Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu

Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu
BAB 38 - Mendapatkan Binatang Roh Kecil 2


__ADS_3

Maaf supaya tidak bingung :-)


Di tempat berbeda suasana kali ini terlihat tidak baik satu-persatu orang bergunjing di belakang menggosipkan keluarga Hawk yang telah lenyap dalam semalam dikalahkan oleh pria misterius aneh berbaju pink tapi mampu menjinakkan binatang roh mitologi agung, Phoenix, sebagai binatang kontraknya.


Bahkan menjadikannya sebagai tunggangannya. Tempat di mana kakinya berpijak dengan santainnya.


"Hatchi! Hatchi! Hatchi!" Bersin Nami berulang kali, apakah ini karena kejadian semalam hingga saat ini orang-orang bercerita tentangnya baik di belakangnya mau pun di depannya membuat buluk kuduknya merinding seketika.


Terlebih lagi mulut bau mereka mengoceh di depannya, dan Kenta yang berada di sampingnya tambah menyusutkan bahunya sedih.


"Apakah kalian tahu kediaman klan keluarga Hawk lenyap dalam semalam dan memancing kemarahan orang hebat di luar sana. Tapi baguslah keluarga itu lenyap mengingat banyak dosa yang telah mereka lakukan selama ini." Ujar mereka santai.


Puk!


Nami menepuk pundak Kenta menyuruhnya tetap tegar dan memberitahunyaa bahwa utang murid padannya telah lunas; perak, emas, dan ruby ada ditangannya.


Namun Nami tidak berani bertingkah serakah, dia hanya mengambil utang Kenta saja. Tubuh Kenta yang awalnya menyusut langsung gemetaran saat orang-orang mengatainya keturunan tidak berguna.


"Jaga mulutmu, br*ngsek! Sebelum aku berniat membengkokkannya!" Ancam Shopia marah menjadi pengikut setia Nami.


---


Mengapa mereka bisa bersama padahal kelas mereka bagaikan bumi dan langit.


Karena saudara kembar beda kelamin itu datang menjeput Nami sukarela di depan kamar asramanya, dan berkeinginan pergi bersama menuju sekolah.


Nami nampak bingung dengan perubahan sikap si kembar ini. Pada waktu pertama kali Nami menemui mereka hanyalah anak manja yang sombong.


Namun sekarang mereka mengekorinya seperti anak bebek. Semua orang yang awalnya penuh dengan cemohan, akhirnya berhenti berbicara.


Siapa yang berani mengusik murid kesayangan tetua agung warrior walau mereka adalah anak baru dan juga ayahnya pernah dibimbing langsung oleh tetua agung ini.


Nami yang awalnya ingin bertindak malah didahului mereka yang memberi pelajaran.


Dan alhasil Nami menunjukkan decak kagum dan memberi Shopia tanda jempol. Keluarga kaya dan berpengaruh memang beda.


"Kerja bagus, Shopia!" Puji Nami tulus,


Shopia tersipu malu mendengar penuturan dari tuan dermawannya.


Tidak, aku tidak dalam keadaan jatuh cinta, tapi aku tidak suka orang dari tuanku diusik tepat di depan hidungnya! Batin Shopia menolak kenyataan, namun ada laser cinta di matanya, dan berhasil membuat Nami merinding membuang wajah, ada apa dengan tatapan anak ini.


Troy menunjukkan ekspresi cemburu saat Nami hanya memuji Shopia dan tidak dengan dirinya.


SWOSH!


Tanpa diduga Troy berjalan maju dan merobek jubah para pemuda yang bergunjing di belakang Kenta dengan sekali tebas tanpa melukai.


Nami yang melihatnya langsung menjatuhkan rahangnya. Troy kemudian kembali dan berjalan ke arah Nami, dan meminta sebuah pujian juga.


"A-aku sudah memberi mereka pelajaran!" Ujar Troy tersipu dengan suara malu-malunya, di mana letak anak serampangan yang meledek saudara kembarnya sebelum ini!

__ADS_1


Nami memiliki kedutan di sudut bibirnya, "Kerja bagus, Troy!"


