
Pagi yang indah untuk Dila hari ini, pengennya senyum melulu. Ia ingin menemui sang idolanya sungguh merasa tak bisa berkata kata lagi akan kebahagiaannya. Malam tidur tidak tenang, bawaannya hati berbunga bunga seperti orang jatuh cinta.
Rumahnya sepi tanpa suara Dayu bak tinggal di kuburan. Dila membersihkan seluruh penjuru rumahnya dan melanjutkan bersiap untuk pergi hari ini. Memakai atasan warna cream, celana panjang bahan warna cokelat serta kerudung senada dengan celana.
Kerudung segi empat disampingkan seperti biasanya. Entah kenapa ia suka sekali berpenampilan seperti seorang guru di sekolahnya. Ia sangat tidak suka jika memakai kerudung namun masih menampilkan aurat. walaupun tak sampai memakai niqab tapi setidaknya harus memenuhi syariat agama dan tidak mengikuti trend.
tok...tok...tok...
"assalamualaikum"
ucapan salam memecah heningnya Dila yang memakai tas selempang hitam dengan gantungan boneka beruang yang lucu. Kira kira tas ini adalah hadiahnya waktu memenangkan juara tari di semarang pada saat ia berusia 15 tahun. wah awet dan bagus deh barangnya.
"dek, sudah sii__"ucap umay yang terhenti seraya tangannya mengerem tepat didepan wajah adik sepupunya. Beruntung bisa ngerem kl kagak bisa ngambek adiknya ini.
"waalaikumsalam"senyum ramah Dila yang kemudian menatap tak percaya dengan tangan umay sudah didepan keningnya.
"hehe, kirain gak denger tadi. saking asyik dandan mau ketemu ustadz"ucap Umay tetap meledek bertubi tubi dari kemarin. Ia menganggap Dila berdandan sebab wajah adiknya ini sangat berbeda dari biasanya alias lebih kinclong gitu.
"enggak kak...aku gak dandan"balas Dila yang mengkerutkan keningnya heran.
"itu bisa kinclong begitu, kayaknya sih ya aura senangnya menguar jadi gak usah dandan deh. Ustadz dijamin bakal terbengongkan hihi" bathin Umay yang tersenyum sendiri. Julidnya keluar dan membuat dila memutar bola matanya malas.
Sesampainya di tempat ustadz Alfi...
"assalamualaikum"salam umay dan Dila serempak.
Terlihat umi shita, Aisyah, farhan dan Azzam sedang duduk duduk santai di teras. mereka melihat kedatangan Dila dan Umay pun membalas salamnya.
"waalaikumsalam"kor mereka.
"wahh kak Dila datang. Aisyah kangen"ucap Aisyah dengan gembira menyambar memeluk Dila. Sempat terkejut dengan reaksi aisyah, Dila kemudian membalas pelukan itu.
"haii syah. Gimana kabarmu?"ucap Dila
"alhamdulillah baik. kakak cantik banget, kak Alfi pasti suka."puji Aisyah sedikit ambigu menurut Dila. semuanya terkekeh kecil melihat reaksi yang dipuji nampak tersenyum kaku dan malu luar biasa.
"ayo kita ke dalam saja. tidak enak diluar begini"ajak Umi shita yang memboyong Dila dan Anak perempuannya ke dalam.
Dila hanya mengangguk saja dan melangkah masuk disusul oleh ketiga laki laki dibelakangnya. Didalam ada ustadz Alfi memakai masker kesehatan sebab habis pergi yang duduk di sofa dengan seriusnya menatap buku hadist. Ia tak sadar dengan siapa yang datang.
Ustadz Alfi hanya melirik sekilas kaki yang memakai celana bahan perempuan warna cokelat dengan memakai sepatu snaker. Ia pun kembali dengan bukunya namun mengerutkan keningnya mengingat sesuatu. Yang lainnya hanya menonton saja dan tersenyum membiarkan mereka berdua.
Dila melihat laki laki didepannya seperti sangat familliar sekali. apalagi jam tangan yang berwarna hitam mencolok diingatannya. kemudian Ustadz Alfi mendongak dengan tiba tiba saat mengenal sepatu milik Dila. Matanya menatap kearah Dila membuat yang ditatap mengenal mata itu.
"Kamu ?"kor mereka berdua.
Ustadz Alfi kemudian membuka maskernya dan manaruh buku hadistnya menatap Dila. Sedangkan Dila terkejut bukan main melihat wajah sang idola.
"kamu__yang saya tabrak waktu itu?"tanya Ustadz Alfi
"i_iya."ragu Dila
"em..begini. Ustadz kenalin ini adik sepupuku, Dila.....dan Dek Dila, ini ustadz Alfi"ucap umay menengahi mereka. Ustadz Alfi langsung menatap lekat Dila bahkan tak bisa mengalihkannya dari wajah ayu alami itu. Sedangkan Dila tersenyum malu dan membeku karena ditatap intens begini sama laki laki.
