
“Pertama, aku akan mengatakannya terlebih dahulu tentang biaya agensi ku. Aku mengenakan biaya 4% dari pendapatan dan iklan setelah kamu bermain di liga professional.” Ucap Joko Sasongko.
“Hanya 4%? Apakah itu tidak terlalu sedikit?” Raynaldi sendiri tahu rata-rata agensi akan mengambil 7-10% biaya agensi dari pendapatan pemain.
“Tidak apa-apa, 4% saja sudah cukup untuk menjaga perusahaan pialang tetap berjalan. Aku tidak berniat menghasilkan uang dari bisnis ini.” Joko Sasongko melambaikan tangannya menunjukan dia tidak rugi.
Melihat Raynaldi masih terdiam, Sasongko tertawa. “Selain itu, kau adalah keponakan Leona, aku tidak bisa meminta lebih.”
“Oke, lalu apakah kau punya jaringan di sepak bola eropa?” Tanya Raynaldi.
"Tenang saja, meskipun aku agen baru. Tapi aku juga kenal banyak orang lewat bisnis ekspor dan impor keluarga ku. Aku masih punya koneksi dengan beberapa penyandang dana klub di liga inggris, italia, jerman, dan spanyol.” Joko Sasongko terlihat sangat percaya diri dan persuasif ketika dia mengatakan ini.
“Aku sendiri tidak terlalu masalah dengan ini, tapi biarkan aku membicarakan dengan ibu ku dulu.” Raynaldi menjawab dengan sopan setelah mempertimbangkan.
“Yah, aku tahu. Bagaimanapun juga kau masih perlu persetujuan wali untuk hal semacam ini.” Joko Sasongko tidak keberatan dengan jawaban Raynaldi.
Mereka kemudian tetap berbicara tentang masalah pengembangan karir dan hal-hal lain tentang sepak bola sampai mobil mereka tiba di rumah Leona. Dan kemudian, Joko Sasongko pergi setelah makan malam bersama.
. . . . .
Keesokan paginya, Raynaldi kembali ke rutinitas biasanya. Bangun pagi kemudian pergi ke taman kota untuk berlatih. Karena ini adalah hari libur dan tidak ada alat gym di tempatnya dia memutuskan untuk berlari dengan bola memutari taman beberapa kali untuk menjaga staminanya, sampai waktu menunjukan pukul 9:00 pagi dia memutuskan untuk kembali.
Raynaldi yang kembali ke rumah Leona, melihat catatan bahwa Leona pergi ke kelas hari ini. Dia pergi mandi lalu menyiapkan sarapannya sendiri. "Seharusnya sekarang sudah sore hari di Jogja, aku akan menelpon ibu tentang tawaran Kak Sas."
Setelah beberapa saat telpon akhirnya terhubung.
Raynaldi : “Halo, bu. Apa kabar?”
Anita : “Aku dan Lisa baik-baik saja disini Ray. Bagaimana dengan mu?”
Raynaldi : “Aku juga dalam kondisi baik, bu. Dan ada hal yang ingin ku bicarakan dengan ibu.”
__ADS_1
Anita : “Apa itu?”
Raynaldi : “Aku baru saja bertemu Kak Sas, dia sekarang juga seorang agen pemain sepak bola. Kak Leona merekomendasikannya untuk menjadi agen ku.”
Anita : “Oh, jadi akhirnya dia menghubungi mu? Sebelumnya Leona juga memberitahu ku tentang hal ini juga.”
Raynaldi : “Jadi, bu?”
Anita : “Aku tidak masalah dengan dia menjadi agen mu, lagipula kau juga harus lebih fokus dengan permainan mu. Dan menyerahkan hal semacam ini pada kerabat akan menjadi hal yang lebih bisa diandalkan.”
Raynaldi : “Oke, karena ibu juga tidak masalah, aku akan menghubunginya lagi nanti.”
Anita : “Yah, katakan padanya untuk menghubungi ku nanti. Aku yang akan mengurus kontrak perjanjiannya, meskipun dia tunangan Leona, aku harus memastikan kebaikan putra ku.”
Raynaldi : “Oke, bu. Terimakasih, aku akan menutup telpon.”
Anita : “Ya, ibu juga akan ada pasien sebentar lagi. Hati-hati di sana, dan utamakan kesehatan mu.”
Anita : “Sampai jumpa.”
Setelah menutup telpon, Raynaldi lagsung menghubungi Joko Sasongko dan memintanya untuk membahas tentang kontrak dengan ibunya. Karena bagaimanapun juga, Raynaldi yang sekarang masih-masih anak-anak.
