
Suasana hening diantara keduanya. Mereka yang berada tidak jauh dari kedua insan anak adam yang hanya diam dan saling menutup mulut mereka dengan pemikiran sendiri sendiri.
"kenapa mereka saling diam?"seru Umay.
Semua menoleh kearah Umay dan menghela nafasnya masing masing. Mereka tahu, Dila sedang menyusun kata kata untuk bertanya sedangkan Ustadz Alfi sedang menyusun hatinya agar tidak terbawa suasana.
"mungkin lagi siap siap dan sibuk dengan pemikiran mereka masing masing"balas Ayah Ahmad.
"jika nanti Dila em.. memilih berhenti bagaimana paman?"ungkap Umay yang sedari tadi semuanya khawatirkan.
"yah... dalam hal ini paman tidak mau ikut campur. Kehidupan mereka yang jalani, biarlah mereka sendiri yang menentukan."tanggapan Ayah Ahmad.
"benar juga. Inilah yang namanya ujian sebelum nikah. Ada saja yang menghalangi, tapi jika mereka menanggapinya dengan benar. Maka akan berlanjut. Karena ujian setelah nikah akan lebih dari ini"timpal Abi Abdurahman yang diangguki oleh Ayah Ahmad.
Pengalaman membawa Abi Abdurahman menjadi sekarang ini. Menjalani sebuah rumah tangga seperti menjalani kapal. Harus ada nahkoda yang mengendarai kapalnya agar tidak oleng. Begitupula dikehidupan nyata, laki laki lah yang harus bertindak dan menyakinkan bahwa semuanya akan baik baik saja sampai perempuannya yakin dan tidak meragu.
"baiklah, kita tunggu mereka menyelesaikannya seperti apa. Kita memang penasaran tapi tidak boleh memaksa kehendak mereka"ucap Paman Wisnu. Semuanya setuju dan masih menunggu kapan kedua insan itu memulai pembicaraannya.
"kamu harus banyak berdoa karena ayah tidak yakin dengan situasi saat ini. Semoga apa yang kamu usahakan tidak membuatmu kecewa nak."batin Ayah Ahmad berharap kepada calon mantunya. Mereka harus menyelesaikan dengan baik agar menjadi latihan dikemudian hari jika ada masalah yang lebih dari ini.
"semoga Alfi berhasil. Al, umi pengen punya menantu kayak Dila. Jangan sampai terlepas gelang pemberian umi dari tangannya."batin Umi Shita yang selalu berharap jika hubungan mereka berlanjut ke jenjang pernikahan sampai selamanya.
"aku tidak mendukung keadaan apapun mau lanjut atau berhenti. Tapi menurutku kalian sudah sama sama saling suka. Bukankah jika berhenti kalian berdualah yang tersakiti?"pikir Umay yang masih setia menunggu Ustadz Alfi atau Dila yang memulai pembicaraan diantara mereka.
Sementara dengan Ustadz Alfi dan Dila, kini mereka masihlah diam dengan pemikiran masing masing. Cukup menguras waktu jika terus begini. Sebaik baiknya orang, akan menghargai setiap detik waktu yang berjalan bukan.
"aku harus ngomong gimana ya?"bingung Dila dalam hati.
"ya Allah apa yang harus aku lakukan jika ia berkata berhenti nanti"pikir Ustadz Alfi berusaha untuk tetap tenang tapi tangannya terus bergerak tak tenang.
Dila masih Diam dengan urusannya sendiri. Ia ingin bertanya sekaligus mengetes seberapa cocoknya mereka berdua dan seberapa keyakinan laki laki yang ia belakangi itu untuk meminangnya.
Lama kelamaan, Ustadz Alfi nampak bosan dengan suasana ini. Ia sudah tidak bisa menunggu lagi. Sudah sangat sabar dengan 2 tahun berlalu tapi untuk membicarakan sesuatu yang menegangkan ini ia tidak sabar menunggu selama 5 menit lagi.
"kamu mau bicara apa?"suara Ustadz Alfi memecah keheningan. Dila sedikit kaget dengan ucapan tersebut.
