Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz

Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz
GPHSU : SAH 2


__ADS_3

Acara Akad Nikah sudahlah selesai, Ustadz Alfi mengajak Dila untuk istirahat sebelum acara selanjutnya. Pasti acara selanjutnya bakal lebih extra tenaga, karena akan banyak tamu yang bertemu dengan mereka berdua.


"kamu gak mau mandi duluan dek?"tanya Ustadz Alfi yang melihat Dila sedikit tidak nyaman bergerak sebab baju pengantinnya terlalu panjang.


"em.. Ustadz aja duluan, nanti baru Dila"ucap Dila mencoba tersenyum ditengah tengah ketidaknyaman. Sebenarnya bukan sebab baju pengantin, tetapi akibat posisi mereka berdua di dalam ruangan tertutup seperti didalam kamar ini.


"baiklah"singkat Ustadz Alfi. Ia melepas apa yang ada di kepalanya. Terlihat rambut berantakan setelah kopyahnya dilepas dan membuat Dila mengalihkan pandangannya. Pemandangan yang membuat jantungnya bereaksi kembali.


"berantakan aja kelihatan ganteng. Kyaa"suara hati Dila yang terhebohkan tanpa bisa di ungkapkan.


Ustadz Alfi telah masuk kedalam kamar mandi, dila bernafas lega sebab itu. Untuk menunggu, ia mencoba melepas semua hiasan dikepalanya dan berbagai perintilan lainnya. Ah memang butuh perjuangan juga, apalagi jika memasangkannya. Kl tidak hati hati bisa tertusuk jarum pentul.


Dengan kesabaran yang luar biasanya, Dila baru berhasil melepas mahkota dikepalanya dengan beberapa jarum pentul. Namun ternyata jarum pentul tersebut masihlah banyak untuk mengaitkan ronce melati disela sela hijabnya. Masya Allah, benar benar butuh kesabaran.


"duh susah melepasnya."monolog Dila yang meraba kepalanya tapi penglihatan mata tidaklah sampai.


Ustadz Alfi sudah selesai mandi dengan memakai kemeja berwarna hitam mengeringkan rambutnya yang tadi habis keramas. Netranya menatap Dila yang nampak kesusahan melepas untaian kembang melati.


"dek dila"tegur Ustadz Alfi yang berjalan mendekat kearah cermin. Dila akhirnya berhenti dengan kegiatannya lalu menatap bayangan tinggi laki lakinya.


"e... Ustadz udah selesai mandinya ?"tanya Dila gugup saat didekati dengan jarak sedekat ini.


"sudah."senyum Ustadz Alfi yang serius dan dengan penuh sabar melepas jarum pentul yang mengait untaian kembang melati di antara hijabnya.


Akhirnya terlepaslah untaian kembang tersebut bersama dengan kain transparan berwarna putih yang ternyata nyangkut di untaian itu bukan di mahkotanya. Dila bernafas lega karena berhasil. Yah walaupun dengan bantuan Ustadz Alfi.


"Terimakasih ustadz udah bantu dila"ungkap Dila.


Ustadz Alfi merasa sedikit tidak suka akan panggilan yang di ucapkan Dila. Ia kan sudah menjadi suaminya, kenapa memanggilnya masih sama seperti sebelumnya. Sedangkan ia sudah memanggil dengan panggilan 'sayang' ke Dila.


"oh mungkin dek dila belum terbiasa. Nanti saja, jangan memaksanya"pikir Ustadz Alfi.


"iya sama sama."balas Ustadz Alfi yang kemudian meletakkan handuk di tempat yang semula di dekat lemari.


Dila merasa gregetan dengan rambut berantakan milik Ustadz Alfi yang mengganggu jantungnya. Kenapa tidak dirapikan dengan sisir sih? Bikin gagal fokus aja, pikirnya.


Ia mengumpulkan keberaniannya dengan segera menggenggam tangan yang lebih terasa besar dari tangannya. Lalu menuntun tangan tersebut menuju meja rias. Sedangkan Ustadz Alfi yang digeret mendadak menghentikan tangannya hendak mengambil minyak wangi di lemarinya.


Ustadz Alfi diam dan menurut atas perlakuan Dila untuknya. Ia melihat dila mengambil handuk kembali dengan telaten mengeringkan rambutnya. Setelah dirasa kering dan tidak menetes airnya, akhirnya Dila menyisir rambutnya dengan hati hati.


"kan rapi kalau disisir seperti ini, lalu air yang mengalir dari rambut akan membasahi kemeja jika tidak dikeringkan dengan baik."terang Dila yang lebih tepatnya serasa bicara dengan rambut hitam nan legam milik Ustadz Alfi.


"perhatian sekali denganku dek. Terimakasih"senyum Ustadz Alfi yang menatap cermin. Terlihat Dila menatap cermin juga. Ya ampun, wajah Ustadz Alfi seperti anak kecil yang senang ketika ibunya menyisir rambut miliknya dengan perhatian seperti itu.


"pesonamu mas"gumam Dila yang ikut tersenyum akibat wajah senang yang ditampilkan oleh Ustadz Alfi. Tanpa sadar memanggil dengan sebutan itu.


