Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz

Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz
GPHSU : Extra Part 4


__ADS_3

Saat sedang seriusnya memilih buku untuk dibaca, Dila tidak menyadari bahwa setelah ia menarik salah satu buku. Ternyata ada sesuatu yang terjatuh di lantai.


Pluk...


"loh inikan... surat ?"gumam Dila.


Sebuah surat yang rapi didalam amplop putih dan sedikit berdebu di sudut ujung amplopnya. Tak menutup kemungkinan bahwa Dila sangatlah penasaran dengan isinya. Ia pun melihat seluruh bagian amplop dan ternyata ada sebuah nama...


Fatwa - PonPes Banjar


"Astaghfirullah, ini Bukannya ning dari Banjar itu yaa"batin Dila mengerut keningnya. Pikirannya mulai berkelana kemana mana.


"aku buka atau enggak yaa"monolog Dila yang masihlah ragu untuk membukanya.


"ya Allah aku penasaran. Mas Alfi ada hubungan apa dengan Ning Fatwa. Apakah ini surat untuk tausiyah atau surat lainnya? Udah kebuka sih tapi gimana yaa"pikir Dila.


Dila kalut tapi ragu untuk membukanya. Semakin lama semakin banyak perkiraan negatif lainnya. Tapi apakah sopan melihat surat milik Ustadz Alfi. Apakah tanpa izin dari laki lakinya itu tidak apa apa.


"ish, tapi aku penasaran banget"gemash Dila kepada dirinya sendiri.


"mari kita baca"monolog Dila yang setelah itu duduk di ranjang.


Wajahnya memang tak bisa ditebak akan beraksi atau berekspresi apa. Tapi tangannya dengan pasti mulai membuka surat tersebut. Kertas didalamnya tak luput ia buka karena penasaran yang memuncak. Dila akhirnya membaca satu persatu kata yang tertuang didalamnya.


~ Dari Fatwa untuk Alfi


Assalamualaikum wr wb


Apa kabarmu Al? Semoga baik baik saja dijakarta. Aku disini turut senang akan keberhasilan cita citamu itu. Akhirnya kamu menjadi seorang Ustadz. Masya Allah Tabarakallah, ilmumu semoga bermanfaat untuk semuanya.


Al, aku disini sepi tanpamu. Dulu kita sangatlah dekat walau dibatasi oleh dinding pemisah santri dan santriwati. Kamu juga adalah teman masa kecilku. Kenangan kita sangatlah indah al, kapan kamu ke banjar lagi.


Sungguh hati ini sangatlah merindu. Jujur saja Al, aku menganggapmu lebih dari teman. Tapi aku menganggapmu matahariku. Al adalah milik awa. Kau tahu, aku tidak pandai menyembunyikan sesuatu. Jadi saat ini, aku ingin akui. Bahwa Fatwa sangat mencintaimu Al.


Balaslah suratku ini Al, segeralah


Hatiku tak sabar menerimanya.


~ Fatwa


"Al adalah milik Awa"ucap Dila yang tanpa sadar meremas ujung bajunya.


"Aku telah tidak sopan membacanya. Dan inilah akibatnya. Seharusnya aku tidak usah membaca. Hatiku tiba tiba sakit, tau ada Cinta dari seorang ning"batin Dila tak sadar menangis.


"Allahu Akbar... Allahu Akbar"


Adzan terdengar merdu dan jelas ditelinga Dila. Jelas sekali itu adalah adzan didekat rumah. Ia pun menghapus air matanya lalu memilih mengambil wudhu.


##.... Skip.... ##


Ustadz Alfi dan para kaum Adam lainnya pulang ke rumah masing masing. Seperti Umay, Azzam, Farhan dan Teuku pamit pulang kerumah karena memang Ustadz Alfi yang memintanya hehe. Sedangkan Ustadz Alfi, Abi Abdurahman dan Ayah Ahmad berbincang diluar rumah.


"nak Alfi"panggil Ayah Ahmad tiba tiba.


"ya ayah?"balas Ustadz Alfi.


"titip putri ayah ya nak. Kasihi ia kasih sayang dan cinta lebih dari kami orangtuanya. Jangan sesekali melukainya, ayah dan ibu tidak pernah melukai hatinya. Nak Alfi memang harus belajar untuk memahami isi hatinya, karena ia sedikit susah diterka."ucap Ayah Ahmad.

