Football : King Of Penalty Area

Football : King Of Penalty Area
Ch. 49 - Kenalan Lama


__ADS_3

Turkmenistan merupakan negara pecahan Uni Soviet. Negara dengan ibukota bernama Ashgabat ini baru berusia kurang dari 20 tahun dan merupakan sebuah negara yang tertutup. Berada di Asia Tengah dengan sebagian besar daerahnya merupakan gurun membuat cuaca negara relative panas dan kering.


Tim Nasional Sepak bola Turkmenistan sendiri berada di peringkat 127 FIFA dan peringkat 42 AFC. Bisa dikatakan bahwa Turkmenistan merupakan tim yang tidak terlalu kuat atau terlalu lemah untuk dihadapi Indonesia. Pertandingan Play-off kualifikasi Piala Asia zona AFC akan diadakan di Turkmen National Stadion dengan kapasitas 35.000 penonton.


Para staff pelatih dan pemain selain Raynaldi dan Frans Kaihatu sudah berangkat dari Indonesia ke Turkmenistan di hari Raynaldi menjalani pertandingan dan sekarang sudah menetap di hotel dekat stadion. Bisa dikatakan kedatangan Raynaldi ke Turkemnistan sedikit ‘terlambat’.


“Hei, aku dengar Pelatih Frans akan membawa seorang penyerang yang bermain di Jerman.” Firman Huda memulai percakapan.


“Ya, aku dengar dia masih 17 tahun dan bermain sangat baik disana. Sudah banyak artikel online tentang penampilannya di 2.Bundesliga.” Kurnia Cahya menanggapi.


“Oh, apa yang kalian maksud Raynaldi Indrasta? Dia mencetak 9 gol sejauh ini.” Arnova Eka Yulio juga penasaran tentang penyerang muda yang baru muncul ini.


“Aku juga pernah melihat video permainannya, dia penyerang dengan kemampuan finishing yang baik.” Aji Pamungkas mengakui kemampuan Raynaldi dalam mengkonversi peluang.


“Hai, Ji. Kau juga berpikir orang itu hebat? Jika dibandingkan dengan mu siapa yang lebih baik sebagai penyerang?” Firman merasa sedikit terkejut dengan penilaian Aji pada Raynaldi.


“Aku tahu betapa sulitnya bermain di Eropa, karena aku juga pernah bermain di liga 2 Belanda sebelumnya.” Aji tidak menjawab pertanyaan Firman dan memberikan perumpamaan.


“Yah, aku ingat kau bermain baik saat itu. 9 gol dalam 17 pertandingan, tapi pada akhirnya kau memutuskan kembali ke Indonesia karena tidak bisa beradaptasi dengan kondisi cuaca di Eropa.” Firman juga mengingat bahwa temannya ini pernah bermain di Eropa dan hasilnya juga cukup bagus. Jika bukan karena dia sering merasa kurang nyaman saat musim dingin di Eropa, Aji pasti menjadi pemain Indonesia kedua yang berkarir di Eropa.

__ADS_1


“Iya, saat musim dingin yang terlalu ekstrim di utara Belanda, sering membuat ku mudah keram sampai terserang flu.” Aji juga hanya menggelengkan kepalanya saat mengingat hal itu. Dia benar-benar kesulitan bermain dengan benar saat memasuki musim dingin di Eropa.


“Oke, berhenti membahas masalah Aji. Sepertinya pemain yang akan datang ini benar-benar hebat.” Arnova menyela percakapan Firman dan Aji.


Saat mereka berempat kembali membahas masalah sepak bola terbaru, suara ketukan datang dari pintu kamar hotel mereka. Rangga Saktiaga, pemain muda 19 tahun yang baru bergabung dengan tim nasional pada gelaran Piala Asia tahun lalu.


“Pelatih tadi menelpon dan memanggil kita untuk berkumpul. Dia sudah tiba di hotel dengan anggota baru.” Rangga yang dibukakan pintu langsung mengatakan niatnya dan kemudian pergi untuk memberitahu yang lain.


Firman dan lainnya hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkahnya. “Bocah ini, jika dia tidak mengubah sikapnya dengan benar dia akan menerima banyak masalah di masa depan.” Firman tidak tahu harus berbuat apa dengan pendatang baru yang pelit bicara ini.


