Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu

Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu
Bab 16 - Kelahiran Telur


__ADS_3

Lelaki kurus dengan pakaian lusuh yang menyamar.


Tanpa rasa takut, masuk sendiri ke dalam gua.


Yang berisi binatang roh tingkat tinggi.


Pemandangan berdarah telah masuk ke dalam matanya.


Dia sangat marah sekarang,


"Sialan! Dari mana suara wrock itu berasal?!


Kukira itu adalah suara burung.


Ternyata tupai raksasa menjijikkan.


Kembalikan keimutan tupai dalam imajinasi ku!" Umpat Nami dengan tatapan membunuh.


Dia merasa benar-benar ditipu.


Bukan karena orang-orang yang hampir mati itu.


Empat orang telah berakhir dengan daging yang robek, dan darah menyebar.


Sedangkan yang satunya, kepalanya hampir di makan oleh tupai itu.


Tupai yang mendengar seseorang yang begitu berisik.


Berbalik untuk melihat arah suara itu.


Sedangkan pemuda yang sudah terluka parah itu berada dalam genggaman si tupai.


Membuka matanya yang sayu.


Apakah dia menemukan penyelamatnya?


Dia mencoba menoleh kaku,


Yang dilihatnya adalah anak laki-laki kurus dengan gaya seperti pengemis.


Terlebih lagi, dia tidak melihat Mana sama sekali mengalir dalam darahnya.


Dia sudah cukup mengalami ketidakberuntungan karena keras kepala dan kesombongannya,


untuk segera membuat ayahnya tidak tertekan oleh para tetua.


Lebih tepatnya pamannya yang ingin menjadikan anaknya, sepupunya,


Sebagai pewaris aliansi singa tidur.


Dia orang yang kejam, sombong, dan tak senang berdekatan dengan orang yang tidak pantas masuk dimatanya.


Bukan berarti dia orang bodoh tanpa otak,


membiarkan orang lemah untuk membantunya.


"Pergi dari sini. Jangan libatkan dirimu." Ujarnya lemah menerima nasibnya mati di sini.


Nami menyeringai dengan pemuda yang sudah setengah langkah lagi menuju kematiannya.


Nami pikir pemuda tanpa otak yang mencari kematiannya,


karena memasuki gua ini yang kekuatannya tidak sebanding dengan makhluk yang sudah ingin memakannya.


Memiliki sedikit kebaikan untuk tidak melibatkannya karena Mananya sengaja disembunyikan dan terlebih lagi...


Dia benar-benar beruntung hari ini. Air liur menetes dari mulutnya.


"Tuan muda. Jika aku menyelamatkanmu. Kau harus memberiku bayaran sebagai gantinya." Ujar Nami begitu berani,


Si tupai mengeluarkan taringnya.


Menatap Nami lapar, terlebih lagi dia menganggungnya menyantap mangsanya ini.


Sedangkan si pemuda yang menerima kematiannya.


Membuka matanya kembali menatap pemuda miskin itu.


'apakah otak anak ini bermasalah,


dia sudah cukup memberinya kesempatan untuk pergi secepatnya.


Tapi dia malah menawarinya bantuan.'


Batin pemuda bernama Chen itu yang putus asa.


Sst...


"Ting...tong...waktu habis! Berarti kau setuju!" Ujar Nami yang sudah menarik pemuda itu keluar dari genggaman tupai raksasa api itu.


Pemuda itu yang merasa tubuhnya tidak diremas lagi,


Memiliki ekspresi rumit diwajahnya.


"Kau tenang di sini. Dan makan pil ini. Untuk mempercepat penyembuhan mu." Ujar Nami melempar sebotol obat yang berisikan pil.


Pemuda itu nampak kaku, memandang obat di hadapannya.


"Tuan, apakah kau mau mati di sini.


Setelah aku selesai menolongmu, dan kehilangan uangku begitu saja?


Makan obat itu segera. Itu bukan racun.


Aku jamin!" Perintah Nami dia sudah cukup mengeluarkan banyak liur sebelumnya,


karena uang yang akan dia dapatkan nantinya.


Jadi bagaimana bisa dia membiarkan sumber uangnya mati begitu saja.


Jenis omong kosong apa ini?!


