
Dila bersiap dan meraih pakaian miliknya yang cocok untuk sparing. Ternyata Ustadz Alfi mengajaknya sparing dan berbagi ilmu tentang silat yang mereka kuasai. Apalagi Ustadz Alfi mengingat bahwa Dila pernah menolong Uminya kira kira 2 tahun lalu.
Kisah itulah yang membawa Dila dikenal oleh Uminya dan Aisyah. Barulah saat itu, Ustadz Alfi terus kepikiran tentang gadis yang berhasil merebut perhatiannya gara gara kejadian tak terduga di cafe.
Ustadz Alfi tidak mengira saja bahwa jalan jodohnya terbuka saat itu. Saat dimana ia frustasi sebab nama Dila terus menggunjang hati dan pikirannya. Dila adalah satu satunya perempuan yang berhasil membuat hampir seluruh hatinya terpusat hanya memikirkan wanita yang saat ini sudah menjadi istrinya.
"kalau diingat ingat lagi, kisah kita tidak masuk diakal sekali dek. Tapi walau begitu aku percaya bahwa pilihanku untuk memilikimu memang sudah digaris takdirkan sejak lama."
"mereka salah jika menganggapmu menggoda apalagi menggunakan jasa dukun untuk mendekatiku. Lah, orang aku duluan kok yang udah suka sama kamu dek. Hehe"
"sifatmu, senyummu dan apa yang ada didalam dirimu. Semuanya aku suka. Tak disangka sangka bahwa kamu berhasil meluluhkan hatiku yang gak peka sama lawan jenis."
Suara hati Ustadz Alfi yang kini telah membukus sebuah kotak yang berisi hadiah. Kadang ia tersenyum, serius lalu tersenyum lagi. Bahkan sampai membuat deretan giginya terlihat saking lebarnya senyuman itu. Itupun membuat Dila yang kini telah memakai pakaian serba hitam miliknya menjadi meringis heran.
"ada apa dengan mas Alfi. Hii.. Kok serem sih"pikir Dila yang kemudian mengira bahwa saat ini Ustadz Alfi kesambet sesuatu.
"mas"tegur Dila yang membuat Ustadz Alfi terjengkit kaget dan hampir saja apa yang ada ditangan meloncat lari ke lantai.
"astaghfirullah, ya Allah hampir saja jantung ikut lompat"gumam Ustadz Alfi
"dek, kamu bisa bikin aku punya penyakit jantung"tegur Ustadz Alfi yang menatap Dila dengan menggeleng kepalanya.
"hehe habisnya kamu senyum senyum sendiri gitu. Sebelum dikagetin sama hal yang ghaib, lebih baik kaget karena aku"Dila tersenyum renyah dengan ekspresi Ustadz Alfi saat ini.
"iya deh. Istri aku yang ternyata cemburu sama yang ghaib. Masya Allah"ledek Ustadz Alfi.
"diih.. Siapa yang cemburu sama hal ghaib. Enak aja. Kamu kira aku siapa"cemberut Dila yang telah menggembungkan pipinya tanpa sadar.
"hahaha dek, wajahmu menggemaskan ya kalau seperti ini"tawa Ustadz Alfi yang memilih mengganti pakaiannya sama dengan Dila kenakan saat ini.
Sedangkan Dila membelalakkan matanya tak habis pikir. Ustadz Alfi benar benar membuat ingin marah tapi apalah daya dengan tawa itu. Tawa yang membuatnya senyum yang hampir tidak bisa disembunyikan saat ini.
"ciee terpesona yaa"Ustadz Alfi tiba tiba saja bersuara dan masih menggoda Dila.
"haii!"kesal Dila yang terlambat. Karena ustadz Alfi telah masuk ke kamar mandi dan memilih aman.
"hish.. Kita lihat saja nanti, mas. Awas aja kamu"batin Dila mengancam. Ia pun memilih menunggu di ruang tamu saja.
Tak ia sadari, ternyata Ustadz Alfi didalam kamar mandi belum melakukan apa apa. Ia masih saja menahan tawa didalam sana. Karena masih membayangkan wajah kesal Dila yang imut itu.
"duhh wajahnya kalo kesal kok lucu sih. Aku sampai tidak berhenti tertawa sejak tadi."
"aku.. Tidak kuat menahan tawa ini..sungguh"monolog Ustadz Alfi yang melirih takut Dila mendengarnya dari luar.
Perutnya menjadi kram hanya dengan tertawa melihat Dila. Ya ampun benar benar deh, Dilanya itu menghibur dirinya. Ustadz Alfi pun berpikir bahwa jika sehabis pulang tausiyah lelah, maka Dila akan menjadi obatnya wkwk.
