Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu

Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu
Bab 17 - Menghitung tagihan


__ADS_3

"Aku tidak menginginkannya, dagingnya sedikit.


Kamu bisa memilikinya." Tolak Nami mentah-mentah,


sungguh dia tak berminat sama sekali.


Andai dia tahu,


Maka telur lah terlebih dahulu dibuatnya dari pada memanggang daging.


"Tuan. Apakah tuan yakin?" Kata Chen tidak berusaha menolak,


namun berharap penyelamatnya tidak berubah pikiran.


"Ya, kalau kau tidak mau memakannya.


Kau bisa melakukan kontrak darah dengannya." Jawab Nami datar menatap binatang roh itu,


Tapi kenapa Nami merasa,


Bahwa mereka saling menantang satu sama lain?


Apakah mereka sedang aduh pandang?


"Burung kecil kenapa kau menatapku?" Tanya Nami dengan satu alis kanannya terangkat.


Burung yang diliputi api itu memiringkan kepalanya.


"Mama?" Ucapnya.


Binatang roh yang bisa berbicara?


Bukankah ini? Dugaanku tidak akan salah.


Dia pasti binatang roh legenda mistik itu. Semangat Chen membara.


Di sisi lain, bertindak sebaliknya.


Nami membulatkan matanya, lalu segera mencubit pipinya.


"Siapa yang kau panggil mama burung bodoh?!"


"Sakit uwuwu..." Tangis si burung pecah.


"Oho, burung bodoh! Kau tau rasa sakit itu seperti apa?


Maka kuperingatkan kau jangan memanggilku mama." Cibir Nami tidak memberi ampun,


ayolah dia sudah bertranformasi sebagai anak lelaki biasa dengan tampang biasa.


Lalu bagian mananya dia terlihat wanita.


Dan beritahu dia dengan usia semudah ini siapa yang telah memiliki anak yang telah berumur 5 tahun.


Bahkan jika waktu dihitung mundur,


dia masih menginjak umur 11 tahun.


"Mama!" Pekik si burung dengan mata berkaca-kaca.


"Apakah kau mengerti bahasa manusia itu seperti apa?!


Jangan menguji kesabaran ku!" Kecam Nami tidak luluh sama sekali, ok.


Sedangkan Chen yang mendengar kepalanya seakan terbentur,


Penyelamatku! Bagaimana bisa dia mengerti bahasa manusia.


Bahkan dia bukan manusia. Batin Chen sedih.


"Mama! Mama! Uwuwu..." Tangis burung kecil itu pecah.


"Cukup!" Tegas Nami tidak ingin diseret lebih jauh.


Si burung kecil karena merasa dirinya tertekan.


Karena dicubiti begitu keras.


Apalagi genggaman mamanya semakin keras, dan menyakitkan.


Dia pun mencoba mencari bantuan.


Setidaknya dia harus selamat sekarang.


Lalu menunjuk acak seseorang.


"Papa!" Panggil burung itu dengan


Emosi penuh kesedihan ke arah Chen yang berada di samping Nami.


"Siapa yang kau ingin minta bantuan burung bodoh?!


Aku ini laki-laki!


Kau memanggilku mama,


lalu kenapa kau memanggil dia papa,


padahal dia juga laki-laki!" Geram Nami emosinya meningkat.


"Penyelamat bisakah anda tenang sedikit.


Anda jangan seperti itu.


Dia masih anak-anak." Ujar Chen,


entah kenapa dia suka dipanggil papa,


dan tunggu apa yang dia pikirkan.


Dia masih dibawah umur untuk memiliki anak,


terlebih lagi dia adalah seekor binatang roh!


Nami melepaskan cubitannya,


Dia kemudian menunjuk burung bodoh itu.


Ok, dia sudah memiliki satu burung bodoh,


dan sekarang burung bodoh yang dia temuinya,


malah memanggilnya mama?!


"Anak-anak dia?!"  Ujar Nami tidak suka.


Tak lama...


Cling!


Cahaya keluar dari tubuh burung itu,


Begitu menyilaukan hingga Chen merasakan sakit pada matanya.


