
Seseorang gadis sedang memesan kamar dan perawatan lainnya. Dia merasa dunia seakan mengutuknya.
Apakah sekolah ini harus meminta biaya untuk perawatan seorang murid yang sekolah, di sekolahnya.
Pantas saja mereka lebih menerima murid kaya dibanding murid miskin.
Karena mereka tidak ingin menanggung beban, dengan perasaan iba pada murid yang tak mampu membayar.
Siapa yang membangun sekolah ini? Aku senang hati mengutuknya! Kesal Nami yang harus mengigit jari kala uang yang baru ia dapatkan, dan akan membuatnya menjadi kaya mendadak akan terbuang begini saja.
"Master, apakah tidak masalah kamu membantuku?" Khawatir Kenta yang tidak memiliki uang sama sekali, dan
Gurunya malah berbaik hati membantunya.
"Tentu saja! Tidak masalah! Aku gurumu!" Jawab Nami berbanding terbalik dengan perkataannya dia sudah menangis darah.
"Master..."
"Tidak perlu dipikirkan. Masuklah ke kamar. Aku ada urusan terlebih dahulu." Balas Nami menepuk pundak Kenta.
Sepenuhnya dia perlu waktu mengatakan selamat tinggal pada uangnya, kali ini dia kaya? Omong Kosong.
"Baiklah Master!" Jawab Kenta.
***
Nami tak henti-hentinya mengumpat, dan mengutuk. Ada yang bisa memberitahukannya?
Dia harus membayar sebuah kamar asrama sebanyak 10 Ruby? Belum lagi penambahan peralatan, buku, dll. 5 Ruby.
Dan menyedihkannya lagi kenapa muridnya begitu miskin?! Tunggu saja, kalau dia melihat keluarga Hawk sialan itu. Dia akan mengguliti mereka.
Bagaimana bisa mereka begitu pelit kepada anak utama?! Bahkan mereka tak memberi wajah pada muridnya.
Sehingga dia harus mendapat perawatan dari orang-orang bermulut berbisa itu.
Nami berjalan melewati anak tangga. Tanpa sadar perut bagiannya sakit. Dan kalian tahu pasti alasannya dengan sakit seperti itu.
Nami sebenarnya ingin buang air kecil. Saat dia berdiri di depan pintu.
Buang air kecil : 200 perak
Buang air besar: 500 perak
Mandi : 1 emas
Sekalian saja buat dia jatuh miskin kalau begini jadinya.
Tapi karena dia sudah tidak tahan. Dia pun mengeluarkan uang dengan amat terpaksa.
Kemudian saat dia berjalan menuju taman. Bagaimana bisa diminta membayar 10 perak? Ke mana pun dia pergi, dia harus membayar.
Sekalian saja jual ginjalnya. Kalau kalian cari di mana burung bodoh itu?
Setelah dia melarangnya untuk masuk bersama ke toilet. Dia pergi ntah ke mana, dan tidak muncul sama sekali.
Gedebuk!
Bunyi benturan keras mencapai Indra pendengaran Nami dengan cepat.
Kemudian tak berselang seseorang meneriaki nama.
"Bukankah ini Marco? Anak miskin menebarkan cinta di mana saja. Tapi ditolak banyak wanita sepanjang hidupnya.
Dan ingin menjadi seorang ksatria sihir? Kau cukup beruntung bisa lolos setelah 5x kegagalan. Lalu betapa beraninya kau menggoda wanitaku!" Pekik pemuda dengan tiga anggotanya yang lain bersama gadis yang berada di pelukannya.
Menatap sinis kepada pemuda yang bernama Marco yang sudah terbujur kaku dengan wajah babak belur.
"Aku tidak menggoda wanitamu. Aku hanya memberitahunya bahwa resleting roknya terbuka! Argh!" Bela Marco menahan rasa sakit.
"Jadi kau melihat dalaman kekasihku!" Emosi pemuda kurus tinggi, berambut cepak berwana hijau. Dengan kulit yang agak kegelapan, termasuk kategori wajah biasa saja.
