
Masih di hari yang sama....
Setelah banyak pembicaraan non faedah apalagi aksi hobby Ustadz Alfi yang ngeselin, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Tidak disadari oleh keduanya, jika hari ini adalah hari Jumat. Lihatlah Dila merasa khawatir jika Ustadz Alfi telat karena jalan raya sudah mulai terasa padat. Ia tidak mau sebab dirinya laki laki yang sedang fokus menyetir terlambat sholat Jumat. Walaupun masjid tersebut berada tepat didepan pagar rumah mereka.
"jangan memikirkan itu, Insya Allah gak bakal telat. malah ada banyak waktu untuk siap siap"seru Ustadz Alfi tiba tiba. Dila mengangguk paham dan melihat kearah jendela mobil. Bagaimana tidak khawatir telat, kendaraan padat dan lampu merah tidaklah mendukung. Sangat lama berganti warna.
"tanpa diberitahu, isi hatimu tertebak begitu saja. Mas merasa jadi cenayang hehe"batin Ustadz Alfi tersenyum sendiri.
"tuhkan, senyum senyum lagi. Kamu kenapa sih mas? kesambet di taman ya"tanya Dila.
Tuk..
"awss"keluh Dila. Ia menerima ketukan ringan di keningnya dari tangan besar seseorang yang sedang menyetir di sampingnya.
"sembarangan"senyum kecil Ustadz Alfi seraya mengelus kepala yang dibalutkan hijab tersebut.
"kamu senyum senyum sendiri sih"seru Dila yang seraya membenarkan hijabnya dengan wajah yang ditekuk. Ia paling tidak suka kalau hijabnya beratakan karena memakainya bahkan menghabiskan waktu lama. Segala takut miring ataupun lecek di berbagai sisinya.
"ciee ngambek"ledek Ustadz Alfi dengan wajah khasnya. sedangkan Dila tidak menanggapi ucapan tersebut dengan memilih memainkan ponselnya. Oh ayolah tidak kelar kelar kl begini terus.
Kembali lagi dengan jalanan yang macet. Ustadz Alfi memilih jalan pintas menuju rumahnya. Dila pun dengan cermat mengamati jalanan itu. Siapa tahu berguna untuknya dikemudian hari.
Benar benar menghabiskan waktu sedikit jika melewati jalan pintas ini. Dila berusaha mengingat jalan apa yang dilewati tadi karena memang jalan tersebut ternyata tembus kemana mana. Yah walau cuma dengan beberapa jalan saja yang di ingat.
Sesampainya dirumah, akhirnya mobil berhasil terparkir dengan rapi dan sesuai dengan posisi semulanya tadi. Dila keluar terlebih dahulu dengan segera mengambil barang belanjaannya. Ustadz Alfi mengikuti dari arah lain lalu lihat Dila yang sibuk mengambil plastik.
"dek, ada yang perlu dibantu?"tanya Ustadz Alfi. Ia tidak bisa leluasa sigap membantu karena pintu mobil yang kebetulan sekali pas dengan Dila jadi tak ada ruang baginya.
"gak usah mas, dikit lagi kok"jawab Dila.
Dila keluar secara tiba tiba dan tak melihat bahkan kepalanya sedekat itu dengan bagian atas mobil. Sebelum terbentur kepalanya, Ustadz Alfi memasang telapak tangannya agar Dila bisa berhasil membawa keluar barang miliknya. Dila yang merasa kan telapak tangan itu, menoleh menatap Ustadz Alfi dengan senyuman.Senyuman manis dengan penuh makna yang seakan akan mengatakan bahwa 'terimakasih' secara tidak langsung.
"duhh, perhatiannya mengalahkan rasa kesalku tadi"batin Dila.
Setelah itu, mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah. Ustadz Alfi mandi kembali untuk bersiap siap sholat Jumat nanti. Sedangkan Dila, ia menyiapkan segala sesuatu yang akan digunakan suaminya untuk sholat di masjid. Sungguh ini adalah pengalaman pertamanya membantu untuk sholat Jumat, ada rasa tersendiri untuk itu.
