Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz

Gadis Pemilik Hati Sang Ustadz
GPHSU : Mulai Meragu ??


__ADS_3

"umi, abi. Kalian disini"sapa seseorang yang berdiri tak jauh dari tangga.


Kemudian berjalan mendekat kearah mereka yang berada di ruang tamu. Suasana hening mendadak menjadi sedikit cair karena adanya seseorang itu.


"Dila"ucap Umi Shita.


Iya, itu adalah Dila. Ia menegur atau menyapa Umi Shita dan Abi Abdurahman. Ia sedikit terkejut dengan kedatangan keduanya tapi jika dipikirkan kembali tadi Umay mengatakan dengan tegas bahwa kasus postingan itu harus di adukan kepada ustadz Alfi.


Dila hanya bisa pasrah menerima apa yang dilakukan kakak sepupu laki lakinya itu. Apapun yang dilakukan pasti baik untuknya. Wajahnya sedikit fress dari yang tadi sebab karena sehabis mandi kembali. Dengan takdzimnya, ia mencium tangan Umi Shita.


Mata Umi Shita terus melihat kearah tangan Dila. Tangan yang dimana kemarin beliau memakaikan gelang khitbah di tangan calon mantunya itu. Terlihat masih terpakai dan itu membuatnya sedikit lega. Tapi tetap saja tidak bisa mengurangi rasa khawatir jika nanti pada akhirnya gelang itu terlepas.


"ya allah jangan sampai itu terjadi."batin Umi Shita memohon.


"kamu baik baik saja nak?"tanya Umi Shita yang melihat dalam wajah ayu Dila yang terlihat lebih fress.


Dila mengangguk. Ia mengatakan baik baik saja dengan semua hal yang terjadi. Namun hatinya, siapa yang tahu selain dirinya bukan. Umi Shita menjadi sedih akan itu. Dulu ia pernah seperti Dila. Di hujat tidak cocok bersanding dengan pasangannya.


Itu semua sebab dirinya menerima jalur ta'aruf dari kakek Ilham sang pemilik pondok pesantren. Umi shita adalah santriwati yang beruntung bisa menikah dengan seorang gus yaitu Abi Abdurahman.


Hujatan yang membuatnya bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa sakit hati itu pada siapa yang ia kenal. Berhari hari, ia selalu menghindari pertemuan dengan Abi Abdurahman. Sejak saat itu, jalur ta'aruf yang mereka jalani digagalkan. Tapi langsung menjadi khitbah lalu menikah.


Omongan orang bisa saja membuat hubungan orang lain menjadi runyam. Kadang membuat pertengkaran yang dialami orang yang mereka omongkan. Tidak ada satupun yang tidak akan sedih jika mendapat omongan pedas dari orang lain. Jadi seharusnya hujat menghujat tidak boleh terjadi. Apalagi ini menuju sah, akan terjadi sesuatu yang tidak terbayangkan atau tidak direncakan sebelumnya.


"benarkah baik baik saja? Jangan berbohong nak. Tenang saja, Alfi sedang mengurusnya. Kalian akan tetap memiliki ikatan"terang Umi Shita. Bu Mira saat ini tidak ikut campur, belum saatnya ia membuka suara. Apalagi ini menyangkut kehidupan anaknya kelak.


"Dila mau terimakasih karena diurus masalahnya. Tapi ada sedikit yang mau Dila sampaikan sama Ustadz"ucap Dila. Semuanya menoleh kearahnya seksama.


"apapun itu, umi bisa menyampaikannya."seru Umi Shita yang tersenyum lembut menyakinkan perempuan didepannya. Walau hatinya saat ini deg degan tidak karuan.


"maaf umi, bolehkah Dila sendiri yang menyampaikannya. Izinkan aku berbicara berdua dengan ustadz."ucap Dila berharap.


"bukan maksud abi melarangmu. Tapi kalian belum boleh berduaan. Nanti akan timbul fitnah diantara kalian"Abi Abdurahman tiba tiba angkat bicara.


"aku mohon abi. Jika ini terus berlanjut dan berkembang, aku tak mau resah hati. Ada hal yang harus aku tanyakan sendiri. Nanti juga akan berbicara dengan jarak yang aman. Bolehkah Dila berbicara hanya 5 menit saja"pinta Dila.


Abi Abdurahman terdiam. Beliau nampak menimbang nimbang permintaan calon mantunya. Sedangkan Umi Shita, ia mengangguk memperbolehkannya. Lagipula mereka tidak akan benar benar berdua saja. Kan ada mereka yang menemani di jarak yang membuat kedua insan tersebut nyaman berbicara.


"baiklah. Abi akan telpon Alfi segera. Kamu tunggu yaa"simpul Abi Abdurahman yang sedang mengetik nomor anak sulungnya.


