
Nami keluar dari ruang alchemist dengan sikap biasa. Dia sudah mengenal sedikit mengenai lady Diana, bukan nenek Diana, ayolah dia yang memintanya, bukan dia.
Dia adalah salah satu pengikut neneknya yang setia. Dia begitu mengaguminya, bahkan neneklah yang mengajarinya menjadi seorang alchemist berbakat.
Sebelum neneknya menghilang selama bertahun-tahun lamanya bersama dirinya yang waktu itu masih bayi, dan sekarang baru menghubunginya. Hanya karena cucunya, yaitu dirinya.
Nenek tidak sia-sia kau menjalani masa mudamu. Terlebih lagi ayolah dia diberi tanda untuk menekan kekuatan dalam dirinya untuk tidak mengunakan melebihi 10%.
Tapi dia tak pernah tahu, bahkan kaisar sekali pun, dia mampu menjatuhkannya dengan kekutannya tidak melebihi 10%.
Dan juga neneknya sudah memberinya pil, tapi sayangnya dia mampu membuka seluruh kekuatannya. Ketika dia mau.
Hei dia tidak sombong kalian pasti tau, ayolah puji Nami yang manis ini.
Oke kembali ke situasi awal, dia berjalan melewati koridor akademi ini dengan panjang yang memusingkan bahkan ini membentuk zig-zag turunan.
Apakah mereka sedang menguji ketangkasan murid. Dengan model bangunan seperti ini?
Nami terlihat tidak tenang binatang roh kontraknya tampak terluka dengan sinyal dari ikatan kontrak mereka.
Tunggu... Di mana kelasnya?
***
Sekelompok anak nakal membicarakan siapa yang pantas menjadi ketua di antara mereka.
Mereka terlihat seperti anak-anak bermasalah, dan juga tidak terlihat seperti dari kalangan atas, dari penampilannya yang berantakan.
"Aku yang akan jadi ketua. Sebaiknya kau mundur. Dan perhatikan langkahmu untuk maju melawanku."
"Hei bung! Apakah kau tak tahu batasanmu? Menantangku demi memperebutkan posisi? Betapa berani kau!"
"Tidak usah banyak basa-basi serang!" Perintahnya meminta pengikutnya menyerang satu sama lain.
Perapalan mantra nyanyian untuk membangkitkan elemen pun mereka lakukan.
Kemudian mengalirkan elemen mereka ke dalam senjata yang mereka gunakan.
Bahkan mantra kutukan pun mereka jalankan. Bukan seperti perkelahian jalanan yang hanya menggunakan tangan kosong.
Tapi ini perkelahian antar kekuatan seorang warlock, warrior, elementalist, dan juga archer.
Dan mereka melakukannya di lapangan terbuka. Tidakkah mereka berpikir akan mendapat teguran dari pihak sekolah.
Namun sebenarnya mereka tidak salah. Karena tempat yang mereka gunakan adalah tempat untuk melakukan sparring.
Perapalan mantra nyanyian mengenggema di udara yang di lakukan seorang elementalist. Langit pun menjadi gelap.
Begitu juga di lakukan oleh lawan elementalist lainnya yang membuat tanah bergetar.
Warlock dan archer saling bekerjasama. Archer menyiapkan panahnya sedangkan warlock memberi mantra kutukan pada panah itu.
Lalu berusaha menyerang pertahanan pihak lawan. Sang lawan juga tidak mau ketinggalan setiap tanah sudah diberi mantra kutukan oleh warlock mereka.
Bergerak sedikit maka tanah akan meledak. Dan archer yang menggunakan pistol di aliri oleh elemen suara.
Pelurunya mampu membuat gendang telinga orang lain pecah, jika orang-orang berada pada radius satu meter di dekatnya.
Pertarungan tak henti terjadi. Sampai pada titik di mana para elementalist mulai selesai merapalkan mantra hujan batu sontak pihak lawan segera memberi mantra pelindung pada pertahanan mereka.
