
"Itu--" Perkataan mereka terpotong tak kalah saat mereka melirik Nami, alhasil yang di dapat adalah sebuah pelototan tajam hingga membuat bulu kuduk mereka merinding seolah itu bisa membakar jiwa.
"Maafkan kami. Ini salah kami yang terlalu gegabah, dan merugikan orang sekitar." Tunduk mereka kompak meminta maaf atas apa yang diperbuat.
Hingga peserta ujian tak mampu membendung perasaan mereka. Seolah hal itu terdengar lucu ditelinga. Di mana kata sombong sebelumnya, mereka yang begitu tidak peduli dengan perkelahian itu.
Dengan mengklaim salah satu dari mereka yang akan menjadi peringkat pertama dalam ujian nanti. Dan juga semua peserta di sini tidak bakal masuk ke mata mereka.
Katakan pada mereka jenis perubahan apa ini. Dan terlebih lagi, bocah kurus nan miskin itu bukankah dia bertingkah begitu serakah sebelumnya?
Mendapatkan kesempatan memeras dua tuan muda itu, dan meminta kompensasi tinggi atas roti yang keras dan tak layak makan itu.
Mereka sudah mencoba memeriksa roti itu. Dan bagaimana bisa bocah kurus itu bisa mengunyahnya seolah tidak ada terjadi.
Padahal roti itu mampu dijadikan senjata karena saking kerasnya.
Mereka bahkan mencoba membelanya menjadi dua, dan pada akhirnya mereka berakhir pucat tidak tau harus berkata apa.
"Hoho...Baguslah kalian mengerti kesalahan yang diperbuat. Ku pikir kalian akan menjadi anak yang keras kepala seperti sebelumnya." Ujar pria paruh baya itu sambil mengelus jenggot putihnya.
Setelah mengatakan itu, dia menoleh ke arah Nami. Dengan tampang menyelidik.
"Anak muda, apakah kau sudah menerima perminta maafan anak-anak nakal ini? Atau anda punya beberapa cara agar mereka meminta belas kasihan anda."
"Yang ini sudah menerima perminta maafan kedua bangsawan mulia itu. Dan saya tidak begitu berani meminta atau bahkan melakukan sesuatu hal merugikan, saya ini sudah cukup bahagia mereka meminta maaf kepada saya miskin ini!" Ujar Nami membual panjang lebar.
Para penonton hanya meneriakkan kata, "PEMBOHONG!!!" di dalam hati mereka dengan pernyataan bocah kurus itu.
Dan tidak berani bersuara setelah mengetahui kelebihan bocah itu dengan lahapnya memakan roti keras yang bisa dijadikan senjata tempur.
"Benar-benar anak yang masuk akal." Senang sang tetua itu sambil tertawa pelan, dan menyisir jenggot putih berulang kali.
Nami menghembuskan napas lega. Perkataan penuh bualannya itu mampu menipu kakek tua ini. Dan uangnya sekarang aman.
"Lalu...nak apakah kau ingin mengikuti ujian?" Tanya tetua itu dengan tatapan selidik.
"Iya! Saya ingin ikut ujian!" Sanggup anak itu yang awalnya bersikap menyedihkan, kemudian berubah menjadi bersemangat.
"Sangat bagus. Tapi apakah kau yakin? Ujian kali ini, jauh lebih sulit dibanding tahun lalu." Tanya tetua itu sedikit khawatir pada bocah kurus ini, setelah merasakan mananya yang begitu rendah.
Nami mengangguk keras.
Walau halangan rintangan membentang
Tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran. Oho si Nami!
"Baiklah saya tidak bisa begitu saja mematahkan semangatmu.
Jadi berjuanglah, jika kau tak sanggup nantinya.
Akan ada pemberitahuan sebelumnya dari panitia lain." Ujar tetua itu,
tak begitu berkeinginan mematahkan semangat juang anak muda ini.
Ayolah dia sekali lagi mengingat masa lalunya yang miskin.
Nami mengangguk menyanggupi, apa yang perlu ditakutkan.
Dia hanya akan membuat si binatang berbulu ini menjadi tamengnya,
dan dia bisa kabur begitu saja di beberapa kesempatan.
"Tuanku, aku begitu sedih dengan pemikiranmu itu.
Ku mohon jangan membuangku." Sedih si phoenix, tuannya selain kejam, dia juga tak tahu malu.
"Bukankah tugasmu adalah melindungi tuanmu.
Jika terjadi bahaya?" Tanya Nami polos dengan mata berbinar.
Oh ayolah si phoenix harus merayakan ini dengan kegembiraan atau menangis.
Tuannya selain memiliki beberapa poin bagus,
dia bukan hanya tidak tahu malu, tapi akut sampai ke akar-akarnya
"Tuanku, anda sangat kuat.
Bukankah anda tidak perlu meminta bantuanku?"
"Burung bodoh! Apakah anda lupa pesan nenek.
