
Nami berjalan ke sisi lelaki tertindas itu.
Dan kali ini sambil berjalan mengeluarkan elemen air,
Dalam sekejap wajahnya yang berlumuran darah telah hilang.
Bajunya basah, tak ketinggalan dia mengeluarkan elemen api dengan aliran api yang rendah.
Namun dalam sekejap mengeringkan pakaian lusuhnya.
Setelah itu dia sudah berhenti di depan lelaki tertindas itu.
"Apa pendapatmu tentang kejadian tadi?" Tanya Nami dengan senyum apatis.
Lelaki tertindas itu menelan ludah,
orang di hadapannya terlalu kuat.
Bahkan seumur hidupnya dia tak pernah membayangkan.
Dia menatap Nami ragu dan ketakutan.
"Jangan takut. Aku bukan orang kejam, aku hanya menepuk nyamuk." Canda Nami datar dan canggung.
Berhasil membuat wajah lelaki tertindas itu memucat perbandingan apa itu.
Nyamuk dan manusia dua hal berbeda!
Tuanku, ku mohon berhenti membuat lelucon yang bakal membuatku tidak bisa tidur!
Horror Phoenix memberikan telepati pada Nami.
Tapi sayangnya Nami tak menggubrisnya.
"Lupakan! Mari kita menyuarakan perjanjian sebelumnya.
Jangan lupakan utangmu padaku 10 ruby,
dan terakhir jangan memberitahu apa pun tentang kekuatan yang kumiliki bahkan elemen yang kuperlihatkan saat berjalan tadi.
Ini bukannya karena aku ingin rendah hati.
Tapi aku berusaha menghindar dari pengejaran.
Apa kau mengerti?" Ujar Nami tanpa ingin berbasa-basi dan langsung keintinya.
Ini sudah 4 jam dia di sini tanpa satu tanaman apa pun.
Dia tidak ingin gugur secara sia-sia jadi dia harus terburu-buru.
Bocah itu kembali ke alam bawah sadarnya.
Setelah mendengar pernyataan penyelamatnya dia takkan lupa itu.
Namun sebelum Nami pergi.
Bocah itu sudah menahan ujung bajunya.
Dengan mata kucingnya dia meminta...
"Bisakah aku ikut denganmu." Pintanya dengan suara anak kecil.
Betapa menggemaskannya.
Awalnya yang ia sebut bocah.
Membuat Nami berdenyut kaku di antara alisnya.
Anak muda di hadapannya ini terlalu tinggi setelah ia berdiri.
Dan tinggi Nami hanya sebetas ketiaknya saja.
Apa-apaan ini? Bukankah ini penindasan gender secara fisik!
Nami benar-benar mengutuk tujuh turunan keluarganya menjadi pendek.
Tapi hei, tunggu, jika dia menyetujui bukankah dia membangun tali pertemanan? Betapa dia senang dengan itu.
Tanpa ragu Nami mengangguk dan menyetujui, setidaknya dia tahu anak ini baik, dan tidak akan memiliki niat jahat.
Jika dia memiliki niat jahat toh dia bisa melakukan hal yang sama seperti pada bocah gendut sebelumnya.
"Namun kalau kau mengikutiku ada dua syarat!" Timbang Nami tidak ingin mengalami kehilangan juga.
"Apa itu?"
"Persyaratan pertama kau tidak boleh berani mengambil uangku dan makananku.
Kedua kalau hidupmu lancar bersamaku jangan lupakan utangmu,
dan juga setiap kali kau mendapatkan uang mau pun makanan,
bagi aku setengahnya, deal?" Tawar Nami penimbangan dia sejujurnya tidak ingin mengalami kerugian.
Dan setidaknya dia tidak serakah meminta semua milik pemuda ini,
dan hanya meminta setengahnya.
Kamu benar-benar baik dalam menata hidupmu Nami,
tidak lama lagi kamu menjadi kaya hahaha...tawa Nami dalam hati dan mengeluarkan liur lagi.
Phoenix menggelengkan kepalanya,
tuan bisakah anda mengasihani anak ini.
Dia sudah sangat kurus, tapi anda masih meminta jatah setengah makanannya,
cepat atau lambat dia akan mati kelaparan karena tuan memakan setengah jatah makanannya. Pikir Phoenix tapi dia tidak akan menyuarakannya pada tuannya.
Jika ia mengatakannya, jatah setengah makanan dihentikan,
dan dia akan menjadikannya phoenix bakar.
Pernah sekali ia menegur nenek Nami dan Nami untuk berhenti bertindak serakah,
tapi apa yang ia dapatkan?
