Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz

Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz
GPHSU : Indah Seperti Orangnya...


__ADS_3

Setelah pembicaraan Ustadz Alfi dan Dila kemarin, akhirnya pernikahan mereka dimajukan sesuai kesepakatan bersama (walau sedikit memaksa hehe). Semuanya bergerak sat set sat set seperti menyiapkan mahar, seserahan, baju pengantin, undangan dan lain lain.


Masalah tentang postingan itu sudah sedikit mereda sebab postingan klarifikasi dari pihak tim Ustadz Alfi dan berikut tanggal pernikahannya. Kalau tidak seperti itu, maka masalah tidak akan selesai selesai. Sekaligus memantau akun Dila yang notifnya gak terkira itu.


Lupakan sejenak masalah itu, hari ini Umi Shita dengan Aisyah dan Ustadz Alfi sedang bersiap siap menuju butik langganan keluarga Al Fahri.


"umi, jadikan fitting baju pengantin? Masa Alfi juga ikut, kan gak boleh mereka bertemu mi."ucap Abi Abdurahman.


"maksud abi, kl fitting ngajak dila juga. Ya enggak lah bi, kan udah tahu ukurannya."seru Umi Shita membenarkan kerudung panjangnya.


Mereka berdua sedang ada di dalam kamar untuk siap siap. Abi Abdurahman memakai jam tangannya karena nanti ia akan menyerahkan dokumen dan persyaratan nikah ke KUA bersama Ayah Ahmad. Tentu tujuan mereka berdua sangat berbeda.


"abi nanti pulangnya agak sorean. Umi langsung aja kerumah Umay. Rumah udah banyak yang jaga. Percaya sama Farhan dan yang lainnya. Azzam lagi ngurus undangan. Besok teuku juga akan datang dari mesir."ucap Abi Abdurahman.


"sebenarnya umi kasihan sama teuku. Harus bolak balik indo-mesir."celetuk Umi Shita.


"abi juga sama kayak umi. Cuma teuku adalah teman alfi. Masa pernikahan temannya, ia tidak datang. Teuku akan ngerasa tidak enak jika melewatkan hari bahagia Alfi. Walau kenyataannya anak sulung kita itu sudah melarang teuku ke indo"


Begitulah percakapan random dari keduanya. Seketika berhenti dengan suara khas Aisyah yang mengeluh uminya kelamaan di dalam kamar. Sedangkan Umi Shita hanya bisa tertawa kecil dengan mencium tangan tangan Abi Abdurahman saat pintu sudah terbuka.


"aku pamit dulu ya A' "canda Umi Shita.


"iya neng, hati hati"timpal Abi Abdurahman mengelus kepala istrinya.


"terus aja terus. Alfi sama Aisyah masih hidup disini abi."kesal Ustadz Alfi.


"kita bukan patung disini"serempak Ustadz Alfi dan Aisyah.


Umi Shita hanya terkekeh kecil lagi dan lagi. Sedangkan Abi Abdurahman menepuk bahu putranya dengan pelan menandakan "sabar ya al" secara tidak halus seperti itu. Kasihan H-3 Ustadz Alfi masih menghapalkan ijab qobul sama muroja'ah surat yang akan menjadi salah satu maharnya hehe.


(hayyo siapa yang kebelet nikah coba stadz 😆)


Akhirnya mereka saling berangkat ketujuan masing masing daripada menunda nunda waktu lagi. Jika terus dilanjutkan, nanti tidak kelar kelar urusannya. Singkat cerita, telah sampailah di butik langganan tersebut.


'ArNas Boutique'. Begitulah nama yang terpampang di atas tepat pintu masuk. Butik yang memang cukup terkenal dengan tempat yang nyaman dan luas. Disana tidak hanya baju pengantin saja, tetapi banyak kebaya atau batik Indonesia yang indah dan cantik dipandang.


"Assalamualaikum Nas"salam Umi Shita yang sudah masuk kedalam.


"waalaikumsalam Shi"jawab Tante Anas yang tersenyum hangat lalu memeluk temannya. Lebih tepatnya rekan asrama di pesantren dahulu.


"apa kabarmu nas?"tanya Umi Shita


"Alhamdulillah, baik. Oiya anak laki lakimu sudah mau menikah ya. Wahh semoga lancar sampai hari H. Aku sudah melihat di Instagram"seru Tante Anas.


"aamiin, doakan yang terbaik."tanggapan Umi Shita yang diangguki oleh Tante Anas.


"ayo, kita langsung milih bajunya"ajak Tante Anas. Umi Shita, Aisyah dan Ustadz Alfi segera mengikuti langkah sang pemilik butik terkenal itu.