__ADS_1
Wajah ayu Dila begitu membuat jantung ustadz Alfi tak normal lagi. Bola mata hitam cerah, hidung yang bangir itu dan senyuman malu malu karena ditatap olehnya, baginya senyuman itu bak manis seperti gula yang membuat dirinya tak bisa mengendalikan diri untuk tak menatap.
"Cantik"gumam ustadz Alfi seraya tersenyum hangat yang masih terdengar oleh semuanya.
"ciee... Ekhem"sorak para penonton di belakang. Umi shita tertawa kecil dan bukannya mengingatkan anaknya untuk berhenti menatap Dila tapi malah membiarkannya saja. Naluri seorang ibu mengatakan jika anak laki lakinya tertarik dengan gadis manis yang pernah menolongnya waktu itu.
"cantik?, maksud ustadz a..apa?"ucap dila terbengong tak percaya dengan ucapan itu.
"ah maksud saya, bukan begitu"kilah ustadz Alfi salting dan mengalihkan pandangannya. Dirinya ini sudah dosa dan sangat malu tujuh turunan kl begini. Baru pertama kali ia memuji lawan jenis apalagi tersenyum hangat didepannya.
"maksudnya siapa dibilang cantik karena arah pandang ustadz tak bisa terbaca dan mungkin saja ustadz memuji kucing ini"ucap Dila polos menunjuk kearah kucing di samping kakinya yang nyatanya si kucing juga punya kecantikan alaminya yakni bulunya indah. Membuat Ustadz Alfi rasa ingin bersembunyi saja deh sedangkan yang lainnya tak bisa berhenti tertawa.
"kenapa kalian tertawa? apa aku salah bicara yaa"heran Dila.
"tidak ada yang salah dek. Cuma kamu gak peka sama pujian dari...."ucap umay terhenti dengan ustadz Alfi.
"oiya, bukannya kamu ingin menemui saya?"ucap ustadz Alfi memotong pembicaraan umay. Yang membuat Umay menggeleng kepala saja.
"iya benar. Ini mau bertanya tentang hadist yang gak bisa dicoba untuk menghafalnya. bolehkah ustadz memberi solusi?"balas Dila.
"boleh, silahkan."seru ustadz Alfi.
Terlihat Dila membuka buku hadist yang sama. Ia menanyakan hadist yang begitu panjang dan tak mudah di hafalkan. Ustadz Alfi menandai dimana dila harus berhenti untuk memudahkan mengingat. ia melihat kembali wajah manis tersenyum didepannya. kemudian menundukkan pandangannya kembali lalu tersenyum simpul.
"ya allah semoga ia jodohku"suara hati ustadz Alfi yang sudah menyadari perasaannya.
"ya allah terimakasih telah mempertemukanku dengan ustadz Alfi. aku jadi bertambah ilmu" suara hati Dila yang tersenyum sumringah.
🌻🌻🌻
"saya mau ucapkan terimakasih kembali sebab waktu itu kamu telah menyelamatkan umi"ucap ustadz Alfi yang memberikan buku hadist baru miliknya.
"sama sama ustadz. tapi ini tidak perlu, kan hadiahnya sudah"tolak Dila halus mendorong kembali buku tersebut diatas meja. ia berpikir sudah banyak hadiahnya, bahkan mau menolak hadiah waktu itu. namun tak enak sama umi shita.
"itukan hadiah dari umi, tapi buku ini hadiah dari saya khusus buat kamu"balas ustadz Alfi menyakinkan dengan tersenyum manis membuat Dila menundukkan wajahnya sebab dari tadi jantungnya berdegup kencang
"terimakasih"balas Dila yang balik tersenyum manis dan berbinar senang sebab diberi buku hadist
Tak Disadari oleh mereka berdua, sejak tadi azzam memfoto keduanya pada saat momen tersenyum saling pandang.
"kalian memang sudah cocok, tapi tidak tahu kapan hilal itu akan muncul? Semoga kalian berjodoh"pikir Azzam. Ia akan ikut senang jika sahabatnya yang tidak menggubris kata kata cinta dari fans yang lain. Benar benar hanya Dila yang berhasil menggetarkan hati sahabatnya ini.
"kl begitu kami pamit. karena dek dila besok berangkat jadi hari ini harus bersiap."ucap Umay
"yah kakak mau kuliah. Dimana?"tanya Aisyah yang terlihat sedikit kecewa dengan kenyataan.
"Jogja, memangnya kenapa ?"tanya Dila kembali dengan guratan heran diwajahnya. Ada apa dengan adik ustadz idolanya ini.
"nanti gak bisa ketemu lagi dong"lesu Aisyah
"em... Kalian kan bisa bertukar nomor ponsel"saran Farhan.
