Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu

Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu
Bab 15 - Hari kulewati dengan uangku


__ADS_3

"Kalian bentuk sebuah formasi sekarang juga!" Perintah pemuda itu menyuruh teman-temannya untuk membentuk formasi sihir.


Mereka sudah terjebak di dalam gua ini,


karena saat binatang roh tinggi itu berkoak-koak sebelumnya.


Alhasil pintu masuk mereka telah tertutup oleh reruntuhan batu dari gua ini.


Dan pilihan satu-satunya mereka adalah mengalahkan makhluk ini terlebih dahulu,


lalu setelah itu memikirkan cara mencari jalan keluar.


Chen pemuda dengan kesombongan sebelumnya,


telah berubah menjadi pucat.


Dia mengarahkan teman-temannya,


namun lebih daripada itu kalau dia dan yang lain tidak mau mati di sini.


Mereka harus berusaha,


"Oni! Siram dia dengan elemen air mu!"


"Ion! Rapalkan mantra untuk membuat astral penghalang!"


"Nio! Alihkan binatang itu, dan aku akan menyerangnya langsung.


Dan dalam hitungan ketiga lancarkan serangan!" Perintahnya mulai bersiap bergerak dengan pedang es kelas tiganya.


Mereka pun dengan kompak melaksanakan strategi mereka.


Serangan bertubi-tubi dilakukan,


dan mereka berusaha mencari bagian dari titik lemah dari binatang roh tingkat tinggi itu.


Dan ya, elemen yang mengelilingi binatang roh itu adalah sebuah api.



"Tidak! Tidak bisa begini! Kakak Chen terjebak di dalam!


Apa yang harus ku lakukan?" Panik gadis bernama Anna itu dengan berurai air mata,


tunangannya terjebak di dalam.


Dia mencoba mengeluarkan elemen tanah miliknya untuk meruntuhkan batu itu.


Tapi hasilnya nihil...


Tap...tap...


Ada beberapa peserta ujian lainnya melewati tempat ini.


Gadis itu menoleh dengan senyum cerah dan segera menghapus air matanya.


Tanpa menunggu, dia segera mendekati pejalan kaki itu.


"Anak muda yang di sana berhenti!" Panggil Anna angkuh,


dia tidak pernah menurunkan matanya memanggil orang dibawahnya,


bahkan jika dia yang meminta tolong sekali pun.


Peserta ujian lainnya menghiraukan gadis itu.


Mereka tidak punya waktu untuk mengurusi orang lain.


Kali ini waktu telah terbatas.


Setelah hari sudah mulai gelap.


Maka tahap ujian selesai.


Terlebih lagi,


mereka tidak ingin berurusan dengan gadis sombong itu.


"Hei! Manusia rendahan berhenti di sana!


Aku memanggil kalian!" Panggil Anna masih dalam tahap egois.


Sekali lagi orang lain tidak mau menggubris,


membuatnya semakin putus asa.


Menahan tangan mereka.


Tapi apa yang ia dapatkan?


Mereka mendorongnya,


"Kalian tidak mengenalku siapa?


Beraninya kalian bisa memperlakukanku dengan begitu angkuh!" Tunjuk Anna emosi tidak pernah merasa sangat terhina seperti ini.


Para pejalan kaki itu memberi lirikan sinis pada Anna,


"Oh nona muda! Walau anda berasal dari orang besar sekalipun.


Kami tidak memiliki banyak waktu untuk menjilat anda.


Tempat ini adalah hutan terlarang!


Tempat di mana binatang roh berada baik terendah mau pun tertinggi!


Bahkan terendah sekali pun kami tidak yakin bisa mengalahkannya.


Dan juga selama kami bisa mendapat salah satu benda yang diperlukan.


Kami bisa lolos tes.


Juga tidak ada yang ingin menjadi salah satu orang yang begitu bernyali besar.


Membantu temanmu di dalam,


kamu pikir kami ingin mati sia-sia?


Dan juga kami harus segera keluar dari sini!


Tempat ini adalah tempat berbahaya!


Jadi lepaskan tanganmu!" Katanya tidak senang,


mereka sepenuhnya tidak ingin bunuh diri.