"Te-terima kasih!" Malu Troy sambil bersemu merah, 'Oi! aku adalah seorang lelaki asal kau tahu? Tidak aku sekarang sedang menyamar!' Frustasi Nami dalam hati, dan memilih memberi hiburan lainnya pada Kenta.


Namun di sisi lain Onix yang berada dalam kontrak binatang roh milik Nami terlihat jauh lebih cemburu. TUANKU AKU AKAN MENGEBIRI MEREKA! TOLONG PUJI AKU!


Mama, Lili juga ingin dipuji! Pinta Vermillion, Lili, sama halnya dengan Onix, dia berada dalam kondisi sama.


Nami merasakan sakit kepala keras. Apakah ini menarik madu tanpa diminta. Dia benar-benar tidak bisa membaca pikiran orang lain.


***


Seorang pria dewasa tanpa atasan nampak duduk dengan posisi gelisah menatap murid menakutkan di hadapannya.


Bagaimana tidak dia baru saja melenyapkan teman satu sekolahnya dulu, Hawk, dalam satu malam tanpa menyisakan nyawanya dan anggota keluarga lainnya kecuali Kenta.


"A--apakah ini disebabkan olehmu?" Ujar Derek gugup sambil menyeka keringatnya, oke katakan bahwa dia sedang menghadapi asura layaknya roh jahat bisa melahapnya kapan saja.


Nami yang mendengar gurunya bertanya seperti itu walau dengan kata ambigu, dia mengerti maksud perkataannya merujuk ke arah mana.


Tetapi, tunggu, kakinya gemetaran, bagaimana bisa gurunya ini tahu kalau runtuhnya keluarga itu disebabkan olehnya.


TIDAK! Jika dia mengatakan yang sebenarnya, maka Nami harus mengucapkan selamat tinggal pada predikat murid biasa-biasa saja ditambah kemampuan rata-rata.


Jadi yang perlu dia lakukan adalah berpura-pura bodoh dan tidak mengerti maksud perkataan gurunya ini. "Apa maksud Guru Besar?"


Derek memiliki ekpresi terdirtodisi, "Ini, jangan bercanda denganku! Apakah kau tidak mengerti maksudku?"


Nami mengorek hidungnya mencoba tambah meyakinkan gurunya ini, "Guru besar bisakah anda memberiku bocoran? Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu!" Tampiknya.


"Bagaimana bisa?!" Frustasi derek menatap Nami penuh selidik


"Tentu saja apa pun bisa terjadi!" Balas Nami sambil menaik turunkan bahunya, namun tetap pada aktivitas joroknya.


"Mengapa kau melanjutkan perkataanku!" Derek tambah tertekan dengan keadaan ini, "Aku bisa gila!"


Nami yang mendengar gurunya seperti itu segera menepuk bahunya dengan tangan yang sudah menjadi bekas korekan up*lnya, "Guru jangan menjadi gila, lalu siapa yang akan menjadi wali kelas dari kelas bermasalah?" Tahannya pucat.


"Anak ini benar-benar –" Derek melirik bahunya tersentuh, bisakah dia melakukannya saat dia pakai baju, KUMOHON BERHENTI MENJADIKAN BAHUKU SEBAGAI LAP!


"Keren, aku tahu itu pak!" Nami terkekeh tanpa malu dan segera menurunkan tangannya dari bahu gurunya itu.


"Jangan memotong pembicaraan orang tua!" Tegur Derek terlebih lagi apakah dia harus merayakan duka pada bahunya yang polos ini sudah begitu ternoda karena anak ini.


Nami menyibakkan tangannya di depan dada berulang kali dengan ekspresi meremehkan, "Jadi bapak sadar kalau anda sudah berumur?"


Sontak wajah Derek jatuh, anak ini-- "Sebaiknya kau kembali ke kelasmu!" Usirnya tidak berkeinginan lagi bertanya pada Nami.


"Kukira guru besar ada yang ingin ditanyakan padaku?" Tolak Nami tidak ingin beranjak pergi.


"Tidak ada! Keluarlah dan kembali ke kelasmu." Usir Derek sambil melambaikan tangannya ke arah pintu.

__ADS_1


"Tapi pak—"


"Keluarlah ku mohon!" Sedih Derek.


