
Grep....
"dek?"kaget Ustadz Alfi yang menerima pelukan tiba tiba.
"rasa itu telah ada, mas. Maaf, aku baru merasakannya."lirih Dila.
Ustadz Alfi tersenyum lebar dan merasa bahwa saat ini seperti nikmat yang sangatlah luar biasa. Kemudian membalikkan tubuhnya melihat wanita yang telah mencuri seluruh hatinya.
"aku adalah kamu. Kamu adalah aku. Qadarallah, kita sudah diciptakan bersama. Jangan lagi berpikir bahwa aku tidak mencintaimu. Hilangkan rasa ragu itu dan percayalah padaku."Ustadz Alfi menggenggam kedua tangan Dila.
"bagaimana aku tak ragu, kamu terkenal mas. Gak ada yang tidak tertarik denganmu"sendu Dila. Ustadz Alfi memeluknya, ia tak mau berkata kata lagi. Dilanya perlu ditegaskan seperti ini, agar percaya bahwa ia adalah seseorang yang tulus mencintai.
"Dila yang mas kenal gak kayak gini. Kamu adalah orang yang berpikir dengan positif dan memiliki senyum yang bisa membuat orang disekitarnya nyaman. Jangan sedih lagi ya, aku minta maaf kalau surat itu belum terbuang. Aku lupa"Ucap Ustadz Alfi.
"kenapa bisa lupa?"tanya Dila yang betah dipelukan laki lakinya.
"banyak surat yang harus aku buang. Jadi mungkin itu tidak terjangkau hehe"Ustadz Alfi terkekeh kecil. Dila langsung melepas pelukannya lalu menatap tajam.
"kamu mau kan bantuin aku?"tanya Ustadz Alfi.
"bantuin apa mas?"tanya Dila kembali.
"buangin masa lalu mas. Kan disini udah ada masa depannya"senyum penuh arti Ustadz Alfi yang melihat Dila mulai tersenyum membalasnya.
"udah gak ragu lagi kan?"Ustadz Alfi kembali menanyakannya.
"udah kok. Makasih penjelasannya. Aku seneng kamu bisa ungkap tentang surat tadi mas."ucap Dila.
"sama sama."balas Ustadz Alfi.
Kemudian mereka membuang masa lalu yang dimaksud. Banyak surat cinta untuk Ustadz Alfi dan Dila kadang tertawa kecil menghitung jumlahnya.
"ihh banyak juga ya penggemar suamiku ini"gemash Dila yang mencubit pelan pipi laki lakinya.
Sedangkan Ustadz Alfi hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Dilanya. Daripada tadi diam saja, lebih baik juga seperti ini. Ia menggeleng kepalanya kemudian akibat Dila begitu semangat membantunya. Dan akhirnya mereka sekalian membersihkan kamar tersebut dengan bersama sama.
__ADS_1
"oiya dek, kamu gak mau keluar gitu atau mau apa. Nanti mas turutin"seru Ustadz Alfi. Pertanyaan yang sekian kalinya karena Dila memang tidak ingin apapun.
"gak ada mas, aku mau dirumah dan tidak sedang menginginkan apapun"ucap Dila tanpa berpikir panjang.
"oh gitu yaa...."simpul Ustadz Alfi. Ia melihat Dila membantunya dengan sangatlah tulus. Bahkan tersenyum disela sela kegiatan bersih bersih kamarnya.
"kamu kayaknya ngeliatin mulu mas?"tegur Dila yang menghentikan kegiatannya.
"iya. Habisnya senyumnya bikin jantung berdebar gini sih. Kamu cantik dek, sungguh deh gak bohong"ucap Ustadz Alfi.
"bisa bisanya.... Gombalku masih ada di dapur mas. Belum kotor kok jadi makasih yaa"seru Dila dengan tersenyum penuh arti.
"hehe, ya memang seorang wanita akan cantik dimata laki laki yang tulus mencintainya bukan. Kata orang orang sih begitu"bahas Ustadz alfi.
Dila hanya bisa tersenyum saja. Kalau dipikir pikir lagi, Ustadz Alfi kadang tidak begitu dekat dengan wanita tapi ucapannya seperti laki laki yang sudah pernah dekat.
"ucapanku yang kadang receh dan garing selalu ingin menghiburmu dek. Intinya aku cinta. Udah gitu aja"ucap Ustadz Alfi yang tiba tiba.
