
Nami, Marco, dan seorang gadis lainnya tampak manis itu melihat sekeliling dengan tatapan jatuh. Dan satu hal menarik mata mereka. Sampai pandangan Nami berhenti pada seseorang yang dikenal dan orang asing lainnya.
Nami memberi ekspresi jatuh burung kecilnya yang baru menjalani kontrak binatang roh dengannya telah terbujur kaku dan luka sana-sini. Bagaimana bisa? Apa yang terjadi? Sedangkan seorang yang baru menjadi murid terlihat jelas bahwa dia sedang terluka, dan yang paling tidak habis pikirnya.
Siapa orang itu? Dia tak mengenakan baju atas atau apa pun, dan terlihat bahwa tubuhnya pernah mendapatkan luka. Mau apa tangannya ke arah kepala muridnya? Apakah dia yang menindasnya? Baiklah, benar-benar baik. Bahkan jika Nami yang terlihat biasa-biasa saja bukan berarti mereka seenaknya menggertak orangnya di bawah hidungnya.
Tak lama aura penuh penekanan keluar dari tubuh Nami, dan menyelimuti seisi ruangan ini.
“Jauhkan tanganmu darinya!” Dingin Nami dan raut wajah nyeleneh bodoh, dan acuh tak acuhnya sekarang berubah menjadi seseorang yang bakal mencabut nyawa orang tersebut.
Semua orang yang tidak tahu apa yang terjadi dengan aura mematikan itu. Terlebih lagi tingkat kekuatan mereka hanyalah penyihir tingkat pemula.
Bagaimana caranya mereka bisa mampu menahan aura dari dewa kematian? Otomatis mereka terjatuh dan tak sadarkan diri, begitu juga Marco dan gadis bersamanya.
Nami nampak kesetanan dan tak melihat dampak dari perbuatannya. Namun dalam sudut pandang kenyataan, semua orang bungkam saat muridnya digertak dan burung kecilnya juga tak sadarkan diri. Lalu bagian mana dia harus peduli dengan mereka? Puih!
Pletak!
Kenta yang awalnya masih dalam masa penyembuhan oleh serbuk obat dari wali kelasnya, nampak tak bisa menanggung aura itu, dan lukanya yang tertutup terbuka lagi. Akhirnya dia tidak sadarkan diri begitu saja.
Nami yang melihat pemandangan miris itu. Nampak memperkuat auranya, sehingga auranya bukan hanya mengisi kelas ini, tetapi memenuhi sekolah.
Semua orang yang berada di sekolah terlihat gemetaran. Apakah akan ada penyerangan ke sekolah ini? Apakah badai serangan binatang roh buas tiba sebelum waktu diperkirakan.
Nami sangat marah sekarang, muridnya dibuat tidak sadarkan diri oleh orang mesum tanpa atasan itu. Sedangkan orang itu tampak tak tahu bahwa Nami menargetkan dirinya karena disalahpahami atas penyebab yang terjadi pada muridnya dan burung kecilnya.
Krek!
Lantai tempat Nami berpijak pada akhirnya hancur begitu saja, dan menunjukkan bahwa dia bukanlah orang yang bersikap murah. Wali kelas Nami yang tidak bersalah lantas memuntahkan seteguk darah, aura ini sangat menakutkan.
“Apa yang terjadi? Dan dari mana asal aura ini?” Bingung Wali Kelas merasa tubuhnya akan remuk dan dia tertahan di atas lantai.
Nami tersenyum miring apakah dia masih belum mengerti ini berasal darinya? Jadi apa?
“Ini dariku. Kau membuatku marah!” Desis Nami.
Wali kelas itu mencoba mendongak dengan sekuat tenaga. Dia melihat asal suara penuh kesombongan, keji, dan dingin itu namun diselingi dengan khas suara anak-anak pada umumnya.
Wali Kelas yang tak lain bernama Derek itu yang merupakan teman dari kaisar saat di akademi ini dulu selain kepala keluarga lainnya. Raut wajahnya yang kesakitan tak menutupi bahwa dia kaget dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Anak ini adalah anak yang dia ambil sendiri sebagai muridnya. Mengingat selama dia mengajar dan penguasa kelas bermasalah, tak pernah sekali pun dia turun tangan meminta murid untuk menjadi muridnya, selain dia memerintah bawahannya yang lain untuk mengambil murid sendiri.
