Football : King Of Penalty Area

Football : King Of Penalty Area
Ch. 79 - Tiga Wajah Baru


__ADS_3

Bandara Internasional Dubai, Dubai, Uni Emirat Arab.


Raynaldi turun dari pesawat dan disambut beberapa staf Tim Nasional Indonesia yang telah menunggunya di ruang VIP.


“Hai, Ray. Bagaimana penerbangan mu dari Jerman?” Tanya seorang pria muda 20-an yang menyambutnya.


“Hai, Malik. Seperti biasa, aku hanya tidur ketika berada di pesawat.” Raynaldi menjawab dengan ramah.


Orang yang menjemput Raynaldi adalah staf logistik Tim Nasional Indonesia, Malik. Meski baru saja lulus dari bangku kuliah, Malik adalah orang yang mampu berbicara dalam 5 bahasa selain Bahasa Indonesia yaitu Inggris, Spanyol, Arab, dan Portugal. Bisa dibilang Malik adalah seorang jenius bahasa dan kemampuannya untuk mengatur logistik dalam Tim Nasional juga sangat baik.


“Kalau begitu seharusnya kau memiliki kondisi yang baik sekarang karena bisa beristirahat dalam penerbangan kemari.” Malik menanggapi.


“Oke, cukup mengobrolnya. Ayo segera ke hotel, aku masih perlu menyesuaikan dengan jetlag dan perbedaan waktu yang ada.” Raynaldi langsung meminta untuk kembali ke Hotel. Bagaimana pun setelah terbang selama 10 jam, Raynaldi merasa tubuhnya sedikit lelah dan terpengaruh jetlag.


“Yah, aku akan membawa mu ke hotel. Semua pemain, pelatih, dan staf selain aku juga baru saja sampai 3 jam yang lalu.” Malik membawa Raynaldi ke mobil yang sudah disiapkan oleh pihak bandara dan pergi hotel yang sudah disewa oleh staf Tim Nasional.


. . . . .


Setelah sampai ke hotel, Raynaldi bertemu dengan banyak wajah yang akrab dan beberapa wajah baru. Dia bisa melihat Rangga, Firman, dan 3 pria tinggi yang tidak dia kenal, selain itu ketiga pria ini juga memiliki ciri-ciri orang eropa meskipun masih terlihat samar.

__ADS_1


“Hai, nama ku Radgar Sinaga. Apakah kau Raynaldi? Aku dengar kau bermain di liga kedua Jerman?” Pria kulit putih dengan tinggi 199 centimeter dengan rambut hitam dan mata coklat.


“Iya, aku dipinjamkan dari Leverkusen SC ke Koln Atletik sampai akhir musim. Selain itu, Radgar. Apakah kau pemain naturalisasi?” Raynaldi mau tak mau bertanya tentang orang baru di Tim Nasional ini.


“Bukan aku orang berkewarganegaraan ganda, Indonesia-Belanda. Sebenarnya, baik ayah dan ibu ku juga merupakan keturunan Indonesia-Belanda. Bedanya, ayah ku memilih menjadi warga negara Indonesia dan ibu ku yang selalu tinggal di Belanda saat muda memilih kewarganegaraan Belanda...” Radgar dengan ramah menceritakan tentang dirinya.


“Tapi karena kedua orang tua ku menghabiskan banyak waktu untuk bekerja saat aku muda, secara emosional aku lebih dekat dengan kakek ku yang merupakan orang Indonesia. Pada bulan Februari kemarin aku mendapatkan panggilan dari Pelatih Frans untuk membela timnas...” Pungkas Radgar.


“Oh, pantas saja aku tidak mendengar berita tentang mu. Kalau memang berkewarganergaraan ganda akan lebih mudah untuk pemrosesan administrasi yang ada.” Raynaldi mengangguk paham dengan kondisi Radgar.


“Apakah kau bermain di Eropa atau Indonesia, Radgar?” Tanya Raynaldi.


“Oh, Ray. Mereka berdua juga sama dengan ku, dalam kondisi berkewarganegaraan ganda saat mendapatkan panggilan dari Pelatih Frans. Yang di sebelah kanan bernama Mario Dembele dan yang di sebelah kiri adalah Marco Dembele. Mereka bersaudara, ayahnya adalah orang Indonesia dan ibunya keturunan Indonesia-Perancis. Posisi bermain mereka adalah bek tengah dan Mario satu tahun lebih tua dari saudaranya.” Radgar mengenalkan kedua bersaudara.