Chen yang mendengar perkataan anak laki-laki miskin menuntut itu.


Membuatnya segera patuh dan mengambil satu biji pil itu,


dan segera menelannya tanpa mengunyah.


Ntah kenapa saat dia mencobanya.


Alat indranya berfungsi,


dia merasakan aroma menenangkan dan lezat turun dari tenggorokannya.


Dan segera tubuhnya terasa sangat nyaman.


Dalam kurun waktu sebentar.


Dia merasakan manfaat besar dari pil itu.


Tubuhnya yang sudah terluka begitu parah.


Tiba-tiba kembali tanpa luka.


Dan organ dalamnya yang sudah rusak dibeberapa tempat,


sekarang sudah nampak baik.


"Sangat bagus! Tuan sudah sehat sepenuhnya.


Berikan pil itu pada teman anda lainnya.


Kalau tidak segera mereka akan mati, dalam kurung waktu 5 menit.


Dan sekarang giliran ku untuk melakukan peregangan tubuh!" Senang Nami liurnya jatuh.


Berapa kira-kira uang kali ini dia perasnya.


Kemudian dia tersadar, lalu menyeringai.


"Tupai bodoh! Sebelum kamu menggali kuburmu sendiri. Beritahu aku. Telur itu dari mana asalnya?"


"Chik...Chik..."


"Berhenti berbicara omong kosong. Itu bukan anakmu! Terlebih lagi, aku tahu kau jantan. Berhenti memanggil dirimu ibu!"


"Chik...Chik..."


"Omong kosong! Tupai itu melahirkan bukan bertelur! Apakah kau sengaja berkelahi denganku?!"


"Chik...Chik..."


"Sialan! Berhenti memakai bahasa yang sama. Aku sulit membaca ekspresimu lagi! Diam dan akui dirimu bukan pemilik telur ini."


"Chik...Chik...!"

__ADS_1


Tupai itu sudah sangat marah sekarang.


Bagaimana bisa dia menjadi penipu.


Telur itu adalah anaknya!


Dan dia akan menjadi ibu,


saat binatang di dalam telur itu menetas nanti.


Kobaran api menyala begitu panas mengitari tubuhnya.


Semua giginya yang tajam membentuk taring terlihat jelas.


Kuku kaki dan tangannya yang tajamnya mencuat.


Dia siap melompat menyerang Nami.


Dia harus menjadi santapannya.


Bug!


Tupai itu menabrak dinding gua keras.


Sedangkan Nami dengan gerakan cepat,


bukan karena dia sadar dengan serangan binatang ganas itu.


Tapi dia terlihat sangat penasaran dengan telur itu.


Dan sekali mengentuknya.


"Tupai bodoh. Apa yang kau lakukan?


Bagaimana bisa kau menabrakkan dirimu sendiri ke dinding gua ini.


Dan beritahu aku, apa isi di dalam telur ini?


Dan juga apakah ini lezat?


Jadi berikan ini padaku sebagai ganti nyawamu." Cecar Nami dengan mata penuh binar,


dan liur berjatuhan ingin merasakan telur raksasa ini segera.


"Chik...Chik...!" Marah tupai itu yang segera bangun, dan melompat cepat ke arah Nami,


berhenti berpikir untuk mengambil anakku,


apalagi menjadikannya makananmu. Manusia sialan dan rendahan! Batin si tupai mengeluarkan cakarnya.


Nami yang sudah menyadari dirinya akan diserang dengan cakar beracun itu.


Segera mengangkat kakinya,


dan melayangkan tendangan supernya ke perut tupai raksasa api itu di perutnya.


Bug!


Tupai yang melompat itu tak sempat menghindar dari tendangannya.


Dia pun terlempar lagi ke dinding gua yang sama.


Bagian luar tubuhnya tak ada luka sedikit pun,


Tapi sekarang organ dalamnya sudah rusak.


"Aku sudah memberimu kesempatan.


Tapi kau masih ingin melindungi makananku.


Benar-benar sangat gigih." Desah Nami sudah memeluk erat telur raksasa itu dalam pelukannya erat.


Tupai yang terluka itu.


Tak melunturkan tatapan permusahannya,


Dan semakin merah karena Nami memeluknya begitu erat.


