
"karena kakek akan menjodohkanmu alfi, dengan cucu sahabat kakek."ucap kakek ilham.
Ustadz Alfi mendadak terhenyak dari duduknya dan memperlihatkan rasa terkejutnya begitu nyata. Umi shita dan abi abdurahman bertukar pandangan.
"ya allah, apakah aku tidak berjodoh dengannya? apakah ini jawaban dari shalat istikharahku? tapi kenapa tidak sesuai dengan harapanku"bathin ustadz Alfi yang terdiam saja tanpa membalas ucapan kakeknya.
"Alfi?"panggil kakek Ilham yang menegur namun ustadz Alfi terdiam dan tampak berpikir sesuatu.
Wajahnya kayak orang lagi galau. Abi abdurahman melayangkan tatapan tak setuju kepada abinya jika harus memaksa anaknya dijodohkan. umi shita juga merasakan itu dan paham akan apa yang dipikirkan oleh anak sulungnya.
"kl jodoh juga gak kemana, mungkin memang takdir seperti ini jalannya. Namun apapun itu, hamba minta yang terbaik ya allah" bathin umi shita.
"Alfi, kau kenapa?"ucap kakek ilham yang menepuk bahu cucunya ini.
"kek, apakah harus Alfi dijodohkan? bagaimana jika tak cocok?"ucap ustadz Alfi yang akhirnya mulai berbicara.
Walaupun ia selalu menurut dengan kakeknya namun masalah ini ustadz Alfi merasa sangat keberatan. Apalagi belum tahu nama dan orangnya juga yang akan dijodohkan dengannya. Kakek ilham tersenyum simpul.
"kenapa? Alfi tidak setuju dengan keputusan kakek?"ucap kakek ilham memberenggut. ustadz Alfi menjadi tak enak namun gimana ya, posisinya sangat sulit.
"kakek sudah berjanji dengan sahabat kakek. sebenarnya sudah lama sekali bahkan abimu itu masih seorang bujang. baru hari ini kakek menyampaikannya sebab sempat terhentikan. Jadi sekarang waktu yang tepat, karena kamu bahkan sudah berumur 21 tahun. Ya walaupun belum begitu diwajibkan tapi takut salah satu diantara kalian ada yang sudah punya keinginan memiliki seseorang"jelas kakek ilham.
"benar, alfi udah ada keinginan memiliki seseorang dan berharap hallal."suara hati ustadz Alfi.
"Kek, kl ini ditolak apakah itu berpengaruh dengan persahabatan kakek?"tanya ustadz Alfi yang sepertinya menandai jika ia menolak itu.
"bukan berpengaruh. Namun kakek akan dosa jika melanggar janji apalagi beliau yang sudah menyelamatkan nyawa kakek saat kecelakaan beberapa tahun lalu."jawab kakek ilham. beliau nampak menerawang jauh.
Pernah mengalami kecelakaan di daerah ponorogo dan saat itu istrinya meninggal ditempat yang bahkan menyaksikan sendiri bagaimana nyawa mereka di ujung tanduk. Sahabatnya yg dadakan kenalnya pun menolong dan beruntung sekali nyawanya terselamatkan. Namun, tak mau menerima hadiah yang diberikan oleh pihak keluarga Al Fahri jadi kakek ilham membuat perjanjian itu.
"Alfi ayolah, sekarang yang paling penting kamu terima dulu. Atau mau ta'aruf seperti aab sama umi mu?"bujuk kakek Ilham.
"hmm..sekarang siapa dulu yang dijodohkan denganku kek. setidaknya aku tahu"pasrah ustadz Alfi yang nampak menerima semuanya dengan ikhlas.
Umay hanya terkekeh kecil sebab ia tahu siapa yang disebut sebut cucu dari sahabatnya kakek ilham bahkan deket lagi.
"Maaf nak, kakek bukan mengekang kebebasan kamu untuk memilih pasangan hidup. Tapi... calon istrimu harus baik dan pantas menjadi pendampingmu. Kakek jamin gak akan mengecewakan. Namanya ...."ucap kakek yang terhenti. Hadduh, Mendadak si kakek lupa namanya guys 😂
"Umay, namanya siapa? kakek lupa"tanya kakek.
__ADS_1
Kemudian Umay memberikan amplop cokelat untuk biasanya di gunakan oleh pelamar kerja . Berisikan cv seseorang yg Umay tau itu saudaranya sendiri. Awalanya Umay tahu dari lama namun ia mengurungkan niatnya untuk memberi tahu sebab paksaan kedua kakek nya ini.
"ya allah jika jodoh dekatkanlah diriku ini dengannya. Tapi jika dia bukan jodohku maka hapuslah semua tentangnya di pikiranku" pikir ustadz Alfi dengan jantung yang tak tau gimana rupanya.
"Begini aja deh . Ini kamu baca sendiri ya ."ucap kakek ilham memberikan cv tersebut diatas meja ruang tamu.
Dengan penasaran, ustadz Alfi membuka bagian atas bagian amplop cokelat tersebut. Hatinya bergemuruh dan jantung berdetak tak kenal henti. selembaran kertas pun dikeluarkan dari dalam dan kemudian ia terbelalak kaget.
