
Hari ini adalah hari yang sangat berbahagia untuk ustadz Alfi dan Dila karena mereka berdua akan terikat oleh ikatan pernikahan dan menyandang gelar sebagai suami istri .
Sebelumnya segala persiapan sudah dilakukan. Semua mahar dan seserahan untuk dila sudah dipersiapkan dengan baik oleh keluarga Ustadz Alfi. Bahkan Rumah yang akan diadakan Ijab Qobul sudah rapi dengan berbagai perabotan dan siap untuk ditempati
Mahar memanglah tidak diberatkan oleh dila. Permintaannya hanyalah seperangkat alat sholat. Namun, Ustadz Alfi justru tidaklah mau hanya itu saja. Ia mengatakan dengan keseriusan bahwa Dila harus meminta minimal 2 jenis mahar. Akhirnya, dila meminta sebuah kalung dengan liontin yang dipilih oleh Ustadz Alfi sendiri.
Untuk mahar selesai, sedangkan seserahan ustadz Alfi juga bertanya. Seperti make up yang biasa dila gunakan merk apa. Ia tidak boleh sembarangan membeli make up, nanti wajah dila akan iritasi jika tidak cocok. Begitu pula dengan sabun muka, sabun mandi dan shampoo. Sebegitu detailnya Ustadz Alfi memerhatikan kecocokan dila yang berhubungan dengan kulit bahkan minyak wangi sesuai selera dila.
(ah... Sungguh perhatian sekali. Oiya mereka menjadikan aisyah sebagai surat berjalan selama dipingit hehe)
Kembali lagi dengan hari ini. Pagi pagi sekali, Dila sudah berangkat kerumah Umi Shita bersama dengan yang lainnya. Sedangkan Ustadz Alfi berada dirumah sebelah juga bersiap siap untuk acara nanti. MUA dan baju pengantin sudah siap sedia.
"nak, kamu makan dulu ya. Biar nanti gak sakit."ucap umi Shita.
"tapi umi, henna nya belum kering"ucap Dila yang melihat kedua tangannya.
"umi suapin yaa"Umi Shita kemudian membaca bismillah lalu menyuapi Dila yang masih canggung menerima suapan darinya.
Sementara Dila yang sedang disuapi, ada yang keringat dingim di kamar lainnya. Ustadz Alfi benar benar gugup bukan main. Ia mencoba menghapal Ijab Qobul untuk nanti tapi mendadak blank. Surat yang akan ia bacakan dan hanya di dengar dila sudahlah siap. Tapi Ijab Qobul untuk nanti, H-4 jam dari sekarang.
"alfi, kamu kenapa tidak bisa duduk di kursi? Bolak balik terus"tegur Abi Abdurahman.
Ustadz Alfi yang tadinya bolak balik seperti setrika rusak akhirnya berhenti. Azzam mengambil air digelas lalu memberikan ke sahabatnya. Ustadz Alfi menerimanya dan mengucapkan terimakasih.
"mungkin saat ini sedang pusing menghapal Ijab Qobul. Kamu butuh Aqua, al"oceh Azzam yang tersenyum seraya menepuk bahu Ustadz Alfi.
"abi gak nyangka kamu bisa sepusing itu menghapalkannya. Anggap saja ini biasa, jangan sampai begitu. Nanti yang ada kamu sakit"ucap Abi Abdurahman.
"lucu kali ya bi, ada berita tentang 'seorang pengantin laki laki pingsan sebelum Ijab Qobul. Laki laki itu adalah seorang ustadz yang terkenal dimana mana'. Wahh pasti trending tuh"canda Azzam yang mendapatkan pukulan di tangannya dari Ustadz Alfi.
"dasar bahlul kamu zam"kesal Ustadz Alfi.
"aduh al sakit, keras amat manten mukulnya"sungut Azzam
Ustadz Alfi sedang sangat gugup sampai hapalannya hangus tak tersisa, eh malah di ledek azzam. Semuanya yang melihat interaksi keduanya menjadi tertawa. Ustadz si serius dan Azzam si jahil. Dahlah kl begini gak akan selesai mereka berdebat.