"kamu panggil aku apa dek?"


"ah... Aku tidak memanggilmu apapun. Ustadz salah dengar"


"ayolah ulangin lagi"


"enggak ada apa apa ustadz. Memangnya aku panggil apa"


"ish... Panggil aku sesuai apa yang tadi kamu panggil."

__ADS_1


"ustadz, dila gak manggil apa apa kok"


"dek, aku mohon. Aku sudah memanggilmu panggilan sayang tapi kamu tidak memanggilku dengan panggilan sayang versimu."


"ustadz...aku..."


"ayolah sayang. Aku mohon"


Begitulah percakapan un faedah mereka tentang panggilan. Dila terdiam dan pipinya bersemu merah akibat ucapan terakhir Ustadz Alfi. Ternyata Ustadz Alfi dari tadi yang berpikir 'jangan memaksanya' akhirnya malah tidak mau sedikitpun melewatkan ucapan dila yang tadi.


"kalau kamu tetap mau memanggilku ustadz. Baiklah, aku akan melarang semua orang memanggil seperti kamu memanggilku"ucap Ustadz Alfi sedikit kecewa ketika benar benar melewatkan panggilan dila padanya.


"ya gak bisa gitu dong"lirih Dila.


"panggil aku dengan panggilan versimu atau kamu panggil aku sayang juga boleh. Hayo pilih yang mana?"senyum Ustadz Alfi penuh arti.


"gak ada pilihan lain selain itu, ustadz?"tawar Dila.


tuk..


"aww, sakit"keluh Dila yang mendapat sentilan pelan di keningnya yang dihadiahi oleh Ustadz Alfi.


"kamu nawar aja kayak dipasar. Aku suami kamu loh bukan tukang ayam."ucap Ustadz Alfi terkekeh kecil.


"hehe, maaf"malu Dila


"panggil aku dengan versimu dek dila"pinta Ustadz Alfi menarik Dila dalam pangkuannya. Ia memeluk erat seakan akan dila mau lepas dari jangkauannya.


"lepasin dila, ustadz"mohon Dila mencoba keluar dari pelukan tersebut. Cemberut sebab tidak terlepas dan usahanya sia sia karena tenaga yang dimiliki tidak cukup memadai.


"em.. Aku belum mandi. Mas, nanti bajunya kotor lagi."ceplos Dila yang tanpa sadar mengeluarkan panggilan tersebut.


"Alhamdulillah, akhirnya... Panggilan yang bagus dek, Mas suka hehe"ucap Ustadz Alfi yang senang tidak terkira. Lalu melepaskan dila dari pangkuannya dan tersenyum senyum sendiri berjalan keluar dari kamar.


Dila terbengong sepi dengan mengerjap matanya melihat Ustadz Alfi hilang dari pandangannya. Ia merasa dirinya sangatlah pasrah dan menjadi penurut didepan suaminya. Padahal kalau ia bilang A maka akan tetap A. Tapi jika dengan Ustadz Alfi dirinya akui kalah. Ustadz adalah pawangnya Dila nih wkwk


"duh, dasar ceroboh"pikir Dila menepuk keningnya pelan sambil merutuki dirinya yang keceplosan. Ia segera mandi dan mengganti pakaiannya dengan gamis biasa.


##.. Skip.. ##


Acara walimah akan segera dilaksanakan. Semuanya kembali bersiap untuk menyambut tamu undangan. Acara ini akan dilaksanakan di Aula masjid yang berada tepat di depan gerbang rumah Ustadz Alfi.


Masjid yang dibangun sejak Ustadz Alfi masih kecil dan menjadi lebih besar sejak Ustadz Alfi kuliah di Mesir. Benar benar masjid yang menjadi fase pertumbuhan Ustadz Alfi hingga saat ini. Masjid tersebut memiliki 2 lantai. Dibawah adalah aula sedangkan di atas adalah tempat ibadahnya. Terdapat pagar yang menutupi masjid dengan begitu indahnya dan dilengkapi dengan parkiran yang sebenarnya tidaklah luas sebab digunakan untuk tempat wudhu yang melingkari bangunan masjid tersebut.


Kini aula masjid terbuka lebar dengan memperlihatkan tampilan dekorasi acara walimah. Sebenarnya tamu yang diundang tidak lah terlalu banyak karena jam 4 nanti Aula masjid benar benar telah bersih dan kembali rapi seperti semula. Sebab akan ada anak anak yang mengaji di dalam aula.


Kembali lagi dengan persiapan diantara kedua keluarga yang kini menjadi satu. Para orangtua sejak tadi sudahlah siap dan tinggal menunggu kesiapan dari para anak muda. Sahabat Dila sudah berada dihalaman rumah yang pagarnya terbuka ini bersama Dayu dan Syafa menyusul. Sedangkan Aisyah sedang mandi kembali di dalam kamarnya sebab dirinya halangan saat sudah melaksanakan sholat dzuhur jadilah ia lebih lama bersiap.


"Alfi dan Dila masih bersiap umi ?"tanya abi abdurahman.