. . . . .
Setelah selesai mengurus masalah agennya, Raynaldi menyalakan computer di ruang belajar Leona. Dia sekarang sudah menabung lebih dari 2500 Euro dan berniat menggunakannya untuk investasi di pasar keuangan.
Raynaldi sudah meminta ibunya menjadi penjaminnya di bank investasi Koln sebelum dia pulang ke Indonesia. Lagipula, Raynaldi berniat untuk memulai hidup yag lebih baik dalam kehidupan ini.
“Dunia ini memang berbeda dengan dunia asal ku, namun perkembangan industri dan perusahaan yang ada masih mirip dengan dunia asal ku.” Raynaldi bergumam.
Setelah memikirkan beberapa saat, Raynaldi akhirnya ingat kalau harga minyak akan naik pesat pada 19 Desember tahun ini, lalu akan turun pada 1 januari tahun depan setelah melonjak tinggi sebelumnya. Akhirnya Raynaldi menggunakan financial leverage untuk membeli aset minyak dan produksinya seharga 2500 Euro. Jika dia tidak salah ingat sebelum akhir tahun nilai asetnya akan meningkat sekitar 700% pada puncaknya akibat perang di timur tengah.
__ADS_1
“Sekarang tinggal menunggu panen pada tanggal 31 Desember.” Raynaldi menutup aplikasi trading miliknya dan mulai mencari tentang berita terbaru yang ada.
Setelah mencari selama beberapa saat, Raynaldi menemukan bahwa kebanyakan lagu dan film yang dia lihat di kehidupannya sebelumnya tidak muncul. Bahkan artis dan sutradara yang dia kenal tidak ada sama sekali.
“Ini benar-benar dunia parallel.” Setelah melihat informasi terbaru di internet selama beebrapa saat, Raynaldi memutuskan untuk membuat beberapa akun sosial media.
Bagaimanapun Raynaldi berniat untuk menjadi pemain sepak bola yang sukses di kehidupan ini, dan masalah bisnis yang bisa dia ambil adalah bisnis sampingan hanyalah membuat perusahaan sendiri dengan brand atau merek uniknya. Jadi menjadi terkenal dan dekat dengan penggemar adalah hal yang penting untuk memudahkan promosi mereknya di masa depan.
Setelah selesai membuat akun sosial media, Raynaldi memutuskan untuk tidur siang dan beristirahat sebentar sambil menunggu Leona pulang dari kuliahnya.
. . . . .
Koln, kantor manajer klub, Koln Atletik
"Apakah ini video permainan bocah Ajaib yang kau sebutkan?" seorang pria paruh baya dengan jas bertanya pada pemuda akhir 20-an di depannya.
Pria paruh baya adalah manajer klub Koln Atletik, Jurgen Meyer. Sedangkan pria muda akhir 20-an di depannya adalah pramuka Koln Atletik Abel Silva.
"Ya, ini adalah video kumpulan beberapa aksinya dalam pertandingan Liga Pemuda Jerman. Saya yakin dengan levelnya, dia pasti sudah setingkat tim Bundesliga. Jadi bermain di 2.Bundesliga tidak akan menjadi masalah." Jelas Abel Silva.
“Apakah mungkin untuk membelinya?” Jurgen Meyer bertanya pada Abel Silva.
“Pak tua, menurut mu Leverkusen SC akan sebodoh itu untuk melepaskan pemuda yang begitu berbakat?” Abel Silva mencibir.
“Hei, Abel. Aku hanya bertanya dengan santai, tidak perlu terlalu serius.” Jurgen Meyer tertawa kecil.
“Yah, aku tahu. Tapi kali ini aku serius untuk meminta mu mengajukan tawaran pinjaman pada Leverkusen SC, menurut situasi Raynaldi sekarang, kita mungkin dapat meminjamnya dengan gratis.” Abel Silva menyarankan.
“Oh, kenapa kau begitu yakin?” Kata Jurgen Meyer.
“Karena bermain di Liga Pemuda Jerman hanya akan buang-buang waktu untuknya, dan jika dia pergi ke tim cadangan Leverkusen SC juga tidak akan menunjukan batas potensi miliknya. Jadi dipinjamkan ke tim liga kedua Jerman seperti kami adalah pilihan terbaik untuk perkembangannya.” Abel Silva menjelaskan pemahamannya.
__ADS_1
“Oke, aku akan mengikuti saran mu.” Jurgen Meyer memutuskan mengikuti saran Abel Silva.