Matahari semakin memunculkan dirinya dari peraduan. Dila sudah didandani oleh MUA dengan makeup yang senatural mungkin. Jujur dila harus akui, wajahnya tidak nyaman jika terlalu banyak makeup. Jadi ia meminta seperti itu kepada MUA nya. Sesekali berbicara santai saat dibantu memakai baju pengantin.
"sudah siap"kompak MUA yang terasa lega saat Dila melihat kearah cermin seukuran tubuhnya didepannya.
"apakah ini diriku? Dila merasa bukan dila"batin Dila yang memandang cermin tersenyum seraya memindai seluruh tubuhnya.
Baju pengantin syar'i berwarna putih sangat cocok dengannya. Hiasan mahkota di atas kepalanya menambah aksen seperti seorang putri. Benar benar putri dalam sehari. Anggun dan cantik membuat dila terkejut dengan penampilannya saat ini. Ini beneran dirinya gak sih, pikirnya.
"Ya Allah, dila benaran bakal jadi istrinya ustadz? Ini serasa mimpi"pikir Dila.
Entah mengapa jantungnya kembali beraksi. Berdetak tak karuan dengan akad yang akan segera dilakukan setelah ia siap. Rasanya masihlah tidak nyata. Namun inilah 'kun fayakun'. Jika Allah menghendaki dan berkata jadilah maka terjadi.
Pintu terbuka memperlihatkan Dila yang sedang terduduk di meja rias setelah melihat kearah cermin. Seakan pangling dan terkesiap oleh pancaran aura kecantikan pengantin baru, membuat para sahabat Dila seketika berdecak kagum dengan apa yang mereka lihat.
__ADS_1
"Masya Allah kamu cantik banget dila, pangling aku."ucap Nessa memulai buka suara. Dila yang mendengar itu berdiri menghadap Nessa.
"nes, kamu datang"senyum Dila mengembang.
"pasti dong. Masa sahabatku ini mau menikah, aku tidak datang"balas Nessa yang membuat Dila beralih memeluknya.
"makasih kamu udah datang dan maaf membuatmu datang jauh jauh dari sana"ucap Dila yang mulai mengurai pelukannya. Karena sang MUA mengkodenya agar penampilan Dila masih terkondisikan sampai akad selesai.
Dengan cengiran tanpa dosa, dila minta maaf ke arah MUA yang menghiasnya ini. Sedangkan Nessa terkekeh kecil melihat Dila yang dihampiri MUAnya karena baju pengantinnya sedikit berantakan akibat pelukan tadi.
"oiya kalian kembar pakai bajunya?"tanya Dila yang melihat Nessa, Vira, dan Caca memakai baju yang sama. Walau Caca tanpa kerudung tapi tetap sopan dengan rambut yang disanggul.
"iya dong"serempak Caca, Vira dan Nessa.
"kalian gak asik ah. Masa kembar tanpa aku sih."lesu Dila.
"ya ampun dil. Lo cantik begini masih aja cemburu kita kembaran. Bajumu lebih wahh dari kita nih"timpal Caca. Sedangkan Vira dan Nessa tertawa dengan Dila yang mendadak diam jika Caca mulai akan suara.
"iih aku gak cemburu"kilah Dila.
"udah udah, dila nanti aku bawakan untukmu."lerai Vira.
Bu Mira, Umi Shita bersama Aisyah, Dayu dan Syafa akhirnya datang sudah memakai baju kembaran seperti Caca, Vira dan Nessa. Walau Umi Shita tergolong lebih terlihat seperti gamis. Membuat Dila menghela nafasnya pelan sedangkan para sahabatnya tertawa kembali.
"ini ada apa tertawa tidak ngajak ngajak?"tanya Bu mira.
"hehe ini bi, anak bibi cemburu gak seragaman seperti kita"ucap Nessa yang membuat Umi Shita terkekeh kecil.
"anak gadis ibu udah mau sold out. Perasaan ibu baru mendengar tangisan mu dan ayah mengadzankan mu untuk pertama kalinya. Dan sekarang sudah mau menikah aja."ucap bu mira yg berkaca kaca menghampiri putrinya lalu meraih tangan Dila. Dila pun membalas tangan ibunya.
