
Petang menyambut...
"nak alfi, boleh saya berbicara denganmu?"ujar mbah Dahlan meminta waktu sebentar dengan Ustadz Alfi.
Ustadz Alfi yang sedang duduk bersama kakek dan abinya, seketika mengalihkan pandangan kepada seseorang yang sejak saat itu menjadi panutannya selain kakeknya.
"baik, mari mbah"seru Ustadz Alfi. Ia mengikuti langkah mbah Dahlan menuju kamarnya. Sedangkan yang lain melanjutkan acaranya masing masing.
"mbah, mau berbicara apa dengan alfi?"Ustadz Alfi langsung to the point menanyakan maksud dari kakek perempuan yang ia kagumi ini.
"haha.. Kamu ini sama seperti cucuku, nak alfi. Kalian suka dengan apa yaa. yang langsung saja bukan yang bertele tele.."mbah Dahlan sedikit berpikir keras.
"to the point mbah"balas Ustadz Alfi tersenyum.
"owalah.. Iya yaa ituu. Dasar anak muda"mbah Dahlan tertawa kecil membuat Ustadz Alfi ikut tertular tawanya.
"ekhem.. Begini nak alfi.. Kamu benar benar sudah siap dengan jenjang pernikahan tapi ada satu hal yang membuat saya khawatir"ucapan mbah Dahlan sejenak menjeda kata katanya.
"apa yang mbah khawatirkan? Apakah alfi masih kurang dimata mbah?"Ustadz Alfi yang sedikit merasa minder. Loh.. padahal ia terkenal dan selalu percaya diri berdiri didepan banyak orang.. Namun mengapa, saat berada didepan seseorang yang sangat berarti bagi perempuan yang dikaguminya menjadi kurang percaya akan dirinya
"saya tidak menganggap begitu. Kamu sudah lebih baik dari ekspektasi saya untuk menjadikanmu cucu menantu. Hanya saja, apakah kamu bisa menjamin bahwa cucuku satu satunya wanita dihatimu?"ungkap mbah Dahlan. Ustadz Alfi terdiam sesaat.
"saya gak mau kalau cucu perempuan saya kecewa karena tak akan ada lagi sandaran selain sama kamu yang akan menjadi suaminya. Sekali ia kecewa akan sulit untuk melupakannya"ujar mbah Dahlan kembali.
"Alfi tidak akan mengecewakan harapan mbah dan keluarga. Lagipula, menikah satu kali seumur hidup saja susah mbah. Menunjukkan jalan kepada istri dan keluarga sendiri itu butuh perjungan mbah. Ada sedikit ketakutan juga dalam diriku, apakah mampu membimbingnya setelah keluarganya"Ustadz Alfi menjelaskan apa yang dirasakannya.
__ADS_1
"wajar nak, hal ini tentu wajar ada di setiap laki laki yang akan melengkapi agamanya. tenanglah, jika kamu menjalaninya dengan niat karena ibadah tentu akan ada jalannya dari setiap masalah"nasehat mbah Dahlan seraya memegang bahu Ustadz Alfi.
"makasih mbah"senyum Ustadz Alfi yang merekah sebab ada support dari pihak perempuannya.
"jagalah ia, bahagiakan ia dan sayangi ia sebagai kamu menghargai dirimu. saya sangat berharap dan percaya jika kamu mampu menjadi sandarannya"tatapan mbah Dahlan menatap Ustadz Alfi begitu banyak artinya. Ustadz Alfi sampai tertegun dengan arti tatapan itu.
SKIP...
Hari sudahlah mulai malam, saat ini sekitar waktu isya akan sedikit lagi tiba menyabut. Semuanya kemudian berwudhu secara bergantian dan bersiap untuk sholat berjama'ah sesaui permintaan Mbah Dahlan. Beliau ingin sekali sholat berjamaah bersama keluarga sahabatnya. Alasannya karena keinginan semata. Tapi ada satu hal yang tidak ada yang tahu motif apa yang menjadi alasan tersebut.
Sebelumnya, meja dan kursi di ruang tamu yang luas itu harus dipinggirkan terlebih dahulu. Ruang tamu yang tadinya terdapat sofa dan meja, sekarang menjadi lebih luas dari sebelumnya dan menjadi mushola kecil dadakan. Dayu dan Aisyah membantu Bu Mira menggelar karpet untuk semuanya. Tak lama adzan Isya berkumandang, dan kebetulan semua sudah siap untuk sholat.
Sembari menunggu adzan selesai, mereka berdiam diri mendengar dan membalas adzan. Dan ketika selesai adzannya, mereka akan berdoa setelah adzan. Setelah itu, semuanya sangat khusyuk sholat berjamaah dan hanya terdengar suara jangkrik saja.
Yang menjadi imam sholat Isya berjama'ah hari ini adalah Ustadz Alfi. Barisan belakang setelah imam ialah abi abdurahman, umay, Mbah dahlan dan ayah Ahmad. Baris sesudahnya ialah Azzam dan Farhan. Lalu setelahnya barulah Bu Mira, Aisyah, Dayu dan Umi Shita.
