
Jam di dinding Sudah menunjukkan jam 8 pagi, semuanya sudah siap untuk mengantarkan jenazah Mbah Dahlan. Tapi terjeda karna Ayah ahmad sedang mencoba menghubungi putri pertamanya yang belum kunjung bisa dihubungi. Kemarin malam, beliau tidak jadi menghubungi karena sudah malam. Bahaya sekali bagi Dila sendirian dari Jogja dengan motornya.
"ayah, mungkin mba sedang kuliah jam pagi."ucap Dayu yang melihat ayahnya mencoba menelpon mbanya itu.
"tapi mba mu harus tahu tentang hal ini....."ucap ayah Ahmad yang meletakkan hp nya lalu membetulkan kopyahnya.
Mereka pun menunggu sampai hampir jam 9 pagi. Tak lama hp yang diletakkan di meja pun bergetar. Lalu dengan segera ayah Ahmad langsung mengangkat telepon itu.
...nduk Dila Memanggil......
Dila
hallo assalamualaikum.
^^^Ayah ahmad^^^
^^^waalaikumsalam nduk. Kamu sedang apa?^^^
Dila
lagi di kampus yah. Memangnya kenapa ayah tadi hubungi aku?
(saat itulah ayah Ahmad meragu melanjutkannya. Bu Mira pun meyakinkan dengan mengangguk dan mengusap bahu suaminya. Ayah Ahmad menghela napas berat)
^^^Ayah ahmad^^^
^^^mm... Nduk, mbah meninggal.^^^
(Degg, 2 kata berhasil membuat jantung Dila berhenti berdetak seketika. Tak lama air matanya turun perlahan, yang membuat Caca & Vira bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.)
Dila
a..a...ayah se..rius??
^^^Ayah ahmad^^^
^^^Ayah sangat serius dan tidak berbohong.^^^
Dila
Innalillahi... Wa innaillaihi.... Ro jiun...
^^^Ayah Ahmad^^^
^^^sekarang kamu segera pulang nduk. Antar mbah ke tempat istirahat terakhirnya.^^^
Dila
__ADS_1
Aku... Aku akan langsung kesana. Langsung ke pemakaman...
(ucapannya bergetar dengan air matanyang ditahannya)
^^^Ayah Ahmad^^^
^^^Yaudah nduk...kl begitu hati hati kesininya assalamualaikum^^^
Telpon mati tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara, bagaimanapun seorang ayah akan teriris hatinya ketika putrinya menangis. Sementara itu Dila sudah berangkat menaiki mobil Caca bersama Vira segera meluncur pulang kearah rumahnya.
"mari dilanjutkan pak kyai ..." ucap ayah Ahmad.
" mari "balas pak kyai. Beliau adalah guru silat Dila dan pemilik pesantren di ponorogo Sampai sampai datangĀ hanya untuk melihat sahabatnya terakhir kalinya. Bahkan beliau tahu kakeknya Ustadz Alfi.
Mereka kemudian menuju kearah pemakaman yang jaraknya cukup jauh. Pemakaman dekat Masjid besar yang berada di desa sebelah.
Ustadz Alfi memilih pakai motor ayah Ahmad yang di boncengi Umay sebagai pemimpin jalan. Sementara yang perempuan tidaklah ikut selain Bu Mira karena dirumah nanti akan kosong. siapa yang akan menjaganya jiks semuanya ikut?.
Sesampainya dipemakaman, sudah disambut oleh kyai pemilik masjid dan 4 orang penggali kuburannya. Ternyata sudah siap dan bisa segera dimulai.
Ayah Ahmad dan paman Wisnu Serta Umay turun ke tanah. Ayah Ahmad mengadzankan terakhir kalinya dengan mencoba tetap setenang mungkin agar adzannya jelas terdengar. Setelah itu, dilepas tali putih dan tak lupa kayu menjadi ganjalnya. Setelah selesai, tubuh yang berselimutkan kain putih tersebut tertimbun dengan tanah. Sehabisnya, tidak lupa memanjatkan doa yang dilakukan oleh kyai pemilik masjid dekat pemakaman tersebut.
