
Syung!
Bug!
Seorang gadis remaja berlari terluntang-lantung di jalan sambil melewati kerumunan yang begitu panas dan pengap.
Para penjual menawarkan berbagai barang kepada calon pembeli yang memiliki beberapa kebutuhan.
Tak henti-hentinya gadis itu berteriak minta maaf saat menabrak orang-orang. Di mulai dari; pejalan kaki, gerobak penjual sayur, gerobak yang berisi tong air, bahkan para banci pesolek di jalan.
Dari semua orang yang dia tabrak, banci pesolek lah yang paling naas.
Ntah karena apa saat dia menabraknya, tubuh si banci pesolek itu terpental jauh sampai tak sadarkan diri di atas ranting pohon yang kokoh itu.
Padahal dia hanya menggunakan kekuatannya sebesar 1% saja.
Sepertinya dia harus meminta pil penurun kekuatan dari neneknya. Tapi lebih dari itu, neneknya sudah mengaum seperti macan betina yang menyuruhnya segera pulang.
Namun sebelum kejadian ini terjadi. Dia sedang berdebat dengan penjual ikan yang memiliki perut buncit, berkulit gelap, dan bermata belo.
Lalu pertanyaan yang terbesit dari pikiran padatnya. Bagaimana bisa ikan di jual dengan harga setinggi itu untuk dirinya yang miskin ini?
Gadis remaja itu membuat ekspresi semenyedihkan mungkin. Dia terlihat acak-acakan, tapi tidak memungkiri wajahnya yang cantik dan imut secara bersamaan. Karena memang umurnya masih terbilang belia, dan ingat dia belum tersentuh.
Namun kali ini dengan kepicikan yang menjadi kebiasaan buruknya untuk mendapatkan barang yang murah dan sekaligus bonus pembelian yang terbilang lebih mahal dari barang yang ia beli.
"Pak tua bisakah anda menurunkan harganya? Bagaimana bisa semahal ini? Apakah kau sedang melakukan aksi penipuan pada gadis muda tak berdaya? Bagaimana bisa kau sekejam ini setelah melihat dadaku sebelumnya? Bukankah setelah melihatnya kau akan menurunkan harganya atau memberiku bonus sebagai imbalannya? Ka--" Perkataan bohong dan memalukan gadis itu terpotong, saat neneknya mengiriminya telepati.
Namun di sisi lain dari hasil perkataan gadis itu yang penuh dengan kata bahwa dia sedang dilecehkan oleh penjual ikan mampu menarik perhatian para penjual dan calon pembeli lainya, alhasil tatapan mereka jatuh.
Sang Penjual ikan memucat kala telinganya sangat peka dengan bisikan mereka. Bahkan orang-orang yang berada pada jarak 5 meter saja bisa didengar olehnya.
ini bukan bisikan namanya. Akan tetapi, sebuah teriakan. Dia tidak cukup tuli untuk tidak mendengarnya.
"Ibu! Ibu! Apa yang dimaksud kakak cantik itu?" Tanya anak kecil itu dengan ekspresi penuh tanda tanya.
Ibu itu yang sedang bersama anaknya nampak gelisah, kala mendengar pertanyaan ambigu anaknya. Segera dia menoleh kasar, dan memberi tatapan penuh hinaan.
"Orang tua jaman sekarang tidak bisa melihat umurnya sendiri. Bahkan anak kecil sekali pun dia berani meminta hal tak senonoh. DASAR SAMPAH MASYARAKAT! " Cemoh ibu itu menyinggung penjual ikan yang hampir terpeleset mendengar penuturan yang menunjuk dirinya.
Sedangkan penjual lainnya memberi ekspresi merendahkan. "Aku begitu bersyukur dengan pekerjaanku. Walau penghasilanku tidak besar. Aku tidak akan mengambil kesempatan pada anak kecil." Sindir penjual pakaian dalam itu.