__ADS_1
Sedangkan pihak elementalist lain juga telah selesai, akar perambat keluar dengan kecepatan yang hebat sehingga berhasil melukai archer mereka. Dan tak lama bahan peledak mereka aktif semuanya. Berhasil membuat sisanya terluka.
Sedangkan pihak lawan yang menggunakan elementalist hujan batu mampu menembus pertahanan mereka hingga satu persatu dari mereka tumbang, dan satu dari mereka berhasil terkena mantra kutukan.
"Argh!" Jerit mereka yang kesakitan.
Sedangkan dua yang mengklaim diri mereka sebagai ketua. Tidak bisa tinggal diam. Sebab bawahan mereka kalah begitu saja, dengan kelemahan mereka diserang.
"Aku yang akan menjadi ketua. Lihat saja haha..." Sombongnya mengeluarkan sebilah kapak raksasa ditangannya, dan senjata itu berada dikelas dua.
"Cih! Jelek! Berhentilah berbicara tidak masuk akal. Apakah kau yakin pada senjata rendahanmu itu dengan senjataku ini yang berada di kelas tiga?" Cemooh pemuda berambut cepak dengan tongkat berbentuk seperti bisbol di tangannya yang kekuatannya berada di kelas tiga, dan semakin di kuatkan dengan elemen besinya.
Secret Roman : Hei kalian berkelahi saja. Tidak ada orang berkelahi bicara dulu! Jangan membuang banyak waktu-,-
***
Nami tersenyum kecut. Bagaimana kalau dia menggunakan telerportasi acak.
Bisa jadi dia menemukan Kenta di sekitar jalan yang telah ia lewati secara acak kemarin.
Portal sihir muncul di hadapannya tanpa ada orang di sekitarnya. Jika itu terjadi mereka yang melihatnya akan terkena serangan jantung.
Sebab bagian telerportasi itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang kekuatannya sejajar dengan kaisar sihir.
Kaisar berada pada Penyihir bijak tingkat Atas. Dan itu adalah kekuatan terkuat di negeri ini sekarang.
Lalu untuk kelas kekuatan Nami melebihi itu. Dia pun loncat ke dalam portal sihirnya sendiri.
***
Pertarungan dua orang itu terlihat gesit. Mereka seperti bertarung melayang di udara dengan bantuan elemen mereka.
Lalu entah dari mana seseorang muncul tiba-tiba jatuh dari langit.
"Menyingkir ****! Aaa!" Jerit orang itu dengan kecepatan tinggi menembus angin.
Kedua orang itu mendapat respon yang lambat akhirnya tubuh mereka bertabrakan satu sama lain.
Anak laki-laki kurus dan miskin itu mendarat di atas tubuh dua orang itu yang tidak sadarkan diri.
Sontak para penonton tersenyum kaku. Kedua orang itu kalah begitu saja. Sedangkan anak laki-laki itu, Nami, mengutuk kedua orang ini andaikan dia mendengarnya mereka tidak bakal berakhir di bawahnya.
Tapi dia juga berterimakasih karena menjadi bantalannya. Dia pun berdiri. Entah kenapa seseorang mendekatinya, dan mengangkat tangannya.
"Beri tepuk tangan pada ketua geng bermasalah!" Kata orang itu masih mengangkat tangannya.
Nami tersenyum kaku, ketua geng bermasalah apa maksudnya. Dan siapa yang mau menjadi ketua geng dari orang bermasalah. Tolong perbaiki jalan ceritanya!
"Oi! Anda pasti salah. Aku hanya orang lewat." Datar Nami melambaikan tangannya ke atas, agar orang-orang tidak berpikir hal yang sama.
Namun sebaliknya, mereka melihat pada diri Nami bahwa dia begitu bangga dengan melambaikan ala Miss universe. Jika Nami tau jalan pikiran mereka, maka dia akan muntah darah.
Padahal dia sedang buru-buru. Dan ayolah bantu teman kalian ini yang sekarat.
