Football : King Of Penalty Area

Football : King Of Penalty Area
Ch. 51 - Kembali ke Jerman


__ADS_3

7 Februari 2008, Ashgabat, Turkmenistan.


Di Bandara Internasional Ashgabat, Raynaldi sedang berkumpul dengan rekan satu timnya di Tim Nasional Indonesia. Namun, Raynaldi tidak akan mengikuti rekan satu timnya kembali ke Indonesia melainkan pergi kembali ke Jerman.


“Yah, aku akan kembali ke Jerman hari ini. Pesawat ke Frankfurt akan terbang dua jam lagi.” Raynaldi berbicara pada temannya Rangga. Alasan Raynaldi kembali langsung ke Jerman karena Frans memutuskan untuk tidak menyertakannya dalam skuad melawan Turkmenistan di Gelora Bung Karno 5 hari lagi.


“Kita sudah menang dengan selisih 5 gol, jika sampai bisa dibalik saat bermain kandang maka kami tidak perlu berpikir untuk bermain di Piala Dunia.” Rangga menanggapi dengan tenang.


“Hei, kau masih sama saja ya... Jika cara bicara mu masih seperti itu, kau tidak akan punya teman lho...” Canda Raynaldi.


“Apa masalahnya? Dalam sepak bola selama kau memiliki kemampuan maka kau akan punya tempat.” Rangga masih menjawab dengan wajah tenang dan tampang datar.


“Lihatlah wajah mu. Setidaknya buat ekspresi sedikit... Yah, setidaknya kau sudah menyingkirkan aura ‘menyingkirlah dari ku’ yang sebelumnya kau tunjukan di SMA.” Raynaldi tertawa kecil.


“Aku hanya tidak terbiasa berekspresi dan wajah ku sudah seperti ini sejak lahir.” Jawab Rangga dengan wajah datar.


“Oi, Ngga, Ray. Apa yang kalian berdua bicarakan?” Firman menyela pembicaraan mereka.


“Hanya mengingat masa lalu, Kak Firman.” Jawab Raynaldi sopan.


“Ah, iya, kalian pernah berada dalam satu tim saat SMA ya? Aku benar-benar terkejut saat mendengar kalau kalian tidak pernah mendapatkan pelatihan professional sampai SMA.” Firman menunjukan keterkejutan.

__ADS_1


“Yah, aku selalu bermain mengandalkan insting dan perasaan saat berada di depan gawang.” Raynaldi tertawa kecil, saat datang ke Jerman dia tahu bahwa mengandalkan insting saja tidak akan berhasil di sepak bola professional.


“Itu adalah bakat yang langka, seharusnya hampir semua penyerang top dunia memiliki bakat yang sama. Selain itu, menurut ku kau juga punya punya visi yang luas. Jika tidak kau tidak akan melihat posisi Aji yang lebih baik dari mu kemarin.” Firman memuji bakat Raynaldi dan mengingat tentang gol ke-3 Indonesia kemarin.


“Terimakasih, Kak Firman.” Raynaldi menerima pujian Firman dengan sopan.


“Dulu, aku, Arnova, Kurnia, dan Aji sempat ikut uji coba di SC Groningen yang bermain di liga 2 Belanda. Pada akhirnya hanya Aji yang berhasil lolos seleksi, tapi Aji juga memutuskan pulang ke Indonesia setelah tidak tahan dengan kondisi cuaca Eropa saat musim dingin.” Firman mengingat masa lalu.


“Tapi tak masalah setidaknya kami bisa bermain baik di Liga Super Indonesia sekarang dan menjadi kekuatan utama Tim Nasional Indonesia sejak kembali ke Indonesia pada 2005. Aku akan memberi saran pada kalian berdua, ingatlah hal yang paling sulit saat bermain di Eropa bukan meningkatkan kemampuan kalian, tetapi beradaptasi dengan lingkungan baru.” Firman memberi nasihat pada Raynaldi dan Rangga, karena dia tahu Rangga akan pergi ke Jerman pada bulan Juni.


Raynaldi mengangguk paham dan Rangga disebelahnya berkata. “Aku tahu, Kak Firman.” Rangga mengangguk.


Saat mereka masih berbincang suara panggilan penerbangan terdengar.


“Yah, sepertinya penerbangan kami sudah mulai boarding. Kami akan berkumpul dulu sebelum boarding bersama, bagaimana dengan mu Ray? Apakah agen mu sudah datang?” Firman bertanya pada Raynaldi tentang kondisinya.


“Aku baik-baik saja, Kak Sas akan datang setelah berbicara dengan pelatih.” Jawab Raynaldi.


“Baiklah, kalau begitu. Aku dan Rangga kembali ke kelompok kami untuk berkumpul.” Firman menarik Rangga dan berpamitan dengan Raynaldi.