Derek tak menyangka dari pengambilan muridnya, dia memelihara seorang dewa kematian kecil itu yang bernampilan kurus dan menyedihkan. Apakah ini berkah atau tidak? Dia tak bisa menangis merayakan atau meratapi apa yang terjadi.
Muridnya ini yang kalau tidak salah bernama Onami itu, dia tak pernah merasakan Mana apa pun darinya selain dia tidak berguna. Akan tetapi batin penilaiannya tidak pernah salah. Bahkan jika itu salah, pikirannya mengatakan sebaliknya, dan kau harus mengambilnya sebelum menyesal.
Dan ya dia mencoba menganalisis semua kemungkinan terjadi. Anak bernama Onami terlihat tidak terluka dibagian mana pun, bahkan dia merasakan aura jejak membunuh membekas pada tubuh anak itu yang mulai menghilang dan hanya menunjukkan bau samar-samar darah.
Terlebih lagi orang gila mana yang bisa bertahan di hutan terlarang tempat para binatang roh yang mematikan itu, dan bahkan binatang roh itu penuh kebencian pada manusia, dan menganggap manusia itu tepat berada di bawah kakinya.
Onami ini tidak punya Mana* jadi bagian mana dia mampu bertahan di hutan terlarang itu, bahkan pembudidaya mana pun akan berlari terbirit-birit untuk melawan binatang roh kelas rendah.
Oke, dia lupa bahwa aturan sekolah baru untuk menerima murid di lemparkan ke hutan terlarang tersebut. Tetapi, ayolah hanya segelintir orang yang mampu bertahan, dan memilih untuk menyerah dengan mengunakan petasan pertolongan. Lalu tidak ada satupun dari mereka terlihat bersih seperti anak ini.
Derek juga pernah merasakan aura dari Kaisar Sihir sejujurnya itu sangat kuat bahkan dia akan kalah begitu mudah, namun dia mampu memberi serangan pada Kaisar Sihir. Akan tetapi, Onami murid barunya ini membuatnya tidak bisa berkutik bahkan memberi sanggahan pembelaan pada dirinya sendiri.
Anak ini sangat menakutkan. Jika anak ini begitu kuat, apa tujuannya masuk ke akademi sihir ini? Bukankah hanya akan sia-sia dia tetap berada di sini dan tak menjelajahi dunia begitu saja. Dan dia lupa bahwa semakin tinggi ilmu seorang penyihir maka semakin mampu mereka merawat usia remajanya.
Apakah orang ini menyamar sebagai bocah kurus, lemah tanpa Mana ? Jika semua orang mengatakan anak ini tak berguna. Maka semua penyihir kerajaan Awan adalah idiot sejati!
“Berikan aku alasan masuk akal. Atas dasar apa kau melukai muridku dan bayi kecilku?!” Desis Nami tidak memiliki waktu banyak untuk menunggu.
Nami menutup matanya sebentar karena tidak ada tanggapan apa pun. Sedangkan pria itu merasakan tekanan semakin membesar padanya, urat di lehernya nampak sangat jelas, dan bola matanya terasa ingin keluar.
Sling!
Nami membuka matanya dia mengangkat sudut mulutnya. Jadi ini sudah waktunya? Di tangannya di kelilingi oleh elemen kegelapan.
Elemen langka itu telah musnah, hanya para iblislah yang menggunakannya, dan cahaya hanya untuk para dewa. Tapi, pada hari ini, itu muncul begitu saja di depan mata kepala Derek. Anak ini, uhuk!
Derek kembali memuntahkan seteguk darah, apakah ini akhir baginya? Dia benar-benar tak memahami di mana letak salahnya, dan anak itu marah padanya. Murid dan bayinya? Mana dia kenal.
“Sepertinya ini akhir bagimu pria tua mesum. Sayangnya kau tidak memiliki alasan untuk mengucapkan selamat tinggal pada keluargamu!” Dingin Nami mempertebal elemen gelapnya, dan mulai menembakkannya.
Bug!
Pletak!
Seseorang jatuh tak sadarkan diri, bahunya dipukul dengan keras, benar-benar tak menyadari seseorang menyelinap, lalu menyerang dan memaksa Nami untuk pingsan di tempat. Dan aura yang hampir membunuh orang itu telah menghilang.