Mereka berjalan kembali sebelum hari mulai gelap.


Anna mulai takut, jika itu terjadi siapa yang akan melindunginya lagi.


"Hei jangan pergi aku akan membayarmu!" Tawar Anna meremas bajunya.


"500 koin perak!" Tahan Anna berharap mereka tergiur, dan membantunya.


Karena itu bukanlah jumlah yang sedikit,


melihat dari cara berpakaian mereka yang miskin.


Tapi sebaliknya mereka tetap ingin pergi.


"Apa?! Hei tunggu aku akan memberi kalian 200 koin emas!" Cegah gadis itu penuh usaha.


"600 koin emas!"


Gadis itu menggigit bibir bawahnya ingin menangis,


orang tuanya hanya memberinya 10 ruby untuk biaya hidupnya selama setahun selama bersekolah nanti.


Tapi dia juga tidak ingin terjadi apa pun pada tunangannya.


"Aku akan memberi kalian 2 koin ruby!" Tawarnya lagi dengan biaya lebih tinggi dengan amat terpaksa.


"Maaf nona!


Hidup kami lebih berharga!" Tolak mereka lagi benar-benar berjalan pergi.


"Apa?! Apakah kalian bisa disebut manusia?


Tidak bisakah kalian berempati pada sesamamu!" Tunjuk Anna tidak habis pikir dengan mereka,


kali ini dia menyebutkan bagaimana orang harus memiliki perilaku kemanusiaan.


Padahal aslinya dia jauh lebih kejam.


Merusak wajah anak perempuan lain,

__ADS_1


ketika mereka berani mencoba mendekati tunangannya.


"Terserah apa kata nona, kami harus pergi!" Ujar salah satu pemuda itu berhenti,


lalu kembali lagi pergi,


benar-benar menghilang.


"Jangan!"


Bug!


Anna terjatuh di tanah dengan penuh putus asa.


Dia pun menangis,


Kakak Chennya dalam bahaya.


Bagaimana dengan dia?


Dia sendirian di sini!


Apa yang bisa dilakukan gadis lemah seperti dirinya ini.


Dia sudah terbiasa berlindung di balik badan lelakinya.


Apalagi karena nama besar orang tuannya selalu membuatnya tetap aman,


dan tidak seorang pun berani mengabaikannya.


Dan sekarang...


"Tidak! Aku tidak ingin mati di sini!" Dia mulai ingin menyerah mengambil alat petasan bantuan,


untuk mengeluarkannya dari sini.


Dia sepenuhnya tidak yakin apakah tunangannya keluar atau tidak,


dan dia harus menunggu di sini sampai nyawanya melayang,


Hanya orang bodoh yang mau melakukan itu.


Sedangkan dua orang lelaki berdiri di balik semak menonton pertunjukan menarik.


Yang satu lelaki tulen tampan namun bernampilan lusuh,


Sedangkan yang satu lagi paras biasa saja,


kalau berada di tengah kerumunan ,


dia bakalan menjadi orang pertama yang terlupakan,


Bernampilan kumuh,


Bahkan membeli makan saja dia tidak mampu,


Dan terakhir yang paling mengerikan,


Dia bukanlah lelaki tulen.


Kali ini dia sedang menyamar sebagai anak laki-laki dan mengganti identitasnya.


Nami menyeka air matanya penuh tawa bahagia,


Sedangkan Kenta menatap heran dengan perilaku masternya.


"Apa yang salah tuan?


Apa yang perlu ditertawakan?"


Nami yang menyadari kebingungan muridnya,


Dia pun menepuk bahunya dengan mulut terkatup menyanggupi,


dan matanya dihiasi bintang-bintang.


Entah kenapa dia mengasihani wanita itu di banding masternya sendiri.


"Kita benar-benar datang pada situasi yang begitu tepat kali ini," Dengan senyum cerah,


"Master?"


"Ayo kita membantu nona itu!"


"Sejak kapan kau ragu dengan keahlian tuhanmu ini?" Kata Nami sambil mengangkat sudut bibir kanannya ke atas, penuh dengan kesombongan.