Nami memiliki ekspresi datar sekaligus serius, "Baiklah guru besar! Tapi jika guru besar ingin memanggilku lagi, pastikan itu adalah hal penting!" Tekannya dan segera berjalan menuju pintu keluar.


Namun sebelum itu Derek memanggil Nami,


"Onami." Panggil Derek ragu.


Nami yang mendengar panggilan gurunya terhenti, dia pun berbalik dan bertanya dengan ramah, "Apa pak?"


"Tidak ada kembalilah!" Derek berubah pikiran kembali mengusir Nami.


"Baik guru besar." Sopan Nami sambil mengangguk setuju dan bersiap lagi keluar.


"Onami..." Panggil Derek sekali lagi.


"Permisi saya kembali ke kelas guru besar!" Miris Nami dengan eskpresi jelek.


Derek yang melihat Nami yang megabaikan panggilannya tampak panik, "Tunggu! tunggu aku! aku akan mengatakannya. Apakah kau yang melenyapkan keluarga Hawk kemarin dalam semalam?" Ujarnya langsung alhasil Nami berhenti dan menoleh ke belakang kaku.


"Iya guru besar, ada masalah dengan itu?" Tanya Nami tenang, namun berbanding terbalik dengan perasaannya sekarang, JANGAN KETAHUAN KUMOHON!


Sedangkan Derek yang melihat ekspresi hitam Nami membuatnya merasa tertekan, ADAKAH MURID MODEL BEGINI?! Sedih Derek dalam hati dengan hati yang penuh lapang dada, dia segera ingin menampiknya, 


"Tidak! Tidak ada kembalilah ke kelasmu. Tolong sampaikan kepada murid lain bahwa aku tidak masuk dalam jam kelasku. Karena aku sedang ada urusan penting lainnya. Dan juga minta mereka mempersiapkan diri setelah sebulan kemudian. Karena akan ada pengambilan telur binatang roh pada murid baru sebagai hadiah mereka berhasil masuk ke akademi ini!"


Nami yang mendengar kata mendapatkan telur binatang roh langsung memiliki mata cerah penuh bintang kekaguman, dan kemudian air liurnya jatuh.


Slurp!


"Te—telur binatang roh? Apakah itu benar pak?" Ragu Nami sambil mengelap air liur yang jatuh dari sudut bibirnya.


Derek yang mendengarnya memiliki ekspresi jatuh, apakah anak ini sedang memikirkan makanan? "Tentu saja. Akan tetapi, jika telur binatang roh itu mengakuimu sebagai tuan, maka pertimbangkanlah untuk merawatnya. "


"Merawat?" Nami langsung memikirkan dua burung bodohnya. Kemudian dia menggeleng frustasi, sebaiknya memakan mereka daripada menambah beban untuk memberi makan.


Derek tersenyum getir, dia mengerti dibalik ekspresi terkejut Nami, dia sudah merawat bayi besar penuh keberuntungan, Phoenix, apakah binatang roh sekarang dalam kolam itu akan membuat Nami mendapatkan Jackpot?


"Pak aku akan melakukannya!" Ujar Nami memiliki senyum misterius, dan berhasil membuat Derek memiliki perasaan tidak enak.


Nami menunduk hormat kemudian berlari keluar dari pintu itu. Derek hanya mampu menjatuhkan rahangnya. Anak ini, apakah dia selalu bersikap serampangan seperti ini?!


A/N


Hello Readers!


Maafkan saya yang begitu lama update. Itu dikarenakan laptop yang menemani saya membuat cerita rusak. Dan lebih sedihnya lagi beberapa part yang sudah saya buat hilang TT (Sembunyi dipojokan sambil membuat lingkaran putus asa)


Akhirnya saya harus merenungkan diri dan juga tidak memiliki semangat untuk melanjutkan. Tapi berkat dukungan kalian, saya kembali menulis walau buat ulang lagi dari awal. Dan maaf yang memberi komentar dan saya tidak balas :") Itu karena saya terlalu malu untuk muncul, dan hanya akan memberi kalian harapan palsu.

__ADS_1


Sekali lagi saya minta maaf :) Dan untuk kalian selama menikmati membaca cerita ini, saya menunggu kritik dan saran anda, dan jangan lupa tinggalkan like muehehe...


__ADS_2