak yang mengalami bullying yang kau sebutkan sebelumnya?”
“Iya.” Raynaldi mengangguk.
“Kau benar-benar mirip dengan ibu mu, Ray. Kalian berdua sangat suka mencampuri urusan orang lain.” Leona bercanda sambil terkekeh.
“Ibu ku seorang Psikolog, dan pekerjaannya memang mencampuri masalah orang lain.” Raynaldi tersenyum sambil mengangkat bahunya.
. . . . .
Raynaldi kembali ke rumah lebih dahulu dan meninggalkan Leona yang masih sibuk dengan lagu pertamanya. Setelah sampai di rumahnya, Raynaldi kembali ke komputernya untuk mengecek berita terbaru di internet.
Seharusnya ada berita tentang fluktuasi harga emas dan minyak mentah di bulan Januari sampai Februari tahun ini, tapi Raynaldi tidak menemukan berita apa pun yang terkait dengan hal itu. Setelah memeriksa aplikasi pasar keuangan dan tidak menemukan “uang cepat” yang bisa dipanen, Raynaldi memutuskan mematikan komputer dan melompat ke tempat tidur.
Saat Raynaldi berniat tidur dan masuk ke stadion virtual, ponselnya berdering dan menunjukan panggilan dari agennya Joko Sasongko.
“Ada apa Kak Sas?” Raynaldi menjawab telpon.
“Hai, Ray. Aku baru saja dapat kabar kalau pelatih timnas akan menonton pertandingan mu berikutnya, mungkin kau akan segera mendapatkan panggilan tim nasional.” Suara bersemangat Joko Sasongko terdengar dari sisi lain telpon.
“Benarkah? Itu kabar baik, tapi jujur aku mungkin tidak akan tampil sebaik di klub saat berada di tim nasional.” Raynaldi juga senang dengan kabar dari Joko Sasongko, tapi juga merasa penampilannya tidak akan bisa sebaik saat dia berada di klub.
“Kenapa?” Tanya Joko Sasongko.
“Aku adalah pemain yang membutuhkan dukungan rekan satu tim untuk bisa tampil lebih baik, jangan lihat jumlah gol dan efisiensi ku di pertandingan sebelumnya. Tapi jika aku tidak mendapatkan dukungan rekan satu tim ku, penampilan ku tidak akan sebaik sebelumnya.” Raynaldi sangat paham dengan kelebihan dan kekurangannya.
“Oh, tapi ku dengar ada seorang gelandang jenius di tim nasional kita. Dia baru akan berusia 19 tahun bulan September nanti, kalau tidak salah namanya Rangga.” Joko Sasongko juga tahu apa yang dimaksud Raynaldi jadi dia mengangkat nama gelandang jenius tim nasional yang menjadi raja assist di Piala Asia 2007 dengan 3 assist dalam 3 pertandingan grup.
“Rangga?” Mendengar nama ini Raynaldi kembali memngingat kapten tim sepak bola sekolahnya, dia bermain selama satu tahun dengan Raynaldi di kejuaran sepak bola SMA se-Indonesia dan di tahun inilah sekolahnya memenangkan kejuaraan. Saat itu Raynaldi menjadi pencetak gol terbanyak dengan 18 gol dan kaptennya, Rangga menjadi pemain terbaik dengan 10 assist dan 5 gol.
__ADS_1
“Ini bukan orang yang sama kan?” Pikir Raynaldi dalam hati.