"iya bi, mereka sebentar lagi siap. Tapi kita duluan saja, sebab Alfi bilang bahwa tidak enak membuat kita menunggu mereka."jawab Umi Shita.


"loh kenapa umi?"tanya Aisyah yang sudah berada di antara mereka.


"itu tadi MUA nya izin makan dahulu sehabis sholat Dzuhur jadi Dila belum siap. Nak Alfi didalam menunggu dan udah siap juga. Kita duluan saja"timpal Bu Mira yang membantu Umi Shita menjelaskannya.

__ADS_1


"baiklah, ayo kita kesana"ucap Kakek Ilham yang mengajak semuanya segera menuju Aula masjid.


Sampai 15 menit berlalu akhirnya Dila dan Ustadz Alfi sudah siap. Semua tamu juga sudah tak sabar menunggu penampilan dari kedua pengantin yang baru tadi pagi hari mengikat janji suci. Para tamu terdiri dari keluarga Ustadz Alfi, keluarga Dila, para sahabat keduanya, dan sebagian perwakilan pengagum sang Ustadz.


Kenapa mereka diundang, karena ini permintaan Ustadz sendiri bahwa mereka yang pernah menganggap sosok Dila akan mengetahui aslinya Dila itu seperti apa. Ia sungguh tak terima jika wanitanya di hujat seperti waktu itu. Oleh karena itu, mereka harus kenal lebih dekat sosok Dila yang sebenarnya.


Suara langkah kaki terdengar dikala sunyi menunggu sang pemeran utama di hari ini. Mereka semuanya terkesima dengan kedua pasangan yang bergandeng tangan melangkah dengan penuh senyuman kepada seluruh tamu yang hadir. Dila memakai baju pengantin yang berwarna cream dengan Ustadz Alfi yang memakai jas senada membuat mereka berdua tampak serasi.


"serasi sekali mereka"


"benar benar pasangan yang cocok ya"


"Senyuman Ustadz Alfi tampak berbeda dan lebih lepas jika bersama dengan gadisnya."


"gadis yang menjadi pasangan Ustadz ternyata murah senyum dan tidak sesuai yang dirumorkan"


"tuh perhatikan deh, makanya jangan suka nyinyir di media sosial. Lihat dulu aslinya, gadis yang dipilih Ustadz tentu baik dan sudah terjamin"


"inget gak sih, ustadz Alfi pernah salah sebut nama. Nama istrinya ternyata."


Begitulah bisik bisik tetangga dari para tamu. Benar benar membuat dila bersyukur jika dirinya diterima secara tangan terbuka oleh para tamunya. Ustadz Alfi menggenggam tangan Dila yang menggandeng tangannya tadi. Dila sontak menatap laki lakinya.


"Percaya dirilah saat ini dek, ini acaramu."bisik Ustadz Alfi yang membuat Dila tersenyum haru. Tapi segera ia terbitkan senyuman yang terhangat olehnya.


"tapi jangan lebar lebar senyumnya"lirih Ustadz Alfi yang sedikit cemberut ketika sudah sampai di pelaminan.


"loh tadi katanya harus senyum bahagia mas?"bingung Dila yang sepenuhnya menatap Ustadz Alfi.


"senyummu hanya milikku. Jangan lebar lebar."ucap Ustadz Alfi yang mencubit gemas pipi Dila saat ini.


"mas, sakit tahu"keluh Dila yang gantian cemberut.


"habisnya gemes banget. siapa sih ini?"goda Ustadz Alfi mencairkan suasana.


"Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz"ucap Dila menahan senyum.


"siapa nama Ustadznya?"ledek Ustadz Alfi semakin gencar.


"Mas Ustadz Alfi Yusuf Al Fahri"jawab Dila.


"pinter deh, dek Dila. Kl nurut kan jadi manis, gula aja kalah sama senyuman kamu sayang"ucap Ustadz Alfi.


Dila tersenyum malu dengan pipi yang memerah lalu menepuk pelan lengan laki lakinya untuk menanggapi ucapan tersebut. Baru ia ketahui ternyata laki lakinya ini suka menggombal.


"aduh manten, mesra mesranya nanti dulu yaa. Kita mau ucap selamat untuk kalian dulu"sindir Ayah Ahmad yang membuat semua para tamu ikut tertawa.


Mereka sudah berbaris tanpa disadari oleh keduanya yang asik berbicara. Ustadz Alfi terkekeh kecil saat melihat Dila menutup wajahnya dengan bunga tulip biru kesukaannya akibat ucapan Ayah mertuanya.


"aduuh dek dila gemesin banget sih. Mas jadi pengen kurung kamu aja dirumah"bisik Ustadz Alfi yang mendapat cubitan di lengannya.


"astaghfirullah sakit dek"keluh ustadz Alfi yang mengelus lengan kirinya.


"syukurilah setiap apa yang diberikan kepada kita mas ustadz"senyum meledek Dila. Ia nampak tak mau kalah sama laki lakinya. Ah sudahlah yang lain ngontrak aja deh, karena seluruh dunia seakan milik berdua si manten baru ini wkwk


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2