__ADS_1
Kemudian muncul sesosok pria menawan yang hanya menutupi bagian bawahnya, berambut merah, dan alis yang mengeluarkan percikan api menghela napas panjang.
“Tuanku tersayang, selain membuat banyak masalah. Kamu benar-benar tidak mempertimbangkan diriku yang akan berakhir oleh pelampiasan marah Nyonya besar.
Untung saja kau tuan yang kucintai. Jadi kesalahan apapun yang kau lakukan, aku hanya perlu bersembunyi di balik tembok dan mengukir lingkaran di sana, dan merasakan keputusaan dunia.” Namun hal hebat lainnya dia tak menutupi senyum bahagianya.
Bagaimana tidak? Siapa yang tidak bahagia jika orang paling dihormati dan dicintainya yaitu tuannya pingsan ke dalam pelukannya.
Walau tuannya masih memiliki tubuh kecil, namun jika beberapa tahun berlalu dia akan dewasa dan menjadi wanita mengagumkan bahkan semua wanita di dunia akan menjadi kotoran dimatanya. Dia tak bisa menahan mimisannya yang jatuh begitu saja.
“Anda…” Potong Derek, wali kelas Nami yang terlihat sudah terluka dan lemah, bisa jadi dia mengalami luka dalam.
Phoenix yang di ajak bicara oleh seseorang menoleh ke arah suara. Ah--dia lupa dengan kejadian kelas ini. Terlebih lagi dia mengenal pria itu.
“Maaf atas kekasaran dari tuanku, Tuan guru! Tuanku ini hanya mengalami goncangan besar pertama kali dalam hidupnya (kecuali uang, itu tidak perlu memerlukan kata basa-basi Nami, untuk bertanya alasannya. Langsung saja menghabisi orang yang mengambil uangnya).
Karena dua orang yang dalam perawatannya mengalami masalah besar tanpa dirinya. Sehingga itu menjadi alasannya kehilangan kewarasan, dan hanya memutuskan secara sepihak bahwa orang itulah penyebabnya.” Sesal Phoenix sambil mengelap sisa mimisan, hilang sudah wibawanya.
Derek yang mendengar alasan kesalahapahaman ini. Apakah dia harus bahagia karena ternyata itu hanyalah salah paham ataukah dia harus marah karena alasan ini hampir merenggut nyawanya dan muridnya yang lain.
Tapi tubuhnya yang buruk ini tak meminta dia melakukan apa pun selain, KAU PINGSAN DI TEMPAT SAJA. Derek benar-benar ingin menangis dia harus menjadi lebih kuat lagi, putusnya mulai dari sekarang, dan masa depan akan memberinya kesempatan pada saat itu.
Phoenix yang awalnya ingin pergi melihat suasana mengerikan seperti ini. Kelas sudah rusak, para murid ini bisa saja tidak tertolong kalau dia tak terbuat sesuatu.
Mulai mengeluarkan cahaya api phoenix penyembuh ke isi ruangan ini, dan berangsur membuat semua orang pulih, dan Derek yang awalnya tak bisa bergerak mulai merasakan segar pada tubuhnya seperti biasa.
Dan dia mendapat kejutan lebih banyak lagi, Api ini? Api abadi ini! Siapa yang tak mengenalnya! Ini api yang bahkan kaisar pun harus berlutut padanya. Api Phoenix. Api yang menandakan simbol kerajaan awan .
“A—anda adalah…” Napas Derek tercekat takut namun penuh penyembahan, kagum.
“Aku sudah menyembuhkan anda dan yang lainnya. Dan aku sudah memanipulasi murid anda bahwa semua kejadian ini hanyalah mimpi. Maafkan tuan guru atas ketidaksopanan tuan saya. Dan dua murid anda ini akan membolos kelas hari ini, permisi!” Pamit Phoenix bersama dengan tuannya, dan dua orang bodoh lainnya.
Nami terlihat digendong ditangan Kanan Phoenix dengan lembut sedangkan dua orang lainnya berada di tangan kirinya lebih tepatnya dia memaksa mereka masuk ke dalam tas serba guna Nami.
Namun itu tak sepenuhnya menenggelamkan mereka. Karena tas ini tak menerima Makhluk yang masih hidup masuk begitu jauh ke dalam.
__ADS_1