Untuk kesekian kalinya dia berulang kali memberi ekspresi penuh harap pada orang-orang untuk tidak mempercayai kata-kata gadis busuk ini.
Namun pada akhirnya mereka tidak percaya sama sekali.
Sedangkan si gadis pembuat onar itu, tak menanggapi celotehan orang-orang yang membelanya.
Sebab dia sedang berkomunikasi dengan neneknya melalui telepati.
"Kembalilah ke rumah segera!" Perintah neneknya melalui telepati dengan penuh penegasan dan makna beracun, kalau dia tidak bergerak cepat, maka habis sudah masa hidupnya.
"Siap Komandan!" Gadis itu segera menuruti perintah neneknya, sekaligus mengakhiri pembicaraan mereka.
Tak berselang lama, dia kembali lagi fokus pada penjual ikan sambil mengangkat sudut bibirnya penuh kelicikan.
Jadi, dia sudah benar-benar menarik banyak perhatian, dan sang penjual ikan telah tersudutkan sejauh ini.
Saat dia ingin membuka suara lagi dengan berbagai kata senonoh lainnya.
Sang penjual ikan sudah memberikannya 3 ekor ikan besar dengan setengah harga yang diinginkannya. Kualitas ikan itu sangat bagus dan segar.
Setelah membayarnya, sang gadis tidak pergi. Akan tetapi, dia masih berdiri di hadapannya.
"Apa lagi nona? Ku mohon jangan merusak bisnisku!" Sedih sang penjual ikan, kalau dia mendapatkan tekanan sebesar ini terus. Bisa jadi, lemak di perutnya akan luruh.
"Pak tua, apakah kau tidak lupa dengan bonusku?"
"Nona kecil, apakah kau sedang memerasku? Sudah 3 ekor ikan besar yang kau dapatkan, dan sekarang kau meminta bonus? Sekalian saja, jadikan jualanku sebagai tempat amal." Sedih penjual ikan itu dengan ekspresi jatuh.
"Oh, Pak tua! Itu urusanmu, aku hanya pembeli yang meminta bonus. Jika anda ingin menjadikan jualanmu sebagai barang amal. Aku yakin, anda akan mendapatkan penghargaan sebagai penjual ikan terbaik dalam sejarah perikanan!" Balas gadis itu dengan ekspresi acuh tak acuh.
Dengan amat terpaksa penjual ikan itu segera memberikannya seekor gurita berkualitas baik. Bahkan harga bonusnya lebih besar dari ikan yang dia beli.
__ADS_1
Kali ini dia bakal jatuh ke lubang paling dalam, kalau gadis itu mengatakan sesuatu lebih jauh lagi.
Jika itu terjadi maka lapak yang ia dapatkan dengan letak se-strategis ini akan lenyap dari tangannya. Dasar gadis licik, kutuknya penuh dengan kebencian.
Sedangkan sang gadis hanya tertawa kecil penuh ledekan, dan dia keluar sebagai pemenangnya.
"Terima kasih pak tua! Lain kali kita akan tidur bersa--"
"Ku mohon pergilah! Jangan merusak bisnisku lebih jauh lagi!" Potong sang penjual ikan mengusirnya dengan ekpresi frustasi.
Sang gadis terkikik geli menuruti usirannya setidaknya otak licinnya masih berjalan dengan baik. "CEPAT PULANG!" teriak nenek gadis itu melalui telepati, dan berhasil membuatnya menjerit kesakitan. Kalau begini terus, habis sudah masa hidupnya, karena tuli.
"Siap nenek!" Balasnya tanpa berpamitan sama sekali dengan penjual ikan itu.
***
30 menit kemudian...
Gadis itu sudah berada di depan rumah gubuknya. Yang jika ditiup angin bisa roboh seketika. Walau rumahnya terlihat kecil.
Namun neneknya masih memberikannya estetika kecantikan, yang di mana banyak pot berjejeran rapi berisikan tanaman.
