
Setelah terbang selama lebih dari lima belas jam dari Jerman ke Indonesia, Raynaldi juga merasa sedikit lelah. Jadi setelah turun dari pesawat dia segera mengajak Leona dan Irene untuk menemui ibunya, Anita yang sudah menunggu di tempat VIP.
Ketika sampai di ruang tunggu VIP, Raynaldi melihat ibunya sedang berbicara dengan Malik yang juga berniat menjemputnya, sementara Lisa sedang berlarian.
Lisa yang sedang berlarian di ruangan, langsung menerkam Raynaldi yang baru saja masuk ke dalam ruangan. “Kakak! Kenapa kau baru pulang?” kata Lisa sambil membenamkan kepalanya di tubuh Raynaldi.
“Kan, kakak sudah bilang pada Lisa, kalau Kak Ray akan bekerja di luar negeri selama satu tahun.” Kata Raynaldi menjelaskan secara perlahan.
“Lisa kira, kakak cuma akan bermain bola selama sebulan seperti sebelumnya!” Kata Lisa sambil menengadahkan kepalanya dengan cemberut.
“Haha, jadi saat kakak bicara, Lisa gak dengerin ya?” Kata Raynaldi sambil tersenyum.
“Gak, kok, Lisa kan anak baik, jadi pasti dengerin.” Kata Lisa yang sudah melepas Raynaldi sambil tertunduk.
Raynaldi yang melihat adiknya, tau kalau adiknya tidak mendengarkan ketika dia berbicara padanya sebelum berpisah di Jerman setahun yang lalu. “Oke, ayo temui ibu.” Kata Raynaldi sambil menggandeng adiknya.
Anita yang melihat anaknya kembali, langsung memeluk Raynaldi. Meskipun masih sering berhubungan lewat telepon tetapi ini adalah kali pertama dia bertemu putranya secara langsung setelah satu tahun.
Melihat Raynaldi yang sebelumnya kurus dengan kulit cerah berubah menjadi lebih berotot dengan kulit coklat gandum, membuat Anita sedikit merasa kasihan pada putranya. Sebagai orang yang terpelajar, Anita tahu bahwa perubahan fisik semacam ini tidak akan di dapatkan dengan mudah, Raynaldi pasti sudah berlatih keras untuk ini.
“Kau sudah mengalami banyak hal yang sulit.” Kata Anita sambil memeluk putranya.
“Tidak masalah, karena aku menikmatinya. Sangat menyenangkan bisa bermain sepak bola.” Kata Raynaldi dengan tulus.
“Yah...” Anita melepaskan Raynaldi dan baru saja menyadari bahwa Leona juga datang bersama putranya dengan gadis asing.
“Leona, kau juga datang?” Kata Anita.
“Lihatlah dirimu, aku sudah lama berdiri di sini tapi baru menyadarinya? Kak Anita kau kehilangan wajah wanita intelektual mu.” Kata Leona sambil bercanda.
__ADS_1
“Bisakah kau lebih serius? Gadis kecil.” Kata Anita sambil memeluk Leona.
“Kak Anita, bisakah kau berhenti menyebut ku gadis kecil? Aku sudah lebih dari 20 tahun sekarang.” Kata Leona, tapi dia masih merasa hangat karena sepupunya ini sama sekali tidak berubah.
“Haha, siapa yang akan mengira kau adalah gadis kecil yang selalu menangis 12 tahun yang lalu.” Anita tertawa kecil ketika melihat tanggapan Leona.
“Orang-orang akan menjadi dewasa ketika waktunya, bukankah itu yang selalu kau katakan Kak Anita? Selain itu, putra mu jadi jauh lebih dewasa dari ku!” Kata Leona terkekeh.
“Hahaha...” Anita masih tertawa ketika mendengar jawaban Leona, dia mengalihkan pandangannya pada Irene yang dari tadi tidak bersuara di belakang Leona.
“Nah, siapa gadis cantik ini?” Tanya Anita.
“Dia calon menantu mu!” Celetuk Leona sambil tersenyum.
Raynaldi hampir jatuh tersandung kakinya saat mendengar ucapan tak bertanggung jawab Leona.
“Calon menantu? Apa Ray menipu gadis kecil di Jerman?” Anita tersenyum kecil.
Candaan mereka bukan tanpa sebab, karena sifat Raynaldi yang suka ikut campur dengan masalah yang dilihatnya. Banyak hal yang berubah menjadi adegan klise pahlawan menyelamatkan kecantikan seperti dalam film.
Beberapa kali Raynaldi menolong gadis yang dibully atau sendang dalam kesusahan membuat anak gadis yang mulai tumbuh dewasa itu jatuh hati. Jadi saat berada di Indonesia, banyak gadis yang dekat dengan Raynaldi bahkan berulang kali datang ke rumahnya untuk bermain atau menghabiskan lebih banyak waktu dengannya.
