Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz

Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz
GPHSU : Extra Part 1


__ADS_3

Pagi hari menyambut. Setiap orang akan merasakan cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela yang sudah dibuka sedikit saat waktu shubuh. Dila dan Ustadz Alfi sehabis sholat Shubuh tidur kembali sebab mereka cukup kelelahan dengan kemarin.


Dila terganggu dengan cahaya pagi yang menerpa wajahnya. Sekilas bergerak mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya. Tak lama kedua matanya terbuka. Menelusuri setiap tampilan yang terlihat begitu nyata di depan mata. Melihat kesamping kiri, lampu tidur masih menyala dan akhirnya dimatikan olehnya. Lalu melihat ke samping kanan, dimana Ustadz Alfi tertidur pulas.


Jangan lupakan tangan kekar yang menahan perutnya. Sepanjang ia tertidur tangan itu terus saja memeluknya. Walaupun masihlah merasa canggung, dila berupaya senyaman mungkin agar Ustadz Alfi nyaman ketika berada didekatnya. Buktinya kemarin laki lakinya sudah tidak memakai bahasa formal, baik, perhatian, dan protektif juga serta selalu mengingatkan dalam mengejar pahala. Pokonya ia memanglah beruntung memiliki suami seperti Ustadz Alfi.


"wajahmu bersinar sesuai akhlakmu mas. Aku kadang masih tidak biasa menatap wajahmu dengan jarak dekat seperti ini."pikir Dila yang menatap wajah cerah Ustadz Alfi dalam keadaan tertidur. Benar benar membuat jantung tak aman.


"aku iri dengan wajahmu mas. Kok bisa secerah ini sih"ucap Dila heran dan berani menyentuh wajah yang sedang asik dialam mimpi.


"masih gak nyangka kamu jadi suami dila. Kamu dengan entengnya menyatakan perasaan didepan keluargaku sampai sampai membuatku..."perkataan Dila terhenti sebab wajah yang ia sentuh sentuh terlihat membuka matanya.


"sampai gimana dek? Terngiang ngiang ya"senyum Ustadz Alfi dengan suara serak khas bangun tidur.


"kamu memang perhatian dan romantis mas. Tapi aku lupa kamu juga ngeselin"batin Dila


"lepasin mas, aku mau buat sarapan."kilah Dila yang mencoba melepaskan pelukan erat Ustadz Alfi.


"aku masih ngantuk, temani mas tidur ya"pinta Ustadz Alfi yang kembali memejamkan matanya. Memang matanya terlihat memerah sedikit dan itu adalah bukti jika laki laki didepannya masih mengantuk.


"sendiri aja ya mas, aku mau buat sarapan untuk kita. Inget, kesehatanmu akan menurun jika melewatkan sarapan mas. Tidur sebentar lagi, lalu mandi."oceh Dila yang kemudian melepas pelukan Ustadz Alfi.


Kemarin umi shita berbagi cerita dengannya, bahwa Ustadz Alfi tausiyah kemanapun dan kapanpun tidak menentu jadi kalau melewatkan sarapannya kondisi tubuh suaminya itu akan menurun. Tubuhnya akan lemas dan bahkan bisa demam tinggi. Memang sudah biasa seperti itu sejak kuliah di Mesir. ustadz Alfi sama sepertinya, kerja paruh waktu mencari nafkah untuk kesehariaannnya.


"hmm"dehem Ustadz Alfi yang larut dengan acara di alam mimpinya. Entah dengar atau tidak hanya Allah yang tahu hehe


"mas, kamu denger gak sih?"seru Dila.


"iya sayang, mas denger"ucap Ustadz Alfi membuka matanya sekilas lalu membenarkan letak tubuhnya.


"kamu ternyata cerewet ya dek"gumam kecil Ustadz Alfi dan itu sampai ditelinga Dila yang hendak keluar kamar.


"apa kamu bilang mas?"tegas Dila.


Hawa dingin menyeruak kamar, membuat Ustadz Alfi yang memejamkan matanya merasakan merinding dengan suara tegas dari istrinya. Ia lupa Dila tetaplah Dila, mau bagaimana kondisi apapun itu.


"aku tidak bilang apapun kok.. Masak yang enak buatku ya. 10 menit lagi mas udah bangun"ucap Ustadz Alfi membelakangi Dila lalu memejamkan matanya seperti tadi. Sedangkan Dila, ia percaya dengan omongan itu lalu sempat berpikir lalu memilih keluar kamar.


"apa tadi aku yang salah dengar ya??"pikir Dila


Setelah Dila keluar dari kamar, Ustadz Alfi bernafas lega dan mengusap tengkuknya. Jika istrinya mulai tegas, itu berarti warning untuknya. Jangan sampai membuat wanitanya marah akibat dirinya. Harus mengingat bahwa Dila tidak mau dicueki atau dibalas 'hmm' seperti tadi catat Al, pikirnya.


