Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu

Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu
Bab 23 - Kemari Lawan aku


__ADS_3

Keesokan harinya...


Langit tampak cerah terhirup udara hangat pagi yang begitu menenangkan hati. Muda-mudi bersuka cita untuk memulai awal baru memasuki akademi ini.


Seragam baru, awal baru. Sedangkan seorang gadis masih tertidur dengan nyenyak di atas kasur, sesekali dia tertawa atau pun menangis.


Bahkan air mata dan liur menyatu di atas bantalnya.


"Hehe...aku kaya!" Jeritnya dalam keadaan tidur dengan ekspresi penuh bahagia.


Kemudian berubah lagi dengan ekspresi sedih, "Tidak! ini bukan mimpi! Aku tak perlu kerja serabutan lagi, bahkan menghitung jumlah semut, itu membuatku lelah!" Tangis gadis itu pecah.


Di sisi lain keempat makhluk hidup, dua di antaranya telah bangun, sedangkan dua lainnya masih tertidur.


Tuanku selalu memiliki wajah indah dimataku. Puja Phoenix menatap tuannya dengan tatapan mesum, liurnya menetes.


Apakah master bermimpi aneh? Bingung Kenta dengan ekspresi rumit.


"Hehe...hiks...hehe...hiks..."


"Sebaiknya aku bangunkan Master!", "Tuanku gila!" Pilu dua makhluk itu kalau dibiarkan begitu saja, mereka tidak bisa membayangkan.


***


Gadis yang sedang menyamar sebagai anak laki-laki kurus dengan penampilan biasa saja, kapanpun bisa menghilang di kerumunan kalau tidak diperhatikan sama sekali sedang menatap burung bodoh dengan muridnya.


Burung bodoh itu lari dari kenyataan setelah bekerja sama menceburkannya di air, dia beralih tempat bertengger di bahu muridnya.


Nami memberi senyum skeptis , burung bodoh walau kau menghindar denganku sekarang, bukan berarti aku tidak memiliki kemampuan menyerangmu dari jarak jauh. Ujar Nami melalui telepati sontak Phoenix melirik ke arah tuannya dengan tatapan sedih.


Tuanku, kenapa cuman aku saja yang kau salahkan. Muridmu ini juga terlibat, sedih Phoenix.


Kau sudah dewasa, jangan menyalahkan anak kecil. Datar Nami, sekarang dia berdiri di antara banyak siswa. Bahkan sekarang mereka berada di antara senior dan junior.


Tapi yang lebih mirisnya. Kenapa mereka mendapat area lebih kecil. Dan semua orang menatap kelas mereka dengan tatapan jatuh.


"Aduh! Kelas anak bawah merusak mataku. Bagaimana bisa mereka tanpa malu berdiri di aula megah ini."   Singgung murid kelas lain.


"Apakah sekolah kita sekarang begitu menaruh simpati tinggi pada anak kelas rendah?"


Ledek mereka satu persatu tanpa henti. Lalu murid yang telah bertahan lebih dari 3 tahun di kelas bermasalah itu tampak tak bisa menahan amarahnya.


Dan ya dia terkenal pemarah,


"Berhenti membuang banyak ludah sembarangan, sialan! Bug!" Emosi pemuda itu tanpa basa-basi langsung menghajar mereka.


Otomatis semua orang kembali heboh segera menyingkir dari perkelahian. Sedangkan Nami nampak menikmati. Dia membagikan kacang rebus miliknya kepada Kenta, dan kedua burung bodohnya.


Perkelahian berlanjut. Nami bertepuk tangan, anak ini selain tidak memiliki bakat yang tinggi, tapi dia mampu mempergunakan ototnya untuk bertahan melawan anak-anak itu yang berada di atasnya.


Sungguh emosi tinggi yang mengagumkan. Dia melawan 3 orang, kemudian 5 orang, eh kenapa bertambah banyak.


Dia memiliki banyak musuh rupanya. Tapi kenapa teman-temannya tidak ada yang membantunya. Dan bukankah ini tidak adil?


Bisa-bisa anak ini habis ditangan mereka. Mari lihat seberapa jauh anak itu bertahan.


Dan juga Nami mencium bau uang banyak ditubuh anak itu. Seketika liurnya mengalir.


"Anak bodoh seberapa jauh kau akan bertahan?" Ledek anak lain.

__ADS_1


"Tutup omong kosong kalian! Maju kalau berani!" Marahnya tidak senang tapi tubuhnya sudah sangat lemah.


Dia tersenyum kecut saat melihat temannya tidak ada yang membantu. Raut wajahnya bertambah jatuh kala satu orang anak baru yang bakal sekelas dengannya malah menikmati kacang.


Dan juga dia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arahnya. Seolah jika kau butuh bantuan, beritahu aku.


Dan tentu saja pemuda itu tidak mau. Anak itu terlalu kurus untuk berkelahi bagian mananya dia mampu?!