##... Skip... ##
Tak lama Dila menunggu, akhirnya Ustadz Alfi keluar dengan sesuatu ditangannya. Tapi lebih menarik perhatiannya adalah pesona Ustadz Alfi ketika memakai pakaian hitam. Wajah laki laki tersebut seperti cahaya di gelapnya warna hitam.
Dila kemudian menggeleng kepala dengan cepat lalu berjalan melangkah keluar rumah sambil menetralkan jantungnya. Ustadz Alfi mengernyitkan keningnya heran dan tanpa pikir panjang menyusul Dila.
Bagaimana Dila tidak terpesona dengan laki lakinya. Ustadz Alfi memakai pakaian sepertinya disertai dengan kain yang melilit pinggangnya. Warna hitam baju khas silat itu kontras dengan warna kulit yang putih cerah tersebut. Kan jadi nambah... Em.. Gantengnya 😣
"ya allah gak kuat"suara hati Dila menjerit.
"okey. Kali ini kita berdua bakal sparing. Tapi.. Ini sebenarnya seperti permainan. Bagaimana, setuju gak dek?"seru Ustadz Alfi tersenyum kearah Dila. Namun Dila terdiam dengan senyumnya yang sedang mengaguminya.
"duhh gantengnya, ya Allah gusti"lirih Dila yang melihat sembarang arah.
__ADS_1
"dek?..."tegur ustadz Alfi yang merasa perkataannya tidak dibalas.
"dek dila"panggil Ustadz Alfi yang sedikit didengar oleh ketiga orang diruang tamu. Yakni Abi Abdurahman, Umi Shita dan Aisyah. Ketiganya langsung menatap penuh tanya lalu berjalan keluar.
"dek, kamu kenapa diam aja sih? Kamu gak denger yaa"gemash Ustadz Alfi yang kemudian melipat tangannya didada. Lalu Dila tambah tersenyum dengan memujanya.
"kamu ganteng"ucap Dila tanpa sadar itupun membuat Ustadz Alfi tercengang begitu pula ketiga orang yang melihat dibelakang. Namun akhirnya Dila sadar dan spontan menutup mulutnya.
"ciee.. Kak Dila ekhem.."goda Aisyah yang tak tertahan lagi.
Semburat merah dipipi Dila muncul kemudian lalu tatapan matanya menatap Ustadz Alfi yang sudah tertawa renyah akibat ucapannya tadi. Ia merutuki dirinya yang keceplosan apalagi malu dengan umi dan abi. Ceroboh kamu dil, pikirnya.
"hehe, setuju gak? Yang bisa merebut ini, maka ia jadi pemenangnya."seru Ustadz Alfi yang mengangkat sesuatu ditangannya. Yang bahkan sudah dibungkus dengan kertas kado miliknya.
"em.. Se..setuju"gugup Dila. Ia masih malu dan menjadi canggung berbicara dengan Ustadz Alfi.
"baiklah. Ayo kita mulai"ajak Ustadz Alfi yang bersiap dengan kuda kudanya.
Sementara dengan ketiga orang dibelakang duduk di kursi panjangn dekat kran untuk menyiram bunga atau mobil. Dila sudah menetralkan nafasnya dan mulai bersiap.
Mereka berdua mulai dengan membaca bismillah lalu maju untuk memperebutkan sesuatu yang tergeletak di rumput. Dila tampak bersemangat meraih sesuatu yang menarik perhatiannya itu.
Dila melancarkan serangan yang dominan oleh tangannya dan selalu bisa dihindari oleh Ustadz Alfi. Laki lakinya menggunakan tangan untuk menyerangnya juga. Terlihat seperti pertarungan seru dan sedikit menegangkan. Tapi ketiga penonton tidak menganggapnya begitu karena ada aja kelakuan yang membuat tersenyum renyah.
Seperti Dila yang mencoba merebut sesuatu ditangan Ustadz Alfi. Dengan sebuah kesempatan terkadang Ustadz Alfi mencolek pipi Dila dan membuat Dilanya kesal akibat itu. Apalagi targetnya benar benar ditangan laki lakinya. Susah sekali.
"iih mas, kamu curang"kesal Dila yang berhenti karena kelelahan meraih kotak persegi kecil tersebut.
"loh kok curang"ledek Ustadz Alfi.
"siniin mas. Aku penasaran sama itu"ucap Dila yang mencoba meraihnya.
