
Pertandingan kembali berlanjut dengan kick-off dari Indonesia.
Raynaldi yang menerima bola kick-off langsung mengoper ke Rangga yang berada di belakangnya. Rangga yang menerima bola menggiring bola ke depan secara perlahan.
Zayn mencoba menekan dan merebut bola dari Rangga, tetapi Rangga mempertahankan bola lalu mengoper bola ke belakang.
Firman menerima bola dari Rangga dan langsung mentransfer bola ke kanan secara langsung. Kurnia menerima bola tanpa gangguan dan terus menerobos sisi kanan lapangan.
Baik penyerang dan pemain sayap Uni Emirat Arab sudah tertarik maju ke sisi lapangan Indonesia, membuat ruang kosong besar di kedua sisi lapangan. Kurnia yang mendapatkan umpan dari Firman dengan mudah mengeksploitasi sisi kanan lapangan dan bergegas ke kotak penalti Uni Emirat Arab.
Full back Uni Emirat Arab maju menghadang laju Kurnia.
Melihat posisi Full back lawan, Kurnia menggeser bola dari kaki kirinya ke arah kanan, lalu dengan bagian dalam kaki kanannya mendorong bola melewati kedua kaki lawan. Mengandalkan kecepatan dan tekniknya, Kurnia berhasil melewati Full back Uni Emirat Arab untuk mendapatkan ruang guna mengoper bola.
Kurnia yang berada di sisi kanan kotak penalti melihat gerakan Raynaldi diantara kedua bek tengah Uni Emirat Arab. Dia memilih mengirim umpan silang ke dalam kotak penalti.
Bola yang dikirim Kurnia, mulai jatuh diantara kedua bek tengah Uni Emirat Arab. Raynaldi memanfaatkan posisinya yang tepat untuk menangkap bola dan dengan mudah menghentikannya.
Setelah melihat posisi kiper dan bek tengah lawan, Raynaldi memindahkan bola ke kaki kanannya dan langsung menembak ke sudut kanan atas gawang.
Bola melambung melewati sepuluh jari Kiper Uni Emirat Arab dan melesat masuk ke gawang dengan mudah. Skor kembali berubah menjadi 4-1 untuk keunggulan Indonesia.
“GOOOOOAL! Kali ini kesalahan Uni Emirat Arab yang terlalu menekan ke depan dimanfaatkan oleh Kurnia untuk membuat terobosan di sisi kanan lapangan! Lalu dia mengirim umpan silang yang sempurna dimanfaatkan Raynaldi untuk mencetak gol keduanya di pertandingan ini!” Hadi Gunawan sangat bersemangat sekarang, skor di lapangan kembali berubah 4-1 dan waktu menunjukan 65 menit telah berlalu, kemenangan Indonesia hampir pasti.
Frans dan stafnya di pinggir lapangan juga mulai bersorak bahagia. Dalam pertandingan ini, Indonesia yang masih dalam proses run-in dalam personel dan taktik bisa mendapatkan satu poin sudah memenuhi tujuan mereka.
Tapi skor di depan mata mereka menunjukan bahwa mereka masih terlalu konservatif dan mereka melupakan bahwa mereka memiliki mesin pencetak gol yang bahkan bisa mencetak 18 gol dalam 11 pertandingan di 2.Bundesliga. Pemain yang bisa mencetak rata-rata 1,5 gol per pertandingan jelas bukan penyerang biasa.
__ADS_1
Setelah menenangkan dirinya, Frans segera mengatur pergantian pemain. Dia dengan tegas menggantikan Raynaldi dan Rangga. Memasukan seorang Full back dan Kurniawan secara bersamaan. Mengubah formasi menjadi 4-4-1-1 dengan Aji sebagai ujung tombak.
Kurniawan juga menyampaikan arahan Frans kepada rekan satu timnya.
Dalam 35 menit ini harus bertahan sebaik mungkin. Jika perlu semua pemain bisa berada dalam kotak penalti untuk bertahan dan memasang bus sepenuhnya.
Masuknya Kurniawan di belakang Aji bertujuan sebagai tumpuan serangan pertama. Mengandalkan pengalaman dan ketrampilannya untuk melakukan serangan balik setelah menerima bola dari belakang.
Pertandingan kembali berlanjut dengan kick-off dari Uni Emirat Arab.
. . . . .
“Permainan yang bagus Ray! Selamat sepertinya kau akan menjadi Man of The Match pertandingan ini!”
“Kau melakukan permainan yang hebat Rangga. Passing mu menjadi lebih baik dari sebelumnya!”
Frans memuji kedua pemain yang baru saja dia gantikan. Bagaimana pun mereka bermain baik dalam pertandingan ini dan menggantikan mereka bukan karena mereka melakukan kesalahan tetapi kebutuhan taktik saja.
“Baik, pelatih!” Raynaldi dan Rangga menjawab dengan sopan. Lalu mereka berdua pergi untuk melakukan pendinginan.