Di Dapur...


Dila memulai aksinya memasak makanan untuk sarapan pagi pertamanya dengan Ustadz Alfi. Jujur ada rasa yang membuncah didalam hatinya saat tangannya dengan lincah mengambil bahan bahan masakan di kulkas. Ini sebenarnya bukanlah masakan pertama banget, karena Ustadz Alfi pernah merasakan masakannya. Tapi tetap saja ini sangat sangat membuatnya tegang.


"huff, fokus masak. Jangan tegang begini. Ini bukan yang sulit. Okey kamu pasti bisa"monolog Dila yang menyemangati dirinya sendiri.


Hari ini ada rencana membuat aneka macam makanan khas kampungnya. Yaitu Jangan lombo ijo (sayur cabai hijau) tapi dengan pedas yang seperti menggelitik lidah karena untuk sarapan. Untuk isi sayur tersebut yang terpenting ada potongan tempe yang dibikin balok tipis tipis Lalu ada botok dan tempe mendoan. Untuk isi dari botok itu sendiri yakni tahu, taoge, sedikit remasan ikan dan kemangi.

__ADS_1


Lama ia berkutat dengan dapur, akhirnya selesai juga memasak dengan penuh perjuangan agar enak dimakan. Dila menghidangkan makanannya di atas meja makan dan sesekali melirik kearah kamar. Terlihat masih sepi, apakah Ustadz Alfi belum bangun.


"mas"panggil Dila.


Belum ada jawaban, ia pun hendak melangkah ke kamar. Namun sebelum itu terjadi, terdengar bunyi pintu yang terbuka. Terlihat Ustadz Alfi membenarkan lengan bajunya yang tadi digulung sampai siku. Dila berdehem menetralkan sesuatu yang datang ketika pesona dari laki lakinya menguar.


"kamu sakit dek? Kok mukanya memerah?"tanya Ustadz Alfi yang didalam hatinya tertawa. Ada ada saja reaksi Dila yang terpesona dengan dirinya.


"ekhem.. Ayo mas, sarapan dulu."ajak Dila.


Ustadz Alfi duduk di kursi dengan melihat makanan di atas meja makan. Makanan itu menggodanya agar cepat cepat mencicipi. Aroma rempah terendus oleh indra penciumannya. Dengan antusias menunggu Dila menyajikan sarapan untuknya.


"ini makanannya apa aja? Kelihatannya enak enak dek"tanya Ustadz Alfi yang menerima sendokan nasi di piringnya. Dila pun tersenyum.


"ini semua adalah makanan khas kampung mas. Aku suka banget makan ini kl sarapan. Tapi bedanya kl saat ini aku modif sedikit disesuaikan. Mungkin hanya sedikit terasa pedas disayurnya. Aku takut kamu gak cocok mas"jelas Dila yang mulai menyendokkan sayur tempenya.


"apapun yang kamu masak, pasti akan aku makan."timpal Ustadz Alfi.


Mereka mulai menyantap makanan bersama. Ustadz Alfi terlihat menambah lauk lagi, itupun membuat Dila senang didalam hatinya. Rasanya sangat bersyukur jika Masakannya diterima baik oleh suaminya.


##.. Skip.. ##


Acara sarapan sudah selesai. Dila sedang mencuci piring dan segala alat makan lainnya. Sedangkam Ustadz Alfi sedang mengelap meja makan lalu sedikit merapikan kursi kursinya. Sesekali melihat Dila yang mencuci lalu merapikan alat alat makan ditempat semulanya.


"em, kamu hari ini ada kegiatan gak dek?"tanya Ustadz Alfi yang berdiri menyender di tembok dekat meja makan. Dila sedikit menoleh dan menyimak ucapan tanya dari seseorang yang setia menunggunya.


"wah pas banget dong kalau begitu."senang Ustadz Alfi.


"mas, kamu keruang tamu dulu deh. Aku kurang denger, nanti kita bicarain lagi"seru Dila yang memang tidak bisa mendengar sebab air mengalir dari kran.


"okey, maaf ya jadi ganggu"ucap Ustadz Alfi.


"gak apa apa mas"singkat Dila.


Terlihat Ustadz Alfi sudah berjalan kearah sofa. Dila yang melihat sudah tidak ada orang dibelakangnya langsung segera menyelesaikan pekerjaannya. Tidak enak rasanya jika Ustadz Alfi menunggu lebih lama lagi. Siapa tahu ada hal penting yang mau disampaikan.


Sembari menunggu Dila selesai, Ustadz Alfi membaca buku milik Dila yang berada di bawah meja ruang tamu. Sepertinya istrinya belum sempat merapikan buku buku miliknya yang berada di rumah umay. Ia mulai meraih salah satu buku yang menarik perhatian.