Proses pun sudah selesai saat Dila baru sampai di depan pemakaman itu dan langsung masuk disusul oleh caca dengan vira dibelakangnya. Harus diketahui, mereka bertiga masih menggunakan pakaian ke kampus pagi ini.
Saat sudah berada dekat dengan pusara almarhum, semuanya pun melihat serempak. Disana tersisa Ayah Ahmad, Paman Wisnu, Umay, Bu Mira, Kakek Ilham, Ustadz Alfi, Azzam dan Farhan. Sedangkan yang lainnya sudah kembali ke rumah.
Kembali lagi dengan keadaan di pemakaman hari ini...
"asalamualaikum"salam Dila dengan lirih. Tapi masih terdengar oleh semuanya.
"Waalaikumussalam"Jawab semuanya serempak. Balasan dari salamnya memang membuat Dila berpikir berulang kali. Namun ia terlalu fokus dengan keadaannya saat ini.
Caca dan Vira bertukar pandangannya. Mereka melihat Ustadz Alfi yang berada diantara mereka. Pikiran mereka pun menebak bahwa Dila mungkin saja tidak menyadarinya.
Dila menghampiri kedua orangtuanya dan menyalami paman Wisnu juga. Setelah itu, ia berlanjut menyalami Umay tapi dengan wajah yang menunduk. Memang ia sedang tidak menangis tapi jika melihat mata Umay pasti akan lemah.
Pusat perhatian Dila saat ini terpaku dengan nama di atas kayu nisan. Tiba tiba saja kenangan indah saat kecil berputar seperti film di benaknya. Ketika ia sedih, pasti mbahnya yang menghiburnya. Ketika ia gagal, pasti mbahnya yang menyemangatinya. Kini ia sadar, mbahnya telah pergi dan itu bagaikan pukulan telak dihatinya.
Luruhlah pertahanannya sedari tadi dan tak kuasa menahan air matanya lagi. Bahkan saat ini, air matanya jatuh dengan deras.
"mbah ... "ucapnya histeris memeluk kayu yang bertuliskan nama mbahnya dengan disertai kalimat "wafat" salah satu yang terdapat di kayu nisan tersebut.
"jangan tinggalkan dila mbah hiks hiks... Jangan pergi, mbah putri udh ninggalin,kenapa mbah juga... Hiks hiks ... "tangis yg akan membuat siapa saja tidak tahan ikut menangis kl begitu caranya. Umay pun mengelus kepala adiknya yang rapuh itu.
"legowo dek. Biarkan mbah bahagia disana. Kita hanya bisa berdoa."ucap Umay yang membuat dila menghentikan tangisnya lalu sekilas menengadah keatas.
Dila berdiri menghadap kakak sepupunya. Sungguh mata bertemu mata dengan Umay membuatnya ingin menangis kembali. Bibirnya mencebik persis seperti anak kecil kehilangan bonekanya. Lalu air matanya mengalir kembali.
__ADS_1
Umay memandang sendu Dila. Rasanya ia juga akan menangis ketika suara isakan tertahan dari adik sepupunya. Sungguh, ia tidak kuat lagi menahan sesuatu yang akan mengalir di pipinya. Dengan segera ia langsung memeluk Dila. Memejamkan matanya dan memberi sedikit kekuatan semampunya untuk adiknya.
Dila yang sehari seharinya tampil dengan wajahnya tegas namun ramah saja bisa menangis sesenggukan seperti ini, apalagi dirinya. Ketika matanya terpejam, ada air mata yang terjatuh di pipinya. Ternyata dengan ia menangis, tentu hatinya terasa lega. Tidak seperti tadi yang terasa sesak tak bebas bernafas.
Sementara mereka berdua saling memberi kekuatan, ada hatinya yang sesak menahan untuk tidak bertindak sembarangan. Ustadz Alfi sangat merasa sedih ketika Dila menangisi almarhum mbahnya. Namun, ia tidak bisa memberikan sekedar kekuatan dan menenangkan kesedihan itu. Mau peluk juga belum hallalan toyibah, duhh kasihan banget hehe.
