
Nami berjalan dengan riang melompat-lompat kecil dan menyanyikan lagu aneh lainnya yang sebelumnya pernah diciptakan.
Ingat lagu ini adalah miliknya, siapa pun melanggar hak cipta, akan mendapat hukuman sesuai undang-undang berlaku.
Begini-begini Nami taat hukum, walau kadang dia suka menipu dan menipu, tapi itu bukan poin utama, dia hanya melakukannya untuk mengenyangkan perutnya, dan membuat neneknya bahagia, lalu apa yang salah dengan itu? Hidup itu keras, Bro!
Di timur Pohon berbisik di sana telurmu~~
Di barat awan bergerak mengikuti angin bersama dengan telurmu~~
Di utara semut-semut mengumpulkan manakan di sana telurmu~~
Di selatan Semua telur menunggumu~~
Indahnya Hidup~~
Tanpa Kelaparan~
Menjadi kaya adalah keinginan para anak miskin sepertiku~~
Telur...Oh...Telur...Oh yeah...
Oh...oh...Telur Uh-yeah!
Nyanyi Nami secara acak bahkan pohon, awan, angin, dan para semut segera bersembunyi karena ini bukanlah lagu penghibur, indah, dan menghanyutkan.
Akan tetapi seperti suara tikus ke jepit pintu, bahkan kebanggaan dan kesombongan Nami yang tinggi tidak malu dengan suara khasnya.
Lalu orang yang mengikutinya diam-diam mengikutinya merasa ingin pingsan.
Pemuda itu segera keluar dari persembunyiannya bersama anggotanya yang lain, bahkan seorang gadis bersamanya.
"Berhenti menyanyi!"
Ada orang asing~~
Siapa dia?~~
Mengapa menyuruhku berhenti menyanyi~~
Aku tahu suaraku indah~~
Seperti biasa aku keren~~
Nyanyi Nami lagi mengubah lirik dan bahkan tidak mendengarkan orang-orang itu menggertakkan gigi, gendang telinga mereka sudah berdengung.
Ekspresi Nami acuh tak acuh, terlebih telur menjadi fokus utamanya bertahan hidup.
"Kakak hentikan dia!" Jerit seorang gadis dengan suara cemprengnya yang tidak beraturan, dia benar-benar frustasi ini adalah anak yang sama memukul pantatnya 'kan?
Serampangan dan tidak tahu malu! Tapi dia benar yakin ini adalah anak yang sama!
"S*al! Wood cut!" Ujar pemuda itu mengucapkan mantra nyanyian sambil memunculkan elemen kayunya dan mengarahkan ke arah Nami.
SWOSH!
__ADS_1
Nami yang seolah memiliki mata di balik kepalanya menggeserkan tubuhnya ke samping.
GRUSAK!
Serangan pemuda itu menghantam tembok di dekat Nami, otomatis ada retakan di sana.
Pemuda itu hanya mengumpat kesal, dan melancarkan berulang kali serangan.
Hasilnya adalah nihil, sebab Nami gerakan Nami begitu lentur seperti dia sedang menari.
Pemuda itu sangat kesal bahwa Nami tidak mendapat luka sedikitpun dari serangannya bahkan mampu menghindar dengan mudah, "Bagaimana bisa dia menghindar tanpa membalikkan wajahnya?! Apakah dia sedang meremehkanku?!"
"Kakak dia adalah bocah bau yang licik! Dia punya banyak trik di lengan bajunya!" Tuduh gadis itu kesal dan memberitahu kakaknya untuk berhati-hati.
Mereka semua mengejar ketertinggalan Nami.
Sedangkan sang bocah kurus nan miskin itu hanya melompat riang gembira, dan tidak terlalu memusingkan orang-orang yang senang menjadikan dirinya musuh.
Jika dia meladeni mereka, maka apa gunanya untuk menahan diri?
Nami telah menjadi murid biasa-biasa dengan kemampuan rata-rata. Asal kalian tahu perkelahian tidak menyelesaikan masalah.
Secret Roman : Jangan lupakan apa yang kau lakukan kemarin! Melenyapkan keluarga Hawk! Keluarga Hawk! Kau ingat?! *Balik meja*
Pemuda itu memberikan lirikan perintah untuk menangkap bocah kurus itu, dan jangan menahan diri untuk menyerangnya.
Dia hanya ingin membalas rasa malu adiknya, sebab masa depannya untuk mendapatkan seorang suami demi memperkuat keluarga dengan aliansi keluarga kuat lainnya terkubur begitu saja gara-gara pemuda bau ini yang melecehkan adiknya dengan memukul pantatnya di hadapan orang-orang terbaik di sekolah ini.
Beberapa orang pengikut itu menunjukkan keahlian menangkap mereka dengan kemampuan yang dimiliki.
Mulai dari pengguna elementalis, archer, warrior, mau pun warclock.
Mereka tidak akan berhenti sampai dapat menjatuhkan bocah kurus itu, Nami.
Sayangnya tidak ada yang berhasil sampai mereka semua kelelahan.
Pada saat itu Nami juga ikut berhenti. Namun dia memiliki maksud lain.
Ada senyum mengambang terpatri di mulut Nami. Dia menoleh kiri-kanan dan berbalik kepada orang-orang itu.