"ini....."ucap Ustadz Alfi seraya menggeletakkan selembaran itu di meja. Aisyah, umi shita dan abi abdurahman pun ikut melihat.
"Dila kek. "ucap ustadz Alfi dengan wajah sumringah bak menang undian. Ketara sekali stadz kamu pengen meminang Dila hehe
"Iya Alfi, apakah kau mengenalnya? Seharusnya mengenal bukan."singkat kakek yang menikmati makanan didepannya. Tersenyum samar dan tidak habis fikir dengan cucunya ini. Tadi mati matian debat ingin menolak sekarang malah mau banget. Jangan jangan kl besok nikah langsung mau lagi.
"dasar anak muda " bathin kakek dengan meminum kopi hangatnya. Itu tetap cucumu loh kek hehe
"Kalo umi mah setuju saja . Memang baik, ramah dan pernah nolongin saya"ucap umi Shita .
"kl Aisyah , emang maunya begitu ."ledek Aisyah . Setelah mendengar pendapat semuanya , Si Ustadz Alfi senyum senyum sendiri dengan pemikirannya.
(Wah mikirin apa tuh ).
"Eits, kak alfi ....cieee...cie... ngaku kan"ucap Aisyah .
"sudah ku duga"bathin aisyah yg puas akan perjodohan ini, Lagipula pengharapannya untuk menjadikan dila sebagai kakak iparnya sudah diambang batas halu.
"Tapi tahan dulu keinginanmu itu. sementara Dila kuliah dulu, biarkan belajar dan menggapai mimpinya. Yg sabar ya Alfi, hehe"ledek kakek.
"Ah, iya kek"ucap Ustadz Alfi yang membuka kopyahnya. Entah mengapa suasananya menjadi sangat gerah baginya sebab tersenyum panuh arti dari Umay.
Setelah semuanya telah dibicarakan akhirnya kakek diantar Umay pulang ke pesantren. Sementara umi dan abinya ustadz alfi ke dapur. Sedangkan Aisyah tetap duduk nonton tv bersama Ustadz alfi tetap memandangi kertas yg diberikan kakeknya yg berisikan informasi calon istri yg ternyata fansnya sendiri. Bagaimana stadz, kejutan dariku . Jeduk jeduk seer pasti irama jantungnya.
"Dek Dila"gumam dalam hati ustadz Alfi.
Aww dahlah saya nyerah dengan ke 'uwu'an ini 😐
## Skip...##
"haatchii"
__ADS_1
"alhamdulillah"ucap Dila yang baru saja bersin di koridor kampusnya.
Ia berjalan kearah kelas yang ia tempati yaitu kelas jurusan sejarah. Kelas belum dimulai dan ia memilih untuk kearah taman mencari udara segar. Duduk di kursi dengan membuka ponselnya yang berdering saat berjalan di koridor.
"Dila jangan kemana mana"pesan Vira.
"maksudnya gimana?"pikir Dila yang ragu untuk membalas pesan tersebut. Vira atau Savira ialah sahabat Dila yang juga satu sekolah smpnya. Bahkan Vira juga kenal dengan Nessa. Bagaimana tidak kenal? Mereka ke kantin saja selalu bertiga tigaan.
Dila pun tak mau ambil pusing dengan chat itu seraya membuka tasnya mengambil makanan ringannya. Namun yang dicari tidak ada, ia hanya menghela nafasnya.
"ck...kenapa bisa lupa sih"decaknya dan merutuki kelupaannya dengan makanan itu.
"beli aja deh di kantin, mumpung masih 30 menit lagi baru masuk"monolog Dila sambil melangkahkan kakinya lagi membeli makanan.
Tak lama dengan itu, sebab fokus dengan dunianya Dila tabrakan dengan 2 orang yang tidak tahu siapanya.....
brukk...
awws...adduh siapa sih
keluh mereka serempak dan seperti paduan suara. Ternyata yang 2 orang itu ialah vira dengan sepupunya. mereka juga sama kuliah di tempat Dila.
"loh vira? koq disini"heran Dila
"iya. aku dan sepupuku kuliah disini sama seperti kamu. oiya ini caca cantika dan ca ini Dila sahabatku"ucap vira yang masih posisi jatuhnya. sedangkan Dila dan Caca sudah berdiri.
"Aku Dila"ucap Dila mengulurkan tangannya
"Gw caca"balas caca yang menjabat uluran tangan dari Dila
Mereka pun larut dengan obrolan abstrak dan tak sadar jika vira masih posisi sama. Vira yang dicuekki pun menjadi cemberut dan meratapi nasib punggungnya di lantai kampus. sungguh kenang kenangan kenalan sama lantai saat hari pertama kuliah.
"Dila bangunin"rengek vira yang tak bisa berdiri.
"astagfirullah. aku lupa"ucap Dila menepuk keningnya dan tersenyum malu sedangkan caca menertawakan sepupunya yg dicuekki oleh Dila sebab karena dirinya.
"dasar sepupu gak ada akhlaknya"gerutu vira dalam hati
bersambung...
__ADS_1