Kenta tertegun oke mereka baru bertemu hari ini,


Dia juga sepenuhnya belum tahu seberapa kuat tuannya ini.


Namun dia begitu yakin bahwa tuannya lebih dari itu,


dia sudah melihat elemen kayu, api, air yang dikeluarkan sebelumnya.


Tuannya adalah jenius di antara jenius.


Mampu menguasai tiga elemen sudah begitu menakjubkan,


Tapi tuannya jauh lebih unggul.


Akhirnya ia mengikuti tuannya ke arah gadis itu.


Syut!


Nami melompati semak-semak itu tanpa masalah,


Sedangkan Kenta harus bersusah payah,


Semak-semak itu sangat tinggi sampai kepalanya.


Bagaimana bisa dia melompat setinggi itu,


Kecuali dia harus mati karena terjebak duri.


Masterku yang hebat bisakah kau membawaku saat kau melompat. Sedih Kenta mencoba lolos dari semak berduri ini.


Kalian pasti berpikir bagaimana bisa mereka tahu seluruh kejadian kalau dipenuhi semak-semak berduri, cuman satu penjelasan.


Ada satu lobang seukuran bola di sana,


saat tuannya melempar sihir bola apinya tanpa nyanyian mantra.



Seseorang tampak marah besar,


Dia berada di kursi kekaisarannya,


dan ya kalian bisa menebak sendiri,


Bahwa dia adalah kaisar sihir.


"Dalam kurun waktu enam bulan ini!


Mengapa tidak ada hasil yang kalian dapatkan!


Dasar tidak berguna!" Marah kaisar sihir membanting bola kristal ditangannya ke bawah,


Mereka para menteri,


dan kapten perang yang merupakan bagian dari 4 keluarga besar lainnya.


Menunduk takut pada kaisar sihir,


Tidak ada yang berani menyuarakan satu katapun untuk membantah kata kaisar.


Semua orang tahu,


Bahwa ketika kaisar marah,


Ekspresi yang ditunjukkannya sama dengan ekspresi di mana ia berada di medan perang.


Berdarah dingin, membunuh lawan berdarah tanpa berkedip.


Malah dia sangat menikmatinya,


Menteri pertahanan kala itu bersama dengan gadis itu dan kaisar sihir sebagai pengawalnya.


Mencoba mereka ulang memorinya.


Sepertinya gadis itu ingin menuju ke suatu tempat.


Dan ya, dia ingat,


pada saat itu, gadis itu mengambil formulir pendaftaran sekolah sihir.

__ADS_1


Jadi bukan kemungkinan lagi,


bahwa dia ingin memasuki sekolah sihir.


Dia pun menjelaskan segalanya pada kaisar sihir,


Dan alhasil kaisar sihir begitu puas dengan analisisnya.



Anna gadis itu mulai ingin menarik suar permintaan bantuan itu.


Tapi tindakannya terhenti, kala seseorang menahannya.


"Nona, kau akan memberiku 2 koin Ruby padaku kalau aku menyelamatkan orang-orang di dalam?" Senyum Nami yang tidak bisa dia tahan,


memikirkan uang membuatnya kehilangan akal.


Anna mengerutkan keningnya,


Dia menatap bocah lelaki kurus di hadapannya.


Apakah dia tidak salah?


"Nona, apakah itu benar?"


"Tidak! Itu tidak benar!" Kata Anna tidak yakin,


Ya dia tidak yakin dengan orang asing di hadapannya.


Dia tak merasakan fluktuasi Mana di dalam tubuhnya sama sekali.


Dan bocah ini sepertinya mempermainkan dia,


"Adik kecil! Jangan membuang banyak waktu.


Sebaiknya kamu menjaga dirimu sendiri terlebih dahulu.


Di banding kau harus membantuku.


Jangan menggangguku, menyingkir." Hina dia tak senang pada bocah biasa saja ini.


Nami yang mendengar itu langsung tersenyum getir.


Kenapa setiap kali dia mau berbuat baik semua orang pasti meledeknya?


Secret Roman : Iya, baik pantatku -_- kamu baik hati karena ada duitnya banting meja Berhenti mengatakan dirimu baik! Berapi-api


Kenta sudah terbebas dari semak-semak.