Mereka bersama berkomplot.
Membuatnya pingsan saat dia mencari ikan hidup dan segar di sungai,
setelah dia bangun tubuhnya sudah berada di atas api unggun untuk memasak makanan
Kaki dan tangannya sudah di ikat di satu ranting kayu kokoh.
Terlebih lagi mereka cukup mampu mengubah tubuh besarnya menjadi kecil.
Saat dia bertanya kenapa tuannya menjebak dia seperti ini,
"Litte Phoenix sangat baik membuat kami untuk tidak menjadi serakah,
dan harus bersyukur dengan apa yang telah kami miliki.
Dan kami sudah sadar bahwa kamu adalah milik kami.
Bentuk pengorbananmu untuk mengenyangkan kami.
Adalah hal baik untukmu.
Karena kamu telah membawa kami ke jalan yang benar." Ujar nenek Nami teduh sambil tersenyum hangat dengan wajah yang bercahaya seperti seorang dewi,
seolah apa yang dia perbuat adalah sebuah kebaikan.
Sontak saja Phoenix mendengar penuturan nenek Nami tanpa sadar dia sudah mengeluarkan banyak air mata,
mereka benar-benar jahat berhati baik,
benar-benar pemikiran telak untuknya.
Hingga ia harus muntah darah kekalahan dengan kelicikan mereka menjebaknya dalam hal kata-kata.
bukan itu maksud dia, Argh... bikin frustasi saja.
"Oh Phoenix ku!
Bentuk pengorbananmu akan selalu kuingat.
Tenang saja, jika kelak aku menjadi kaya.
Nisanmu pada saat itu akan kuberikan banyak permata dan berlian,
agar kau bisa bahagia di sana.
Dan terima kasih sejak pertama kali aku melihatmu.
Aku pernah berpikir bagaimana rasa seekor binatang mitological agung,
pasti itu sangat enak.
Dan sekarang akhirnya terwujud.
Akhirnya kau berguna juga." Bahagia Nami pada pengorbanan binatang roh kontrak pertamanya dengan raut wajah penuh dengan rasa syukur telah memiliki Phoenix dalam kurun waktu sesingkat ini.
Sontak saja Phoenix mendengar penuturan tuan yang ia kagumi.
Setelah ia harus mencari tuan yang tepat sebagai pasangannya dalam ribuan tahun,
malah menjadi seperti ini.
Siapa yang tidak sok?
Dan tidak ada yang menginginkan permata dan berlian hanya untuk menghiasi kuburannya,
belum cukup sehari kuburannya sudah dijarah orang tidak dikenal!
akhirnya Phoenix pingsan dan mulutnya penuh busa.
Apakah keselahannya pada kehidupan sebelumnya?!
Tamat
Kembali lagi pada situasi awal,
Nami mengangkat satu alisnya.
Apakah anak ini serius ingin mengikutinya atau tidak?
Setidaknya dia butuh kesetian yang layak disamping.
__ADS_1
Dia mengangguk setuju.
Tuan kecil ini adalah penolongnya,
dan dia tidak akan ragu mengikutinya.
Bahkan dia cukup bersyukur ada seseorang pertama kali memberinya perlindungan.
Mengingat selama ini, hanya luka dan hinaan sering dia dapatkan dari keluarganya.
Untuk pertama kalinya ia tak mampu membendung air matanya.
Berusaha tak menangis kala dia disiksa oleh keluarganya sendiri.
Sedangkan satu orang yang paling dia harapkan melindunginya, ayah,
selalu menutup mata dan telinga saat istri dan anaknya,
bahkan setiap orang yang di dalam manor menyiksanya,
jika ada kesempatan mereka akan melampiaskan kemarahan kepadanya.
Ayahnya berpikir, untuk apa melindungi anak utamanya.
Jikalau hanya dia sudah memiliki banyak anak lelaki.
Jadi kematian satu anak lelaki tidak berarti apa-apa untuknya.
"Aduh...kenapa kau menangis?
Apakah itu sungguh menyiksamu,
kalau aku mengambil setengah jatah makanan dan uangmu?" Panik Nami berusaha menghentikan anak ini menangis.
Dia merasa bingung sekarang.
Bukankah anak ini terlihat tua darinya.
Phoenix benar-benar menyalahkannya kali ini.
'Tuan, anda benar-benar seorang tirani.
Bukankah dia hanya anak-anak yang masih membutuhkan banyak asupan makanan untuk pertumbuhannya.'
