Football : King Of Penalty Area

Football : King Of Penalty Area
Ch. 83 - Istirahat, Kontrak, dan Transfer


__ADS_3

Doha, Qatar.


Sudah sehari berlalu sejak pertandingan terakhir melawan Uni Emirat Arab. Sekarang tim sedang bersiap untuk menghadapi Qatar, yang secara kasar bisa disebut sebagai tim unggulan di Grup J ini karena peringkat FIFA mereka yang cukup tinggi.


Saat ini, Raynaldi yang telah menyelesaikan pelatihan pemulihan sedang beristirahat di lobi sambil melihat pesan dalam ponselnya.


Baru-baru ini Sven Hope, Direktur Olah raga dan Jurgen Nagelsman, Manager Umum Leverkusen SC mencoba menghubungi Joko Sasongko untuk memperbarui kontraknya menjadi kontrak professional.


Raynaldi sendiri juga memberikan lampu hijau untuk tetap bertahan di Leverkusen SC selama mereka mau memberinya kesempatan untuk bermain di Bundesliga, karena hal yang paling dibutuhkan Raynaldi sekarang, baik sebagai pemain atau karena kebutuhan sistem adalah pengalaman dalam pertandingan yang sesungguhnya.


Raynaldi membaca salah satu pesan dari Joko Sasongko untuk menghubunginya segera setelah dia selesai pelatihan. Jadi dia mulai memutar nomor Joko Sasongko dan menelponya.


Raynaldi : “Hai, Kak Sas. Ini aku Ray.”


Joko Sasongko : “Ah, Ray. Akhirnya kau mengubungi ku!”


Raynaldi : “Bagaimana dengan negosiasinya?”


Joko Sasongko : “Aku baru saja bernegosiasi dengan pihak Leverkusen SC dan hasilnya cukup baik. Mereka bersedia untuk memberikan gaji 30.000 Euro per minggu setelah pajak. Ini gaji rata-rata tim dan dua kali lipat lebih tinggi daripada pemain muda yang baru dipromosikan.”


Raynaldi merasa senang bahwa negosiasinya berjalan lancar. Sebenarnya masalah gaji tidak terlalu penting baginya, karena dia sendiri bisa menghasilkan banyak uang dari investasi dan pasar saham. Pengalaman kehidupan sebelumnya bukan hanya pajangan. Raynaldi yakin dia bisa cukup kaya untuk tidak khawatir hartanya habis saat diturunkan pada anak cucunya.


Raynaldi : “Ini benar-benar kabar baik, jika mereka mau membayar sebanyak itu. Maka setidaknya nilai ku di mata mereka cukup untuk bersaing sebagai kekuatan inti. Jika mereka menolak, berarti mereka tidak berniat menggunakan ku terlalu banyak musim depan.”

__ADS_1


Raynaldi memahami bahwa jumlah gaji menentukan keseriusan tim dalam mengolah dan menggunakan pemain. Bagaimana pun ini adalah sifat dasar manusia untuk mendapatkan apa yang mereka perlukan meskipun itu mahal.


Joko Sasongko : “Tapi kenapa kau begitu kuat tentang masalah gaji ini? Jika aku tidak salah, investasi mu di pasar saham sudah menghasilkan beberapa juta Euro sekarang. Seharusnya kau tidak terlalu peduli dengan tambahan 10.000 Euro per bulan.”


Raynaldi : “Kak Sas, sudah menjadi sifat manusia untuk memperhatikan nilai sesuatu. Misalnya jika kau membeli komputer dengan harga 3 juta. Tapi kemudian kau diberikan komputer lain dengan harga 5 juta yang dianggap memiliki spek yang lebih bagus, padahal kualitasnya sama. Tapi kau tidak tahu tentang perbedaan kualitas ini, yang mana yang akan kau pilih?”


Joko Sasongko : “Seharusnya yang lebih mahal yang lebih baik kan? Karena harganya mahal maka diperkirakan biaya pembuatan produk juga lebih tinggi.”


Raynaldi : “Hal yang sama juga berlaku dalam sepak bola, jika mereka membeli pemain yang tidak diketahui akan bisa terintegrasi ke dalam tim atau tidak. Mereka pasti akan memilih pemain yang membuat mereka menghabiskan lebih banyak.”


Joko Sasongko : “Ah, jadi begitu! Sekarang aku apa niat mu! Haha... Ray, kau benar-benar jenius!”


Raynaldi : “Ini hanya masalah pemikiran. Ngomong-ngomong, apakah kau juga yang mengoperasikan transfer Rangga ke Jerman?”