"ck, dasar cenayang..."cemberut Dila. Ustadz Alfi tertawa kecil lagi dan lagi.
"apa? Sparing?"
#.... Skip.... ##
Waktu berlalu dan adzan ashar sudah berkumandang sejak tadi. Dila dan Ustadz Alfi berjamaah di rumah dengan khusyuk. Dila selalu merasakan perasaan yang membuncah ketika ia menjadi makmum. Kadang ia harus menahan senyum, agar tidak salah fokus ketika sholat.
"assalamualaikum warahmatullah...."
"assalamualaikum warahmatullah..."
Sholat Ashar sudah diselesaikan dengan baik dan lancar. Dila menghela nafasnya lega dan mengucapkan alhamdulillah. Lalu ketika hendak bergerak meminta tangan Ustadz Alfi didepannya, tindakannya terhenti.
"loh?"seru Dila yang spontan bingung akibat tindakan Ustadz Alfi saat ini.
Bagaimana tidak bingung, tiba tiba saja pahanya dibuat bantalan tidur oleh laki laki yang sudah menjadi suaminya ini. Sedangkan yang membuat tindakan tersebut, terlihat tanpa dosa menatap wajah Dila diatasnya.
__ADS_1
"em.. Kenapa mas?"gugup Dila yang mengalihkan pandangannya kearah lain.
"mau tiduran lah dek. Masa mau dzikir"ledek Ustadz Alfi.
"iya.. Aku tahu mas kamu mau tiduran. Tapi aku rasa ini..."ragu Dila melanjutkan ucapannya saat ini.
"hehe kenapa? Malu yaa... Masih belum terbiasa deket sama aku?"terka Ustadz Alfi yang meraih tangan Dila untuk mengelus kepalanya. Lebih tepatnya seperti meminta di pijit.
"si..siapa yang malu"kilah Dila yang kemudian memijat kepala Ustadz Alfi.
"ah.. masa sih? Tuh mukanya merah. Hayoo bohong kan"goda Ustadz Alfi menjiwil dagu Dila. Wanitanya kini menghentikan pijitannya lalu menekuk wajahnya pasrah akibat ketahuan.
Ustadz Alfi kemudian bangun dari duduknya. Menggendong Dila di pinggir ranjang dan melepas mukenanya pelan pelan. Sedangkan Dila hanyalah bisa terpaku.
"maaf ya kl mas buat kamu terkejut terus gara gara tindakan yang jarang dilakukan oleh laki laki kepadamu terkecuali kl keluarga. Mas hanya pengen kamu terbiasa dekat."ucap Ustadz Alfi yang tangannya merapikan rambut panjang Dila.
"semestinya aku yang minta maaf. Selalu saja seperti ini, yah kamu harus maklum mas. Aku gak pernah seklaipun dekat dengan laki laki lain selain ayah. Jadi aku masih canggung dan bingung mau melakukan apa"sesal Dila.
"gak apa apa. Wajar kamu begitu. Malah aku seneng, akulah yang pertama bisa bikin kamu gugup dan canggung hehe"Ustadz Alfi terus saja tersenyum dan tak segan tertawa kecil agar Dila nyaman.
"ish.. Mas kamu kok kadang nyebelin sih"tawa Dila yang memakai kerudungnya. Rambutnya telah rapi terikat dan semua itu Ustadz Alfi yang merapikannya dengan telaten.
"jangan nyebelin dong. Seharusnya ngangenin"Ustadz Alfi tersenyum lalu mendekatkan wajahnya. Dila dengan spontan menjauhkan wajah tersebut sedikit menjauh. Duhh jantungnya udah gak bisa diam dari tadi.
"Astaghfirullah, aku lupa dek"ujar Ustadz Alfi yang menepuk keningnya pelan.
"lupa kenapa lagi sih mas"balas Dila yang berjalan meletakkan alat sholatnya di nakas.
"kita kan mau sparing. Kok jadi lupa yah"seru Ustadz Alfi.
"yaudah kl gitu, aku siap siap dulu ya mas. Mau ngambil baju di rumah sebelah. Atau kamu mau ikut?"tanya Dila yang langsung diangguki oleh Ustadz Alfi.
"ikut.. Yuk"ajak Ustadz Alfi yang menggaret Dila.
"eh.. Mukena aku mas."Dila dengan cepat meraih mukenanya dan mengikuti tangannya yang digaret Ustadz Alfi.
__ADS_1
Bersambung....