'Diam kau! Lalu apa yang harus kulakukan, agar dia bisa diam?' Tanya Nami berkirim telepati.
Phoenix langsung saja menunjukkan raut wajah jatuh dan hitam.
Apa yang ia tahu, tuan ini selama ribuan tahun tak pernah memikirkan kesedihan orang lain.
Bahkan orang berisik yang menganggu hidupnya, akan dia lenyapkan dengan sekali kibasan apinya.
Tuanku, jika anda bertanya cara mendiamkan seorang anak aku tidak tahu.
Tapi kalau menenangkan tuan dalam keadaan seperti ini,
saya dengan mudah mengerti apa yang harus saya lakukan,
anda seorang mata duitan dan rakus, jadi saya perlu memberi anda uang dan makanan untuk menenangkan anda.
Nami mengernyitkan keningnya, dia dengan sinis.
Sampai hari ini aku tidak tahu di mana kata letak bergunamu.
Phoenix segera ingin menabrakan wajahnya ke tembok.
'Tuanku, sudah berapa kali aku mengobarkan hidupku untukmu.
Bahkan aku hampir beberapa kali binasa, melawan murka nenekmu.
Baiklah tuan, mungkin saya bisa membantu anak ini dengan memberikan sebuah barang yang anda sukai.
Barang yang kusukai? Uang? dan makanan?'
'Tidak jangan uang.
Kita harus menabung untuk masa depan yang masih jauh.
Bukankah tuan memiliki kembang gula pelangi?
Anak-anak suka makanan yang manis.
Mungkin dia akan tenang dengan anda memberikan itu padanya.
Kembang gula pelangi.'
'Bagaimana kau tau aku memiliki barang itu?'
'Tuanku. Anda jangan mendadak lupa selama masa perjalanan kita ke sini.
Anda selalu melakukan perjalanan bolak-balik untuk membeli kembang gula pelangi itu.
Hingga kita harus datang paling akhir.
Bisakah tuan melakukannya,
ini semakin menyedihkan jika anda tidak melakukannya,
seperti anda sedang memalak anak ini.'
'Ah s*al! Baiklah!' Segera Nami mengeluarkan kembang gula pelangi dari tas serba gunanya itu.
ia sedikit tidak ikhlas.
Tapi dia juga tidak bisa menjadi egois,
air liurnya kembali tumpah.
Saat dia berulang kali melirik kembang gula pelangi ditangannya.
Tuan sadarlah! Panggil Phoenix pada tuannya yang tidak lama kembang gula pelangi itu sudah dihiasi liurnya,
dan apakah anak itu akan mau lagi merima pemberian itu.
Segera Nami tersadar dari hinoptis kembang gula pelangi.
Sungguh keterlaluan kembang gula pelangi ini,
sihir apa yang ia gunakan?!
Hingga ia hampir hilang kesadaran.
Nami mengulurkan tangannya menyentuh wajah anak mudah itu dengan tangan kirinya,
sedangkan tangan kanannya masih memegang kembang gula.
"Diamlah. Aku takkan meminta setengah jatah makanmu!
Tapi hanya setengah uangmu.
Ok. Jadi berhentilah menangis, kakak ini sedang menghiburmu." Lembut Nami sontak saja anak itu berhenti,
dia menggosok mata dan ingusnya dengan tangannya.
Sambil melihat Nami yang begitu perhatian padanya.
"Terima kasih tuan begitu baik padaku.
Aku bahkan bersedia menyerahkan diriku padamu dalam bentuk kesetianku sebagai ucapan terima kasih." Ucap pemuda itu memberikan penghormatan padanya.
Nami mengangguk setuju.
Segera menyodorkan kembang gula pelangi itu,
Dia pun tak bisa berhenti tersenyum.
Kala anak itu menggenggam kembang gula pelangi dengan bahagia.
Tuan apakah anda begitu bahagia memiliki pengikut baru.
Jangan lupakan aku. Sedih Phoenix tidak ingin tuannya beralih kasih sayang.
'*Oh Phoenix ku yang bodoh.
Aku tersenyum, karena aku senang ada yang lebih jorok dariku.
Setidaknya saat mengelap air mata bangkan ingus.
Itu harus menggunakan sapu tangan.' Bangga* Nami bodoh.
Gubrak!
Phoenix langsung jatuh dari tubuh tuannya ke tanah.
Tuanku. Jadi itu yang anda pikirkan. Dan jangan membuat omong kosong! Anda juga begitu! Kutuk Phoenix,
frustasi, dia tahu semuanya apa yang diperbuat tuannya selama beberapa bab cerita ini.