"ya Allah, hamba ingin menjadi sandarannya. Tapi ia belum halal untukku"batin Ustadz Alfi frustasi
"kita pulang ya? gak baik kl disini lama lama"bujuk Umay yang sudah merasa tenang dan lebih baik. Dila terlebih dahulu melirik kedua orangtuanya. Ayah Ahmad mengangguk lalu tersenyum. Dila kemudian mengerti lalu membalas ucapan Umay dengan mengangguk. Kemudian semuanya meninggalkan pemakaman dan menuju rumah.
Sesampainya dirumah, Dila masih saja melamun dan menunjukkan hal aneh kepada semua orang. Bahkan ia ditegur atau bagaimana pun juga tidak akan meresponnya. Tapi mereka yang menegur, semuanya paham akan kesedihan mendalam yang dialami Dila saat ini.
Dila fokus dengan acara mencuci tangan, kaki, serta wajahnya. Semuanya setia menunggu sampai Dila selesai. Kemudian saat Dila selesai dan berjalan dengan pandangan kosong menuju kamarnya, mereka bergantian untuk melakukan hal yang sama.
"caca, vira terima kasih telah mengantar dila yaa. Maaf merepotkan kalian" ucap bu mira.
"ah, tidak masalah bu. Ini sudah menjadi kewajiban kami untuk mengantarnya. Bagaimanapun, Dila adalah sahabat kami jadi tentu tidak merepotkan."ucap Vira.
"iya bu. Tidak merepotkan sama sekali. Oiya kami turut berduka cita atas meninggalnya almarhum mbah."timpal Caca.
"Ya ampun, iya terimakasih ya nak. Kalian baik sekali"balas Bu Mira.
"sama sama bu. Oiya ini laptopnya Dila yang tertinggal di mobil. Kami akan menginap dan tahlilan juga disini. Kemungkinan caca sama vira besok menginap sampai 7 hari."ucap Vira yang baru kembali dari dalam mobil kemudian diangguki oleh Caca.
Mereka tidak mau menjadi sahabat yang hanya ada saat suka tapi juga duka. Bagaimana Dila tadi memohon begitu sangat padanya, Bagaimana rasa sedih itu yang begitu dalam dari mata bening sahabatnya. Mereka berdua harus bisa membawa kembali senyuman ramah itu yang hilang seperti asap terkena air hujan.
" baiklah, caca dan vira sudah makan? Mari makan bersama..."tawar bu mira.
"hmm.. Tidak bu. Karna baru sebelum mendapat kabar, kita sudah beli makanan."ucap vira yg menanggapi tawaran bu mira.
"boleh tidak kami makan sembari menemani Dila?"tanya Caca ragu.
"tentu saja boleh sayang. Silahkan kedalam."senyum bu Mira menyakinkan keraguan tersebut.
Caca & Vira langsung pamit lalu membawa makanan mereka ke dalam. Lebih tepatnya kedalam kamar Dila. Tapi ternyata Dila tertidur, mereka memutuskan untuk makan dengan tanpa suara sebab Dila tertidur pulas sekali.
"Dek siapin makanan, kita makan sekarang saja."perintah ayah ahmad yang diangguki oleh Bu Mira.
"baik mas"sahut Bu Mira lalu pamit untuk menyiapkan makanan untuk makan bersama di teras belakang karena hanya ada karang taruna sebagian sedang ngobrol di Jalan yang ada mobilnya itu.
Dayu, aisyah dan umi shita membantu bu mira. Yang para laki lakinya menunggu di teras belakang asik berbicara namun tidak dengan Ustadz Alfi yang sedikit mendung mukanya. Ia hanya menanggapi ucapan yang lainnya dengan senyuman saja untuk menghormati lawan bicaranya. Umay hanya bisa memakluminya.
"sabar ya ustadz, saya tahu kamu masih merasa sedih karena tidak bisa memeluk adik sepupuku"bisik Umay yang berada disebelah Ustadz Alfi.
Mata Ustadz Alfi seketika terbelalak kaget dengan ucapan tersebut. "bang, apakah terlalu ketara"balasnya yang juga berbisik.
Umay hanya bisa tertawa kecil. Sedangkan Ustadz Alfi yang kepergok dan jujur, meringis malu dengan ucapan Umay. Ah sudahlah...
__ADS_1
bersambung....