Football : King Of Penalty Area

Football : King Of Penalty Area
Ch. 59 - Hagen SV


__ADS_3

Di ruang ganti Koln Atletik, Thomas Sobek memarahi para pemainnya yang bermain seperti orang tidur berjalan di lapangan.


“Apa yang kalian lakukan di lapangan? Bagaimana bisa kami tidak memiliki tembakan ke gawang sama sekali?!”


“Juga! Bukankah sudah ku katakan untuk tetap fokus sejak awal! Bagaimana bisa kalian kebobolan begitu cepat! Jangan bilang semua kemenangan kita sebelumnya membuat kalian melambung?!”


“Selain itu, aku juga tidak melihat kalian berlari dengan benar! Hampir semua orang berjalan seperti lansia 80 tahun! Tidak! Bahkan lansia 80 tahun bisa berlari lebih baik dari kalian!”


Teriakan marah Thomas Sobek membuat semua pemain Koln Atletik terdiam.


“Van Buren! Apa yang kau lakukan di babak pertama? Hanya jalan-jalan seperti orang bodoh? Kenapa kau tidak pergi ke pantai atau gunung saja! Bukankah pemandangan disana lebih indah dari lapangan kita!” Thomas Sobek menunjuk Van Buren.


“Lindbergh! Bagaimana dengan pertahanan mu? Sudah ku katakan untuk tidak mudah terkecoh dengan umpan mereka dan kau harus tetap fokus!” Thomas Sobek menunjuk Lindbergh.


“Deschamp! Buhari! Saat bola tidak bisa sampai pada kalian, seharusnya kalian mundur untuk menjemput bola dan jangan hanya menunggu di frontcourt seperti orang bodoh!” Thomas Sobek menunjuk Deschamp dan Buhari.


“Baik, jangan hanya menunduk karena merasa bersalah. Tugas kita di babak kedua adalah mencetak gol.” Thomas Sobek mengungkapkan posisinya dengan jelas.


“Pertama kita akan merubah formasi menjadi 3-3-3-1, Buhari akan pindah ke posisi gelandang serang, Henrik akan mundur menjadi gelandang tengah, Emerson akan menjadi bek tengah, Giuly akan maju ke posisi gelandang kanan.”


“Kedua, tujuan kami untuk menumpuk banyak orang di tengah untuk meningkatkan pertahanan dan kuantitas lini tengah agar bisa menekan lawan di tengah, sehingga kitab isa mengirimkan bola ke Ray.”


“Ketiga, saat bertahan Van Buren dan Lindbergh akan mundur ke backcourt dan mengurangi ruang tengah yang bisa digunakan untuk menyerang.”

__ADS_1


“Apa kalian paham?” Tanya Thomas Sobek setelah menjelaskan.


“Ya, paham pak.” Jawab para pemain serempak.


. . . . .


Namun, setelah lima belas menit babak kedua di mulai tidak ada perubahan skor dalam pertandingan. Jika ada hal yang baik untuk Koln Atletik, setelah mereka menumpuk banyak orang di lini tengah jumlah penguasaan bola mereka meningkat dan mulai bisa mengirimkan umpan yang cukup baik ke frontcourt.


Serangan pertama Koln Atletik di babak kedua bermulai dari umpan terobosan Henrik yang berhasil diterima Giuly yang menyisir sisi kiri pertahanan Hagen SV. Setelah mendekati kotak penalti, Giuly mengirim umpan lambung 45 derajat ke kotak penalti dan Raynaldi menyambutnya dengan tembakan voli tapi sayang tembakannya membentur mistar kanan gawang.


Serangan kedua Koln Atletik di babak kedua dimulai dengan umpan terobosan Buhari yang berhasil diterima Raynaldi setelah lolos dari posisi off-side. Raynaldi yang berhadapan satu lawan satu dengan kiper Hagen SV menembak ke sudut jauh, tapi sayang bola kembali membentur mistar gawang dan keluar lapangan.


Sejauh ini, Raynaldi sudah melakukan dua tembakan dan semuanya membentur mistar gawang yang mengecewakan. Mungkin nasibnya sedang terlalu buruk hari ini.


Pemain ini masih keturunan Indonesia dari bekas jajahan Belanda di Suriname. Di negara tropis kecil itu, paling banyak orang yang berbicara dua bahasa, satu bahasa Belanda, yang lain bahasa Indonesia, dan lebih tepatnya bahasa Jawa.


Pertandingan kembali berlangsung dan pada menit ke-78, Raynaldi yang berhasil mendapatkan bola di depan kotak penalti kembali menembak dengan keras. Kali ini Robert Soeharto juga memblok bola dari Raynaldi, tapi sayang bola memantul dan mengenai tangannya.