Dia sangat khawatir sekarang,


namun tubuhnya sudah tidak mau berkomunikasi dengannya.


Akhirnya dia pun mati begitu saja.


Di sisi lain,


di ikuti para temannya yang tidak sadarkan diri,


Tapi sedang memulihkan tubuhnya dari pil pemberiannya.


Terlihat dengan mulut jatuh begitu tercengang,


Ada yang bisa memberitahunya.


Tupai raksasa api yang hampir membunuhnya telah terbaring di atas tanah dengan kondisi mengganaskan, dan mati.


Dia sudah begitu putus asa berkelahi dengannya.


Namun anak laki-laki miskin itu mengalahkannya hanya dengan sekali tendangan.


Apa-apaan ini?


Dia benar-benar tak habis pikir hanya kemampuan bela diri tanpa mana yang mendukung kekuatannya.


Itu dengan mudah dikalahkan.


Dan juga dia begitu kaget,


Obat yang ia konsumsi adalah berupa pil.


Dan itu sangat langka sekarang.


Dia hanya melihat dalam bentuk cairan.


Ajaibnya lagi pil ini melakukan penyembuhan lebih cepat,


Bahkan mengisi full mana dalam tubuhnya.


Dan para alchemist sekarang bahkan keluarga terkenal skyler pun takkan mampu membuat pil.


Tapi anak laki-laki miskin itu dengan santai memberikannya pil yang teramat berharga ini.


Bahkan para pemilik kekuatan tertinggi pun,


akan berlomba untuk mendapatkannya,


hingga nyawa mereka bisa menjadi taruhan,


dan kekayaan mereka bisa dikeruk habis.


"Hei pemuda yang sudah sembuh!


Bantu aku memotong tupai mati itu dengan pedang es patahmu itu." Tunjuk Nami pada tupai mati itu.


Dia benar-benar beruntung hari ini.


Sudah ketimpah uang, eh dia juga mendapatkan daging mati yang segar.


Chen menatap tupai mati yang menjadi musuhnya.


"Apa yang kau tunggu?


Cepat lakukan daging akan cepat membusuk kalau tidak dirawat dengan cepat!" Perintah Nami dingin membuyarkan mata permusuhan pemuda itu pada tupai yang mati.


Chen yang tersadar dari suara dingin pemuda miskin itu,


segera melaksanakan perintahnya.


Nami nampak senang pemuda ini selain bodoh, dia cukup ahli dengan tupai itu.


Dia mengikis kulitnya dengan sempurna tanpa menyisakan bulu dan kotoran.


Saat memotong tupai itu,


dia mengiris daging dengan rapi, kecil, dan tipis dengan baik.


Benar-benar ahli.


Kemudian Nami beralih pada telur raksasa tak terdeteksi ini.


"Jangan salahkan mamamu ini. Biarkan aku merasakan dirimu!" Girang Nami mulai mengeluarkan wajan raksasa dari tas parsial serba gunanya,


yang bisa menyimpan apa pun dengan berbagai ukuran.


Bahkan makanan bisa disimpan di dalamnya.

__ADS_1


Akan tetap utuh, dan segar seperti pertama kali.


***


Kenta nampak gelisah masternya sudah satu jam di dalam sana.


Dan belum kembali.


Apa yang terjadi?


Apakah masternya baik-baik saja.


Dia ingin masuk ke dalam.


Tapi dia takut akan menjadi beban ketika masternya bertarung di dalam.


Sedangkan Anna nampak gelisah, dan kesal.


Sampai kapan dia akan menunggu?


Dia sudah khawatir setengah mati.


Pertama,


dia berharap ucapan bocah miskin itu benar-benar terjadi dalam menyelamatkan tunangannya.


Kedua,


Jika itu tak sesuai rencana.


Seberapa lama dia akan menunggu.


Tempat ini tidak aman,


di dalam gua itu sudah ada binatang roh tinggi kuat di dalam,


dan itu hanyalah salah satunya, di banding ratusan lainnya.


Ini hutan terlarang, sudah banyak peserta yang menyerah, dan mati.


Ketiga,


Dia sudah tidak bisa menunggu lama.