__ADS_1


"iya ayah, Insya Allah Alfi ingat kata kata ayah. Betul, Alfi masih menyesuaikannya."ujar Ustadz Alfi.


"apapun itu ayah hanya bisa berdoa saja. Jaga dia baik baik nak, ayah sama ibu mau pulang ke kampung. Kasihan Dayu, ia mau kuliah juga. Jadi tidak bisa lama lama disini"seru Ayah Ahmad.


"mau sekarang ya berangkatnya mas? Gak mau nginep semalam lagi"tawar Abi Abdurahman.


"gak bisa kayaknya."singkat Ayah Ahmad. Tak lama ada panggilan untuk tertuju dengannya.


"ayah, ayo siap siap"panggil Ibu Mira.


Akhirnya semua telah siap. Dila memeluk erat sang ayah seakan akan tak mau lepas. Bagaimanapun, Dila tetaplah seorang anak yang haus kasih sayang orangtuanya. Apalagi mungkin nanti akan jarang menghabiskan waktu bersama ayahnya karena sudah menikah dan punya keluarga sendiri.


Begitupula dengan Ibu Mira lalu lanjut Dayu, Dila memeluk mereka berdua juga. Rasanya sangat tidak mau pisah tapi ya harus gimana lagi. Ia tidak boleh menahan keluarganya untuk tinggal kan.


"kl begitu kami pamit, baik baik ya nduk. Kl ada waktu, ke rumah aja. Pintu selalu terbuka untuk anak ayah ini"ujar Ayah Ahmad.


"ayah"lirih Dila. Air matanya tak bisa dibendung lagi.


Ustadz Alfi menyentuh tangan Dila. Tatapan wanitanya tentu bisa ia baca. Bisa dibilang arti tatapan tersebut seperti 'aku mau ikut. Gak mau jauh sama ayah' begitulah yang dipahaminya. Dila pun langsung mengalihkan matanya dan memilih terima melepas kepergian keluarganya.


"udah dong nduk. Kami pamit ya, jaga diri dan jadi istri yang baik. Ibu sama ayah akan senang kalau kamu juga senang disini"ucap Ibu Mira.


"iya bu. Hati hati dijalan. Kl sudah sampai jangan lupa kabari"seru Dila.


Ucapannya diangguki oleh ayah Ahmad. Dan mereka benar benar pamit untuk pergi pulang. Setelah itu, Dila dan Ustadz Alfi kembali ke kamar milik Ustadz Alfi dirumah Umi Shita.


Saat ini Dila masihlah memakai atasan mukenanya. Pikirannya berganti dengan surat yang ditemukannya tadi. Sampai sampai Ustadz Alfi mengerutkan keningnya heran.


"kamu kok keliatan diam dek? Apa karena ayah sama ibu pulang?"ucap ustadz Alfi. Dila terdiam, karena sedikit ragu untuk berkata jujur.


"nanti kan kita bisa menginap dirumah ayah. Kapanpun kamu mau dan berapa lama kamu inginkan untuk tinggal disana. Jangan sedih seperti ini"seru Ustadz Alfi yang duduk diranjang bersama Dila yang sedari tadi sudah duduk.


Lama mereka berdua diam dengan pemikiran masing masing. Ustadz Alfi seperti dejavu dengan suasana ini. Tiba tiba teringat saat dimana Dila ingin membatalkan pernikahannya.


"apa aku buat salah ya? Kok dek dila seperti berubah. Tadi pagi sepertinya baik baik saja."pikir Ustadz Alfi. Ia menggenggam tangan Dila yang sedang tidak mau berbicara saat ini.


"kamu marah ya? Mas minta maaf"ucap Ustadz Alfi. Inilah yang hanya bisa ia lakukan. Harus meminta maaf walau ia tidak merasa salah. Karena meluluhkan wanitanya itu tidaklah mudah.


"ah?... Kamu gak salah kok"kaget Dila yang tersadar dari lamunannya.


"lalu ada apa denganmu?"tanya Ustadz Alfi.


"aku..."ragu Dila.


Ustadz Alfi merasa ada yang disembunyikan namun memilih untuk tidak memaksa. Tapi jujur didalam hatinya, ia menjadi sedih. Begitu susahnya memahami hati itu dan tidak bisa membaca hati yang saat ini tertutup lagi dengannya.