Namun Nami menatap tajam burung itu.


"Oh jadi kau ingin berubah?


Kau pikir aku akan berubah pikiran!


Bermimpi lah!" Sinis Nami tidak merasa tertanggung sama sekali dengan cahaya yang bisa merusak mata itu.


Tak butuh waktu lama, cahaya yang menyilaukan itu memudar.


Lalu menunjukkan sosok anak kecil bertubuh pendek yang tampan berambut api,


alis yang mengeluarkan percikan api yang lebih menonjol di banding burung Nami,  Phoenix.


pipi tembem yang mulus,


kulit putih kenyal, mata bulat berair yang imut,


dan anunya yang masih kecil, ok dia masih balita.


Chen membuka matanya,


Dia mengerjakan matanya.


Sekarang bertranformasi menjadi manusia.


"Burung Vermilion!"


Dibanding Chen yang kaget,

__ADS_1


Nami terlihat memaku.


Kemudian,


Pluk!


Nami memeluknya erat,


Dia sepenuhnya tidak pernah bisa tahan.


Dengan bocah kecil berwajah tampan,


apalagi kalau dia sangat imut.


"Kau bisa memanggilku mama!" Senang Nami membuang perilaku kejamnya memeluk burung ini.


"Mama!" Bahagia burung Vermilion telah diakui, dia membalas pelukannya.


"Anak baik!" Puji Nami lupa identitas nya sebagai lelaki sekarang,


dan benar-benar membuang jauh ketidaksukaannya.


"Ada yang bisa memberitahukan ku? Kejadian apa ini?" Chen menatap rumit ke arah penyelamatnya,


dan bocah imut itu, yang mengalami transformasi sebelumnya.


"Papa peluk!" Panggil burung Vermilion merentangkan satu tangan lain dengan mata berair yang imut.


Chen nampak bahagia dengan perilaku burung vermilion.


Dia sangat imut,


Terlebih lagi, dia tak mampu menutupi kebahagian berlebihannya.


Karena tak lama lagi binatang roh ini akan menjadi miliknya.


Chen pun berjalan tanpa ragu, menerima ajakan berpelukan.


Tanpa mereka sadari mereka seperti keluarga bahagia.


Dan menjadi tontonan orang yang mereka kenal.


***


Pemuda tinggi dan mendominasi berjalan dengan gagah ke dalam.


Dia perlu waktu sebentar sampai ke sana.


Dia merasakan bahwa binatang roh bodoh itu telah mati.


Sungguh malang nasibnya bertemu dengan tuannya.


Mungkin kalau dia berada di samping tuannya.


Setidaknya dia bisa pergi tanpa menggali kematiannya sendiri.


"Beristirahatlah dengan tenang." Ujar Phoenix berwujud manusia sangat tampan berbelasungkawa.


Sedangkan kedua orang yang diikat dengan tali apinya.


Tak berani mengeluarkan suara.


Tau sendiri.


Orang di hadapannya bukanlah orang sembarangan.


Sekali membuat dia tak senang,


Mereka takkan pernah tau bagaimana cara bertahan hidup yang mesti dilakukan.


Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai.


Hal pertama mereka rasakan ialah mencium bau daging panggang yang enak.


Lalu aneh,


Ada empat orang pemuda pingsan tanpa menghabiskan daging mereka.


"Kakak senior!" Jerit Anna,


Dan ikatan yang melingkar diperutnya telah terlepas.


Dia segera berlari ke arah mereka.


Tapi kenapa tidak ada pada salah satunya.


Di sisi lain Phoenix dan Kenta menatap sesuatu yang hangat.


Jenis lelucon apa ini?


Keluarga yang berkumpul dengan sebuah pelukan hangat?!


Kemudian, ada yang tidak benar.


Postur dan bau itu, bahkan ikatan kontrak mereka.


Phoenix bisa merasakan, bahwa tuannya berada dipelukan itu.


"Tuan!!!" Jerit Phoenix tidak terima dengan mata merah ingin menangis, dia hanya tidak berada disamping tuannya cukup lama.