"Ada pesawat UFO!" Tunjuk Nami ke arah langit semua orang ternyata mudah ditipu, mereka mendongak ke atas.
Sedangkan ini kesempatan Nami. Ah sial, apakah ini ulahnya membuat semua orang di sini terluka parah.
Hanya butuh waktu 5 detik Nami mentransfer elemen air penyembuh pada mereka.
__ADS_1
Namun esensitasnya tidak sembuh dengan cepat seperti yang ia lakukan selama ini.
Karena durasinya begitu cepat. Dan dia tak punya banyak waktu untuk memberi mereka obat.
Dan kemudian dia berubah menjadi burung pipit. Ini lebih baik daripada telerportasi. Jika tidak dia akan berakhir membunuh anak orang.
"Mana UFOnya? Dan apa itu UFO!" Bingung mereka lalu mengalihkan pandangan mereka pada sang pemenang, tapi dia sudah menghilang.
"Eh?"
***
Nami terbang di langit mencari Kenta menjelang 30 menit lamanya. Bagaimana sekolah ini begitu luas.
Dia akan melaporkan semua itu pada Komnas perlindungan anak. Bagaimana tidak? Sekolah begitu luas senang menyiksa anak-anak untuk berjalan kaki.
Tidak bisakah mereka menyediakan sapu terbang seperti halnya novel dan film kesukaannya h*rry potter ataukah sebuah karpet terbang ala film Disney Aladd*n.
Tetapi...
Itu anak kemarin yang disiksa. Dan dia ingat bahwa anak itu. Namanya siapa ya, haduh...
"Marco!" Panggil salah satu teman kelas pemuda itu.
"Ohiya Marco! Dia kalau tidak salah masuk di kelas yang sama denganku!" Senang Nami segera mengubah bentuk tubuhnya menjadi manusia di balik pohon.
Lalu kemudian dia keluar dari pohon itu berlari kecil pada pemuda itu.
"Marco, tunggu!" Cegat Nami.
Kedua orang itu berbalik dengan satu alis terangkat. Kemudian meneliti siapa yang memanggil dirinya, Marco.
"Hei apakah kau masih mengingatku?" Tanya Nami setidaknya mari basa-basi sedikit.
"Apakah kau mengenalnya Marco?" Tanya teman Marco yang merupakan seorang gadis manis berwajah kecil.
Marco sepertinya mengingat pemuda familiar ini. "Kau siapa?","tunggu, kau anak kemarin, bukan?"
"Ya, dan kau berutang uang padaku!" Jawab Nami mantap mengeluarkan bukti kertas hitam putih mereka.
"Tapi kita bisa tunda dulu pembayarannya. Apakah kau ingin kembali ke kelas? Mari kita sama-sama!" Ajak Nami tanpa memikirkan apakah Marco menerimanya atau tidak.
"Jalannya ke arah sini bukan?" Tunjuk Nami mulai memimpin, hei siapa yang tersesat tadi, putar posisi.
Marco tersenyum kaku. Apakah anak ini tidak mengetahui kelasnya.
"Bukan ke sana. Tapi kita sudah sampai." Cegah Marco bagaimana anak itu bisa berjalan begitu cepat.
Nami memaku, dia menggaruk tengkuknya, canggung. Lalu berbalik dengan senyum miring.
"Haha...aku hanya mengetesmu." Tawa Nami malu, dia tak bisa menurunkan harga dirinya.
Akan tetapi mereka bertiga terdiam dengan kening berlipat-lipat. Apa yang terjadi pada kelas mereka.
Pintunya terlihat rusak. Apakah kelas bermasalah memang fasilitasnya seburuk ini?
"Apakah kau yakin ini kelas kita?" Tunjuk Nami tidak yakin. Apakah uang yang dihabiskannya dengan jumlah besar dihadiahi dengan fasilitas seburuk ini.
Kembalikan uangnya!
__ADS_1