"enggak aku gak boleh ragu lagi. Jika tidak bertanya, maka aku tersesat. Tersesat dalam prasangka. Yah, aku harus bertanya dan jujur"batin Dila.


"aku menemukan ini"ucap Dila yang mengulurkan tangannya lalu memberikan amplop tadi.


Ustadz Alfi bingung tapi tetap menerimanya. Netranya melihat lebih jelas untuk siapa dan isi dari amplop ini. Ia menatap Dila yang tersenyum simpul.


"maaf aku tidak sengaja membacanya. Tapi, apakah kamu sudah membalas surat ini?"seru Dila.


"sudah. Aku sudah membalasnya sejak lama"jawab Ustadz Alfi jujur.


"jangan jangan..."pikir Dila terhenti

__ADS_1


"tanyakan apa yang kamu rasa masih mengganjal? Kita selesaikan ini"ajak Ustadz Alfi yang siap dengan pertanyaan Dila. Ah, istrinya harus tahu masa lalunya bukan. Pikirnya


"kamu pernah mondok di banjar?"


"pernah. Waktu aku berumur 6 tahun"


"kamu nyaman disana?"


"Alhamdulillah nyaman sampai aku 17 tahun"


"nyaman ya... Em kamu sama dia ada hubungan apa?"


"maksudnya ning fatwa?"


"kok malah nanya balik sih"


"pufft, hehe"


"kamu ketawa mas?"


Ustadz Alfi tertawa akibat ekspresi melas kemudian kesal dari Dila yang melihatnya. Tawanya terhenti dan mendekatkan dirinya lalu tersenyum yang membuat Dila memundurkan tubuhnya.


"gak ada"


"apanya yang gak ada?"


"bukannya tadi nanya masalah hubungan kan. Ya aku jawab gak ada sayaaang ~"


Dila mengalihkan pandangannya. Tadi ia sangat kalut tapi saat ini kenapa tiba tiba ia tak bisa menahan senyumnya. Ya ampun, Ustadz Alfi benar benar membuatnya tak bisa berkutik ya.


"kamu jangan berasumsi apapun lagi dek. Aku cintanya sama kamu. Soal surat itu, aku sudah membalasnya dengan menegaskan bahwa aku tidak memiliki perasaan yang sama dengannya"


"lalu ning fatwa bagaimana mas?"


"ya... Ning fatwa menerimanya. Bagaimanapun hati tidak bisa dipaksakan."


"tapi mas...."


"tapi apa dek. Gak boleh mikir kayak gitu lagi yaa. Jujur aku tahu kamu masih ragu kan sama aku. Mana ada yang gak mikir kl tiba tiba dilamar oleh orang sepertiku"


"mas, aku gak bermaksud begitu"


"aku sedih kl kamu mikir begitu. Apakah kamu belum ada rasa denganku?"


Dila terdiam. Pikirannya memang masih belum menyakinkan. Tapi hatinya, sungguh mengganjal hanya karena sebuah surat. Apakah derajatnya dan derajat sebuah surat itu kalah telak.


"sudahlah. Mas gak maksa kamu punya rasa dan malah bersyukur karena kamu menjalankan kewajibanmu sebagai istri. Itu saja sudah cukup"Seru Ustadz Alfi yang kemudian melangkahkan kakinya dan mengelus kepala Dila.


Dila melihat tatapan sendu yang ditampilkan Ustadz Alfi ketika ia tak menjawab pertanyaan tadi. Kemudian meresapi dan merasakan rasa yang dipertanyakan oleh Ustadz Alfi tadi. Ada rasa kesal ketika ustadz Alfi tidak menjawab tadi, ada rasa sakit saat membaca surat cinta dari ning fatwa dan ada rasa sedih ketika tatapan sendu yang tak sengaja ia lihat.


"Ya Allah, aku telah mencintainya? Jantungku sudah berkali kali berdebar saat bertemu dengannya. Dan sekarang, aku benar benar merasakannya"batin Dila.


Ustadz Alfi sedang melihat lihat ponselnya dan tidak melihat ekspresi Dila saat ini. Senyum yang mengembang dibalik rasa haru atas rasa yang telah tersampaikan.


Grep....


"dek?"kaget Ustadz Alfi yang menerima pelukan tiba tiba.

__ADS_1


"rasa itu telah ada, mas. Maaf, aku baru merasakannya."lirih Dila.


Bersambung....


__ADS_2