Betapa joroknya dia, sapu tangan?
Omong kosong. Sapu tangan pemberian kaisar padanya,
sudah dijadikan pembersih pantatnya!
Kemudian dengan keberanian sebesar ujung kuku, anak itu berkata.
"Terima kasih, tuan. Aku takkan pernah mengkhianatimu.
Lalu Bolehkah aku tahu dari keluarga mana anda berasal?
Sehingga begitu berani memprovokasi keluarga Hawk?" Tanya anak muda itu ragu.
"Maksudmu keluargamu?
Ayolah tak penting dari mana keluargaku berasal.
Selama aku memiliki kekuatan besar.
Maka keluarga itu takkan menjadi pengalas sepatuku.
Bahkan jika mereka memohon dan menjilatinya.
Ketika mereka dengan berani menelantarkan anaknya." Pungkas Nami dengan jejak kesombongan dan tirani itu.
Pemuda itu mengangguk bahwa tuannya ini sangat hebat.
"Bolehkah aku tahu nama tuan sebagai gantinya?" Tanyanya sopan.
Nami mengernyit, bukankan dia sudah mengatakan namanya sebelumnya.
__ADS_1
"Panggil aku Onami."
"Onami bukankah tuan tadi menyebut diri anda Nami?" Ujar pemuda itu dengan senyum lembut sekaligus ekspresi serius.
Kalau anda sudah tahu ngapain anda bertanya! Kutuk Phoenix
Nami yang mendengar kebingungan anak lelaki lusuh namun lembut itu,
segera menepuk punggungnya.
"Oh itu. Hahaha sebenarnya aku sengaja. Namaku Onami,
dan nama Nami itu hanya nama asal.
Orang-orang yang kugertak di mana-mana mencariku,
dan menggunakan nama itu membuatku aman.
Dan sangat mustahil untuk menemukanku." Ujar Nami asal dia cukup sadar berulang kali menyebutkan namanya.
Dia bukanlah orang bodoh dan ceroboh mengatakan pada semua orang nama aslinya,
dengan penampilannya saat ini.
Sehingga dia bebas menyebutkan nama aslinya Nami di mana pun ia berada.
Dan satu lagi, saat dia melakukan pedaftaran ujian masuk,
dia menulis nama itu Onami bukan Nami, agar dirinya tetap aman. Bukankah dia jenus? phoenix sembah aku!
"Kalau begitu. Master Onami, perkenalkan namaku adalah Kenta Hugo Hawk. Master bisa memanggilku Kenta."
Nami yang mendengar namanya disebut bahkan ditambah kata master membuatnya geli sendiri.
Sejak kapan dia mengangkat murid ini. "Tidak bisakah aku memanggilmu master?
Tuan sangat hebat dan aku ingin banyak belajar darimu." Ragu pemuda itu dengan nada memujinya itu meminta persetujuan.
Phoenix yang mendengar nada menjilat itu sangat tidak setuju.
Terlebih lagi dia tidak bakal melupakan permusuhan mereka.
Walau tuannya bercanda.
Namun dia tak serta-merta mengabaikan lelucon tuannya,
membuat dia terbakar api kecemburuan.
Lalu apa? Tuannya hanya Nami.
Dan dia tidak senang ada orang lain ingin menjadikan tuannya sebagai tuan mereka.
Dia binatang agung ini, akan membakar habis tubuh mereka dengan api ganasnya.
Phoenix menatap tuannya,
seolah tuan jangan menerima tawarannya.
Aku hanya satu-satunya bawahanmu yang bisa kau siksa dan goda!
"Baiklah! Maka belajarlah dengan baik.
Jangan bertingkah implusif.
Jika ada yang tidak kau ketahui bertanyalah padaku.
Dan juga aku meminta biaya mengajar." Ujar Nami bangga oke dia senang dipuji.
Apa lagi pemuda bermata kucingnya ini.
Rahang phoenix itu jatuh tuannya terlalu gegabah, dan menghancurkan hatinya.
Pertama dia sudah berulang kali menyebutkan namanya,
dan dia mengangkat seorang murid padahal dia seorang murid juga,
terlebih lagi jangan menjadi guru,
jika ujung-ujungnya anda meminta bayaran pada murid miskinmu!
jenis lelucon apa ini?
Di tempat berbeda.
Sekelompok orang telah mengacaukan sebuah tempat terlarang.
Bagaimana tidak mereka begitu berani mencuri telur dari binatang roh tingkat tinggi.
Dengan alasan tidak ingin menghilangkan kesempatan emas.