Namun kekuatannya berada di tahap penyihir senior tingkat menengah. Sedangkan Marco lelaki berambut emas dengan rambut jatuh, mata sipit, berkulit putih, dan masuk kategori tampan.
Hanya berada penyihir pemula atas. Baru kali ini berhasil memasuki sekolah. Walau dia terpental masuk ke kelas bermasalah.
Dan sekarang dia dituduh melecehkan gadisnya. Dia cukup sadar mencari wanita yang jauh lebih cantik. Pacarnya hanya cantik biasa tidak menarik sama sekali.
Jadi mana mungkin dia memiliki keinginan menggoda. Level idealnya naik satu tingkat, ketika berhasil lolos sekian lama.
__ADS_1
Dan umurnya sudah 19 tahun. Jauh lebih tua dari murid baru lainnya.
Pemuda yang marah itu merapalkan mantra nyanyian untuk mengeluarkan elemen batu dari tangannya, sehingga menimbulkan efek berbentuk batu.
"Aku akan memastikan tangan dan kakimu patah." Ancam pemuda itu memulai serangan.
Ptuk!
"Siapa yang melempariku batu! Sialan!" Marah pemuda itu yang hampir menghabisi anak muda bernama Marco itu.
Sedangkan sang pelempar Nami. Yang dari tadi menonton lelucon. Tidak bisa tinggal diam.
Kisah memperebutkan bunga menjadi topik yang membuatnya merasa mual.
Dia tak habis pikir, selain bertubuh kurus kering, rambut coklat panjang sebahu, dan wajah berbintik dan hidung bengkok, bagian mana perempuan ini diperebutkan?
Bagaimana bisa estetika wanita cantik dalam pikirannya separah ini!
"Aku, lalu apa?" Ledek Nami yang sedang berdiri di atas ranting pohon tepat di depan mereka.
"Siapa kau? Berani menghalangiku bahkan melempariku batu. Kamu berasal dari kelas mana? Turun ke sini dan hadapi aku!" Marah pemuda batu itu.
"Kau yang ke sini. Kau yang butuh." Balas Nami dengan tatapan nyeleneh dan menaruh pemuda batu itu di bawah matanya, sekilas dia melirik tiga pemuda itu lainnya, dengan tatapan cemberut, sudah sok jagoan, kekuatan mereka hanya rata, bahkan kelas elemen mereka berada pada tingkat bawah. Sedangkan gadis yang seperti lotus putih tak bersalah, dan tak bisa menutupi senyum karena diperebutkan banyak lelaki.
Berhasil membuat Nami ingin menunjukkan jenis wanita yang cocok untuk diperebutkan lelaki sebenarnya.
"Sialan! Benar-benar berani!"
Sedangkan Marco menatap pemuda lusuh dengan tubuh kurus berada di atas pohon. Dia sepenuhnya tidak sanggup berdiri sekarang.
Apa yang anak itu lakukan yang dia hadapi adalah penyihir senior tingkat menengah. Apakah dia ingin mencari mati?
Bug!
Pohon itu ditinju oleh pemuda batu itu dengan sekali gerakan.
Berhasil membuat pohon itu gemetaran. Sedangkan Nami masih berdiri tegap tanpa goyah sama sekali, memberi tatapan mengejek.
"Apakah kekuatan batumu hanya sampai segini saja?"
"Apa kau bilang beraninya kau?!" Emosi pemuda batu itu meledak kala mendengar ledekan Nami.
"Hei. Jangan ajak temanmu untuk mati bersama. Cukup kau saja mati ditangan ku!" Balas Nami sarkartik sambil menggelengkan kepala merasa pemuda ini terlalu bodoh menantangnya.
"Bocah kau sombong sekali! Tunggu saja! King stone!" Rapal pemuda batu itu mengeluarkan kekuatan besar dari tangannya.