Dia hanya menyuruhku menjadi rata-rata! Jika tidak,
penyamaran selama ini akan menjadi sia-sia!" Tegur Nami tak habis pikir dengan pemikiran si phoenix ini.
Seorang phoenix yang agung, benar-benar dihinakan menjadi burung bodoh.
Jika orang lain mendengarnya.
Pasti mereka akan membenturkan wajahnya ke tanah.
Benar-benar lancang.
Tapi ayolah, phoenix sudah terbiasa dihina apalagi di tindas oleh nenek dan cucu itu.
Bahkan para bawahannya, akan sembunyi ketika mereka muncul.
Sebelum ia protes, tetua sudah menyela di antara pembicaraan mereka.
"Siapa lagi namamu pemuda?" Tanya tetua itu.
Nami yang sebelumnya perang pikiran dengan phoenix.
Kembali teralih oleh lontaran pertanyaan tetua ini.
"Nama saya Nami." Ujar Nami lupa bahwa dia harusnya menggunakan nama samaran.
Ptok!
Phoenix mematuk leher tuannya.
Di mana kata tuan sebelumnya ingin menyembunyikan identitasnya, omong kosong.
__ADS_1
"Aw! Apa yang kau lakukan burung bodoh!" Kesal Nami tidak menyadari.
"Tuanku yang cantik.
Bukankah anda sedang menyembunyikan identitas anda?" Geram phoenix, kadang sifat bodoh akut tuannya keterlaluan.
"Oh benar aku lupa!" Sedih Nami.
"Namamu Nami. Terdengar seperti nama perempuan. Tidak masalah.
Baiklah aku akan tinggalkan sekarang." Ujar kakek tua itu, "Dan kalian jangan lupa dengan kata-kata yang sudah kalian sampaikan sebelumnya.
Jangan berulah buktikan saja saat ujian dan tidak saat di luar ujian.
Atau kalian akan didiskualifikasi, mengerti."
"Baik, tetua guru." Hormat kedua anak itu.
Sontak saja para penonton yang baru memperhatikan perkataan si kembar itu.
Baru menyadari orang tua itu adalah salah satu tetua agung dari akademi sihir ini.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Panik Nami.
"Yang lalu, biarlah berlalu. Tuanku sebaiknya anda pergi mendaftar ulang segera?"
"Pendaftaran ulang akan ditutup 10 menit lagi!" Sahut panitia admistrasi.
Sistem penerimaan siswa melalui seleksi akan diadakan di hutan terlarang.
Sontak semua peserta merinding.
Siapa yang tidak mengenal hutan terlarang. Di sana tinggal binatang-binatang roh yang buas.
Dan selain itu mereka memandang manusia sebelah mata,
terlebih lagi hanya akan terjadi kerusakan pada diri mereka.
Jika begitu berani menjadikan mereka sebagai binatang kontrak.
Sedangkan Nami tersenyum kaku, bukankah ini rezeki nomplok baginya.
Dia melirik burung pipit , lebih tepatnya phoenix yang bertengger di atas bahu kanannya.
"Beritahu para bawahanmu untuk tidak menyulitkanku saat tes, mengerti?" Titah Nami pada phoenixnya.
Sedangkan sang phoenix mendesah.
Tanpa kau minta, semua binatang roh rendahan itu akan menjaga jarak pada radius 10 meter darimu.
Apabila mereka mengedus keberadaanmu.
Dan juga para peserta ujian diberi sebuah alat petasan bantuan.
Jika mereka ingin menyerah.
Setelah tes dimulai, belum berselang beberapa menit para peserta sudah ada yang menyerah.
ledakan tersebut mengarah ke langit hingga simbol akademi muncul di sana.
Dan tidak butuh waktu lama mereka segera menghilang dan kembali ke tempat ujian.
"Benar-benar lemah." Ujar Nami sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Tuan, bagaimana anda bisa gemetaran. Setelah mengatakan itu?"Tanya phoenix kebingungan dengan tingkah tuannya.
Nami mendecit menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum mengejek."Ini akting kau tahu?"
"Akting? Untuk apa tuan melakukan itu?" Bingung phoenix masih butuh penjelasan lebih lanjut.
Nami menghela napas.
Lain kali dia akan berpikir panjang dalam melakukan kontrak darah dengan beast.
Kalau tidak dia yang muda dan cantik ini akan mengalami penuaan dini sebelum waktunya.
Karena betapa lambatnya phoenix miliknya ini.
"Oh burung bodoh. Jika aku tidak bersikap begini. Mereka akan mencurigaiku."
"Benarkah?"
"Tentu saja!" Yakin Nami,
Sang Phoenix sekali lagi menganggungkan tuannya. "Baiklah tuanku lakukan.
Apa yang ingin anda lakukan!"
"Oke, aku ingin berjemur!"
"Baiklah tuan. Biarkan bawahanmu ini memberikan mu sunblock!