Mengingat induk sang telur sedang keluar.
"Kakak Chen bisakah kita tidak mengambil resiko.
Anna takut, saat kita mengambil telur itu, induknya akan marah." Takut Anna gemetaran.
Gadis yang senang menempel dengan Chen pemuda yang tampan, dan sombong itu.
"Anna tenanglah. Induknya tidak berada di sini sekarang.
Dan kakak Chen akan melindungimu.
Jika kau tak ingin masuk biar kakak Chen saja bersama yang lain." Lembut Chen pada Anna yang merupakan gadis yang dijodohkan olehnya sejak kecil,
dan merupakan anak kepala keluarga besar lainnya, Skyler.
Sedangkan dia merupakan anak kepala aliansi pemburu singa malam.
Yang merupakan salah satu satu dari 3 aliansi pemburu hadiah terbesar di kerajaan ini.
Pemburu hadiah, merupakan aliansi yang bekerja di pasar gelap.
Yang di mana setiap orang yang menginginkan sesuatu untuk di dapatkan misalkan tumbuhan langka,
dan anggota tubuh binatang roh beberapa tingkat kelas.
Hal tersebut bisa terlaksana.
Asal jaminan mereka memenuhi permintaan sang pemburu.
Dan pemuda ini merupakan pewaris tunggal.
Dan karena keluarga Skyler yang merupakan ahli dalam bidang apoteker,
namun tidak pada bela diri.
Jadi mereka memutuskan untuk membangun kekuatan dengan membuat aliansi pernikahan dengan keluarga pemburu singa malam.
Sebagai jaminan jika mereka membutuhkan obat untuk membantu mengisi tenaga mereka saat berburu, dan beberapa manfaat lainnya.
Dengan menenangkan kegelisahan anak manja ini,
dan bernampilan seperti boneka palsu.
Chen kemudian bergegas masuk.
Dan ya, sejak dia tumbuh menjadi jenius di kota ini,
Dia tak membutuhkan orang lemah bahkan senang menempel dengannya ke manapun.
Tapi karena hubungan ini,
dia harus bersikap pura-pura lebih lama lagi, agar bisa membangun kekuatannya.
Mengingat paman dan sepupunya begitu serakah.
Mereka memaksa ayahnya untuk sebaiknya memikirkan pemberian ahli waris lagi.
Apakah ayahnya mau memberikan pada sepupu tuanya itu? Tentu saja tidak!
Namun ayahnya juga tidak bisa apa-apa karena pamannya itu memiliki banyak dukungan di sekelilingnya dan bahkan dia memiliki ikatan dengan aliansi lebih kuat dari pada singa tidur.
Setelah itu ayahnya semakin hari semakin terpojok.
"Kakak Chen."
"Anna." Tegas Chen tidak ingin dihalangi.
"Baiklah. Cepat kembali." Anna mengedus lemah menyetujui.
Chen pun mengangguk.
Mereka benar-benar lupa untuk tidak terlalu memprovokasi binatang roh tingkat tinggi.
Dan hanya mengambil barang yang di minta tim penguji untuk meloloskan mereka.
Tak butuh waktu lama setelah berhasil mengambil telur itu,
sang induk sudah berdiri di hadapan mereka.
Dan...
Wrok!!!
Jerit binatang roh itu menggema seisi hutan.
Dan membuat tubuh manusia itu tergucang dan kaki mereka menjadi jeli.
"Hei! Phoenix kecil, apakah kau dengar suara itu? Sepertinya akan ada tontonan menarik! Mari kita ke arah suara itu!" Semangat Nami berjalan ke arah yang dituju.
"Master, aku pikir seseorang telah melupakan peringatan tim penguji." Tarik Kenta ketakutan.
"Tenang saja. Aku akan melindungimu. Dan berjalanlah tepat di belakang, gurumu ini." Ujar Nami mengerti kegelisahan anak ini.
Anak sialan jangan menunjukkan raut wajah lemahmu, sehingga tuanku bisa luluh padamu! Kutuk Phoenix.
"Tuanku! Aku juga takut!" Panik Phoenix menelan ludah sendiri dan berwajah tebal, dia juga ingin mendengarkan kata perlindungan dari tuannya.
Nami yang mendengar itu segera mengalahkan phoenix,
Dia benar-benar bersikap berbeda dari Kenta dan dirinya.
Nami menarik paksa phoenix yang bertengger di bahunya, dan melemparnya segera di langit.
Tuan!!!! Jerit Phoenix penuh kesedihan terlempat jauh di udara lalu menghilang.
__ADS_1