"bu, maaf kl dila selama ini kurang baik untuk menjadi putri ibu"ucap dila yang kemudian mencium tangan kanan Bu Mira dan tak lama jatuhlah air matanya.
"gak perlu minta maaf nduk. Kamu terbaik sesuai harapan ibu kok."ucap bu mira yang menghapus jejak air mata disudut mata putri. Semuanya menjadi haru melihat itu.
"bu koq aku gugup yah"bisik dila kepada bu mira yg masih didengar sama umi shita . Bu mira terkekeh geli dengan tangan dila yang terasa sangat dingin bahkan meremas kedua tangannya.
"kamu gak perlu gugup. Umi yakin kl alfi bakal bisa melafalkannya dan menghalalkanmu menjadi istrinya. Tenang saja hehe"ucap umi shita yg menyakinkan tapi membuat suasana haru menjadi ambyar dan... Lagi lagi menggoda si pengantin ini. Sudahlah tak akan selesai selesai.
##.. Skip.. ##
Dila sudah berada di dalam kamar yang tadi pagi Ustadz Alfi gunakan untuk bersiap. Sedangkan Ustadz Alfi sendiri sudah berada depan yang lebih tepatnya dihalaman. Sengaja digelar dihalaman, karena banyak wartawan yang menyaksikan akad nikah secara langsung. Sedangkan Azzam siap dengan kamera dan Teuku siap dengan live instagram milik Ustadz Alfi.
Di halaman sudah digelar karpet dan segala keperluan nya. Sekarang sudah ada Ustadz Alfi dengan baju pengantin warna putih dan tak lupa kopyahnya senada. Selain itu Abi Abdurahman disebelahnya lalu ayah ahmad dan saksi serta jangan lupakan ada pak penghulunya juga yaa hehe
(tanpa penghulu dan orang dari KUA tidak akan berjalan dengan lancar wkwk)
"nak Alfi sudah siap?"tanya ayah ahmad.
"Insya allah siap ayah"jawab Ustadz Alfi mantap. Kemudian ayah ahmad menjabat tangan calon eh ralat mantunya itu. Mulai terdengar suara dari mik sampai Dila didalam kamar ikut mendengarkannya. Yang didalam diam dengan khitmat memulai acara yang mendebarkan ini.
__ADS_1
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Alfi Yusuf Al-Fahri bin Abdurahman Al-Fahri dengan putri saya Dila Nurul Cahyaningrat binti Ahmadi ningrat dengan maskawinnya berupa Kalung emas, sejumlah uang, satu unit rumah dan seperangkat alat sholat dibayar Tunai"ucap tegas Ayah Ahmad.
"Saya terima nikah dan kawinnya Dila Nurul Cahyaningrat binti Ahmadi ningrat dengan mahar tersebut dibayar tunai"kata ustadz Alfi dengan tegas pula, satu kali tarikan nafas.
(tuh bisa stadz hehe)
"bagaimana para saksi, Sah?"ucap pak penghulu.
"SAH!!"ucap serempak semuanya
Dila yang didalam mendengarnya merasa sesuatu yang belum tentu bisa dirasakan oleh semua orang. Air mata kebahagiaan meluncur satu titik dengan senyumannya yang memancarkan rasa haru tak terkira. Ketiga sahabatnya memeluknya dengan berurai air mata. Ya ampun dila sold out beneran 😥.
"alhamdulillah,Tabarakallah."ucap pak penghulu yang disusul oleh doa setelah Ijab Qobul. Lalu semuanya mengamiinkannya.
"boleh dijemput istrinya nak ustadz. Silahkan"ucap pak penghulu yang kemudian Ustadz Alfi berdiri dan berjalan kedalam rumah untuk menjemput sang istri. Teuku mengikutinya, tampak Farhan yang membuka pintu utama dan mengetuk pintu kamar yang ditempati oleh Dila bertanda bahwa pintu harus dibuka.
Pintu sudah terbuka oleh Umi Shita. Terlihat Dila yang berjalan mendekati Ustadz Alfi dengan menunduk. Setelah sampai didekat Ustadz Alfi, Dila yang mendongak sedikit melihat dan dihadiahkan senyuman manis dari laki laki yang sekarang menjadi suaminya.