"Apakah koin emas ini milik kalian?" Tanya Nami tidak menyembunyikan ekspresi serakah sambil menunjuk koin yang jatuh di atas lantai.
Semua orang yang sudah kelelahan dengan bulir keringat membajari wajah dan seragam sekolah mereka memiliki ekspresi kacau.
"Kalau tidak ada yang mengaku berarti ini milikku!" Senang Nami memungutnya lalu menyimpannya ke dalam saku jubahnya. Tanpa menimbang jawaban mereka sama sekali.
Setelah menaruh koin emas itu. Nami memandang ke arah semua orang. Ada ekspresi bingung dan penasaran, kenapa mereka begitu kacau, apakah di sini tempat untuk latihan memperkuat otot?
"Lanjutkan latihan kalian! Semangat!" Ujar Nami sopan segera pamit dari mereka.
Pemuda pemarah itu mengupat dari pada meyerang secara serampang sebaiknya dia harus menghalangi jalan Nami.
Adakah yang bisa memberitahunya, bagaimana bocah kurus ini begitu lincah?
Tapi walau begitu dia merasa bahwa dirinya jauh lebih kuat.
__ADS_1
Anak ini hanya seorang anak dari kelas bermasalah sedangkan dia seorang murid di bawah naungan tetua agung archer.
SWOSH!
Tidak sia-sia dia menjadi seorang penyihir senior tahap tinggi kecepatannya mampu menghentikan pemuda kurus itu.
Grep!
Dia menaruh tangannya di atas tubuh Nami, dia menaruh kekuatannya di sana.
Mengancam Nami untuk tidak kabur darinya.
Semua orang memiliki ekspresi senang walau kelelahan menderu mereka. Harusnya mereka melakukan ini sedari tadi.
"Kakak kau hebat!" Jerit gadis itu bangga pada kakaknya berhasil menghenti bocah bau penuh trik di bawah lengan bajunya itu.
"Wow Kakak hebat!" Datar Nami memuji pemuda itu setuju dengan apa yang dikatakan gadis itu sambil menunjukkan tanda jempol memujinya.
"Dia kakakku bocah bau!" Protes gadis itu tak terima.
Pemuda itu meremas bahu Nami, "Siapa yang kau panggil kakak? Aku bukan kakakmu!"
"Benarkah?" Nami memiliki ekspresi jelek dan juga sampai kapan dia akan meremas bahunya.
Pemuda itu memiliki kening berlipat menunjukkan raut wajah, tak senang, apakah aku bercanda, dia kemudian mencibir, "Apakah aku harus menjelaskannya?!"
Nami mengangguk dan menumbuk tangannya tanda mengerti, "Begitu ya."
"Dasar gila!" Tuduh gadis itu, apakah pemuda ini id*ot?
Nami mengalihkan pandangannya awalnya dia tak terlalu memperhatikan gadis itu, tapi dia merasa dejavu dan pernah bertemu dengannya baru-baru ini, dan tanpa waktu lama Nami mengingatnya.
Sudut bibir Nami naik menunjukkan ekspresi liciknya, dan alhasil bulu kuduk gadis itu merinding. APA-APAAN DENGAN SENYUMAN ITU!
Nami pun membalas perkataannya, "Oh gadis p*ntat tepos yang kemarin ku tepuk p*ntatnya 'kan?"
"Siapa yang tepos! Diam kau! Kakak!" Malu gadis itu dan merengek ke kakaknya meminta bantuannya.
Tentu saja kakak gadis itu marah, bisakah pemuda ini lebih tak tahu malu lagi?! "Bocah bau diamlah sebelum kuretakkan mulut kau! Berhenti melecehkan adikku!" Ancamnya ingin sekali meninju Nami.
Nami melirik dua orang yang terlihat mirip itu, kenapa mereka sedari tadi saling mendukung, dan gadis ini memanggilnya kakak,
"Kau siapa?" Tanya Nami memastikan, terlebih lagi dia tidak bakal lupa pahlawan menyelamatkan keindahan ini sebelumnya.
"Aku kakaknya! Aku ingin perhitungan denganmu!" Marah pemuda itu menunjukkan urat dijidat dan lehernya.
Nami memiliki ekspresi kaku, apakah dia ingin mengajaknya berkelahi?
Secret Roman : Daritadi bodoh!
"Maaf aku hanya murid biasa-biasa dengan kemampuan rata-rata kumohon jangan menggertakku!" Tolak Nami sambil menggelengkan kepalanya.
Dia sudah membuat ketiga orang di sekolah ini mengawasi pergerakannya dari Onix burung bodoh itu, pengikut nenek pasangan tetua agung alchemist, dan juga wali kelasnya.
Di antara itu semua, kenapa mereka begitu senang mengurusi hidup santainya, tidakkah mereka melihat bahwa Nami menyembunyikan identitasnya dengan sangat baik.
__ADS_1
Pemuda itu memiliki ekspresi jatuh, jika dia biasa-biasa saja bagaimana bisa dia menghindari serangannya begitu mudah dan juga teman-temannya yang menyerang dia secara berkelompok.
Lalu siapa yang bakal percaya dengan kebohongan busuk itu?!