Aisyah menepuk keningnya lupa. Beberapa hari lalu ia bukannya sudah meminta nomor ponsel Dila dari kakaknya ya. Benar benar memalukan. Sedikit ia melirik kakaknya. Lihatlah, sudah tersenyum meledek dari jauh sembari membaca buku Hadist.
__ADS_1
"kak, izin minta ponselnya. Aisyah ingin cantumin nomor ke ponsel kakak"izin Aisyah sopan. Dila mengangguk tersenyum, lalu tangannya memberikan ponselnya ke Aisyah.
"makasih ya kak"ucap aisyah kemudian yang telah berhasil mencantumkan nomor ponselnya.
"sama sama. Kamu bisa hubungin kapan saja. Nanti kita ketemu lagi kok. Aku janji setelah wisuda akan mampir ke Jakarta khusus buat ketemu Aisyah"senyum Dila yang terdengar halus dalam ucapannya.
Ustadz Alfi mendadak termenung dengan ucapan Dila yang lebih panjang dari pada tadi berbicara dengannya. Memang ia akui Dila bertutur kata lembut dengan siapa saja. Tapi entah kenapa membuatnya ingin mendengar suara itu terus menerus.
"Alhamdulillah kl gitu. Kakak jangan sampai lupa sama janjinya"ucap Aisyah senang. Dila mengangguk kembali menyetujui semua perkataan Aisyah.
Umi shita yang tadi menghilang sebentar, telah kembali membawakan makanan ringan untuk bekal Dila besok. Jujur Aisyah merasa tak rela Dila pergi ke jogja karena ia ingin berlama lama dengan Dila. Tapi uminya telah kembali...
"ini untuk bekal dijalan ya."seru umi shita yang menenteng 1 tas lumayan besar. Sebenarnya ia telah tahu dari Umay tentang kepergian Dila esok hari. Jadi sudah mempersiapkan segala sesuatu hehe.
"jadi umi beli banyak makanan kemarin dan minta aku temani belanja. Itu buat Dila. Dasar umi"pikir Ustadz Alfi tak habis pikir namun ia tersenyum simpul.
"umi tak perlu repot repot seperti ini. Saya gak enak"sungkan Dila
"iih terima aja atuh nak. Jangan sungkan sungkan"ucap Umi Shita sedikit memaksa dan berharap Dila menerima. Akhirnya Dila pun menerimanya karena tak enak hati melihat Umi shita yang sedikit sendu memohon agar pemberiannya diterima.
"iya umi, terimakasih"
"assalamualaikum"kor umay dan Dila
"waalaikumsalam"serempak semuanya. Akhirnya Dila dan Umay berjalan menuju keluar ruangan tersebut. Namun...
"dek bagi dong"ucap umay yang berada di dekat pintu berjalan keluar. semuanya menoleh.
"gak mau, ini punya aku"kekeuh Dila rada menjauh dari Umay. Umay pun mendekat sedikit lagi melirik ada makanan kesukaannya.
"posesifnya kamu dengan apa yang menjadi milikmu. Apakah jika nanti misalkan aku menjadi milikmu akan seposesifnya seperti itu?"pikir Ustadz Alfi. Ia langsung menggeleng dan membuat Azzam diam diam tahan tertawa dengan tindakan itu.
"hayoo mikir apa kamu al"batin Azzam.
"ayolah cuma satu, yang rasa cokelat itu. kakak minta yaa"bujuk umay dengan tatapan memohonnya.
"iih...gak mau. ini kesukaanku kak. Jangan ambil cokelatnya, beli saja sendiri wlee"ucap Dila yang menjulurkan lidahnya lalu memeluk tas pemberian dari umi shita seraya cemberut.
"ck, iya deh. aku bercanda"senyum umay yg mengusap pucuk kepala Dila.
"kak umay, kerudungnya jadi berantakan"rengek Dila mengundang kekehan kecil dari ustadz Alfi dibelakang mereka.
"masya Allah kamu lucu sekali"bathin Ustadz Alfi. Lalu mengucap Istighfar kemudian. Sungguh tak kuat dengan ujian ini huhuhu.
kekehan kecil itu terdengar sampai di telinga Dila yang kemudian membuatnya bergegas pergi kedalam mobil sedangkan umay tertawa. keduanya pergi dari tempat itu dan hanya menyisakan beberapa orang saja.
"Alfi, mintalah sama Allah jika kamu menginginkannya. umi tahu kamu punya perasaan dengannya"ucap umi shita tersenyum.
"apa sih umi"kilah ustadz Alfi tersenyum memilih kedalam seraya membetulkan kopyahnya. tetapi di dalam hati akan melakukannya. semuanya tersenyum melihat reaksi ustadz Alfi.
Sungguh ketara jika si Ustadz sudah membenarkan kopyahnya pasti ada sesuatu yang membuatnya seperti entah itu gugup, menetralkan diri, Bosan ataupun malu. Hati hati bertindak ya stadz, tingkahmu terbaca haha
bersambung...
__ADS_1