Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz

Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz
GPHSU : Akhirnya Lamaran


__ADS_3

Akhirnya malam sudah tiba dengan tandanya sholat magrib baru saja di selesaikan. Dila sedang menonton video dari youtube milik nya dan juga 2 sahabatnya itu.


Ternyata baru di posting sejak jam 5 tadi tentang wisuda dan sebelum berangkatnya ia ke Jakarta sudah banyak yang menonton. Pastinya para subcriber setia vlognya itu sekitar kurang lebih 1 juta orang. Yang membantu mereka mengedit adalah mba dinda. Ia sangat ingin melihat secara langsung acara tersebut lalu dibuat video yang akan dipost di youtube.


Sementara dibawah.....


tok...tok...tok


ketukan pintu terdengar. Sepertinya tamu mereka sudah datang. Umay pun membuka pintu rumahnya lalu mempersilahkan masuk tamu yg ditunggu tunggu itu. Semuanya sudah siap dengan memakai baju khas batik. Begitupun juga tamu tersebut.


Tamu itu adalah keluarga inti Ustadz Alfi yg datang untuk tujuan melamar secara tertutup. Kemudian mereka pun salam salaman. Di ruang tamu hanya ada orangtuanya dila, umay dan paman wisnu. Sedangkan sisanya ada di dapur.


"silahkan dinikmati dulu makanannya."ucap ayah ahmad yg iyakan oleh mereka.


"apa kabar ahmad dan keluarga?"ucap kakeknya Ustadz Alfi.


"alhamdulillah baik abah"jawab ayah Ahmad yg menanggapi ucapan tersebut.


"bagaimana kabar keluarga juga abah?"tanya ayah ahmad kembali.


"alhamdulillah mereka semua baik baik saja. tenanglah, pada kebal"canda kakek ilham. semuanya terkekeh geli. Makanan dan minuman sudah mulai dinikmati. sekitar beberapa waktu, abi abdrurahman membuka acaranya.


"bismillahirrohmanirrahim, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"ucap abi abdurahman.


"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh"serempak semuanya.


"langsung saja keintinya. Sebelumnya apa keluarga menyetujui bahwa putra putri kita terikat ikatan suci yaitu pernikahan?"ucap Abi Abdurahman. Sebelumnya kan harus ada kata pembukanya hihi.


"kami setuju setuju saja. Apapun demi anak anak kami yg pastinya terbaik. Tentu saja orangtua harus menyetujuinya. Tapi apapun keputusan anak kami nanti tetap akan mendukung "balas Ayah ahmad yg membuat semuanya tersenyum.


"baiklah. Kita lanjutkan dengan menghadirkan dila diantara kita."ucap Abi abdurahman.


Bu mira pamit untuk menjemput putrinya di atas. Saking asyiknya menonton, dila bahkan tidak mendengar ketukan pintu. Pintu terbuka dengan munculnya bu mira di depannya. Lebih tepatnya saat dila mengalihkan pandangannya sedikit keatas dari layar laptopnya. Dila pun terkejut akan kehadiran bu mira yg memakai batik rapi dengan hijabnya.


"eh..hehe ibu ngagetin aja. Ada apa bu?"ucap dila yg tersenyum kikuk .


"siap siap nduk. Pakai ini dan sedikit mempoles wajahmu agar fress."ucap bu mira yg memberikan gamis yg ia beli untuk acara lamaran ini .


Laptop tertutup dengan dila mengambil gamis itu lalu berpikir untuk apa ini dipakai. Apakah ada acara penting?. Mau bertanya tapi bu mira langsung mendorongnya kedalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Tidak perlu waktu lama, dila keluar dengan baju gamis yg dipakaimya namun masih menggerai rambutnya dulu dan kemudian menguncirnya.


"bu, kita mau kemana ? Koq pakai seperti ini."tanya dila penasaran dengan apa yg terjadi.


"kamu akan tau juga nanti karna ini ada hubungannya dengan hadiah ayahmu nduk. Dan siap siap pakai hijabmu"ucap bu mira yg sudah mempoles putrinya lalu menyuruh memakai kerudung . Setelah itu barulah mereka berdua turun dari lantai atas.


"tapi kan bu. Aku pengen tahu"ungkap Dila.

__ADS_1


"udah nanti juga tahu, sekarang ayo kebawah"balas Bu Mira.


"ya Allah pakai rahasia rahasiaan sih bu."cemberut Dila yang disambut tawa kecil dan cubitan gemas di pipinya oleh sang ibu.