Perhatian Dila menjadi terfokus dengan kursi didekat Tanaman yang sangat tepat dibelakang Ustadz Alfi. Dila pun punya ide dan dengan segera melancarkan serangannya. Memancing Ustadz Alfi bertukar posisi dengannya agar ia bisa naik ke kursi tersebut.
Yang menonton penasaran nih dengan hasilnya. Siapakah pemenang dari permainan ini. Tapi dilihat dari tekad, pasti Dila lah yang menang. Namun dilihat dari keunggulan Ustadz Alfi (tinggi) pasti Ustadz Alfilah yang menang.
Saat sudah berada tepat di dekat kursi dan ada kesempatan, akhirnya Dila menaik ke kursi lalu melakukan putaran diatas dengan indahnya mengarah ke tangan Ustadz Alfi. Sedangkan Ustadz Alfi mendadak was was karena takut Dila terjatuh tapi ternyata apa yang ia genggam berpindah tangan ke Dila.
Ketiga penonton tak menyangka dan tak menduga bahwa Dila melakukan hal itu. Walau cukup berbahaya tapi gerakannya sangat gesit dan lompatannya juga tepat sasaran. Akhirnya mereka bertepuk tangan untuk kemenangan Dila.
"wahh hebat kak"puji Aisyah senang.
"Alhamdulillah. Lihat mas, aku dapat"senang Dila yang memegang hadiahnya.
Ustadz Alfi memang khawatir tapi rasa itu hilang berganti senang saat senyum Dila mengembang akibat meraih hadiahnya. Ternyata hanya dengan hal sederhana seperti ini, Dilanya sudah senang bukan main.
"beginikah caramu bahagia dek? Kl begitu, aku tidak akan bertanya kamu mau apa karena dengan begini saja kamu sudah senang."suara hati Ustadz Alfi.
"sini mas buka hadiahnya"tawar Ustadz Alfi yang Dila setujui saja.
"isinya apa sih mas?"tanya Dila penasaran dan antusias sekaligus.
Ustadz Alfi membongkarnya dan membuka kotak persegi panjang tersebut. Dila terkejut ketika isinya adalah sebuah kalung emas dengan liontin biru laut yang indah dan cantik dipandang mata.
"wahh kalung... Ini indah sekali"ucap Dila yang melihatnya secara intens dan memujanya.
"kamu ingat gak? Kalung siapa ini"tanya Ustadz Alfi yang sontak membuat Dila menggeleng dengan polosnya. Karena tatapannya tak lepas dari liontin biru laut tersebut.
"Aku pernah bicara soal mahar sebelum menikah. Dan kamu meminta kalung selain seperangkat alat sholat. Inilah kalungnya"jelas Ustadz Alfi yang membuat Dila tertegun.
__ADS_1
"jadi ini mahar ku?"tanya Dila memastikan kembali.
"iya."singkat Ustadz Alfi.
"ini... Pasti mahal ya mas"ragu Dila.
"harganya... Gak penting. Karena ini mahar dek, aku gak main main. Jadi ini layak buat kamu. Sini mas pakaikan"ucap Ustadz Alfi yang dituruti Dila.
Kalung liontin biru laut sudah berada di lehernya dan Ustadz Alfi masih memegangnya lalu mengaitkan dengan hati hati. Dila memegang kalung itu yang telah disematkan dalam lehernya. Tampak indah jika dilihat dari sangat dekat begini.
"memangnya tidak apa apa ya mas kalau beli kalung seperti ini. Kan pasti mahal. Aku tidak enak jadinya. Apalagi selain itu banyak mahar yang kamu berikan padaku. Bahkan sampai rumah."bahas Dila.
"gak apa apa dek. Itu gak seberapa dari cinta ini. Sebaik baiknya laki laki pasti akan memberikan mahar yang sesuai dan membuat wanitanya dihargai. Jadi jangan gak enak begini, pakailah kalung ini karena aku sudah memilihnya untukmu."jelas Ustadz Alfi.
Hati Dila menghangat dengan perkataan tersebut. Tak terasa air matanya mengalir. Ia merasa sangat beruntung sebab Ustadz Alfi memuliakan dan menyayanginya lebih dari yang ia kira. Sungguh wanita mana yang tidak bisa menahan tangis sebab ini. Tangisan haru dan bahagia.
"hiks..hiks.."Dila sesenggukan dan Ustadz Alfi terkejut. Loh, ia tidak berbuat kasar apalagi marah tapi kenapa Dila menangis.
