Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz

Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz
GPHSU : Pertanyaan Pra Nikah


__ADS_3

3 hari kemudian....


Jadwal kepulangan keluarga Ustadz Alfi inti telah tiba. Dimana mereka sedang mempersiapkan segala sesuatu agar tidak ada yang ketinggalan. Namun ternyata rencana hanya tinggal rencana karena tiba tiba mendapat kabar bahwa Mbah Dahlan jatuh sakit.


Dari Jogja langsung meluncur ke Wonogiri. Ada guratan khawatir diwajah Umay yang membuat semua yang berada di sekitarnya ikut cemas. Tidak biasanya Umay terang terangan menampilkan wajah seperti itu. Setelah sampai didepan rumah...


"assalamualaikum"salam Umay mewakili semuanya. Pintu memang terbuka lebar kedua belahnya. Namun sebelum ada jawaban dari dalam, tidak boleh masuk dahulu. Seperti Etika yang sudah turun temurun.


Tak lama, Ayah Ahmad dengan langkah tegapnya berjalan keluar. Ustadz Alfi dan semuanya terkejut, wajah laki laki paruh baya ini sama seperti Dila. Bagaikan sebuah duplikat.


"Waalaikumussalam. Umay, semuanya mari masuk."sambut Ayah Ahmad dengan senyuman.


Umay dan lainnya masuk ke dalam rumah. Tak lupa alas kaki mereka dilepas dan disusun rapi di rak sepatu. Barulah benar benar masuk ke dalam. Umay menatap pamannya rindu, jujur saja pamannya ini seperti seorang ayah baginya.


"paman"sapa Umay dengan segera mencium telapak tangan kanan Ayah Ahmad begitu takdzim. Sampai sampai bolak balik ciumnya hehe.


"Masya Allah tambah gagah. Terakhir kali lihat kamu, masih setara dengan hidung hehe. Ternyata sudah sama tingginya. Bagaimana kabarmu umay?"ucap Ayah Ahmad.


"Alhamdulillah baik. Seperti yang paman lihat"jawab Umay.


"oiya, silahkan duduk dulu semuanya."ucap Ayah Ahmad mempersilahkan. Setelah semuanya duduk, ia pamit kedalam untuk memanggil istrinya agar dibuatkan minuman.


Beberapa saat kemudian, semuanya tersaji dengan rapi di meja. Kedua orangtuanya Dila sebenarnya masih sangatlah bingung mencerna semuanya. Kedatangan Umay dengan banyak rombongan membuat pusing menerka.


"paman, bibi. Ini adalah keluarga kakek Ilham, sahabat dari Mbah"ungkap Umay yang membuat pasutri itu mengangguk mengerti.


"kami kesini ingin menengok Dahlan. Sakit apa sebenernya? Kenapa saya tidak tahu"tanya Kakek Ilham.


"oh abah. ayah sakit apa pun itu sebenarnya kami tidak tahu. Baru tahu tadi, kl ayah punya riwayat jantung."jelas Ayah Ahmad. Kenapa panggil Abah? Karena pernah diberitahu oleh ayahnya. Ketika sahabat ayahnya yg bernama Ilham, ia harus panggil Abah seperti dahulu ketika ia belum menikah.


"Innalillahi, sudah diperiksa dokter?"khawatir Kakek Ilham.


"Sudah, belum lama tadi baru diperiksa Abah"ujar Ayah Ahmad. Kemudian semuanya larut dengan obrolan selanjutnya.

__ADS_1


Tak lama...


"Ahmad"panggil seseorang yang terdengar berat. Ayah Ahmad yang merasa terpanggil langsung tersenyum senang, akhirnya ayahnya sadar.


Dengan langkah cepat, Ayah Ahmad & Umay menghampiri. Karena permintaan Ayah Ahmad sendiri. Siapa tahu ada yang perlu dibantu. Semuanya mengucap syukur. Bagaimana pun sudah diceritakan kl Mbah Dahlan pingsan dan bersyukur bahwa kini telah sadar.


Tak lama terlihat Ayah Ahmad dan Umay menuntun seseorang yang tubuhnya lemas khas orang sakit. Ia adalah Mbah Dahlan. Dituntun sampai sofa dengan perlahan lahan.


Laki laki yang rambutnya sudah mulai memutih itu tersenyum kearah sahabatnya. Walau keadaannya saat ini masih lemas, tapi ia bersikukuh bertemu sahabatnya. Kakek Ilham menghampiri Mbah Dahlan dengan guratan khawatir.


"Dahlan"


"Ilham"


Sapa keduanya. Kemudian mereka berdua salaman dan berpelukan sebentar untuk melepas rindu. Kakek Ilham tentu bangga mempunyai sahabat seperti Mbah Dahlan yang ikhlas membantunya dulu tanpa pamrih.


"kamu ini sakit gak bilang bilang. Trus lama gak berkabar. Kita seperti bukan sahabat jika dilihat lihat dari kuantitas pertemuaannya."ucap Kakek Ilham yang sedikit terkandung nada kesal. Sontak Mbah Dahlan tertawa melihat sahabatnya memang tidaklah berubah.