S*al! Mananya sudah habis. Sifat emosiannya, seharusnya dia mengaturnya dengan baik, dan tidak bertindak ceroboh.


Tak lama setelah itu orang-orang memberi jalan pada ke sekelompok pemuda.


Mereka tampak mengagumkan dengan setelan seragam sekolah melekat di tubuh mereka.


Dan tanda sebagai penyihir dibawah naungan tetua agung, dengan pita emas terikat melingkari di area lengan mereka.


Dan sosok tinggi gagah berdiri paling depan dengan rambut jatuh terikat ke atas. Dia memberi kesan mendominasi, dan terlihat acuh tak acuh.


Siapa yang tidak mengenalnya? Dia adalah cucu dari tetua agung Elementalist, dan sekaligus murid dibawah naungan tetua besar agung Elementalist sendiri.


Mata hitam, dan kulit putih bersihnya menunjukkan keagungannya yang layak untuk dihormati, dan pengingat dia seorang yang benar-benar bersih dan rapi.


Dia dan pengikutnya yang lain berhenti tepat di depan perkelahian itu. Sedangkan Nami merasa pemuda itu familiar.


"Dia terlihat tidak asing." Gumam Nami mencoba mencari ingatannya.


Tak berselang lama dia mengingat pemuda itu. Dia tersenyum misterius.


"Bukankah itu pria sexy yang kemarin." Ujar Nami mengelus dagunya membayangkan tubuh bagus  pemuda tampan itu, alih-alih hidungnya mimisan.


Tuanku! Apa yang sedang kau pikirkan dengan hidung berdarah! Kaget Phoenix mencoba melenyapkan gelembung khayalan Nami.


Kembali pada sekelompok pemuda itu. Mereka melihat seorang murid dari kelas bermasalah sudah terluka di mana saja. Dan acara penerimaan murid baru belum terlaksanakan.


"Kalian kenapa begitu lemah kalah dari anak ini?" Dinginnya.


"Tuan Azriel. Kami tidak diperbolehkan menggunakan sihir pada orang yang bertubuh lemah." Jawab mereka membela diri.


"Puih! Omong kosong aku melihatnya! Andaikan orang itu tidak muncul sepenuhnya dia akan membunuh anak ini melalui telapak tangan dan pengapalan mantranya!" Pekik Phoenix berulang kali memuntahkan ludah.


Pemuda itu melihat anak pemberontak itu mendeteksi apakah ada serangan element padanya.


Dan ya, dia tidak merasakan fluktuasi apa pun dari anak itu. Dia kemudian memutuskan.


"Acer berapa kali kau harus bertindak nakal seperti ini. Kau benar-benar mengecawakanku. Sebagai gantinya kau akan dihukum mendapat 50 pukulan untuk menyadari kesalahanmu. Kemudian kau harus menyalin nama keluargamu sebanyak 1000 kali. Dan juga kerjakan kegiatan sosial, membantu di kantin sekolah." Jawab Azriel dengan tatapan kecewa pada sepupunya ini.


"Kakak sepupu bukan aku yang salah! Tapi mereka yang duluan menghinaku" Bela Acer tidak ingin menjadi tertuduh.


Azriel memberi ekspresi dingin. "Kau terlihat baik-baik saja. Sedangkan mereka terluka parah. Jangan banyak protes, renungkan kesalahanmu.


" Tegasnya tak memberi toleransi apa pun. Padahal Acer sendiri sudah luka di mana saja, bagian mana baik-baik saja?


Phoenix memuntahkan banyak bulu, inilah kenapa dia tidak begitu senang dengan manusia.


Bahkan mereka jika dalam keadaan tak mampu melakukan apa pun, bukan berarti mereka hilang kesetiaan kepada teman yang selama ini mereka sama-sama berjuang.


"Kasihan pemuda malang itu. Dia mencoba memulihkan nama baik kelasnya, tapi tak seorangpun yang membelanya, bahkan dari teman kelasnya sendiri. Sungguh menyedihkan. Benarkan tuanku?" Keluh Phoenix dengan ekspresi kecutnya, bayangkan bagaimana ekspresi seekor burung pipit.


Secret Roman : Jangan memaksa kami membayangkannya. Apakah kau gila!

__ADS_1


"Eh?" Nami sudah menghilang dari pandangannya.


"Tuan! Jika kau ingin menghukum orang, maka yang perlu kau hukum adalah mereka." Ujar Nami yang sudah berdiri di tengah mereka.


Tanpa orang sadari dia sudah berdiri secepat kilat. Tanpa ada yang menyadari.


"Astaga pemuda miskin dari mana ini! Kau siapa berani mengitrupsi tuan Azriel!" Ujar seorang gadis yang berdiri di samping Azriel.


"Gadis bodoh. Siapa yang meminta pendapatmu." Sinis Nami tunggu saja dia akan mengambil uangmu.


"Kau!"