"Astaghfirullah"gumam kecil Dila yang tak terdengar siapa pun.
"sa..saya ingin bertanya"gugup Dila. Jujur saja baru segini keberaniannya untuk berbicara.
"ia bahkan tidak menyebut namanya sendiri saat berbicara denganku. Tidak seperti kemarin"pikir Ustadz Alfi sendu.
"apakah jika nanti telah menikah, saya masih bisa bekerja? Kira kira ustadz mengizinkannya atau tidak"tanya Dila tanpa basa basi. Ustadz Alfi terdiam sejenak lalu menjawab.
"kamu mau bekerja?"seru Ustadz Alfi. Eh.. Ini bukanlah jawaban tapi kata tanya yang memastikan niat dari perempuan yang ia belakangi.
__ADS_1
"benar, saya ingin ilmu yang dicari akan tersalurkan ke orang lain."Dila menjawabnya dengan langsung.
"sejujurnya, seorang perempuan yang sudah menikah tidak diwajibkan untuk bekerja karena nafkah keluarga sudah menjadi kewajiban kepala keluarga."jelas Ustadz Alfi. Dila tertunduk sesaat lalu tangannya menggenggam satu tangan lain miliknya.
"tapi, seorang kepala keluarga juga tidak bisa mengekang perempuannya untuk selalu dirumah. Walaupun, ia sangat suka dan bahagia ketika perempuannya ada dirumah. Karena itu menandakan laki laki sepertinya bisa diandalkan"Jelas Ustadz Alfi kembali.
"bukan berarti saya tidak memperbolehkan kamu bekerja. Tapi saya akan merasa masihlah kurang dengan nafkah yang diperoleh. Saya terus terang ingin bisa diandalkan namun jika itu kamu inginkan pasti diizinkan."simpul Ustadz Alfi kemudian.
Dila terhenyak sedikit. Ia diperbolehkan dan di izinkan. Tapi ia tidak enak hati jika bekerja. Seperti dikatakan oleh Ustadz Alfi tadi. Diri seorang ustadz itu, ingin bisa diandalkan oleh pasangannya. Sepertinya ia benar benar akan berpikir dua kali ketika ingin bekerja. Ia tidak ingin ustadz Alfi merasa sedih eh..
"kamu tenang saja, saya gak sedih seperti apa yang kamu khawatirkan"tiba tiba Ustadz Alfi berkata sambil tersenyum. Dila langsung bersemu merah akibat pikirannya bisa terbaca.
"ustadz cenayang?"pikir Dila.
"Dila saya bukan cenayang"ucap Ustadz Alfi.
"sa..saya tidak berpikir begitu"gugup Dila. Bohong!
"saya juga tidak mengatakan itu adalah pikiranmu"Ustadz Alfi terkekeh kecil saat merasakan pergerakan Dila yang gelisah. Secara tidak langsung, Dila ketahuan berpikir seperti itu.
Skakmat kau Dil ☺
"ekhem"dehem Dila menetralkan rasa gugupnya.
"e... Bagaimana jika nanti saat menikah saya tidak cukup ilmu dan tidak cocok untuk menemani berdakwah. Bagaimana menurut ustadz tentang hal itu"tanya Dila. Pertanyaan selanjutnya.
"kamu tidak cukup ilmu? Kl begitu saya biayain sampai ilmunya cukup. Mau S2 dimana? Turki? Mesir? Madinah? Atau mau ditempat lain"serius Ustadz Alfi. Seperhatian itu dirinya untuk kenyamanan perempuannya. Etdah stadz kek nawarin tour wisata hehe
"saya gak bermaksud seperti itu."seru Dila yang menjadi tak enak hati.
"saya gak bohong kok, kamu boleh menuntut ilmu lagi sesuai keinginan. Tapi saya gak setuju jika kamu menganggap diri kamu sendiri tidak cocok mendampingi saya. Jangan perdulikan opini orang lain"lugas dan tegas.