(ati ati diabetes dil hehe)
"assalamualaikum"salam Ustadz Alfi.
"waalaikumussalam...ustadz"balas Dila dengan wajah terlihat jelas di ponsel yang dipegang oleh Teuku.
Senyuman diantara keduanya tidak terelakkan lagi. Mereka yang melihat menjadi ikut senyum senyum sendiri. Kemudian Ustadz Alfi mendekat untuk memberikan tangannya tapi Dila mundur sedikit.
"kenapa mundur, dek dila?"tanya Ustadz Alfi yang membuat Dila meringis malu dalam tundukkan kepalanya.
"ciee panggilannya udah beda yaa"goda para wanita didalam kamar tersebut yang menambah rasa gugupnya si pengantin wanitanya ini.
Dengan sabar Ustadz Alfi menunggu kesiapan dari Dila. Namun tangannya kembali diulurkan, melihat waktu juga harus segera. Kasihan pak penghulu menunggu hehe. Tetapi Dila tak kunjung menerima sebab malu, gugup dan degdegan campur aduk. Lihatnya tangannya, sampai ditumpu oleh tangan kirinya untuk hanya menyentuh tangan suaminya.
"memang, boleh dila pegang tangannya?"tanya Dila yang membuat Ustadz Alfi tertawa dan menampilkan senyumannya.
"tentu boleh, batalkan wudhu saya"jawab Ustadz Alfi dan berharap uluran tangannya yang ketiga kalinya diterima oleh Dila.
Umi Shita membantu menuntun tangan Dila sampai di tangan anaknya. Dan akhirnya, Dila mencium tangan kanan Ustadz Alfi. Sedangkan Ustadz Alfi sendiri, ia menyentuh atas kepala Dila dan berdoa di dalam hatinya.
Setelah Dila mencium tangan laki laki didepannya itu, ia mendapatkan kecupan di keningnya lama. Bagaikan aliran air yang berjalan ke hatinya secara halus. Detak jantungnya tidak terkendali dengan mata yang tertutup seiring lamanya kecupan di keningnya.
"Ya Allah, jantungku... Jantungku terasa meletup letup. Aaa... Dila tidak kuat"teriak Dila dalam hatinya.
Pada akhirnya Ustadz Alfi dan Dila berjalan beriringan dengan tangan yang tidak dibiarkan terpisah. Sangat lengket agaknya. Sampai di depan meja yang tadi digunakan untuk akad, mereka berdua duduk. Lalu berlanjut dengan memasang cincin di jari masing masing. Setelah itu, disusul dengan menanda tangani buku nikah milik mereka.
Sesi terakhir adalah sungkem kepada orangtua mereka berdua masing masing. Terlihat kedua nya meneteskan air mata. Awalnya, Ustadz Alfi sungkem dengan abi abdurahman dan mendapatkan pelukan dari abinya. Tidak terbayang betapa sulitnya tanpa seorang abi.
Lanjut dengan Umi Shita, dimana sangat sangat mengharukan sekali bahkan sampai terlihat Ustadz Alfi mengeluarkan air matanya deras. Tanpa umi, ia tidak ada didunia ini jadi kehadirannya saat ini bukan tak laim dari jasa seorang umi yang melahirkannya.
Sampai seterusnya dengan diikuti oleh Dila. Saat baju pengantin Dila yang membuat langkahnya sulit selalu Ustadz Alfi betulkan sampai sampai tangan laki laki itu terlihat menggenggam selalu. Prosesi Akad Nikah selesai sudah dengan penyerahan mahar dari Ustadz Alfi kepada Dila. Itupun tak kurang dari cekrekan Azzam.
__ADS_1
Azzam lalu meminta Ustadz Alfi dan Dila difoto untuk dicetak. Sampai beberapa pose berhasil diambil oleh Azzam sudah cukup, akhirnya Dila dan Ustadz Alfi dipersilahkan istirahat. Beristirahat sejenak sebelum acara walimah nanti ba'da Dzuhur.
bersambung....