Tak lama tubuh mbah Dahlan yang tetap gagah diusia tua itu roboh perlahan. Itupun membuat Ustadz Alfi kaget bukan main sama dengan yang lainnya. lalu tanpa pikit panjang, ia memeriksa pergelangan tangan tersebut Dan .....
" Astaghfirullah, denyut nadinya .."batin Ustadz Alfi terkejut.
"ada apa alfi?" khawatir Kakek Ilham.
"innalillahi wa inna ilaihi ro'jiun"ucap Ustadz Alfi. Kemudian semuanya ikut mengucapkan hal yang sama lalu bersedih atas mbah Dahlan yg pergi selama lamanya.
"Ayah"lirih Ayah Ahmad. Ucapannya terdengar bergetar seperti dengan badannya. Tak lama air matanya luruh dan dengan mencium telapak tangan yang sudah terasa dingin.
__ADS_1
Sungguh tidak bisa digambarkan dengan kata kata. Hanya yang perlu diketahui, ia sangat merasa kehilangan seorang ayah yang selama ini ia banggakan dan ia sayangi meninggalkan dirinya. Sekarang ini, ia sangatlah rapuh dan faktanya karena setegar apapun laki-laki pasti akan rapuh jika orang yang disayanginya pergi.
"mas... kamu harus ikhlas. Ayah gak bakal ngerasain sakit lagi, yakinlah bahwa allah lebih sayang ayah"ucap bu Mira yang mencoba menguatkan dan menyembunyikan rasa sedihnya padahal ia juga merasa kehilangan karena menurutnya mbah Dahlan adalah ayah kandungnya sendiri setelah kepergian kedua orangtuanya beberapa puluh tahun yang lalu.
Ayah Ahmad beralih menatap istrinya. Air matanya terlihat membekas di pipi dan matanya beradu dengan mata yang juga tak lama meneteskan air mata seperti dirinya. Ternyata tak hanya ia yang merasa kehilangan. Istrinya dan yang lainnya pun sama. Akhirnya ia mencoba tersenyum walaupun tipis.
"Sebaiknya kita harus merawatnya, tidak baik seperti ini apalagi sampai menelantarkan almarhum" saran Kakek Ilham yang tadinya sehabis mengusap matanya dengan sapu tangan yang selalu ia bawa kemana mana.
Semuanya setuju. Ayah ahmad yang di bantu oleh Abi abdurahman beserta kakek Ilham membopong mbah Dahlan ke kamar nya. Sedangkan Umay dan Ustadz alfi pergi ke masjid untuk mengabarkan bahwa mbah Dahlan telah meninggal dunia.
Meninggalnya mbah Dahlan menjadi duka tersendiri bagi masyarakat sekitar karena beliau dikenal baik dan ramah serta beliau di'tua'kan (dihormati) oleh masyarakat sekitar . Sebelum sang pengabar pulang, ternyata sudah ada yang tiba di rumah terlebih dahulu setelah mendengar suara dari masjid.
Waktu menunjukkan sudah malam, jadi dirancang untuk keperistirahatan terakhir pada esok hari. Tak lupa mengabari sanak saudara tentang kabar duka ini.
## Singkat Cerita ##
Waktunya sudah hampir pagi, semuanya sudah sholat shubuh secara bergantian. Di depan rumah sudah tertata rapi kursi kursi segala macam keperluan beserta dengan orang yang melayat. Para pemuda mudi karang taruna sudah siap dengan tugas masing-masing membantu seminggu kedepan.
Almarhum mbah Dahlan sedang di mandikan oleh para laki laki. Sedangkan yang perempuannya menyambut pelayat. Hari ini begitu mendung melukiskan perasaan keluarga mbah dahlan saat ini. Redup dengan sedih yang tak bisa digambarkan oleh sesuatu hal.
Tak lama kemudian, datanglah paman Wisnu dan keluarganya dari Tangerang. Mereka berangkat kemarin malam. Berangkat sekitar jam 10an karena mendapat kabar duka tersebut.
Jam di dinding Sudah menunjukkan jam 8 pagi, semuanya sudah siap untuk mengantarkan jenazah Mbah Dahlan. Tapi terjeda karna Ayah ahmad sedang mencoba menghubungi putri pertamanya yang belum kunjung bisa dihubungi. Kemarin malam, beliau tidak jadi menghubungi karena sudah malam. Bahaya sekali bagi Dila sendirian dari Jogja dengan motornya.
"ayah, mungkin mba sedang kuliah jam pagi."ucap Dayu yang melihat ayahnya mencoba menelpon mbanya itu.
__ADS_1
"tapi mba mu harus tahu tentang hal ini....."ucap ayah Ahmad yang meletakkan hp nya lalu membetulkan kopyahnya.
Bersambung...