Begitulah Ustadz Alfi yang membuat Dila blank dengan pertanyaan lain lainnya. Tadinya ada banyak pertanyaan yang serasa membludak tidak tertahan di kepalanya. Tapi sejauh ia berlari tetap akan terkejar.
"tentang postingan itu, bolehkah kira kira jika... sa... Saya batalkan pertunangannya ustadz?"celetuk Dila.
Ustadz Alfi terpaku dengan wajah yang terlihat kecewa. Kecewa dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dirinya lengah dan membiarkan Dila melihatnya langsung di media sosial itu.
"apakah kamu ingin berhenti? Jawaban tadi apa juga belum begitu menyakinkan?"tanya Ustadz Alfi bertubi tubi.
"sudah cukup menyakinkan. Tapi saya tidak mau nama ustadz tercemar setelah menjadi calon suami saya. Jadi lebih baik berhenti sampai disini saja"jawab Dila.
Ia tersenyum pahit dengan ucapannya. Jujur, sudah mulai ada rasa dengan laki laki yang menjadi calon suaminya tapi ia tak mau ketika kehadirannya menjadikan... Ah sudahlah tidak bisa diungkap dengan kata kata lagi.
"kamu kok tega sih sama saya"lesu Ustadz Alfi membuat Dila hampir saja menoleh kearahnya. Kok tiba tiba bilang begitu.
__ADS_1
"tega?"beo Dila.
"kamu tega banget. Saya udah 2 tahun penantian dan banyak dosa gara gara kamu"final ustadz Alfi sudah tidak ada cara lain selain ini.
"saya salah apa ustadz?"Dila tak paham dengan ucapan tersebut.
"jelas salah. Kamu buat saya gak fokus ngelakuin hal yang sudah biasa dilakukan. Kamu bikin saya frustasi setiap malam selalu kepikiran"jujur Ustadz Alfi. Semuanya menahan tawa akibatnya yang bak mengadu pada ibunya.
Pernah Ustadz Alfi kesalahan dalam penyebutan nama ketua panitia yang menyelenggarakan acaranya. Saat itu Ustadz Alfi malah menyebut 'Dila' dan itupun menjadi hal yang memalukan sekali karena didepan banyak orang melakukan kesalahan itu. Tapi Ustadz Alfi mengalihkannya dengan motif kurang lihat kertas didepannya. Padahal ia sudah hapal nama nama dikertas tersebut hehe
(lihat aja nanti tuh yang hujat kl ternyata udah ada kode ustadz Alfi menyebut nama calon istrinya. Pasti nyesel udah kek gitu. Duhh gak sabar deh.... Okey lanjut guys)
"eh?"
"pokoknya kamu harus lanjut. Urusan postingan biar saya aja yang pusing. Kamu cukup doakan saya saja. Wajib"ucap Ustadz Alfi.
"loh maksudnya saya wajib menikah sama ustadz gitu"simpul Dila berbalik menatap Ustadz Alfi yang sama sama berbalik.
"iya"
"kok kamu maksa sih"
"gak maksa, cuma wajib banget"
"diih wajib apanya"
"wajib kifayah"
"loh? Gak bisa gitu dong. Kamu gak_ "
"kl nolak saya nikahin sekarang"
"~"
Hening dan sepi.... Dila merasa kesal dengan itu lalu mengalihkan pandangannya kearah lain. Sedangkan ustadz sudah tahan tertawa sedari tadi.
"saya bercanda dila, jangan marah ya"ucap Ustadz Alfi yang kemudian tertawa lepas. Dila menatap kearah laki laki yang ternyata mengesalkan tapi membuatnya tersenyum.
"dila udah gak raguin ustadz lagi. Dila pengen kalau ustadz nanti bisa jadi pembimbing yang sabar menghadapi perilaku dila kedepannya. Maaf udah sempat meragu"batin Dila tersenyum malu kemudian.
"tetap sesuai rencana kan ustadz?"
"iya. Tapi saya majuin sedikit waktunya. Kamu gak masalah kan"
"eh?"
__ADS_1
Bersambung...