Itu bukanlah tanaman biasa. Melainkan berbagai macam ramuan langka yang bahkan orang kaya pun harus menangis darah untuk mengeluarkan uang demi membeli ramuan itu.
Huft...
Keluh gadis itu membuang napas panjang kelelahan dibarengi keringat bercucuran di dahi mulusnya tanpa cacat namun kumal. Padahal dia bisa menggunakan teleportasi sebebas mungkin.
Sayangnya, sang nenek melarangnya menggunakan sihir di desa tersingkirkan ini. Sebab di tempat ini tak ada yang pengguna sihir.
Mereka di sebut Muggle. Gadis itu mencomot sebutan itu dari novel H*rry P*tter andalannya, sungguh dia sangat mengagumi cerita itu.
Setelah kelelahannya hilang, dia segera memeriksa belanjaannya di dalam tas selempang serba gunanya.
Tas itu mampu menampung barang apa pun bahkan seekor gajah pun mampu dia simpan di dalamnya, luar biasakan?
Kalau kalian bertanya dari mana dia mendapatkan benda langka ini. Maka yang perlu kalian siapkan adalah seekor kucing betina berbulu tiga warna untuk menyogok kucing robot yang berasal dari abad 21.
Alasan bagaimana dia bisa terdampar sejauh ini? Itu karena dia sedang membantu tuannya agar menjadi orang yang berguna dan hebat di masa depan.
"Makanan dan uangku aman, aku selamat! Hahaha..." Senangnya sambil bersenandung ria masuk ke pintu belakang rumah gubuknya.
***
Pang!
Penghancuran pintu oleh gadis yang penuh semangat membara dengan sekali tendang. Ini merupakan kebiasaan rutinnya yang susah dihentikan.
Setelah itu, dia akan berakhir...
Ptak!
Mengetuk kepala bagian belakang di lakukan oleh wanita paruh baya kepada cucu nakalnya dengan ekspresi kalang kabut dibarengi dengan wajah hitamnya.
Bagaimana bisa setiap kali anak ini pulang ke rumah dia akan menyempatkan diri menghancurkan pintu rumah? Apa susahnya pulang dengan cara normal? Bisa dihitung bahwa masa hidupnya telah berkurang 10 tahun lebih awal, dan dia juga sudah tidak muda lagi, cucunya ini benar-benar...
Di sisi lain, sang cucu bersikap acuh tak acuh malah dia menyuguhkan cengiran menyebalkan kepada neneknya, pamer, "Lihatlah hasil kerja kerasku, Nenek!" Bangganya sambil mengeluarkan belanjaan yang ia beli dengan harga murah. Caranya pasti kalian sudah tahu, bukan? Pemerasan dan penipuan sudah menjadi kebiasaanya. Ketika berhubungan dengan uang.
"Tiga ekor ikan dengan harga murah dan satu bonus gurita berkuliatas. Aku hebat, bukan, Nenek? Hahaha..." Tawannya renyah berulang kali memuji keahlian marketingnya.
Sang nenek yang melihat rasa bangga cucu nakalnya ini tersenyum miris,
Jpit!
"Aduh, nenek! Ini sangat sakit!" Ringis gadis itu kesakitan. Sebab neneknya menjewer kupingnya.
Alasan neneknya masih sama yaitu pintu. Cucunya sudah tahu betul mereka begitu miskin, dan dia harus berulang kali memperbaiki pintu ini dengan modal yang tidak sedikit.
Walau dia bisa mudah memperbaikinya. Hanya dengan merapalkan sepatah kata mantra sihir perbaikan.
Namun hal itu akan menimbulkan kecurigaan. Sehingga sampai sekarang mereka melakukan aktivitas sehari-sehari seperti yang dilakukan para Muggle ini.