“Oke.” Raynaldi mengangguk dan mencari tempat duduk sambil menunggu panggilan boarding pesawatnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian Joko Sasongko datang menemui Raynaldi. “Bagaimana? Apakah kau bergaul dengan baik? Jika dilihat dari permainan mu kemarin, sepertinya kau sudah beradaptasi dengan taktik tim.” Joko Sasongko menyapa Raynaldi.


“Aku baik-baik saja, dan setelah dua hari pelatihan aku cukup akrab dengan rekan satu tim yang lainnya. Sedangkan untuk adaptasi sendiri, seharusnya baik-baik saja karena tugas yang diberikan oleh Pelatih Frans mirip dengan peran ku saat berada di Tim Yunior Leverkusen SC dan Koln Atletik.” Jawab Raynaldi setelah memikirkan beberapa saat.


Joko Sasongko mengangguk setuju dengan pemikiran Raynaldi. Dalam permainan kemarin meski Raynaldi bukanlah pemain yang paling sering memegang bola, tapi dengan torehan 5 gol dari 5 tembakan membuktikan kemampuannya yang mengerikan dalam mengonversi peluang.


Data yang tercatat dalam permainan saat Raynaldi berada di Tim Yunior Leverkusen SC adalah 18 kali bermain, 69 tembakan dan 35 gol yang berarti kesempatan Raynaldi untuk mencetak gol di setiap peluang yang dia dapatkan adalah 51% atau sekitar 1,97 peluang untuk setiap golnya. Bisa juga disimpulkan Raynaldi mencetak 1,94 gol atau hampir 2 gol setiap pertandingannya.


Saat bermain dengan Koln Atletik dalam 4 pertandingan Raynaldi mencetak 9 gol dengan total 14 peluang tembakan, yang berarti kesempatan Raynaldi untuk mencetak gol di setiap peluang yang dia dapatkan adalah 64% atau sekitar 1,56 peluang untuk setiap golnya. Disaat yang sama juga bisa dicatat dengan 2,25 gol setiap pertandingannya.


Meskipun penampilan Raynaldi di Koln Atletik masih belum bisa dijadikan patokan kemampuannya. Tetapi raport mentereng dalam 4 pertandingan ini juga sangat meningkatkan penilaian Raynaldi sebagai seorang penyerang yang berbahaya saat dia memiliki kesempatan untuk menembak.


“Jujur saja, Ray... Dengan penampilan mu sekarang sudah menarik banyak pihak, aku sudah menerima tawaran untuk meminta mu menjadi juru bicara produk untuk daerah Asia Tenggara bahkan Asia. Tapi aku memutuskan untuk menolak mereka semua, karena aku yakin kau bisa menjadi lebih baik musim depan.” Joko Sasongko mulai membahas pekerjaannya.


“Kau menolaknya karena menurut mu, harga yang mereka berikan terlalu rendah bukan? Selain itu mereka pasti juga meminta banyak tuntutan dalam penampilan iklan dan event yang harus ku hadiri.” Raynaldi langsung melihat maksud pikiran Joko Sasongko.


“Yah, kau benar-benar menebaknya dengan benar. Jujur saja, jika kontrak yang mereka ajukan tidak terlalu mengada-ada aku pasti akan memikirkannya dengan benar. Tapi kontrak yang mereka ajukan menyertakan jangka waktu 3 tahun, penampilan iklan 3 jenis, dan 3 acara event wajib yang akan mengganggu penampilan mu di liga. Jadi aku memutuskan untuk menolak mereka semua.” Setelah melihat Raynaldi bisa menebak pemikirannya, Joko Sasongko langsung menjelaskan maksudnya dengan lugas.


“Jangan khawatir Kak Sas, karena aku sudah memutuskan untuk mempercayai mu maka aku akan percaya sepenuhnya. Selain itu, seperti yang pernah aku katakana sebelumnya pada mu, aku tidak berniat untuk mengambil sponsor selain sponsor peralatan olah raga sebelum aku mendapatkan pijakan yang baik di lima liga utama.” Raynaldi menenangkan Joko Sasongko.


Kemudian, Raynaldi dan Joko Sasongko mulai membicarakan tentang rencana karir Raynaldi. Dalam hal ini, Joko Sasongko merasa beruntung karena Raynaldi memiliki jalur yang jelas dalam karirnya, sehingga dia tidak perlu terlalu banyak terlibat dengan karir sepak bola Raynaldi dan cukup membantunya untuk memenuhi kebutuhan di luar lapangan miliknya.

__ADS_1


Setelah mereka mengobrol berbicara selama hampir 2 jam, suara panggilan boarding pesawat untuk penerbangan ke Frankfurt terdengar. Raynaldi dan Joko Sasongko berangkat ke terminal keberangkatan pesawat.


__ADS_2