"hm.. Baiklah. Aku kesini bawa rombongan. Memang kenyataannya kok"sahut Kakek Ilham. Lihatlah ia pasrah dengan argumen sahabatnya. Mbah Dahlan yang tadi sibuk dengan ocehan Kakek Ilham, sekilas menatap laki laki muda yang tampan sedang tersenyum sopan menatapnya.


"loh, itu cucu laki lakimu ham. Apa kesini langsung membicarakan segala sesuatu"canda Mbah Dahlan. Ustadz Alfi yang merasa terpanggil maju menghampiri Mbah Dahlan. Lalu mencium tangan kanan Laki laki yang duplikat Dila kedua jika tersenyum.


"Masya Allah, namamu Alfi kan?"decak kagum Mbah Dahlan menatap Ustadz Alfi yang sangatlah sopan dengannya.


"benar kek."jawab Ustadz Alfi.


"Oh, Nak Ustadz selain berdakwah apa ada kegiatan lain?"tanya Mbah Dahlan. Wahh udah mulai mulai interview calon cucu mantunya.


"Jangan sungkan denganku kek. Panggil Alfi saja."


"Selain berdakwah, Alfi tidak punya kegiatan lain tetapi hanya punya restoran kecil yang masih dirintis. Insya Allah"jawab Ustadz Alfi santai.


"hemm, baiklah. Kl kamu tidak mau dipanggil seperti itu, apakah kamu mau dipanggil cucu menantu"Mbah Dahlan sedikit terkekeh kecil sebab akibat ucapannya, Ustadz Alfi salting wkwk.

__ADS_1


"lupakan nak, hanya bercanda. Ada 2 pertanyaan lagi yg ingin aku tanyakan padamu. Santai saja, jawab sesuai dengan hatimu"intruksi Mbah Dahlan. Posisinya saat ini sudah berhadap hadapan dengan Ustadz Alfi. Sedangkan semuanya terdiam dan memperhatikan.


"tadi sudah dijawab tentang kegiatan lainnya, Semoga menjadi restoran yang selalu sukses"ucap Mbah Dahlan. Ustadz Alfi mengaamiinkannya.


"apakah kamu mau menikahi cucuku yang jauh dari silsilahmu? Seorang cucu kyai sepertimu yg mungkin biasanya dijodohkan dengan ning dari pesantren atau anak seorang ulama"tanya Mbah Dahlan serius. Ustadz Alfi tanpa berpikir menjawab pertanyaan dengan lugas.


"tidak ada alasan untuk menolaknya. Alfi sendiri tidak mau dijodohkan dengan seorang ning ataupun anak para ahli ulama. Karena walaupun silsilah keluarganya baik, belum tentu baik orangnya. Semua orang sama sama punya dosa dan begitupula seorang ning atau anak para ulama sekalipun. Jadi semua manusia itu setara"jelas Ustadz Alfi.


Kakek Ilham lega dengan ucapan itu dan berdoa cucunya sesuai menurut kriteria sahabatnya. Dan tidak menutup kemungkinan dikehidupan setelah menikah akan ada masalah tentang berbeda silsilah. Sementara Mbah Dahlan mengangguk dengan kalimat itu dan melanjutkan pertanyaannya.


"jika ada masalah dikemudian hari tapi cucuku tidak mau mendengarkan ucapanmu lagi, bagaimana cara kamu menyelesaikannya?. Perlu kamu ketahui nak, cucuku keras kepala."ucap Mbah Dahlan menatap lembut Ustadz Alfi. Dari cara bertanyanya sangat terlihat elegan dan sopan yang tidak sesuai dengannya jika diam pasti terlihat ketegasannya.


"Alfi akan menjadi airnya. Jika api dilawan api tentu itu akan menimbulkan masalah lainnya yang lebih besar dari sebelumnya. Alfi akan menerima apapun kekurangannya karena Alfi juga punya kekurangan yang sama. Insya Allah, sabar menghadapi kekurangan tersebut"Ustadz Alfi mengucapkannya tanpa banyak pikir kata katanya lagi.


"hemm, bagus juga jawabanmu nak. Saranmu akan digunakan oleh kami sekeluarga hehe"ucap Mbah Dahlan terkekeh kecil lagi dan lagi.


"idaman kan le.."sambung Mbah Dahlan berkata kearah Ayah Ahmad yang dibalas anggukkan dan senyuman pasti. Ustadz Alfi hanya bisa tersenyum malu.


"Jadi, apakah tetap lanjut Dahlan? Rencana perjodohan ini ?"tanya kakek Ilham. Yang mewakili keluarganya dengan wajah serius menanti jawabannya yang pasti.


"bagaimana le? Kamu mau melanjutkannya?"tanya Mbah Dahlan.


"Bismillah, aku masih mau melanjutkan perjodohan ini."jawab Ayah Ahmad setelah menatap istrinya sebentar.


"Alhamdulillah"ucap serempak semuanya yang berada di ruangan tersebut. Hanya tinggal menunggu Dila, apakah mau dijodohkan atau tidak.


"Kl begitu, semoga perjodohan ini berjalan dengan lancar." Ucap Mbah Dahlan.


"Amiin ya Allah " Meraka serempak .


'semoga berjalan lancar, aku sangat yakin dengan pilihanku untuk meminangnya.' gumam Ustadz Alfi.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2