Nami menggelengkan kepalanya selain bodoh, dia tak tahu bahwa merusak pohon sekolah akan didenda sebesar 250 koin emas.
Dia pun segera menghindari dan melompat ke pohon satunya.
Pemuda itu menjalankan serangan lagi dan lagi.
Sudah berapa banyak pohon tumbang dan berapa banyak pemuda itu harus membayarnya. Nami sangat menyayangkan uangnya.
"Bagaimana apakah kau kelelahan? Bahkan temanmu malah menunjukkan raut wajah pucat." Ujar Nami memikirkan bagaimana mendapat kompensasi karena mereka melakukan penyerangan berakibat fatal pertama kali.
"Kau, bagaimana bisa bertingkah seperti monyet dan begitu lincah?!" Keluh pemuda batu itu sudah kehabisan mana.
Nami yang mendengar dirinya di sebut layaknya monyet membuatnya langsung turun dan melompati tepat di atas tubuh pemuda kurang ajar itu.
"Siapa kau panggil monyet? Kamu monyet seluruh keluargamu monyet! Berani mengalahkan ku sekarang kau tepat berada di atas ku!" Marah Nami dengan raut wajah bermusuhan.
"Argh!" Keluh pemuda batu biasa saja itu.
Sedangkan Marco yang hampir kehilangan kesadaran. Menatap nanar pemuda miskin itu. Kekuatan mana yang lemah. Mampu mengalahkan penyihir senior tingkat menengah. Bagaimana bisa?
"Pemuda yang di sana. Jangan mati dulu. Aku mempersilahkanmu memberinya pelajaran padanya." Ujar Nami menghentak kakinya di atas tubuh pemuda batu itu.
Badannya yang kokoh seperti batu terasa begitu menyangkutkan oleh lelaki berkaki kurus itu.
"Argh! Kalian bantu aku!"
"Bos ini."
"Di-dia pemuda yang tadikan menolak dua Tetua Besar Agung dan memilih kelas bermasalah." Takut mereka mundur.
"Kalian bantu aku jangan mundur!"
"Jangan menyentuh kekasihku!" Ujar gadis lotus putih itu mencoba menolong kekasihnya, dia yakin pemuda kurus ini tidak akan melakukan apa pun pada seorang gadis, bahkan ketika gadis yang dia hadapi adalah cantik.
__ADS_1
"Jelek, kau menginginkan kekasihmu? Ambil saja? Tapi kau harus membayar ku." Tawar Nami mulai berubah pikiran sebaiknya dia memeras.
Sedangkan gadis bergaya seperti lotus putih itu nampak memucat. Apa maksudnya membayar? Tubuhku tidak mungkin. Aku hanya menginginkan pria gagah untuk menyentuhku.
Sedangkan Nami yang mengerti jalan pikirannya memberi raut wajah jijik. "Aku tak suka wanita jelek. Bahkan tubuhmu tidak masuk kategori ideal di mataku. Aku hanya ingin uang kompensasi saja sebagai gantinya."
Sontak sang gadis memucat, jelek? Dirinya? Lelucon apa ini. Seumur hidupnya dia selalu diburu pria gagah.
Bahkan dia ingin memeras uangnya. Dia menaruh otaknya di mana.
"Kakak dia meledekku." Sedih gadis bertingkah seperti bunga lotus putih itu.
"Bocah sialan jangan menghina kekasihku! Kau yang harus bercermin!" Keluh pemuda batu itu semakin melemah.
"Hahaha...pemuda batu yang lemah. Harusnya kau pikirkan keselamatanmu, di banding membela kekasih jelekmu itu. Tidakkah kuperingatkan sebelumnya kau memberiku uang dan kau bebas!" Sinis Nami kembali menendang pemuda batu terbujur kaku itu. Hingga dia sanggup memuntahkan seteguk darah.
"Kakak!" Jerit gadis penuh kepura-puraan itu.
***
Deng!