Wasit yang melihatnya langsung memberikan hadiah penalti untuk Koln Atletik.


Buhari sebagai penambak penalti pertama Koln Atletik mengeksekusi penalti dengan baik. Dia berhasil mengecoh kiper Hagen SV yang bergerak ke kanan dan menembak bola ke sisi lainnya. Skor berubah menjadi 1-1.


Setelah mencetak gol, Buhari tidak melakukan selebrasi apa pun dan mengambil bola kembali ke titik kick-off.

__ADS_1


Pertandingan kembali berlanjut dengan serangan Hagen SV. Pencetak gol Hagen SV, Miralem Soleimani mencoba mengatur serangan secara perlahan yang membuat bola tertahan cukup lama di lini tengah.


Sampai pada menit ke-93, Lindbergh berhasil mencuri bola di lini tengah. Raynaldi memanfaatkan kelengahan lini pertahanan Hagen SV dan berhasil lolos dari penjagaan.


Lindbergh yang melihat posisi Raynaldi bebas langsung mengirim umpan lambung ke sisi lain lapangan. Raynaldi menerima umpan lambung Lindbergh dan langsung berlari menuju kotak penalti Hagen SV.


Sayang karena umpan Lindbergh sedikit melenceng, kontrol bola Raynaldi juga sedikit buruk yang membuat bola bergulir sedikit lebih dekat dengan posisi kiper Hagen SV yang menyerang maju.


Raynaldi yang berpikir posisi menembaknya sudah menghilang melihat Deschamp yang menyusulnya dari sisi kanan pertahanan Hagen SV. Tanpa ragu Raynaldi mengoper bola ke arah lari Deschamp.


Kiper Hagen SV yang terlalu fokus pada Raynaldi tertangkap basah dengan umpan mendadak Raynaldi. Disaat yang sama, Deschamp dengan tegas memasukan bola ke gawang kosong dan membalikan kedudukan menjadi 2-1 untuk kemenangan Koln Atletik.


Sementara itu, Andrei yang menjadi komentator radio Koln mulai berteriak heboh. “Lindbergh... dia berhasil mencuri bola... mengirimkan umpan lambung... Ray ada disana! Dia berhasil mendapatkan bola! Ah! Sayang kontrol yang buruk! Kiper lawan mendekat... Ray berhasil mengambil bola terlebih dulu! Bola di oper ke kiri! Siapa disana! Deschamp dia berlari menyongsong bola! Tembak!!! GOOOAAAAL!!!”


“Goal yang hebat! Benar-benar serangan balik yang klasik! Meski umpan Linbergh sedikit buruk dan kontrol bola Ray juga agak kacau. Tapi Ray juga berhasil menyelesaikan serangan ini dengan sempurna! Dalam waktu singkat dia bisa membuat pilihan terbaik untuk menyelsaikan serangan!”


“Haha... Aku bahkan ragu kalau dia punya mata lain di kepalanya! Bagaimana dia bisa melihat Deschamp yang menyusul dari belakang? Ini menunjukan bahwa selain kecepatan dan kemampuan menembaknya yang baik, Ray juga memiliki visi yang luas!” Andrei benar-benar yakin Raynaldi memliki visi yang luas karena dipertandingan sebelumnya dia juga berhasil mengirim umpan imajinatif yang sama.


Di Koln City Stadion puluhan ribu penggemar Koln Atletik berteriak gembira setelah wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. Tim tuan rumah yang hampir tidak terlihat dalam seluruh permainan justru membuat pembalikan epic yang mengejutkan.


Meski prosesnya sedikit menyedihkan tetapi hasilnya tetaplah kemenangan dan 3 poin untuk Koln Atletik. Jadi semua penggemar yang hadir berteriak gembira karena disaat yang sama satu jam sebelumnya Dresden 09 dan Wiesbaden sama-sama mengalami kekalahan yang membuat Koln Atletik melesat ke peringkat 4 klasemen sementara setelah unggul selisih gol dari Dresden 09.


Posisi klasemen 2.Bundesliga saat ini adalah Armina Oldenburg dengan 52 poin di puncak klasemen, diikuti oleh 1.Mainz dengan 51 poin, Chemnitz dengan 48 poin, Koln Atletik dengan 44 poin, Dresden 09 dengan 44 poin, dan Leipzig Sport di peringkat 6 dengan 43 poin. Disaat yang sama Wiesbaden dengan 41 poin terlempar ke posisi ketujuh.

__ADS_1


__ADS_2