Langit gelap pertanda binatang roh yang bersembunyi akan keluar dari sarangnya mencari mangsa.


"Bukankah kau muridnya?


Kenapa kau terlihat begitu pengecut menunggu di sini?


Ikut denganku!" Ujar seseorang dengan suara maskulin dan enak di dengar di belakang punggung mereka berdua.


Dia segera berjalan melewati jarak antar bahu mereka.


Segera berdiri di depan memimpin.


Kenta dan Anna merasakan aura sangat kuat.


Dengan seseorang yang bertubuh tinggi berkulit putih,


Berambut merah,


Dan hanya menutupi tubuh bagian bawahnya.


"Apakah kalian manusia tak bernyawa?


Aku bilang ikuti aku.


Jangan hanya mematikan otakmu!" Dingin pemuda sangat tampan itu, dengan alis yang mengeluarkan percikan api.


Kenta yang melihat jelas muka orang itu, terdiam.


Orang ini terlalu tampan.


Anna malah jatuh dalam pesona itu.


Bahkan kakak Chennya kalah jauh dengan wajah tampan pemuda di hadapannya.


"Apakah kalian idiot?!" Segera ia melantunkan mantra dan membuat tali pengikat api ke pinganng kedua orang itu yang terpesona.


Dan menyeretnya masuk ke dalam gua itu bersama.


***


Seorang pemuda lusuh yang menyamar nampak panik.


Kalah telur raksasa yang akan menjadi makanannya.


Malah memberi tanda bergerak,


kala dia bersiap menjadikannya telur mata sapi,


di atas wajannya yang sudah memanggang seperempat daging tupai sebelumnya.


Dan dia mememberikan setiap potong daging ke orang-orang yang dia selamatkan.


Lebih tepatnya dia tidak ingin menjadi pelit setelah dibantu memotong daging.


"Kenapa telurku bergerak!


Aku belum mencicipinya.


Jangan menetas dulu!" Frustasi Nami mengguncangkan telur itu,


agar tidak membentuk binatang,


dan kembali pada posisi semula,


telur yang memiliki inti kuning, dan luaran bening.


"Penyelamat! Jangan lakukan itu.


Kau akan membunuh bayi binatang yang belum lahir!" Cegah Chen tidak ingin penyelamatnya bertindak ceroboh.


Nami memberi ekspresi menyeleneh.


"Itu tujuanku! Aku belum mencicipinya!


Jadi aku tidak bisa membiarkannya." Mau tak mau Nami yang tidak bisa memecahkannya.


Segera memiliki ide untuk memasaknya segera dengan api ditangannya.


Dalam kurun waktu singkat,


bukan telur rebus yang ia dapatkan.


Tapi...


Krek...


Telur itu menetas,


dan entah kenapa mantra penghisapnya,


mana, telah begitu menarik dengan kuat ke dalamnya.


Untuk mengisi kekuatan, karena kelahirannya.


"Telurku!" Sedih Nami dengan raut wajah biasa semakin jelek, frustasi berlebihan.


Sedangkan orang-orang yang diselamatkannya.


Nampak kesakitan kala Mananya akan disedot habis.


Tak lama mereka pingsan.


Kecuali Chen yang meremas pundak Nami kesakitan, kemudian napasnya kembali teratur.


Apa yang terjadi? Teman-temannya pingsan.


Dia juga tadi hampir pingsan, tapi kenapa saat dia meremas bahu itu.


Rasa sakit karena Mananya ditarik berhenti.


"Penyelamat apakah kau baik-baik saja?" Tanya Chen melihat penyelamatnya sudah berwajah hitam.


"Sampai kapan kau akan meremas bahuku?!" Geram Nami dengan gigi atas dan bawah saling bergesekan,


sehingga mengeluarkan bunyi yang membuat pendengaran menjadi ngilu.


"Tuan itu adalah..."


"Tidak enak!" Kesal Nami sedih kehilangan makanan.


"Tuan bisakah anda berhenti memikirkan makanan?!" Frustasi Chen, dia mengambil resiko nyawanya untuk mendapatkan telur ini.

__ADS_1


Namun penyelamatnya terlihat tidak peduli, dan memikirkan makanan.


Dan bukankah itu...


__ADS_2