Sebuah peringatan terjadi halaman sekolah ini. Karena menyebabkan beberapa pohon yang memiliki buah dengan kandungan mana tinggi telah terjadi kerusakan.
Sontak para pengawas sekolah segera ke sumber masalah. Siapa yang berani memprovokasi kejadian ini.
Saat mereka sampai pemandangan tak menyenangkan terlihat. Banyak pohon tumbang hingga mereka tak mampu berkata-kata.
Mereka mencari siapa dalang sebenarnya. Karena mereka tahu bahwa anak-anak nakal itu masih memulai perkelahian di sekitar sini.
***
Nami mendengar suara langkah kaki terburu-buru. Membuatnya mengerti siapa yang datang setelah dia menerawang dari dalam batinnya.
Segera Nami melompat turun dari pemuda batu itu dan berpura-pura terjatuh, dan seolah dia digertak.
Para pengawas sudah melihat kejadian naas ini. Dan Nami dengan cepat membuat wajah dan tubuhnya terlihat terluka.
"Apa yang terjadi? Bagaimana kalian bisa berakhir dengan perkelahian seperti ini." Marah sang pengawas tidak menyukai sifat anak nakal.
Gadis bertingkah seperti lotus putih itu segera menyadari bahwa dia ditemukan penyelamat pada akhirnya.
Segera dia meminta bantuan.
"Guru. Anak ini yang menyerang kami. Bahkan membuat kakak terluka." Tunjuk gadis itu pada Nami.
"No..nona apa yang anda katakan. Bahkan ada menuduh saya. Setelah saya membantu anda, digertak oleh pria lainnya." Parau Nami berakting sedih.
Sedangkan gadis itu menunjukkan wajah jatuh. " Dia bohong!"
"Nona aku hampir mati menolongmu. Bahkan temanku sudah tidak sadarkan diri." Tuduh Nami mengguncangkan tubuh Marco, dia sudah memberi aba-aba pada pemuda itu untuk pura-pura tidak sadarkan diri.
Sang pengawas yang mendengarkan pembelaan kedua belah pihak. Mencoba membuka informasi mengenai anak-anak ini.
Saat berhasil mendapatkan informasi dia menatap tajam kepada gadis itu.
Mereka yang ada di sini adalah penyihir tingkat senior. Tapi yang mereka gertak adalah penyihir tingkat pemula. Ini adalah benturan kekuatan yang begitu jauh.
Segera kepala pengawas memberi aba-aba bawahannya untuk segera mengangkat mereka. Memberi peringatan pada anak-anak nakal itu, dan menyuruhnya membayar kerugian merusak segalanya.
"Tidak! Ini salah! Dia yang menggertak kami!"
Sedangkan Nami hanya tersenyum meledek. Kepala pengawas menyuruh mereka berdua untuk pergi ke UKS sendiri tanpa membantu mereka yang sudah dikalahkan sejauh ini.
Membuat Nami tersenyum sarkartik bahkan dalam hal perawatanpun mereka dibedakan.
Pemuda batu dibawa ke UKS sambil diberi peringatan sedangkan mereka?Selain disuruh pergi sendiri mereka malah diancam untuk tidak berbuat onar.
Apa-apaan ini?
"Mama!" Ujar anak ayam itu berjalan ke arah Nami dengan kaki pendeknya.
Nami tersenyum puas bahkan keahlian anaknya meningkat dalam sehari dengan menarik sejumlah uang orang-orang sombong itu dari balik jubah mereka.
Dia tercengang dengan isi kantongnya masing-masing dari mereka mempunyai 3 koin Ruby dan 500 emas.
Sungguh sebuah keberuntungan dalam usaha menenangkan dirinya hingga menemukan rezeki nomplok.
Ingat dia tidak mencuri tapi mengambil hak kompensasi dalam merusak batinnya
__ADS_1
"Anak mama yang hebat. Hahaha..." Nami tidak bisa menutupi liurnya jatuh dan memeluk anak ayamnya erat.