Hal yang paling awal dilihat dari masternya,


Yaitu air wajahnya tampak suram.


Nona ini benar-benar menggali sumur yang kering.


"Nona kalau aku bisa membuat pintu dari tempat keluar Goa yang sudah tertimbun batu.


Apa yang akan kau berikan padaku?" Tanya Nami dengan wajah lurus, namun penuh misteri.


Anna yang mendengar itu tertawa,


"Memangnya kau bisa?" Ledeknya sudah sepenuhnya melupakan bahwa tunangan yang dicintainya terjebak di sana.


"10 Ruby sudah cukup!" Ucap Nami sambil mengedipkan mata kanannya dan tersenyum manis.


Sontak saja Anna merinding dengan tingkah anak ini.


Apakah dia menggodanya?


Betapa berani!


Belum selesai dia protes,


Nami mengeluarkan palu dari balik tas ajaibnya yang bisa menyimpan apa saja.


Kenta yang melihat senjata milik tuannya.


Bukankah itu hanya palu biasa?


Tidak ada aura kelasnya sama sekali.


"Palu biasa tanpa kelas?


Apakah kau bercanda denganku?!" Sinisnya.


Kenta mulai khawatir mendekati masternya.


"Master, apakah itu benar-benar bisa?


Bukankah kamu hanya mengeluarkan elemenmu saja untuk menghancurkannya?" Tanyanya meyakinkan tuannya.


"Apakah kau tak yakin dengan gurumu ini anak muda?


Baiklah maka lihatlah.


Ini salah satu caraku mengajarimu.


Penggunaan sihir bukan hanya bergantung pada pusat pikiran saja,


tapi otot juga diperlukan. 


Misalkan seseorang yang berada di bidang archer,


semakin kuat kelasnya, maka semakin berat senjatanya, begitu juga warrior.


Jadi lihat baik-baik." Jelas Nami menunjukkan bahwa dia seorang guru yang hebat dan terpercaya.


"Muridmu ini mengerti master!" Hormat Kenta semakin mendalam.


Anna yang melihat itu tersenyum miris,


Dia dengan menggunakan elemennya saja tidak mampu menghancurkan batu itu.


Apa lagi bocah itu yang hanya menggunakan palu tanpa kelas sama sekali,


"Bisakah kalian berhenti bicara! Jangan membuang waktuku." Sinisnya jika anak ini memang ingin menyelamatkan tunangannya maka selamatkan lah cepat,


jika terlambat dia sepenuhnya tidak sanggup melihat di balik reruntuhan itu.


"10 Ruby kompensasi yang harus anda bayar padaku,


ditambah 2 Ruby untuk ketipercayaanmu,


dan 3 Ruby mengobati luka hatiku yang dihina olehmu." Cerah Nami masih seperti biasa mencintai uang.


"Apa kau memerasku?!"


Bug!


Dengan sekali pukulan reruntuhan goa itu membuat pintu.


Sungguh ajaib benar-benar maha karya yang indah.


Kalau orang biasanya memukul tidak akan membentuk ukuran pintu keluar yang begitu rapi,


Tapi ini,


Masterku aku benar-benar tidak menyesal mengikutimu! Bangga Kenta dengan sorot mata penuh bintang.


"Nona muda tolong beri cap stempel darah di atas kertas yang kuberikan pada muridku.


Aku akan menolong orangmu di dalam!" Senang Nami melihat raut wajah wanita itu yang meledek sebelumnya berubah menjadi rahang yang jatuh, kaget.


Nami menarik napas dulu sebentar sambil memikirkan uangnya lagi.


Dalam kurun waktu sehari ini dia sudah mampu menghasilkan banyak koin Ruby.


Apa-apaan dengan keberuntungan hebat ini?


Tak lama liurnya keluar,


Dia menambah pikiran lainnya,


Tuan muda yang di dalam sana,


Pasti sangat kaya juga.


Jika dia membantunya,


Bukankah Nami akan menembak dua burung dengan satu batu?


Dia segera mengelap sudut mulutnya,


Uangku rawatlah diri kalian dengan baik! Sebelum aku datang merawat kalian!

__ADS_1


__ADS_2