#...skip...#


Ustadz Alfi sedang fokus memilah milah postingan yang berisi hujatan untuk calon istrinya namun terus saja postingan tersebut tidak selesai selesai. Mereka bertiga sudah cukup frustasi akan semuanya.

__ADS_1


Tiba tiba bunyi dering ponsel yang berada tak jauh dari ustadz Alfi berdering. Azzam yang melihat sahabatnya terlalu serius membantu mengangkat telpon tersebut. Apalagi ini dari abi sahabatnya. Mungkin ada yang penting,pikirnya.


...Abi calling......


Abi


Hallo Assalamualaikum


^^^Alfi (Azzam)^^^


^^^Waalaikumussalam abi^^^


Abi


Loh, Alfi mana zam? Kok kamu yang ngangkat?


^^^Alfi (Azzam)^^^


^^^Alfi lagi sibuk bi, postingan itu tidak selesai selesai^^^


Abi


Oh, serahkan ponselnya ke Alfi. Abi mau bicara


^^^Alfi (Azzam)^^^


("Al, ini abi nelpon. Mau bicara katanya"ucap Azzam. Ustadz Alfi menoleh dan mengangguk setuju. Akhirnya ponsel sudah berada ditangan sang pemiliknya)


^^^Alfi^^^


^^^Iya bi, ada apa ?^^^


Abi


Kamu sekarang ke rumah Umay ya Al. Dila mau bicara sesuatu denganmu.


^^^Alfi^^^


^^^Bicara apa?^^^


Abi


Datanglah nak. selesaikan ini dulu, nanti azzam dan farhan yang memantau sementara.

__ADS_1


^^^Alfi ^^^


^^^Baik abi, Alfi akan kesana^^^


Abi


Yasudah. Hati hati dijalan yaa. Wassalamualaikum


^^^Alfi^^^


^^^Waalaikumsalam abi ^^^


Ustadz Alfi terdiam. Pikirannya melayang dan terus negatif thinking. Nanti apa yang dibicarakan mungkin berhubungan dengan postingan itu. Apakah ia akan gagal melewati ujian sebelum nikah ini?


"apakah ia mulai meragu?"batin Ustadz Alfi melamun.


Itupun membuat Farhan dan Azzam merasakan sedikit kecemasan hati yang dirasa oleh Ustadz Alfi. Kenapa ketika sahabat mereka ingin melangkah menuju sah harus ada ujian seperti ini.


"bang, saya pamit. Assalamualaikum"pamit Ustadz Alfi. Tangannya sibuk memasukkan ponsel dan dompetnya kedalam kantong celana. Lalu mengambil kunci mobil dimeja sebelahnya.


"waalaikumussalam"balas Farhan dan Azzam.


Ustadz Alfi mengendarai mobil sendiri dengan kecepatan sedang. Pikiran memanglah resah tapi semampunya harus tetap fokus sama jalan didepannya. Sampai setelah tiba dirumah Umay, ia pun tidak langsung masuk ke dalam.


"apa yang bakal dibicarakan ya?"monolog Ustadz Alfi.


Lalu membunyikan klaksonnya tiga kali. Ia menunggu seseorang membukakan pagar rumah Umay. Awalnya ia tadi sangat was was karena tak sengaja melihat para paparazi di berbagai tempat di daerah kompleks Umay.


Setelah dibuka pagarnya, Ustadz Alfi langsung memasukkan mobilnya kedalam pagar lalu memarkirkan dengan benar. Ketika membuka pintu mobilnya, ia disambut oleh Umay.


"assalamualaikum bang"salam Ustadz Alfi.


"waalaikumussalam ustadz"balas Umay dengan sopan. Bagaimana pun ia harus menjaga perasaan ustadz Alfi saat ini. Tentu ia tahu jika laki laki yang tersenyum tipis ini punya kekhawatiran.


Mereka masuk ke dalam dengan beriringan. Umay dan Ustadz Alfi seperti kakak beradik jika berjalan bersama sama. Ustadz Alfi memakai baju koko berwarna biru dongker sedangkan Umay memakai kemeja biru dongker. Yang menyamakan mereka adalah celana bahan berwarna hitam.


Ustadz Alfi menyalimi orang tuanya lalu ke Ayah Ahmad dan paman Wisnu. Lalu duduk diantara mereka dan tatapannya sekilas melihat kearah Dila yang betah menunduk saat ia datang.


"em.. Kalian berbicara saja dulu. Tanyakan dan Jawablah dengan sebenarnya. Selesaikan masalah kalian, kami akan menunggu disebelah sini. Silahkan"ucap Abi Abdurahman.


Dila mengangguk lalu berjalan kearah sofa sedikit jauh dari perkumpulan keluarganya. Ia berjalan kearah sofa yang bertolak belakang posisinya. Sementara Ustadz Alfi, mengikut dibelakang dan duduk membelakangi Dila.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2