"novel? Dek dila ternyata juga suka novel"batin Ustadz Alfi yang melihat lihat fisik buku tersebut.


Ustadz Alfi sedikit terkejut dengan judul novel punya dilanya itu. Betapa tidak terkejut, judulnya 'Ustadzku'. Dirinya tertawa kecil akibat judulnya. Betapa dila suka membaca novel tentang kisah cinta islami. Apalagi ada 5 koleksi yang judulnya tetang cinta seorang ustadz. Hadduh, benar benar membuatnya tidak habis pikir.


"mas, kamu lagi ngapain?"tanya Dila yang baru saja selesai mencuci piring.


"sayang, mas pinjam 5 buku ini ya nanti. Mau baca"senyum Ustadz Alfi. Dila pun membuka matanya dengan sedikit lebar.


"Ya Allah mas. Kamu dapet dari mana?"panik Dila. Ia merutuki dirinya sendiri sebab lupa mengamankan buku novelnya itu.


"dibawah meja tamu ini. Ceritanya kayaknya seru dek"celetuk Ustadz Alfi.

__ADS_1


"mas, emang.. Kamu suka baca novel? Bukannya dikamarmu hanya ada buku hadist dan buku ilmu fikih lain lainnya."tanya Dila sedikit ragu.


"eh... Siapa bilang aku suka baca buku itu terus terusan. Kan bosan. Yang ada bukan paham ilmu, malah rambutku cepat memutih. Mas punya di lemari dekat kamar mandi. Banyak buku novel yang kayak kamu gemari ini."jelas Ustadz Alfi yang membuat Dila meringis.


"dugaanku salah ternyata"pikir Dila


"oiya tadi mau ngomong apa mas?"tanya Dila yang sudah duduk disamping Ustadz Alfi.


"oh, mas mau ngajak kamu pacaran?"


"apa?! Pacaran?"


"iya, kamu mau gak?"


"mas, emang... Kita boleh pacaran?"


"boleh dong. Pacaran halal"


"Pacaran halal?"


Ustadz Alfi mengangguk saja menanggapi ucapan tersebut. Sedangkan dila, masih sedikit bingung. Ia berpikir keras dengan ucapan itu. Apa iya boleh pacaran? Emang ada pacaran halal? Kok baru tahu yaa...pikirnya


"udah jangan banyak mikir. Kamu siap siap dulu gih. Mas mau ngajak ketempat tempat yang ingin kamu kunjungi. Oiya mau pakai motor atau mobil ?"ucap Ustadz Alfi.


"mobil boleh gak mas? Aku kayaknya sekalian mau beli sesuatu"tanya Dila.


"boleh."balas Ustadz Alfi kemudian.


Sementara Dila bersiap siap, ustadz Alfi membuka pintu rumahnya. Menekan tombol di kontak kunci mobilnya. Terlihat mobil menyala sebentar lalu kembali mati tanpa suara. Tak lama Dila muncul sudah memakai gamis dan membawa tas kecil.


"bawa apa itu dek?"tanya Ustadz Alfi yang tak sengaja melihat Dila membawa salah satu kopyahnya.


"ini. Kamu cocok deh pakai ini mas. Bajumu kan sudah koko, kurang lengkap kayaknya tanpa kopyah ini"jawab Dila.


Ustadz Alfi setuju saja karena inikan maunya Dila. Apa aja bakal ia kasih. Terlihat Dila kesusahan memakaikannya karena tingginya setinggi bahu Ustadz Alfi. Emang dasar Ustadz Alfi saja yang seperti tiang listrik atau Dilanya yang kurang sedikit tinggi? hehe


Ustadz Alfi menunduk mensejajarkan tinggi sesuai istrinya. Membiarkan Dila memakaikan kopyah miliknya. Memang benar, ada rasa kurang dikepalanya jika benda itu tidak ia pakai. Sementara dengan para orangtua, mereka mengintip dari kaca rumah Umi Shita dengan full senyum karena melihat keakraban pasutri baru itu. Syukurlah mereka terlihat serasi dan enak sekali dipandang mata.


(hohoho mereka tidak tahu, Ustadz dan Dila kadang debat gara gara kelakuan masing masing. Ustadz Alfi nyebelin sih hehe. Lanjut)


"sudah siap dek?"tanya Ustadz Alfi yang membuka pintu mobilnya.


"siap"antusias Dila selesai mengunci rumah mereka.


Setelah menutup pintu mobil dan Dila sudah masuk kedalam, akhirnya Ustadz Alfi juga ikut masuk lalu menyala mobilnya. Oiya sebelumnya pagar sudah terbuka jadi tidak perlu repot repot menunggu waktu lagi agar bisa keluar rumah.


"Alhamdulillah, semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warahmah...Aamiin"batin Kakek Ilham.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2