Mereka bersama sama melangkah menuju ruangan khusus. Ruangan tersebut isinya hanya gaun pengantin yang baru saja selesai hari itu. Tentu gaun yang masihlah anyaran (baru). Tante Anas tidak mau calon keponakannya mendapat kualitas yang sembarangan.


"disini ada berbagai model. Coba kalian lihat dulu modelnya lalu baru aku tunjukkan warna yang nanti diinginkan."ucap Tante Anas yang diangguki ketiganya.


Mereka bertiga seperti berdiskusi bersama. Namun Ustadz Alfi terdiam dan lalu mempersilahkan kedua wanita yang tentunya tahu model yang bagus seperti apa. Yang terpenting masihlah syar'i.

__ADS_1


Setelah model sudah didapatkan, akhirnya Tante Anas mengajak mereka kembali ke tempat yang hanya 5 warna dengan model yang mereka inginkan. Umi Shita dan Aisyah berdebat masalah warna. Sedangkan Ustadz Alfi mulai menimbang nimbangnya.


"menurut alfi...."ucapnya tertahan. Pikirannya terlihat wajah Dila yang tersenyum malu saat bertemu dengannya di tempat timnya. Wajahnya ayu dan putih.


"warna putih lebih indah seperti orangnya"celetuk Ustadz Alfi yang membuat Tante Anas tertawa kecil.


"oh baiklah. Warna ini untuk akad ya. Sedangkan walimah, mau warna apa. Tapi selain warna putih"Tante Anas bertanya kembali.


"Em.. Biarlah Dila yang menentukan. Gantian"Umi Shita menanggapi dan diangguki oleh Ustadz Alfi setuju.


"baik, nanti aku bungkus samplenya ya. Kl sudah, hubungi saja dan pengirimannya bersama MUA."Terang Tante Anas.


"Alhamdulillah kl MUA milikmu mau. Nanti aksesorisnya sesuaikan yaa, aku takut dila gak suka begitu banyak hiasan. Make Upnya, itu sesuka hati Dila saja nanti."ucap Umi Shita.


"siap. Terimakasih shi kamu udah percaya sama aku"ucap Tante Anas.


"iya... Kalau gitu kami pamit. Assalamualaikum"pamit Umi Shita.


"Waalaikumussalam. Hati hati ya penganten nyetirnya. Jangan mikirin tentang wanitamu terus, harus fokus sama jalannya. Sabar, H-3 loh"ucap Tante Anas yang meledek Ustadz Alfi.


"iya tante"balas Ustadz Alfi yang tersenyum sopan kepadanya.


Sedangkan Umi Shita dan Aisyah sudah sangatlah lelah tertawa akibat Ustadz Alfi yang digoda ingin menikah. Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempat selanjutnya. Huff, memang melelahkan sih tapi mereka tetap jalani. Tujuan selanjutnya yaitu memesan seserahan untuk dila dan harus membeli peralatan rumah untuk rumah baru.


##.. Skip.. ##


Malam harinya....


Kini Dila bersama dengan semua keluarganya sedang berbicara di ruang tamu. Para wanita sudah gencar menggoda Dila yang akan menikah. Kayaknya belum nikah dan udah nikah tidak akan luput dari godaan keluarga.


"apa sih, gak bosan terus terusan godain dila"sungut Dila yang cemberut.


"iih mba kan udah mau menikah hehe sama kak ustadz. Cie, Kak ustadz cinta berat sama kamu mba sampai sampai dimajuin harinya."ledek Dayu. Dila melempar bantal sofa kearahnya.


"haha iya bener. Trus so sweet banget sambil debat kek gitu. Trus, trus kamu senyum senyum malu pas ustadz tertawa. Aaa, aku tidak kuat menahan rasa ini Ya Allah"pekik heboh Kak Rida.


"Ya Allah Ya Rabb, sabarkanlah hamba dari ujian ini. Mereka semua saudara yang memang minus akhlak"dramatis Dila yang menanggapi candaan itu.


Sedangkan yang lainnya tertawa bersama sama. Tetapi terdengar klakson mobil dari luar rumah. Meledaklah tawa diantara mereka karena Dila tiba tiba menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tentu itu mobil milik Ustadz Alfi.


"pangeran berpeci sudah datang di depan rumah dengan memakai kuda besi berwarna putih"canda kak Rida.


"kak rida"rengek Dila yang membuat semuanya tertawa kembali.


Umi Shita dan Aisyah telah berbaur dengan mereka. Sedangkan Ustadz Alfi menetap di luar rumah. Tanpa niat masuk ke dalam. Ia tidak mau bertemu dengan Dila walaupun di dalam hatinya ingin sekali pake banget.


Semuanya sudah duduk di sofa senyaman nyamannya...


"kok nak Alfi tidak masuk?"tanya Bu Mira.