"ini sholat jumat pertama aku yang membantu. kok rasanya deg degan yaa"batin Dila yang menghela nafasnya untuk mengendalikan detak jantungnya. Lalu dengan perlahan memulai kegiatannya itu.
Ustadz Alfi sedang membersihkan dirinya dengan segera. Sekedar mengkeramasi rambutnya lalu menyabuni seluruh tubuhnya. Dari atas kepala sampai ujung kaki tak luput dibersihkan olehnya karena Sholat Jumat baginya bagaikan Sholat Idul Fitri. Sangat spesial namun tidak pakai telur apalagi kerupuk wkwk.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Ustadz Alfi keluar dari kamar mandi. Dirinya berjalan menuju meja rias yang sudah berdiri seorang Dila yang siap membantu dalam berbagai hal. Dila sudah seperti MUA saja deh pokoknya. Awal mula Dila mengusap pelan rambut legam milik laki lakinya. Lalu menyisiri rambut tersebut dengan telaten sampai terlihat rapi.
"Masya Allah, indahnya ciptaan Allah"decak kagum Dila seraya memegang kedua bahu laki lakinya
"Alhamdulillah, Aamiin"seru Ustadz Alfi.
Dila kemudian memakaikan minyak wangi yang tentu halal dan sudah di gunakan Ustadz Alfi sebelumnya. Ustadz Alfi terkekeh kecil akibat Dila yang melayaninya bak seorang anak laki laki yang akan pergi sholat Jumat.
"syukron ya umii"senyum Ustadz Alfi meraih tangan wanitanya lalu menciumnya. Dila hanya tertawa kecil tanpa membalas ucapan tersebut.
"Mas, aku mau baca buku hadist punya kamu deh trus sholat dzuhur dikamar kamu. Boleh?"ungkap Dila.
"boleh, baca buku novel juga boleh"canda Ustadz Alfi.
"ish"balas Dila yang meletakkan handuk di tempat awalnya.
"kamu boleh baca dek, aku gak larang kok. Oiya kita kesana aja sekarang, soalnya aku mau bareng sama abi berangkatnya"jelas Ustadz Alfi
Dila mengangguk dan berjalan mengikuti Ustadz Alfi menuju kerumah sebelah. Umi Shita yang melihat keduanya masuk dari pintu utama rumahnya, seketika mengulum senyum. Sangat lucu, Dila bagaikan seekor anak ayam mengikuti induknya. Bahkan putranya sendiri yang notabene suami dari Dila terlihat tertawa seraya menyuruh Dila berjalan disampingnya.
"atuh kenapa disamping jalannya dek"seru Ustadz Alfi yang memegang kedua bahu Dila lalu menggiringnya menuju disebelah kiri dari tubuhnya. Dengan menurut, Dila membiarkan tubuhnya sesuai kehendak Ustadz Alfi saat ini. Dengan wajah penuh tanyanya, Dila menatap Ustadz Alfi dan menghentikan langkahnya.
"kamu kayak anak ayam kl dibelakang hehe"jawab Ustadz Alfi jujur. Sontak Dila melirik tajam kearahnya.
"ih... parah banget.... kl aku anak ayam, berarti kamu induk ayam dong"balas Dila.
Ustadz Alfi tertawa lepas akibat ucapan Dila. Sedangkan yang lainnya juga tak ketinggalan tertawa akibat ucapan Dila. Benar benar sebuah hiburan yang bikin pipi terasa pegal akibatnya.
##... Skip ...##
Akhirnya tiba sudah waktu dimana Ustadz Alfi, Abi Abdurahman, Ayah Ahmad, Azzam, Farhan, Teuku, dan Umay berangkat ke Masjid. Sebenarnya masih sekitar 30 menit lagi untuk dimulainya sholat Jumat. Bisa dibilang mereka semua berharap dapat barisan paling depan.
"kita berangkat sekarang aja, biar dapat paling depan. Insya Allah"seru Abi Abdurahman yang diangguki oleh semua para lelaki.