Permainan terus berlangsung. Pada menit ke-78, Zayn kembali mendapatkan kesempatan satu lawan satu dengan Radgar. Dia mencoba menembak ke sudut jauh, tetapi Radgar yang sudah menebaknya dengan sigap menepis bola keluar kotak penalti.
Marco yang mendapatkan bola dengan tegas membuang bola jauh ke depan untuk melakukan clearence.
Pada menit ke-83, Indonesia mendapatkan kesempatan untuk melakukan serangan balik. Kurniawan yang mendapatkan bola megirim steker lurus melewati garis pertahanan Uni Emirat Arab.
Sayang, Aji yang berhadapan satu lawan satu dengan kiper Uni Emirat Arab gagal memanfaatkan peluang. Bola sepakannya melebar di sisi kiri gawang Uni Emirat Arab.
__ADS_1
Setelah serangan balik Indonesia, pertandingan kembali dikuasai Uni Emirat Arab. Mereka kembali memborbadir pertahanan Indonesia dengan tembakan jarak jauh, karena tidak bisa menembus pertahanan parkir bus Indonesia.
Akhirnya pada menit ke-94 tambahan waktu, Hassan melakukan tembakan dari luar kotak penalti yang mengejutkan para pemain Indonesia. Radgar yang tertangkap basah tidak siap hanya bisa melompat putus asa, tapi sayang bola masih melewati sepuluh jarinya dan menjebol gawangnya.
Gol ini juga menjadi gol penutup pertandingan ini, skor terkahir 4-2 untuk kemenangan Indonesia.
. . . . .
Konferensi pers pasca pertandingan, ruang pers Stadion Mohammed bin Zayed, Dubai, Uni Emirat Arab.
Saat ini pelatih kedua tim sedang menjawab pertanyaan dari para reporter.
“Tuan Diego, bagaimana komentar anda tentang hasil pertandingan ini?” Tanya seorang reporter pada Pelatih Uni Emirat Arab, Diego Carlos.
“Saya tidak tahu bagaimana harus mengatakannya... Tapi saya jujur kecewa dengan hasil pertandingan ini...” Diego Carlos berkata perlahan.
“Kami menguasai jalnnya pertandingan dan ritme pertandingan juga hampir sepenuhnya diatur oleh kami... Hal ini bisa dilihat dari tingkat penguasaan bola kami yang mencapai 70% sementara pihak lain hanya 30%... Kami juga membuat lebih banyak ancaman dalam pertandingan ini dengan total 13 tembakan dalam pertandingan... Jadi jujur saja saya sangat kecewa dengan pertandingan ini.” Pungkas Diego Carlos.
“Bagaimana dengan anda Tuan Frans?” Reporter lain bertanya pada Frans.
“Pertama-tama, saya sangat senang dengan hasil yang kami dapat dalam pertandingan ini, dan hasil ini sangat sesuai dengan penampilan kami di lapangan...” Frans membuka kata.
“Saya tahu banyak dari kalian yang melihat pertandingan merasa bawa kami bermain jelek... Kalian pasti berpikir bahwa kami hanya bisa bertahan dan melakukan serangan balik? Tapi bukankah perkembangan taktis sekarang seperti ini? Pelatih Diego mengatakan dia kecewa dengan hasil pertandingan ini, saya juga akan merasakan hal yang sama jika berada di posisinya...” Frans tersenyum kecil dan sedikit mencibir.
“Sekarang saya juga akan menjelaskan mengapa kami layak menang dalam pertandingan ini! Pertama, kami melakukan total 8 tembakan dengan 6 tembakan tepat sasaran dan 4 diantaranya berbuah gol. Hal ini menunjukan kami memiliki efisiensi menyerang yang lebih baik dari pada lawan kami yang menembak 13 kali tapi hanya 4 yang tepat sasaran dan 2 yang berbuah gol.”
“Kedua, pertandingan sepak bola bukan masalah siapa yang menguasai bola paling banyak tapi masalah siapa yang mencetak gol paling banyak. Bahkan jika kami hanya membuat 1% penguasaan bola, selama kami mencetak satu gol lebih banyak dari lawan kami. Maka kami yang akan memenangkan pertandingan bukan?”
__ADS_1
“Ketiga, saya tahu tren penguasaan bola atau tiki-taka sedang naik daun setelah treble winner Catalan United di Eropa tahun lalu. Tapi saya juga harus mengingatkan tidak semua tim bertabur bintang seperti mereka, bukan?”
“Dan terakhir, tim kami baru terbentuk pada bulan Februari lalu dan para pemain masih dalam proses run-in. jadi berapa banyak yang kalian minta?” Frans tersenyum dan meninggalkan ruang pers. Sebagai orang yang pernah melatih di Inggris, Frans tahu betapa gilanya para reporter dan paparazzi untuk berita. Jadi cukup lemparkan sesuatu yang bisa menjadi berita bagi mereka dan meninggalkan tempat dengan tenang.