"Anak nakal kalau kau diperlakukan seperti ini, kau pasti mengeluh. Bagaimana denganku yang harus banting tulang demi menghidupimu? Kau tahu bahwa kita sudah terlalu miskin untuk memiliki rumah seperti gubuk ini, dan seenaknya menghancurkan pintu. Satu dua kali tidak masalah. Tapi ini? Cepat atau lambat karena rusaknya pintu, rumah gubuk kita akan rata dengan tanah!" Marah sang nenek sudah kesekian kalinya menegur cucunya yang nakal ini.
__ADS_1
"Aduh! Wahai nenekku yang kolot. Bukankah nenek bisa memperbaikinya dengan mudah? Kalau nenek tidak mau, biar Nami saja yang melakukannya!" Tampik Nami, nama gadis itu.
Dan ia berhasil menambah kemarahan neneknya. Mata neneknya memerah kapan pun bisa meledak.
Seketika itu juga bulu kuduk Nami merinding. Sebelumnya, neneknya pernah marah besar padanya, dan dia berakhir di buang ke hutan belantara di mana ada hewan prasejarah di sana. Terasa seperti ia melompat ke masa lalu.
Pada umur belia yaitu 8 tahun Nami harus menghadapi hidup yang berat. Di mana sebuah pergolakan terjadi. Aktivitas berebut makanan, tempat tinggal, dan perkelahian tanpa usai.
Hidup di sana sangat pahit, dan ia pun memutuskan. Jika ingin hidup tenang, dia harus menjadi penguasa di sana.
Sayangnya dalam catatan sejarah tak pernah menyebutkan bahwa predator yang paling menakutkan, dan penguasa saat itu adalah dirinya.
Setelah kejadian itu, Nami sudah tidak berani lagi menyulut asap semakin besar hingga mengeluarkan api kemarahan yang bakal berimbas kepada dirinya.
Setelah ingatan paling membekas di hatinya berhenti, Nami segera berlutut dan memeluk lutut neneknya, gemetaran. Tangisnya pecah dan berulang kali memohon maaf.
"Maafkan cucumu yang tidak berguna ini, Nenek! " Sesal Nami dengan isak tangis yang semakin deras dan tak tertahankan, bahkan dia tak memikirkan untuk membersihkan cairan bening yang keluar dari hidungnya.
Walau wanita paruh baya ini sangat marah, dia masih menyayangi cucunya. Dia tak tahan ketika melihat mata cucunya yang sudah membengkak. Alhasil dia pun luluh dan memaafkannya.
"Baiklah aku memaafkanmu,"
Nami yang mendengar jawaban neneknya segera mengeluarkan senyum cerah di wajahnya yang sebelumnya sangat mendung dan menyedihkan.
"Tapi..."
Nami terdiam saat mendengar kata tapinya. Mengapa nenek senang sekali menyulitkannya?!
"Kau harus pergi dari rumah ini sekarang juga."
Seketika Nami merasa seperti tersambar petir di siang bolong yang cerah. Saat mendengar berita mematikan dari neneknya, Apa?! dia diusir.
Wajah Nami berubah menjadi pucat, segera kembali memeluk lutut neneknya. "Bukankah nenek sudah memaafkanku? Kenapa aku diusir?"
Neneknya memberi raut wajah sulit ke arah cucunya sambil mengelus surai rambutnya yang kasar, memerah karena keseringan berjemur di bawah matahari, dan bercabang.
"Nenek tidak ada pilihan lain. Kau harus mengerti! "
"Nami tidak bisa mengerti! Kalau nenek tak menjelaskan. Apakah karena Nami sangat nakal dan suka menipu nenek? Jadi itulah kenapa ingin mengusirku! Nami tidak bisa terima!" Sedih Nami menolak pengusirannya, ntah dia ingin di lempar ke mana lagi? Planet jupiter? Uranus? Neptunus? Oh tidak, dia sudah mengalami pelatihan keras oleh neneknya di sana.
Nenek Nami membuang napas panjang. Memang benar ini kesalahanmu, kalau kau tak mengundang beberapa pria asing untuk melamarmu ini takkan terjadi. "Apakah kau ingin menikah? "
Nami mengerutkan keningnya, bagaimana bisa dalam situasi pelik ini neneknya membahas hal seperti itu.