Ustadz Alfi berjalan kearah dapur dan melihat para wanita sedang berbincang bincang hangat. Entahlah topik apa yang membuat mereka bahkan tidak menyadari kehadirannya.
"ekhem... Maaf ganggu, kami kaum adam mau berangkat ke masjid sekarang"seru Ustadz Alfi membuat para wanita mengalihkan. Kemudian para wanita mengikuti langkah Ustadz Alfi kearah ruang tamu.
Semua kaum Adam sudah sangat siap dan rapi untuk sholat Jumat berjamaah di Masjid depan rumah. Azzam, Farhan, Teuku dan Umay telah kompak memakai baju koko berwarna cream dengan corak seragam. Karena itu adalah baju koko yang dibeli Ustadz Alfi untuk timnya.
__ADS_1
Ayah Ahmad memakai baju koko warna biru dongker dan Abi Abdulrahman memakai baju koko warna hijau. Sementara Ustadz Alfi memakai baju koko merah maroon. Mereka semua serempak tanpa direncana memakai sarung hitam dan memakai kopyah hitam. Namun hanya Ustadz Alfi saja yang diatas kepalanya masih kosong wkwk. Saat hendak pamit...
"tunggu"instrupsi Dila membuat semuanya terfokus dengannya.
Dila berjalan cepat dan kembali membawa kopyah ditangannya. Lalu Ustadz Alfi meraba kepalanya lalu menggelengkan kepala seraya tersenyum duduk di sofa ruang tamu.
"tak lengkap jika tanpa ini"ucap Dila yang menunjukkan kopyah di tangannya.
"maaf ya"seru Dila yang menyugar rambut milik Ustadz Alfi ke belakang lalu memakaikan kopyah dengan benar.
Ustadz Alfi menatap Dila yang diatasnya dengan tersenyum. Dila yang ditatap seperti itu mendadak terdiam menatap juga. Sementara yang lainnya ikut senyum dan merasa ngontrak diantara kedua insan tersebut.
"Ya Allah pengen nikah"batin Azzam.
"duhh yang lain ngontrak"batin farhan dan teuku.
"ya ampun, tatapannya dalem banget kek palung mariana haha"batin Umay yang tertawa didalam hatinya.
"ekhem"dehem Abi Abdurrahman.
"kita akan dapet barisan paling belakang, main tatap tatapannya nanti aja ya pas pulang jumatan"canda Ayah Ahmad.
Dila langsung menjauh sedikit dari Ustadz Alfi. Bener bener deh, malu maluin banget sih. Ustadz Alfi pun terkekeh kecil akibat aksinya wkwk. Namun setelah itu, Dila mencium tangan kanan Ustadz Alfi yang dibalas elusan dikepalanya. Begitu pula dengan Umi Shita dan Ibu Mira. Dan mereka benar benar berangkat ke Masjid setelah itu.
"Assalamualaikum"pamit Ustadz Alfi
"Waalaikumsalam"jawab serempak para wanita.
"cieeeee"ledek Dayu dan Aisyah tak terbendung lagi niatnya. Sementara Dila pura pura tak dengar dan berjalan ke kamar Ustadz Alfi.
Sesampainya dikamar Ustadz Alfi, terlihat bersih dan rapi dengan susunan barangnya enak dipandang. Seperti bukan kamar laki laki hehe. Setelah itu, Dila melihat rak buku hadist dan kitab kitab tersusun rapi. Atensinya beralih ke rak buku kabinet stainless yang berpintu di dekat kamar mandi.
"Mas Alfi benar benar mengoleksi novel. ini islami semua sih. dipikir pikir benar kl Mas Alfi punya koleksi ini. Buat menghibur diri dari asupan hadist"batin Dila.
"wahh ada kisah Sayyidah Fatimah"monolog Dila yang memegang buku tersebut. Lalu menariknya dari barisan buku lainnya. Tapi ada yang ikut tertarik dari dalam.
"eh surat?"gumam Dila.
Bersambung....
__ADS_1