Tapi tuannya telah menemukan orang baru.


Nami yang sedang menikmati berpelukan dengan burung Vermilion versi anak kecil menoleh ke sumber suara berisik itu.


"Phoenix kecil apa yang kau lakukan di sini?" Tuntut Nami dengan tatapan ganas,


seolah jangan ganggu aku, ada anakku di sini.


"Harusnya aku yang bertanya tuan! Kau telah melemparku jauh.


Saat aku sudah berhasil kembali. Dan ingin menemuimu.


Apa yang kau lakukan sekarang!


Berpelukan dengan pria asing!" Marah Phoenix penuh dengan api kecemburuan.


Nami mengernyit dengan kening berlipat.


"Aku tak ingin memakai topi hijau!" Tuntut Phoenix menarik paksa Chen, dan melemparnya jauh.


Chen yang tidak tau apa-apa telah terlempar dan menabrak dinding gua.


Sontak dia memuntahkan seteguk darah.


Sungguh kekuatan yang sangat kuat.


"Kakak Chen!" Jerit Anna buru-buru mendekati tunangannya.


"Papa!" Panggil Vermilion melihat ayahnya terlempar jauh dan terluka.


"Burung bodoh, apa yang kau lakukan?


Aku baru menyembuhkan dia!


Dan kau mau membunuhnya.


Kalau uangku hilang bulumu bakal kucabuti semuanya!" Marah Nami mengeluarkan aura menindasnya.


Semua orang yang ada di gua ini tertekan.


Lalu memuntahkan darah.


Chen yang sudah memuntahkan darah, sekali lagi memuntahkannya, dan berujung pingsan.


"Tuan! Sebelum kau bilang kata membunuh!


Kau yang bakal membunuh kami semua!" Cegah Phoenix menahan sakit oleh aura penindasan itu,


bahkan binatang roh terhormat seperti dia tak bisa dibandingkan.


"Mama sakit!"


Aura Nami memudar melihat anaknya kesakitan, "Anakku!"


Phoenix membatu, anak? Tuannya memanggil bocah ini anak.


"Tuan bagaimana anda bisa memiliki anak dalam kurun waktu beberapa jam!


Kelahiran normal itu 9 bulan 10 hari!


Tuan kau mengkhianati ku!" Tangis Phoenix pecah menghilangkan aura mendominasi dan sombongnya.


Nami yang mendengar itu tersenyum kaku.

__ADS_1


Kalau ini anakku.


Kenapa aku tidak tahu,


bahkan tidak merasakan apa pun bermasalah dari tubuhku!


"Burung bodoh, sekali lagi kau berbicara omong kosong,


aku akan mengulitimu!" Kesal Nami tidak bisa berkomunikasi lagi dengan burung bodohnya.


"Jadi tuan itu tidak benar?" Ucap Phoenix berhenti melankolis menatap tuannya dengan mata cerah.


Nami benar-benar malas berbicara pada Phoenix.


Kemudian dia menatap vermilionnya. "Sayang, apakah kau kesakitan?" Lembut Nami, tak pernah menunjukkan perilaku itu pada Phoenix.


Phoenix itu mengungkapkan wajah hitam,


bisakah tampilan kasih sayang seperti itu dihentikan.


Tuanku sampai kapan kau akan mengabaikan ku,


dan memanggilku sayang juga!


Vermilion mendengar suara lembut mamanya.


Dia tanpa pikir panjang meraih lehernua, dan memintanya digendong.


Nami dengan senang hati menerima.


Di mana letak ketidaksukaan anda, sebelumnya?!


Kemudian vermilion menatap sedih pada mamanya.


"Papa!" Tunjuk vermilion mengarahkan Nami pada lelaki menyedihkan itu.


Mungkin dia juga cukup keterlaluan.


Dia lupa bahwa auranya benar-benar membuat orang bisa mati.


Dia berjalan ke arah Chen sambil menggendong vermilion.


"Berikan dia pil darah ini." Serah Nami melempar sebutir ke arah Anna yang juga terlihat melemah.