Apa?! Tuan anda sekarang lagi ujian!" Awalnya burung bodoh ini bersemangat bisa menyentuh tuannya,
tapi dia ingin menangis, mengapa tuannya benar-benar begitu santai. Dia akui tuannya hebat.
Tapi tidak begini juga.
Bukankah tuannya harus berusaha untuk berburu sekarang.
Lebih tepatnya mereka diperintahkan untuk mencari sebuah ramuan langka.
Di mana para alkemis begitu membutuhkannya.
Dan ya dia berakhir menjadi seorang alkemis,oh tidak, tapi masih calon.
Alasannya?Karena semua pendaftaran lain telah full.
Dan yang tersisa adalah alkemis. Awalnya dia panik,
bukankah seorang ksatria harus memasuki bagian elementalis, warrior, archer, atau warlock?
__ADS_1
Awalnya dia ingin pulang dengan penuh kesedihan.
Namun salah satu bagian dari alkemis memintanya untuk bergabung mendaftar.
Katanya seorang alkemis begitu dibutuhkan.
Karena alkemis mengalami kelangkaan baru-baru ini.
Jadi ksatria bagian penyembuh begitu kekurangan sekarang.
Jadi ada peluang sangat besar setelah lulus sekolah, dia bisa menjadi seorang ksatria.
Mata Nami penuh kecerahan, dan semangat tinggi.
Para alkemis yang melihatnya begitu ingin mencapai cita-citanya menjadi pelindung negara.
Membuat mereka mengagumi pemuda ini.
Phoenix tersenyum kecut dengan para alkemis penipu itu, mampu menipu tuannya ini.
Alkemis memang berguna.
Tapi pertahanan apa yang bisa menjamin.
Saat peperangan terjadi.
Dia hanya akan menjadi bagian cadangan yang tidak dibutuhkan.
Dan sekaligus dia kasihan dengan pemikiran kolot para alkemis tua rendahan itu.
Tuannya bukanlah bersemangat menjadi seorang ksatria.
Tapi dia hanya memikirkan berapa uang yang ia dapat kan dari gajinya nanti.
Bug!
Seorang pemuda terlempar jatuh ke tanah.
Oleh para pembuat masalah. Mereka sedang menggertaknya.
Mengatakan pemuda yang terlahir tanpa ibu.
Siapa yang akan mendukungya.
Nami yang sedang bersantai dan meminum air dari kantungnya terjatuh ke tanah.
Setelah tubuhnya tertimpah oleh tubuh seorang pemuda.
Dia sedih bukan karena rasa sakit yang menimpanya.
Tapi mana yang berharga di dalam air itu.
Mengapa dia selalu tertimpa masalah. Pertama rotinya,
sekarang air yang susah payah dia ambil dari telaga aurora.
Dia selalu menghitung berapa waktu penjaga telaga itu bersantai setelah ia berhasil menyelinap melalui telerportasi.
Dia benar-benar menghargai setetes air itu.
Karena tidak ada air yang lebih enak dari itu.
Seandainya Nami tahu setetes air itu bernilai sekeping ruby.
Dia pastikan akan mengeruh habis air itu.
Dan memperjual belikannya.
Sungguh sayang.
Tapi itu adalah jalan terbaik, jika Nami tidak mengetahuinya.
Telaga aurora akan menjadi legenda.
Jika itu terjadi.
Mengingat Nami begitu apabila berhubungan dengan uang.
Dan yang hanya mampu menghentikannya adalah neneknya.
Tapi sayang seribu sayang. Buah tidak jauh dari pohonnya.
Neneknya juga termasuk mata duitan akut.
"Dasar anak rendahan.
Bagaimana kalau kau adalah anak utama keluarga.
Tanpa dukungan seorang ibu.
Kau hanya butiran debu di rumah!
Terlebih lagi, kau begitu mempermalukan keluarga Hawk.
Apa yang kupikirkan saat ayah adalah seorang archer, kau malah memasuki alkemis.
Kalau bukan mempermalukan keluarga atau apa?!" Kata pemuda bertubuh bergelambir yang memiliki kelebihan lemak pada tubuhnya dengan penuh merendahkan itu,
sambil menjepit kerah anak muda yang ia tindas di bawahnya.
Phoenix yang menyaksikan kebodohan akut ini.
Oke, tuannya itu sangat pelit. Apa-apa harus hemat.
Dan bocah rendahan yang tidak tau di mana tempat untuk membuat masalah. Malah melibatkan tuannya ke dalam.
Benar-benar bunuh diri.
Dia turut berduka dengan nasib malang bocah gendut nan jelek itu,
dia benar-benar sangat berani menginjak kantung minum langka milik tuannya itu.
__ADS_1
"Menyingkir!" Teriak Nami dengan mata memerah,
kalau dibanding roti keras itu dia lebih memilih air mana andalannya ini.