“Mungkin jika dia bicara lebih banyak, dia akan terkena pajak bicara?” Arnova mengomentari sambil terkekeh.


Raynaldi dan Frans yang baru tiba di Ashgabat langsung menuju hotel tempat para pemain dan staf pelatih Indonesia menginap. Frans juga menjelaskan tentang kondisi tim nasional yang sekarang pada Raynaldi.


Setelah menyelesaikan Piala Asia dengan hasil biasa-biasa saja, lima pemain veteran yang menjadi skuad utama tim nasional mengumumkan pensiun dari kegiatan internasional, meninggalkan lima tempat kosong di starting eleven Indonesia.


Frans juga mengatakan tentang membujuk Kapten Tim Nasional Indonesia, Kurniawan untuk tetap bermain sampai ada kandidat kapten yang lebih cocok. Dia juga mulai melatih Firman Huda yang sekarang menjabat sebagai kapten kedua tim untuk menjadi kapten selanjutnya.


Setelah hampir satu jam perjalanan dari dari bandara, Raynaldi dan Frans tiba di hotel. Mereka berdua mengambil makan siang dan kemudian Raynaldi pergi ke kamar yang sudah disiapkan. Saat Raynaldi mencari kamarnya dia bertemu dengan orang yang cukup akrab dengannya, Rangga Saktiaga.

__ADS_1


Raynaldi akrab dengan Rangga karena mereka rekan satu tim di tim sepak bola SMA dua tahun yang lalu. Saat itu, Raynaldi baru masuk SMA dan Rangga berada di tahun terakhirnya. “Rangga? Kau disini juga?” Raynaldi menyapa Rangga.


“Orang baru itu kau?” Rangga juga mengenali Raynaldi dan sedikit terkejut. Dia tahu bahwa ada pemain baru bernama Raynaldi, tapi dia tidak menyangka Raynaldi yang dimaksud adalah rekan satu timnya di SMA saat memenangkan kejuaran sepak bola SMA tingkat nasional.


“Yo, sepertinya kau bermain cukup sukses sampai bisa bergabung di tim nasional di usia 19 tahun.” Raynaldi menjabat tangan Rangga dan menepuk punggungnya.


“Tidak sebaik dirimu yang sudah bermain di Eropa.” Rangga menggelengkan kepalanya. Dia orang yang cukup ramah saat sudah mengenal orang lain, tapi karena masalah yang dia punya sejak kecil Rangga cukup sulit untuk menerima orang lain. Raynaldi bisa dibilang salah satu teman baiknya.


“Haha... aku hanya beruntung. Apa kau bisa beradaptasi dengan benar? Aku dengar kau bergabung dengan tim PSIS Semarang saat lulus.” Raynaldi kembali memulai obrolan dengan Rangga.


“Aku baik-baik saja, meski sedikit sulit untuk berbaur tapi sudah baik-baik saja sekarang.” Rangga tahu yang dimaksud Raynaldi adalah sifatnya yang pendiam dan sedikit bicara di depan orang asing atau yang baru dikenalnya.


“Lebih baik segera perbaiki kebiasan mu itu, bermain di sebuah tim memerlukan kekuatan pribadi dan kerja sama dari seluruh tim. Jika kau tidak bisa berbaur dengan baik, maka nasib mu berhenti disana.” Raynaldi cukup yakin dengan kemampuan Rangga, dalam hal teknis kemampuannya sudah cukup untuk bersaing dengan gelandang di tim degradasi lima liga teratas. Namun, Rangga memiliki sifat pendiam dan sulit bergaul yang membuatnya sulit beradaptasi dengan lingkungan baru.


“Oke, terimakasih dengan sarannya.” Rangga juga menerima nasihat Raynaldi. “Aku masih harus memanggil pemain lain jadi aku akan pergi dulu.” Rangga berpisah dengan Raynaldi.


Raynaldi kembali mencari kamarnya, setelah menemukan nomor kamar dia membuka kunci dan masuk ke dalam. Ruangan miliknya adalah kamar dengan dua tempat tidur dan satu kamar mandi di dalam ruangan.


Raynaldi meletakan barang bawaannya dan bersiap untuk berkumpul sesuai dengan instruksi Frans sebelumnya. Sebagai pendatang baru dia harus mengenal pemain lain yang akan bekerja sama dengannya di Tim Nasional Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2