"Ini..." Kaget Anna dengan benda pemberian Nami padanya.


Ini pil! Benar ini pil! Bagaimana bisa?


"Kau mau memberikannya atau tidak.


Burung bodohku sudah merusak organnya.


Terlebih lagi darahnya sudah mulai terkuras habis.


Itu adalah jalan satunya untuk menambah darahnya yang kehilangan sekalian memperbaiki organ yang rusak." Dingin Nami dengan ekspresi malas,


namun lembut dengan bola kecil dipelukannya.


"Pil darah? Pil darah benarkah? Apakah aku bermimpi?" Kagetnya mendengar penuturan Nami, masih tidak memberikan obat pada Chen yang sekarat.


Namun kemudian dia kembali berpikir.


Bagaimana bisa ada seorang anak miskin bisa memiliki pil ini.


Ini benar-benar barang langka.


Dalam seumur hidupnya,


Dia hanya melihat dalam bentuk cairan.


Bagaimana keluarganya yang hebat dalam urusan kedokteran bisa tidak mengetahui keberadaan obat ini.


Dia kemudian menatap bocah itu, dengan tatapan waspada.


"Ini pasti racun! Kau penipu!" Tuduh Anna merubah pikiran mendadaknya.


Phoenix menjatuhkan rahang.


Gadis ini dengan tampang biasa saja, bahkan otaknya jauh lebih bermasalah.


Itu benar pil darah asli.


Bahkan tuannya mempunyai itu banyak.


Bagaimana bisa itu dianggap racun!


Dan mengatainya penipu?


Kamu yang penipu keluargamu penipu.


Walau tuannya suka bermalasan, bebas, rakus, dan mata duitan.


Dia bahkan bisa menciptakan banyak obat tanpa memelurkan seorang guru mengajarinya!


Bahkan di kerajaan ini mau pun luar,


tidak seorang pun bisa memiliki otak seperti tuannya.


Yang paham akan berbagai ramuan,


dan mampu menciptakan kualitas lebih baik.


Kalau tuanya penipu,


berarti semua orang yang menganggap dirinya seorang alchemist adalah penipu sebenarnya.


Nami tertawa pelan, dia tak mengerti gadis konyol ini.


Dia cukup berbuat baik.


Tapi anak ini meragukannya.


Namun demi uang dia rela dikatai penipu.


Tapi jika dia tidak membayarnya.


Maka dia akan menjatuhkannya.


"Hidupku akan menjadi jaminan.


Maka kau lakukan apa yang kutakan.


Lihat dia muntah darah lagi dalam keadaan tidak sadarkan diri." Jelas Nami dengan ekspresi malas.


Sedangkan Anna melihat tunangannya semakin memburuk.


Dengan gerakan cepat memasukkan pil itu ke dalam mulutnya.


Tak lama tubuh Chen yang pucat karena kehilangan banyak darah.


Tiba-tiba kembali pada keadaan normal seperti sedia kala.


"Ini benar-benar efektif, dan penyembuhannya sangat cepat." Takjub Anna bahkan dia yang tau sedikit tentang pengobatan tak pernah menduga.


Nami mengangguk setuju.


Ya itu sangat efektif, dia bahkan tak pernah memikirkannya.


Dia selalu membuat obat.


Tapi dia tak pernah menggunakannya.


Kecuali dia sudah berapa kali memberikan anak itu obat.


"Lalu kembali pada perjanjian awal. Ingat uang yang kuminta.


Aku tidak memerlukan uang dalam bentuk cek,


aku ingin dibayar secara cash." Ujar Nami dengan bahasa modernnya, sambil mengeluarkan liur.


"Ingat pembayaran 10 koin Ruby,


2 koin untuk ketidakpercayaanmu,


3 koin untuk sakit hatiku,


4 koin untuk satu pil obat itu,


dan juga tambahan 1 koin lagi untuk ketidakpercayaan dan sakit hatiku." Lanjut Nami tidak berbelas kasihan sama sekali.


Anna mendengar itu memucat.


Kenta dan Phoenix memberi tatapan berarti.

__ADS_1


__ADS_2