Joko Sasongko : “Iya, benar. Bagaimana pun juga, Jerman adalah surga untuk pemain Non-Eropa. Berbeda dengan liga lain yang memiliki batasan kuota Non-Eropa atau sertifikat tenaga kerja, di Jerman selama anda dihargai oleh Pelatih Kepala atau Direktur Olahraga klub, kemungkinan untuk bermain akan lebih besar.”


Raynaldi : “Kalau begitu kenapa kau menawarkan ku untuk pergi ke Eredivisi sebagai pemain pinjaman sebelumnya?”


Joko Sasongko : “Karena aku yakin level mu sekarang bukan lagi tentang masalah mencoba atau meyakinkan! Tapi selama kau diberikan kesempatan untuk bermain, maka mereka pasti akan memainkan mu sebagai pemain utama! Inilah kekuatan mu sekarang!”


Raynaldi : “Kau memandang ku begitu tinggi? Aku hanya orang yang bermain sepak bola liar dengan mahasiswa dekat rumah!”


Raynaldi berkata di telpon sambil terkekeh.

__ADS_1


Joko Sasongko : “Oke, karena permintaan mu sudah terpenuhi oleh klub. Sekarang yang perlu aku lakukan hanya membahas masalah bonus dan hak potret. Kehadiran mu sekarang memberikan banyak kesempatan untuk pemuda Indonesia lainnya bermain di Eropa!”


Joko Sasongko menghela nafas saat mengingat beberapa hal. Sebelumnya, Rangga adalah pemain tanpa agen dan semua kontraknya diurus oleh dirinya sendiri, sampai pada bulan Januari lalu saat nama Raynaldi menyebar di Jerman.


Banyak klub mencoba peruntungan untuk mencari pemain muda berbakat dengan harga murah dari Indonesia. Saat inilah, Joko Sasongko menggunakan koneksinya untuk menyarankan banyak pemain muda dari Indonesia. Namun, hanya Aji Pamungkas dan Rangga Saktiaga yang menarik perhatian mereka.


Aji Pamungkas sudah menyebutkan bahwa dia hanya berniat bermain di Indonesia, karena dia merasa kurang nyaman dengan iklim di Eropa. Selain itu, dia juga memikirkan keluarganya mengingat dia akan menyambut anak pertamanya dalam 5 bulan.


Rangga Saktiaga adalah pemain yang paling mungkin untuk pergi ke Eropa sekarang. Selain masih berusia 19 tahun dan tergolong sebagai pemain muda. Tetapi skill dan kemampuan organisasi lapangannya sudah memikat beberapa klub Eropa.


Setelah minggu Internasional berlalu, Rangga akan pergi ke Eropa untuk melakukan uji coba di tiga klub Jerman, Gelserkichen FC, Bochum, dan Leipzig Sport. Diantara ketiganya terdapat dua klub Bundesliga dan satu klub 2.Bundesliga. Namun, menurut pengamatan Joko Sasongko tim yang paling berminat untuk jasa Rangga adalah Leipzig Sport. Mereka ingin mendapatkan gelandang yang baik untuk mendukung kapten mereka.


Raynaldi : “Kau masih suka bicara omong kosong. Keberadaan ku hanya membuktikan bahwa pemain sepak bola tidak dibedakan dengan negara asal mereka. Bahkan pemain dari negeri dengan kekuatan sepak bola lemah juga bisa bersinar. Tentu, semua ini dalam premis mereka mau berusaha keras untuk mencapainya!”


Joko Sasongko : “Haha... bukankah itu sama saja?”


Raynaldi : “Jika sudah tidak ada yang penting, aku akan pergi untuk makan siang dan mulai pelatihan fleksibilitas setelah ini.”


Joko Sasongko : “Yah, sikap yang bagus! Aku tutup kalau begitu.”


Raynaldi mendengar suara telpon terputus dan memasukan telepon genggamnya ke dalam tas. Setelah menutup telepon Raynaldi melihat waktu sudah menunjukan pukul 12:00, sudah waktunya untuk makan siang. Sebagai seorang atlit, Raynaldi selalu menjaga disiplinnya dengan baik.


“Dalam beberapa hari, kami akan berhadapan dengan Qatar. Jika kita memenangkan pertandingan ini, maka poin yang didapat Indonesia akan menjadi 6 poin. Lawan berikutnya hanya Guam yang menduduki peringkat 3 terbawah di AFC dan jelas bukan lawan Indonesia.” Gumam Raynaldi.

__ADS_1


“Seperti yang dikatakan Pelatih Frans sebelumnya, aku hanya perlu habis-habisan pada pertandingan ini. Setelah itu aku bisa kembali ke Jerman untuk mempersiapkan liga selanjutnya.” Raynaldi berjalan ke arah restoran hotel untuk makan siang.


__ADS_2