Melanjutkan perjalanan menuju kebawah. Semuanya pun melihat kearah tangga yg menampakkan 2 orang yg dinanti. Dila memakai gamis berwarna coklat begitupun kerudungnya. Lagi lagi Ustadz Alfi melihat Dila yang membuat jantung berdetak tak teratur dari biasanya.


"masya Allah, cantiknya ia pakai gamis itu. Astaghfirullah, aku sampai khilaf menatapnya lama"batin Ustadz Alfi yang menundukkan pandangannya.


Duduklah Dila diantara ayah dan ibunya. Begitupun berhadapan dengan Ustadz Alfi. Jujur Dila tidak sengaja memergoki bahwa laki laki yang menunduk saat ini menatapnya memuji tadi. Dan karena malu, Dila mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Alhamdulillah sudah berkumpul semuanya. Dan kami akan berterus terang saja. Bismillah apakah nak dila mau menerima lamaran dari putra kami Alfi ?"ucap Abi abdurahman yg membuat tangan dila yg gugup menjadi berhenti.


Loh?


Ada apa ini?


Eh, gimana maksudnya?


Kok?


Apakah betul yang terjadi di detik ini, sungguh terasa mimpi. Bahkan sekalipun tidak pernah berharap akan bersanding dengan seorang ustadz. Ustadz yang ada disekitar seperti mengajar ngaji di mushola saja, ia tidak pernah membayangkan apalagi ustadz terkenal. Tunggu apakah ini hadiah istimewa yg ayahnya janjikan.. Otaknya tiba tiba lemot.


"ma..maksudnya gimana?"tanya Dila dengan mata yang bingung menatap semuanya.


"begini, jadi tujuan kami kesini akan melamarmu nak sebab amanah dari almarhum mbahmu. Bahwa kamu dan Alfi harus menikah tapi bagaimanapun tetap semuanya adalah keputusanmu"lembut Umi Shita menjelaskannya. Tapi Dila tetap tidaklah mengerti.


"lupakan masalah amanah, saya bersama dengan keluarga hendak menyampaikan niat baik. Mau kah kamu menerima lamaran saya?"ucap Ustadz Alfi menatap Dila yang berada di depannya. Waw, ternyata Ustadz Alfi berani berkata seperti itu. Dan, Dila berhasil nyambung dengan keadaan.


"em.. Sebelumnya, terimakasih atas niat baik dari Ustadz. Tapi.. Apakah benar benar sudah dipikirkan kembali? Maksudnya memang ustadz mau punya istri seperti saya"ucap Dila yang menunduk tanpa berani menatap laki laki didepannya.


"tentu saja mau. Jika tidak setuju dengan amanah itu, saya tidak akan ada disini. Jujur, sejak kita bertemu saya tertarik denganmu. Apakah salah mencintai lawan jenis dan itu adalah kamu"ucap Ustadz Alfi yakin. Sontak Dila mengangkat wajahnya dengan polos bertanya kembali.


"loh, ustadz cinta sama saya?"tanya Dila seraya menunjuk dirinya sendiri membuat Ustadz Alfi tersenyum manis didepannya.


"iya, saya cinta sama kamu"timpal Ustadz Alfi.


Tolong Dila ingin bersembunyi dimanapun dan lubang apapun yang serasa cukup menutupinya saat ini. Ucapan tersebut membuat pipinya bersemu merah sebab malu karena ungkapan cinta dari sang idola.


Sedangkan yang lain hanya bisa mengulum senyum tertahan akan interaksi keduanya. Benar benar membuat gemas siapa saja yang berada disekeliling mereka berdua. Ustadz Alfi sepertinya keterusan menatap Dila dengan tersenyum tapi kakek Ilham segera bertindak.


"ekhem, Alfi"tegur Kakek Ilham. Sontak Ustadz Alfi menoleh kearah kakeknya dan tersenyum kikuk dengan teguran itu.


"baik. Sekarang sudah sangat jelas bukan maksud kedatangan kami nak. Jadi, apakah kamu mau menerima lamaran dari kami?"ucap Kakek Ilham menengahi tatapan kedua insan yang sama sama menunduk malu. Dila menatap kedua orangtuanya dengan tatapan penuh tanya.


"apapun keputusanmu kami semua akan mendukung nduk"ucap ayah ahmad yang memberikan lampu hijau untuk Ustadz Alfi.

__ADS_1


Dila terdiam kemudian menatap semua orang lalu yg terakhir menatap Ustadz Alfi. Semuanya yang ada di diri laki laki yang melamarnya adalah paket komplit no tipu tipu lagi kualitasnya. Itu membuat Dila meragu.