"anak itu tidak mau masuk mba. Biasa, takut khilaf katanya hehe"jawab Umi Shita yang melirik Dila.


"apakah tidak apa apa diluar? Kan sudah malam. Kedinginan nanti"sambung Bu Mira kembali.

__ADS_1


"tenang bi, umay bersama paman ahmad dan paman wisnu akan keluar menemani ustadz Alfi diluar."ucap Umay yang berdiri keluar bersama nama nama yang disebutnya tadi.


"rida buatkan minum ya"tawar kak Rida yang berlalu kedalam bersama Syafa. Lalu tak lama mereka keluar menyajikan minuman untuk para laki laki didepan. Kembali lagi dengan topik...


"hari akad akan dilaksanakan tak lama lagi, umi bawa baju pengantin untuk dila. Kamu boleh milih warna apa aja sesuai kesukaanmu dan kenyamanan memakainya seperti apa."ucap Umi Shita tersenyum hangat.


Terdapat 4 warna gaun pengantin untuk akad yang masih terbungkus plastik. Dila mengamati warna di depannya. Ada merah, hijau, biru dan cream. Netranya jatuh pada warna cream yang menurutnya menarik perhatiaannya di meja tersebut.


"umi, bagaimana jika cream saja?"ucap Dila yang menunjuk warna putih.


"boleh nak. Untuk Walimahnya kamu ingin ini tentu boleh sekali"timpal umi Shita.


"untuk akad sudah dipilih secara khusus oleh kak Alfi. Katanya begini nih.... Ekhem"


"warna putih lebih indah seperti orangnya.... Begitu kata kak Alfi"oceh Aisyah.


Sontak Dila tersenyum malu dengan memegang pipinya yang panas. Itupun membuat semuanya tertawa kecil. Sungguh enak sekali menggoda pengantin H-3 ini.


"aisyah nanti punya teman untuk curhat dong. Kak Dila nanti bakal jadi kakak iparku"oceh Aisyah tiba tiba.


"tentu saja, anggap saja aku adalah kakakmu syah"timpal Dila.


"aku juga dianggap kan"kor Syafa dan Dayu.


"kalian akan menjadi keluarga. Jadi anggaplah seperti saudari kalian sendiri"ucap Bu Mira.


"betul sekali"sambung Umi Shita.


Semuanya larut dengan perbincangannya. Sampai sampai lupa akan waktu yang berjalan menuju malam hari. Akhirnya umi shita memutuskan untuk pulang.


"oiya maaf mba, saya pamit pulang dulu karena sudah malam juga."ucap Umi Shita.


"tidak apa apa, lagipula kami merasa tak enak hati sebab tidak diberi kudapan yang sekiranya masihlah kurang untuk kalian"ucap bu mira.


"jangan terlalu sungkan begitu mba, tidak apa apa."seru Umi shita.


"baik, oiya nduk antar sampai depan"perintah bu mira pada Dila. Sungguh Dila ragu namun tetap menuruti ibunya.


"iya bu, mari umi dan aisyah"ucap Dila yang berjalan beriringan menuju keluar rumah.


Pintu terbuka menampilkan Ustadz Alfi yang memang menunggu seraya memegang kunci mobil dan tersenyum membalas ucapan ayah ahmad, umay, dan paman wisnu. Kemudian Ustadz Alfi melihat siapa yang membuka pintu dan menatap Dila tanpa sengaja.


Lama mereka beradu pandangan, keduanya mengalihkan pandangan kearah lain. Itu pun dilihat oleh semuanya. Ustadz Alfi tersenyum dan mengusap tengkuknya sedangkan Dila hanya malu dan tidak mau menatap apapun selain lantai.


"hadduh nanti yaa lihat lihatannya selesai akad. Lagipula akad tak lama lagi tuh"goda umi Shita kepada ustadz Alfi. Dila langsung beranjak mendekati Ayah Ahmad dan bersembunyi. Tatapan ustadz Alfi sangatlah berbahaya bagi jantungnya, apalagi senyuman itu... ah ia tidak kuat.


"oiya kami pamit segera ya. Sampai nanti di hari akad. Semuanya sudah disiapkan."ucap Umi Shita mewakili suaminya yang mungkin sudah dirumah.


"aku pamit paman"salam Ustadz Alfi yang mencium tangan kanan Ayah Ahmad setelah paman Wisnu.


"panggil ayah saja nak"pinta Ayah Ahmad. ustadz Alfi menuruti tapi sedikit canggung.


"iya.. A..ayah"ucap Ustadz Alfi.

__ADS_1


Setelah Itu Ustadz Alfi, Umi shita dan Aisyah meninggalkan rumah umay. Umay menutup segera pagar rumahnya lalu berjalan beriringan dengan ayah Ahmad, paman Wisnu dan Dila.


bersambung....


__ADS_2