"Anak muda. Apakah kau punya bukti yang kuat untuk melakukan tuduhan kepada mereka." Dingin Azriel tidak senang.


"Bukti? Haha..." Tawa Nami kemudian menoleh ke arah pemuda menyedihkan itu.


"Hei anak nakal. Jika aku membantumu. Kau harus memberikanku 1 koin Ruby oke?" Ujar Nami melakukan negosiasi terlebih dahulu.


"..."


"Woi anak muda! Jangan bersikap seolah duniamu telah runtuh. Oke deal, berarti kau telah setuju." Ujar Nami tanpa memberikannya kesempatan bicara.


Dan ya semua orang mendengarnya. Lelucon apa yang dikatakan anak itu. Dia meminta uang untuk memberi bantuan?


Sedangkan Phoenix memberi raut wajah jatuh. Tuanku bagian mana kau bersikap rata-rata dan hidup dalam ketidakmenonjolan sama sekali.


"Cepat katakan bukti apa yang kau miliki? Kalau tidak kau akan mendapat hukuman yang sama dengannya. Karena menganggu hukuman orang lain, dan menuduh orang sembarangan." Dingin Azriel tidak ingin berlama di sini. Apalagi dia sebagai ketua dewan kesiswaan.


"Tuan selain anda memiliki tubuh bagus, otak anda juga bermasalah. Bukti? Kau ingin bukti dariku? Baiklah! Aku tidak punya!" Jawab Nami dengan ekspresi polosnya. Seketika semua orang jatuh ditempat.


"Jangan bercanda!" Kesal si wanita yang berdiri di samping Azriel.


"Haha...anak itu lucu sekali!" Tawa seseorang dari jauh mengawasi kelucuan pemuda berwajah biasa saja itu, Nami.


Azriel memiliki kening berlipat di jidatnya. Selain menghinanya anak ini benar-benar berani mengatakan sesuatu tanpa ada bukti.


"Lalu apa yang kau lakukan di sini anak muda?!" Tuduh satu pria hitam dengan tubuh kurusnya menatapnya tak suka, setelah menghina gadis yang disukainya yang malah menyukai Azriel.


"Hei, kau juga anak muda. Kita sama-sama anak muda jangan terlalu kaku. Aku tidak perlu bukti untuk membelanya, tapi aku punya cara sendiri untuk membuktikannya." Jawab Nami enteng tanpa bersalah sambil mengorek up*lnya dengan ekspresi acuh tak acuh.


Tuanku tempatkan kelicikanmu di mana pun jangan mempersulit keadaan! Sedih Phoenix kemarin dia telah dihubungi nyonya besarnya, untuk mengawasi cucunya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Ujarnya tak ingin menoleransi lebih jauh lagi.


Nami terdiam sebentar menikmati korekannya. Sedangkan yang lain memberi ekspresi marah bercampur jijik. Dari mana asalnya lelaki jorok biasa saja ini.


Setelah menikmatinya, Nami mengelap tangannya di bahu Azriel. Ntah bagaimana dia sudah berdiri di belakangnya tanpa orang selalu lagi sadari.


Sontak semua orang kaget. Sedangkan Azriel yang sudah terbiasa dengan kebersihan akan mengalami pahitnya kehidupan untuk pertama kali dalam hidungnya. Anak terkutuk darimana ini.


"Aku meminta mereka untuk berkelahi denganku. Kami tidak akan mengunakan element apa pun selain otot. Jika satu di antara kami ada yang menggunakan sihir. Maka dia terbukti salah. Bukankah mereka bilang tidak menggunakan sihir apa pun dalam perkelahian? Maka kau akan melihatnya. Dan para penonton bersikaplah adil." Ujar Nami penuh percaya diri di akhir kalimat dia memberi tatapan dingin pada yang lain.


"Hei bocah kurus apa kau yakin?" Ragu Acer melihat seseorang berani membela namu dia tak melihat mana apa pun yang mengitari dirinya.


"Tentu saja. Beri aku satu koin Ruby lagi karena menjawab pertanyaanmu." Jawab Nami enteng membuat orang-orang sekali lagi jatuh.


Bisakah dia tidak meminta uang apa pun. Saat dia menuntut kematiannya lebih cepat.


"Kalian tidak perlu bersimpati padaku. Serang aku secara bersamaan. Majulah!" Ujar Nami dengan posisi orang yang akan melakukan beladiri. Posisi tinju yang tepat, dan kuda-kuda yang stabil dan kuat.

__ADS_1


Tak lupa dia menyentuh hidungnya, dan meloncat ke sana ke mari. Kemudian dia menjulurkan tangannya mengajak mereka untuk berkelahi dengannya.


"Watauw!" Ujar Nami mengikuti gaya seniman bela diri yang dihormatinya, kekurangannya dia tak memakai baju ketat bewarna kuning, dan double stick nunchaku ala idolanya bruc* l**.


__ADS_2