Bukankah ia seperti seonggok daging di lemparkan ke sekawanan singa jantan yang kelaparan.
"Tidak! Tidak mau! Nami masih remaja berusia 14 tahun. Bagaimana bisa Nami menikah? Lebih baik Nami hidup tanpa suami dan menjaga nenek seumur hidupku!" Tolak Nami marah, ia takkan pernah mau, lebih baik di pukuli neneknya sampai mati dari pada harus menikah diusia dini.
Nenek Nami mengangguk setuju, memang benar apa yang dikatakan cucunya. Bagaimana bisa anak di bawah umur dipaksa untuk menikah?
Padahal batin dan fisiknya belum siap. Pernikahan untuk hidup semati bukanlah permainan rumah tangga belaka. "Nenek mengerti perasaanmu. Tapi mau bagaimana lagi? Cucuku yang nakal sudah sering mengundang pria yang tidak dikenal mengajukan lamaran padanya. Terlebih lagi berhasil menggaet seorang bangsawan kerajaan untuk dijadikan selirnya. Ini salahmu, Kalau kau tidak menggoda mereka nenek tidak akan seperti ini." Keluh neneknya.
Nami menoleh ke samping setelah mengetahui alasan neneknya, dia menampilkan raut wajah cengir, lalu kembali lagi dengan ekspresi acuh tak acuh. "Nami tak pernah tau akan sepopuler ini." Dia tak boleh berbangga dulu dia kembali mengelak, "Ini bukan salah Nami. Tapi salah pesonaku! Bukankah nenek hanya perlu menolaknya saja, dan tidak mengusirku? "
"Anak bodoh kalau itu orang biasa tidak akan menjadi masalah. Tapi kali ini dia adalah seorang bangsawan yang membawa dekrit kerajaan. Isinya yaitu kalau kau menolaknya, kita akan dipukuli sampai mati! " Ungkap neneknya ngegas sambil merasakan pening di keningnya.
Nami yang sudah tahu alasan itu, segera berdiri dan marah. "Puih! Sungguh orang bodoh, tidak melihat siapa yang akan menjadi lawannya! Seberapa hebat mereka sehingga berani mengancam hidup kita? Sebelum mereka menghabisi kami. Biarkan aku, Nami, yang membantai mereka sampai tujuh turunan!" Emosinya, mulai mengangkat lengan bajunya sampai sikut.
Ptak!
Lagi-lagi Nami mendapat ketukan menyakitkan dari neneknya. "Kenapa nenek memukulku lagi? " Belanya tak terima.
"Jangan lakukan itu. Kau membuat hidup kita yang aman menjadi semakin sulit. Karena harus mengurusi keras kepalamu!" Tegur neneknya membuat Nami memberi ekspresi murung.
Tutt... tutt....
Bunyi trompet menggema di halaman depan rumahnya. Nenek Nami nampak memucat, lalu segera menoleh ke arah cucunya.
"Tidak ada waktu lagi. Kau harus segera pergi!" Perintah neneknya tak boleh di bantah. Dia segera mengambil 3 potong roti, dan sebotol susu sapi, Lalu menyuruh cucunya untuk menyimpan.
"Kau harus pergi ke kota. Di mana para penyihir bebas menggunakan sihir! " Perintah neneknya sudah membuka portal sihir untuk melakukan teleportasi.
"Tapi--" Sebelum Nami menyelesaikan perkataannya, neneknya sudah mendorongnya masuk ke dalam.
__ADS_1
"Nenek, tidak! Kenapa kau tidak memberiku sepotong ikan dan gurita itu terlebih dahulu!" Air mata kesedihan menderu Nami padahal ikan dan gurita itu hasil kerja keras dari negosiasinya.
Ada raut kekesalan di kening neneknya sambil melambaikan tangan dengan senyum terpaksa. "Selamat tinggal cucuku s*alan!"