Football : King Of Penalty Area

Football : King Of Penalty Area
Ch. 109 - Pelatihan Tim Nasional


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat, setelah tiba di rumah. Raynaldi menghabiskan semua waktunya bersama anggota keluarganya, dengan tambahan Irene dan Leona yang ikut bersenang-senang dengan mereka.


Mungkin karena sudah lama berpisah, Lisa sangat menempel pada Raynaldi dan hampir mengikutinya kemana pun kecuali saat pergi ke kamar mandi. Hal ini membuat Raynaldi merasa sedikit bersalah pada adiknya, tapi mengingat hal yang dia lakukan adalah untuk masa depannya sendiri, dia hanya bisa terus melanjutkan dengan caranya sendiri.


Seluruh hari itu dihabiskan Raynaldi dengan menemani Lisa. Mereka bermain puzzle, petak umpet, kerjar-kejaran, di saat yang sama kedua bersaudara itu juga menyeret Irene dan Leona untuk bermain.


Seluruh hari dihabiskan untuk menenmani adiknya, Lisa bermain. Raynaldi menembus waktu yang hilang setelah meninggalkan adiknya selama hampir 2 tahun.


Tanpa terasa malam telah tiba, dan seperti biasa hidangan sudah tersedia di atas meja makan. Setelah 2 tahun, Raynaldi kembali merasakan hangatnya rumah, ruangan yang familiar, hidangan yang familiar dan suasana yang familiar.


Raynaldi menghabiskan seluruh harinya dengan keluarganya tanpa memikirkan hal-hal lain yang menganggu.


. . . . .


Keesokan harinya, Raynaldi langsung pergi ke kamp pelatihan Tim Nasional untuk mempersiapkan pertandingan melawan Qatar dua hari kemudian.


Dalam kontes pertandingan intra tim, baik tim ofensif dan defensive dibagi secara merata oleh Frans.


Tim Merah (Defensif) :


Radgar Sinaga (GK),


Mario Dembele (CB), Muh. Ihsan (CB), Marco Dembele (CB),


Hasyim Sudrajat (CDM), Firman Huda (CM),


Victor Wanggai (LMF), Ishak Sulaiman (RMF), Bayu Pratama (CAM),


Syamsul Arif (SS), Lutfi Hakim (CF).

__ADS_1


Tim Kuning (Ofensif) :


Kurnia Mega (GK),


Abdullah (CB), Ivan Jaguar (CB), Muh. Abdul Lestaluhu (CB),


Vincent Salossa (CDM), Adi Saputra (CM),


Kurnia Cahya (LMF), Arnova Eka Yulio (RMF), Rangga Saktiaga (CAM),


Raynaldi Indrasta (SS), Aji Pamungkas (CF).


Sedangkan, Kurniawan yang sebelumnya menjabat sebagai kapten tim memutuskan untuk pensiun dari Tim Nasional dan Sepak bola Profesional pada bulan Mei kemarin, setelah kembali mengalami cedera lutut yang kembali kambuh.


Saat ini Kurniawan bertugas sebagai asisten pelatih di Tim Nasional dan masih membantu Frans menenangkan ruang ganti. Dia juga telah membicarakannya dengan Frans dan menjadi asisten pelatih Tim Nasional adalah kesimpulan yang mereka ambil.


Pertandingan antara dua tim berjalan dengan seimbang, karena pembagian paksa sistem ofensif dan defensive yang dilakukan Frans, membuat bola lebih sering tertahan di tengah lapangan. Namun, pada menit ke-6 pertandingan, Tim Kuning melakukan serangan pertama dibawah organisasi Rangga, dia berhasil mengirim bola ke kaki Raynaldi.


Radgar yang semula tenang setelah melihat Raynaldi dijaga oleh dua benar-benar terdiam. “S*alan, bagaimana orang ini bisa menembak di sudut itu!” Tak peduli seberapa cepat dia bereaksi, Radgar gagal mengahalau bola yang memasuki gawangnya dalam kurva yang aneh.


“Ray, bagaimana kau bisa menembakan bola seperti itu!” Radgar bergegas pada Raynaldi seolah meminta jawaban darinya.


“Jika kau melakukan lebih banyak latihan menembak, maka hal semacam ini akan lebih mudah untuk dilakukan.” Kata Raynaldi sambil tersenyum dan berbalik sisi lapangannya sendiri.


Radgar terdiam dengan jawaban Raynaldi, bahkan saat dia masih berada di Akademi Amsterdam milik klub raksasa Belanda, Amsterdam Warrior. Dia belum pernah melihat lengkungan aneh semacam itu, seolah-olah bola itu memiliki sistem navigasi radar untuk masuk ke gawang.


“Mungkin ini yang dimaksud oleh pelatih Louis saat itu, beberapa orang terlahir dengan bakat yang unik.” Radgar kembali ke gawangnya dan menjadi lebih bersemangat. Melawan pemain seperti Raynaldi jelas akan meningkatkan kemampuannya di bawah mistar.