Anita sebagai seorang psikolog bisa melihat bahwa cara memandang mereka pada putranya sedikit berbeda dari pandangan teman normal. Jadi dia bisa menebak kalau putranya sedang bermain gila di sekolah.
Raynaldi sendiri juga masih ingat pandangan ibunya saat dia menjelaskan masalah itu, pandangan mata ibunya saat itu seperti melihat orang idiot. ‘Yah, harus aku akui, saat itu aku memang seperti orang idiot.’ Pikir Raynaldi yang mengingat tingkahnya yang seperti protagonis harem romcom tertentu.
“Oke, bu, Kak Leona, berhenti bercanda.” Raynaldi menggelengkan kepalanya.
“Aku akan berbicara dengan Malik sebentar.” Lanjut Raynaldi meninggalkan ruang obrolan untuk para gadis.
__ADS_1
Setelah Raynaldi pergi menemui Malik. Anita, Leona dan Irene membuka kotak obrolan mereka dan mulai membahas hal-hal gadis.
“Nah, Malik, ada hal yang ingin aku minta maaf.” Raynaldi langsung menuju inti masalah setelah menyapa Malik.
“Ada apa Ray?” Tanya Malik sedikit bingung.
“Aku lupa sudah berjanji pada ibu dan adik ku untuk menghabiskan waktu satu hari sebelum pergi ke pelatihan.” Kata Raynaldi sambil menggaruk bagian belakang kepalanya karena malu.
“Oh, tentang ini...” Jawab Malik sambil tersenyum. “Tak masalah Ray, sebenarnya ibu mu mengatakan soal ini tadi. Selain itu, aku dengan dari ibu mu, kalau tempat latihan dan rumah mu hanya berjarak kurang dari 10 km dari tempat pelatihan. Jadi kau bisa bergabung besok sebelum latihan pagi dimulai, untuk masalah ini aku sudah konfirmasi ke tim pelatih.” Lanjutnya.
“Terimakasih Malik, kau sangat membantu.” Kata Raynaldi.
“Tidak masalah ini adalah tugas ku.” Tanggap Malik dengan santai. “Nah, aku tidak akan mengganggu waktu berharga mu. Ini sudah waktunya kembali ke kamp pelatihan.” Malik berpamitan dengan Raynaldi dan keluarganya, lalu pergi meninggalkan bandara.
“Ray, ayo pulang. Leona dan Irene akan kembali bersama kita.” Kata Anita dengan senyum ambigu.
Raynaldi bisa melihat senyum ambigu milik ibunya, terakhir kali ini terjadi saat ketua kelas di SMP-nya datang berkunjung secara rutin. Sebagai ketua kelas jelas dia pintar dan bertanggung jawab, tetapi punya kekurangan dalam EQ, sehingga sering dijauhi dan dibully oleh gadis lain. Raynaldi yang melihatnya beberapa kali membantunya keluar dari bully-an, dan akhirnya mereka berteman dekat.
Hal yang merepotkan adalah Raynaldi jarang punya teman perempuan, dan ibunya yang berpikir bahwa Raynaldi sudah mulai pubertas, mungkin tertarik dengan ketua kelasnya. Karena kesalahpahaman memerlukan waktu yang lama untuk dihilangkan, dan setelah lulus dari SMP, mereka hampir tidak pernah berhubungan lagi.
“Ngomong-ngomong siapa namanya lagi? Oh, Rani Lila Pramesti.” Kenang Raynaldi.
“Ibu, apa kau memikirkan hal yang buruk lagi?” Tanya Raynaldi pada ibunya.
“Apa yang buruk?” Anita terdiam dengan pertanyaan putranya.
“Yah, jangan sampai hal sebelumnya terulang lagi. Aku benar-benar merasa kasihan padanya.” Raynaldi yang mengingat kejadian itu juga menggelengkan kepalanya, dia ingat gadis itu menangis saat dia bilang mereka hanya berteman. Karena ini dia tidak ingin hal yang sama terulang kembali.
“Oke, ibu tahu. Sebelumnya ibu hanya bersemangat karena ibu pikir kamu akhirnya tersadarkan.” Anita menyanggah dengan ekspresi canggung.
__ADS_1
“Kamu tidak pernah bermain dengan gadis saat tumbuh dewasa, yang membuat ibu khawatir tentang ketertarikan mu.” Kata Anita sambil menghela nafas dan mengelus dadanya.
Raynaldi hampir ingin muntah darah saat mendengar ibunya. “Oke, aku segera pulang dan beristirahat.” Kata Raynaldi.