"aku tidak pantas untuk Ustadz yang terlalu sempurna sedangkan aku siapa"sendu dila membuka suara lagi.


"saya tidak menganggap diri ini sempurna karena masih ada kekurangan dan bisa saja berbuat dosa. Saya sudah memilihmu karena saya cinta kamu"Jelas Ustadz Alfi yang tampak begitu tulus menginginkan Dila menjadi istrinya.


"nanti jika sudah masuk jenjang lebih serius. Ustadz gak akan seperti yang lainnya kan, misalnya poligami"ucap Dila kembali dan melirihkan kalimat terakhirnya. Itupun membuat yang lainnya terkekeh kecil.


"tidak akan terjadi, kamu bisa pegang ucapan saya ini. Saya cinta kamu, mana mungkin berniat berbuat seperti itu. Walaupun poligami diperbolehkan tapi saya tidak mampu menjalankannya"ujar Ustadz Alfi dengan sedikit memberi pengertian untuk Dila.


Masya Allah, Fabi ayyi aalaaa'i rabbikumaa tukazzibaan. 3 kali pernyataan cinta itu terdengar. 3 kali ucapan keramat yang meluluh lantahkan dinding Dila yang masih meragu. Ustadz Alfi menyatakan 3 kali kata cinta untuknya. Sungguh, rasanya ribuan kupu kupu berterbangan di atas kepalanya saat ini.


"Ya Allah hamba menyerah untuk ragu menerima lamaran dari laki laki didepanku ini"batin Dila pasrah.


Semuanya tersenyum penuh arti mendengar Ustadz Alfi kekeuh dengan argumennya dan Dila akhirnya terdiam dengan semburat merah di pipi milik perempuan itu.


"ciee... Mba ditembak loh sama kak ustadz. Masya Allah, pipinya merah"ledek Dayu dengan iseng menoel pipi kiri mbaknya.


"iih dayu"rengek Dila yang menyingkirkan tangan jahil sang adik. Umay angkat bicara.


"diterima napa sih dek? Kasihan kl cintanya orang yg jarang tau tentang lawan jenis itu ditolak. Perlu berapa kali lagi Ustadz nyatain cintanya"ucap umay yang gregetan pengen ucap hamdalah dengan diterimanya lamaran itu. Semuanya pun tertawa bersama sedangkan Dila? Sudahlah jangan di tanya lagi wkwk.


Setelah menimbang nimbang sesuatu hal, Dila akhirnya sudah menerima semuanya. Sepertinya laki laki didepannya termasuk kedalam list kriteria suami idamannya. Dengan menghembuskan nafasnya perlahan dan mulai mengambil keputusan.


"bismillah, dengan restu ayah ibu. Dila terima lamaran dari Ustadz"ucap dila yg mantap dengan keputusannya seraya tersenyum manis menatap Ustadz Alfi lalu kemudian menunduk.


"Alhamdulillah, terimakasih"senyum bahagia Ustadz Alfi tersenyum dengan terus mengucap syukur di dalam hatinya.


"Alhamdulillah"ucap mereka serempak.


Kemudian Umi Shita memakaikan gelang di tangan kanan Dila. Beliau tersenyum selalu menatap sang calon menantu yang akhirnya tercapai juga keinginan mempersunting Dila jadi istri dari putranya.


"makasih sayang"ucap Umi Shita yang hanya didengar oleh Dila. Keduanya dengan posisi saling memeluk satu sama lainnya. Dila hanya membalas pelukan tersebut.


Sedangkan Kakek Ilham dan Ayah Ahmad bersalaman dengan wajah yang senang tiada tara. Benar benar kabar yang menggembirakan antar dua keluarga tersebut.


"pernikahan kalian akan digelar 6 hari dari sekarang. Tenang, kami sudah menyiapkan semuanya berikut resepsi"ucap Abi Abdurahman.


"kalau begitu, kami hanya bisa manut saja. Jika ada hal yang perlu di bantu, kami siap membantunya"timpal Ayah Ahmad.


"baiklah. Berarti kita akan jadi besan mas"ucap Abi Abdurahman senang.


"betul itu, semoga semakin mempererat tali silahturahmi"sambung Umi Shita.


Mereka semua larut dengan perbincangan random lainnya. Sedangkan calon pengantin hanya bisa terdiam mendengarkannya. Ustadz Alfi menggaruk tengkuknya yang tak gatal menatap Dila tersenyum kecil dengan kolaborasi diantara kedua keluarga mereka.

__ADS_1


"kenapa manis sekali senyumnya sih? Aku takut khilaf menatapnya terus"keluh Ustadz Alfi dalam hati.


Bersambung....


__ADS_2