Frans dan Kurniawan yang berada di pinggir lapangan juga terkejut dengan temabakan Raynaldi. “Hei, Bang Kurniawan? Apakah hanya perasaan ku saja atau anak itu Raynaldi kembali meningkatkan kemampuannya lagi? Dan kemampuan menembaknya kali ini juga sangat keterlaluan.” Kata Frans tanpa sadar pada Kurniawan.

__ADS_1


“Itu bukan halusisani mu, Frans. Memang ketrampilan menembak Raynaldi kembali meningkat, dan peningkatan kali ini jauh lebih besar dari yang sebelumnya. Dia sepertinya sudah menemukan cara menembak miliknya sendiri.” Kata Kurniawan.


Sebagian besar penyerang yang berhasil adalah mereka yang memiliki kemampuan khusus yang lebih baik dari sebagian besar pertahanan lawan. Ada orang yang mampu memanfatkan ruang dengan sempurna, ada orang dengan teknik yang luar biasa, juga ada orang aneh dengan ketrampilan menembak yang unik.


Bagi Kurniawan, Raynaldi adalah tipe yang pertama dan ketiga. Karena dia adalah perwujudan sempurna dari kecerdasan bola untuk memanfaatkan ruang dan teknik menembak pamungkas. “Aku bahkan tidak tahu dimana batas milik anak ini.” Gumam Kurniawan.


Pertandingan kembali berlanjut, baik sisi merah dan kuning bermain cukup baik. Tim Merah yang bermain defensive di seluruh permainan juga berhasil membendung serangan tanpa henti tim merah dan hanya membiarkan mereka memliki 5 buah tembakan ke arah gawang.


Namun sayang mereka bertemu Raynaldi dengan kemampuan Shooting dan berlari tanpa bola tingkat super. Raynaldi selalu berhasil menemukan celah dalam pertahanan mereka dengan lari tanpa bola dan pemahaman lapangan miliknya.


Kemampuan Shooting miliknya yang hampir tak terhentikan juga menunjukan level yang menakutkan. Semua tembakan miliknya berhasil mencapai sudut sulit yang hampir mustahil untuk diselamatkan oleh penjaga gawang.


Radgar yang dalam kondisi bagus tidak kuasa menghentikan tembakannya, dan hanya berhasil menepis 1 bola dari 5 tembakan yang dibuat Raynaldi. Pertandingan internal akhirnya berakhir dengan skor 4 - 0 untuk kemenagan Tim Kuning.


“Sepertinya perkembangan para pemain sudah cukup baik, hal yang paling menakjubkan adalah perkembangan Raynaldi yang terlalu mengerikan. Sebelumnya ketrampilan menembaknya memang sudah luar biasa, tapi sepertinya dia berkembang ke level lainnya setelah beberapa bulan di Eropa.” Komentar Kurniawan.


“Dengan ini kami bisa yakin untuk memenangkan dua pertandingan kandang untuk mengunci posisi teratas di dalam grup. Berikutnya tinggal bersiap untuk kompetisi 16 besar kualifikasi piala dunia zona AFC.” Frans juga tersenyum puas dengan perkembangan para pemainnya.


“Bermain di Eropa benar-benar meningkatkan kemampuannya dengan pesat. Sebelumnya aku dengar dia bahkan tidak dilirik oleh klub lokal bahkan setelah memenangkan Kejuaraan Nasional Sepak Bola SMA bersama Rangga.” Kurniawan tidak bisa berhenti dibuat takjub dengan peningkatan kemampuan yang dibuat Raynaldi.


“Saya pikir itu bukan masalah dia terlihat atau tidaknya oleh klub lokal, tapi klub lokal itu sendiri yang kurang berwawasan. Apakah kau ingat dengan rekaman pertandingan milik Raynaldi saat pelatihan dan pertandingan di Tim Yunior Leverkusen SC?” Tanya Frans pada Kurniawan.


“Apakah dia punya poin lebih? Aku pikir selain kemampuan menembak dia sedikit beruntung dengan terus menerus berada di posisi yang tepat? Aku pikir penyerang tengah tidak bisa hanya mengandalkan ini bukan?” Jawab Kurniawan.


“Kau salah, Raynaldi memiliki IQ bola dan kesadaran ruang yang luar biasa. Setiap kali bola berpindah dia akan mulai bergerak ke posisi yang paling menguntungkan untuknya. Terkadang aku bahkan tidak tahu ke arah mana orang ini akan bergerak, karena itulah aku tidak pernah mengatur posisi tetap untuknya di lapangan depan.” Tutur Frans dengan penuh percaya diri.


“Memaksanya dalam sistem taktis hanya menyia-nyiakan bakatnya, semakin bebas pergerakannya maka semakin banyak pilihan dalam serangan kami. Dia bukan sebuah senjata, tapi seorang pemburu, raja di area penalti.” Ringkas Frans.


\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


Maaf tadi salah upload chapter hehe...


__ADS_2