"dek, kamu nangis?"tanya Ustadz Alfi yang membalikkan tubuh Dila menghadapnya. Terlihat air mata yang masih mengalir di pipi dan dihapus Dila sesekali.
"kamu gak suka ya sama kalungnya? Nanti aku ganti deh. Jangan nangis"bujuk Ustadz Alfi bak membujuk seorang anak kecil yang ditumpahkan es krimnya oleh dirinya.
"bukan... Aku... Aku hanya terharu saja... Baru kali ini aku merasa ada laki laki yang mencintaiku dengan tulus tanpa pandang aku siapa... tanpa pandang ada apa dan tanpa mementingkan status ku... Aku... Sangat bahagia dan suka.. Kalung ini"jelas Dila yang kadang terhenti dan suaranya terdengar serak karena tangisannya.
Ustadz Alfi hanya bisa mendengarnya. Keluh kesah Dila yang menceritakan tentang kehidupan sebelumnya. Ternyata Dila pernah dilamar tapi harapannya pupus sebab keluarga besar dari laki laki yang melamar tidak menerimanya. Menerima bahwa ia adalah gadis biasa.
"aku.. Tak bisa berkata kata lagi.. Karena aku bersyukur bahwa Allah memberiku jodoh yang seperti kamu. Kamu ikhlas menerimaku apa adanya, bukan ada apanya diriku."Dila mengakhirinya dengan sesenggukan.
Mereka semua merasakan rasa sakit itu. Hati yang pernah disakiti dengan orang lain. Orang yang tidak tahu bahwa hati seorang Dila hanya berharap mendapatkan laki laki yang sayang dengannya untuk menggantikan ayahnya. Tapi ternyata hati itu pernah kecewa akibat harapan palsu.
Ustadz Alfi mengajak Dila duduk lalu menyenderkan kepala wanitanya ke bahunya. Tangisan memang bisa dari sebuah amarah dan kecewa yang berlebih tapi tak tertampung lagi. Dan saat ini Dila butuh sandaran.
"sudah jangan lagi mengingatnya. Berjanjilah bahwa ini yang terakhir kamu menangis. Kan disini ada aku dan yang lainnya. Disini kamu dihargai dan disayangi seperti di rumahmu. Jadi percayalah, bahwa aku tidak sekedar berkata kata tapi bahkan aku menghalalkanmu tanpa menunda waktu lama. Ini bukti keseriusanku."ucap Ustadz Alfi.
"beneran?"tanya Dila yang menghentikan tangisan.
"iya. Aku mencintaimu. tentu saja aku memuliakanmu seperti aku memuliakan aisyah dan Aku menghargaimu seperti aku menghargai umi dan abi."jawab Ustadz Alfi.
"udah dong kak. Jangan nangis lagi"bujuk Aisyah yang sudah berada disamping Dila.
"Kita disini adalah keluarga. Jika ada yang mengganjal atau butuh teman cerita. Kami ada untukmu"timpal abi Abdurahman.
"Ya Allah, Dila bahagia banget"batin Dila yang hatinya menghangat sejak tadi.
Semuanya menyakinkan dan membuat senyum Dila mengembang. Betapa bersyukurnya ia mendapat keluarga seperti ini. Impian, harapan dan Doa yang ia miliki ternyata bisa terjadi nyata dalam hidupnya.
"aku bersyukur mendapatkan orang disekelilingku ini. Apalagi ada mas Alfi yang mencintaiku, memuliakanku dan menghargaiku seperti ini."
"Ya Allah jagalah mereka bersamaku. Izinkan aku membahagiakan mereka juga. Terkhusus cinta yang tak pernah akan padam untuk Mas Alfi"suara hati Dila yang tertawa melihat Aisyah dan Ustadz Alfi menghiburnya bukan kaleng kaleng. Bagaimana tidak Aisyah yang dibuat cemberut akibat Ustadz Alfi yang tak mengalah cuma gara gara urusan Dila yang bakal tidur dengan Aisyah hari ini
"aku mau kak dila tidur sama aku malam ini kak al"
"gak, gak bisa. Dila adalah istri kakak. Enak aja tidur sama kamu syah."
"iih dasar pelit"
"ya bodo amat. Terserah suaminya dong"
Abi Abdurahman dan umi Shita hanya bisa tersenyum akibat tingkah anak mereka yang membuat Dila tertawa lalu melupakan semuanya masa lalunya. Mereka berpikir, almarhum mbah Dahlan merasa tawa Dila yang sekarang mungkin ikut bahagia karena cucunya telah bahagia disekeliling mereka.
__ADS_1
...TAMAT...