Raynaldi juga menyapa kedua bersaudara dengan ramah, mereka terlihat berbeda dengan Radgar yang berkulit putih khas orang eropa. Mereka memiliki kulit coklat gandum yang sedikit cerah yang lebih mirip dengan etnis asia tenggara, serta mata hitam dan rambut hitam yang membuat mereka hampir tidak menunjukan perbedaan dengan orang Indonesia.


Raynaldi juga memperhatikan Marco menatapnya sejak awal dia datang. Sebenarnya, Raynaldi juga merasa pernah bertemu Marco di suatu tempat, tetapi dia melupakannya. “Marco, bukan? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Aku merasa pernah melihat mu saat masih bermain di Tim Yunior Leverkusen SC.”


“Aku pemain Tim Yunior Munich 1906, mungkin kau tidak mengingatnya lagipula pertandingan terakhir kami sudah hampir setengah tahun yang lalu. Selain itu, aku baru saja dinaikan ke tim cadangan Munich 1906 II dan bermain di 2.Bundesliga juga. Meski sekarang aku hanya pemain rotasi.” Marco menjabat tangan Raynaldi dan mengingatkannya.

__ADS_1


“Ah, aku ingat. Itu pertandingan dimana aku tidak mencetak gol dan membuat hattrick assist.” Raynaldi mengingat pertandingan kelimanya di tim yunior. Saat itu, Tim Yunior Leverkusen SC menghadapi Tim Yunior Munchen 1906 dan sebagai penyerang dia dijaga oleh Marco.


Hal yang menarik dalam pertandingan itu adalah Raynaldi hanya membuat 1 tembakan sepanjang pertandingan tapi juga membuat hattrick assist. Namun, alasan dia berhasil membuat hattrick assist adalah karena kelalaian follow up pertahanan yang dilakukan rekan satu tim Marco.


Saat Marco menjaga Raynaldi, rekan satu timnya tidak membantu untuk menutup ruang kosong yang ditinggalkannya. Hal ini membuat Raynaldi dengam mudah mengeksplotasi ruang kosong yang ada dan menciptakan 3 assist untuk rekan satu timnya.


“Itu pertandingan yang hebat, sayangnya rekan satu tim mu tidak bisa mengikuti untuk membuat pertahanan zonasi dan menutup ruang kosong yang kau tinggalkan.” Kata Raynaldi saat mengingatnya.


“Yah, setelah pertandingan itu pelatih membawa ku untuk naik ke tim U-19 dan kemudian bergabung ke tim cadangan Munich 1906 II setelah libur musim dingin. Mereka bilang, tidak ada gunanya untuk bermain di liga pemuda lagi karena respon yang kurang dari rekan satu tim ku.” Marco masih mengingat perkataan pelatihnya, bahwa dia adalah tipe bek cepat dan felksibel. Dia bisa menutup pergerakan lawan tapi juga membutuhkan rekan satu tim yang bisa menjaga zona yang ditinggalkannya.


“Kita mungkin akan bertanding lagi nanti.” Pungkas Raynaldi.


Raynaldi mengalihkan pandangannya pada Mario dan menyapa. “Hai, Mario. Bagaimana dengan mu? Apakah kau juga bermain di Jerman?”


“Sebelumnya aku juga bermain di tim cadangan Munich 1906 II, tapi baru saat transfer musim dingin lalu. Aku pindah ke liga swiss dan bermain untuk Lausanne di Liga Super Swiss untuk mendapatkan lebih banyak waktu bermain.” Mario menjawab dengan ramah.


“Semoga kau sukses disana dan ku rasa itu keputusan bagus untuk pergi dan mendapatkan lebih banyak pengalaman lagi. Pemain seusia kita sangat membutuhkan pertandingan formal untuk menemukan gaya dan posisi yang cocok untuk kita bermain.” Raynaldi menyemangati Mario.


“Hei, kalian! Sudah hampir waktunya untuk berkumpul!” Firman Huda mengingatkan Raynaldi dan yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2